Masuk
Anna Sawyer baru saja menyelesaikan shift malamnya. Dia bergegas memasuki mulut sebuah gang untuk mengambil jalan pintas saat menyaksikan seorang pria dengan setelan jas berdiri di bawah lampu jalan. Tangan si pria terangkat lurus ke depan dengan senjata di genggaman.
“Tuan, tolong....” Seseorang yang menjadi sasaran tembak berkata dengan suara tercekat. Dia melangkah mundur dengan lutut gemetar. Pria dengan senjata memiliki wajah tanpa ekspresi. “Aku tidak pernah mengampuni siapa pun yang berkhianat, Max. Dan hanya kematian yang bisa memuaskanku.” Dengan berakhirnya kata-kata itu, tiba-tiba tubuh pria di depan sana tersentak dan jatuh ke belakang. Tidak ada suara ledakan. Itu adalah senjata dengan peredam suara. Lutut Anna langsung lemas. Matanya terbelalak pada pemandangan berdarah itu. Untuk sejenak dia tidak mempercayai penglihatannya. Ini bukan sungguhan, kan? Mungkin sedang ada syuting film. Tapi dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan kru lain. Dia mundur dua langkah. Jantungnya mulai berdetak lebih kencang. Ini sepertinya benar-benar nyata. Lari! Suara di kepala Anna berteriak memperingatkan. Anna bersiap pergi secepat dia bisa dari sana. Tapi kakinya tersandung sebuah kaleng sialan. “Trang!” Jantungnya terasa seperti melompat keluar. Anna mengangkat pandangan ke depan dan melihat si pria dengan senjata menoleh ke arahnya. “Sialan!” desisnya panik. Mungkin ini adalah hari kematiannya. “Siapa di sana?!” Si penembak berseru. Tidak terlalu nyaring, tapi cukup membuat Anna kehilangan kekuatan untuk lari. Baiklah, tidak masalah kalau dia akan mati hari ini. Terima kasih, Tuhan. Barangkali saja kelak dia akan dianugerahi surga. Anna mengingat beberapa hal yang mungkin bisa dianggap kebaikan yang pernah dilakukannya. Mungkin Tuhan kasihan padanya dan merindukan untuk bertemu dengannya. Berpikir seperti itu tidak cukup menguatkannya. Dia memejamkan mata sebentar, menarik napas, lalu membuka matanya. Bibirnya segera mengukir sebuah senyum bodoh. “Hallo, aku baru saja ingin lewat. Aku tidak melihat apa-apa.” Anna mengangkat dua jarinya ke udara. “Sumpah.” Ada keheningan yang menegangkan di udara. Tapi itu hanya sesaat. Pria penembak yang bertubuh tinggi berjalan mendekat. Ekspresinya dingin seperti gunung salju abadi. Tapi hanya dengan melihat matanya, semua orang tahu bahwa mereka harus segera pergi dari sana jika tidak ingin kehilangan nyawa. Sekarang Anna bisa melihat jelas wajah pria ini. Tampan, tapi jelas tidak berperasaan. Gadis itu merasa telah melihat malaikat maut dalam sosok yang nyata. Di depan sana, Felix Harrington sedang dalam suasana hati yang buruk. Beberapa hal tiba-tiba menjadi di luar kendalinya, dan dia harus pergi malam-malam untuk langsung turun ke jalan. Ada pula orang tua yang selalu menerornya dengan kata pernikahan. Kalau saja dia bukan kakeknya, Felix sudah akan membuat isi kepala pria tua itu tersebar. Menghadapinya lebih memusingkan dari pada memikirkan cara untuk menghabisi kelompok dari selatan. Sementara itu di sisi yang lain, Anna tahu bahwa tidak ada yang percaya padanya. “Aku hanya ingin pulang dan tidur seperti biasa. Percayalah, aku akan menutup mulutku.” Dia mundur lagi dua langkah. Hanya gerakan refleks. Dia tahu dia tidak akan bisa menghindari incaran peluru yang akan ditembakkan. Felix tersenyum penuh ejekan. Terlihat lebih menawan, juga lebih menakutkan. “Kalau aku harus percaya semua orang, aku sudah mati sejak lama.” Jarak di antara mereka menyempit Dia mengangkat tangannya yang masih memegang senjata. Sialan! Anna memaki di dalam hati. Dia biasanya senang berkelahi. Dia tahu beberapa teknik bela diri meski itu hanya dipelajarinya secara otodidak, tapi cukup ampuh untuk melumpuhkan para pembully atau preman kecil di sudut-sudut gang. Tapi tentunya bukan perkelahian yang melibatkan senjata api. “Tuan, namaku Anna Sawyer….” Anna seperti bisa mendengar suara lelaki itu di dalam pikirannya. Tidak ada yang menanyakan namamu! Dia tahu kalau itu juga hal yang bodoh. Memberitahu namamu pada seorang pembunuh sama saja seperti memberikan kartu namamu untuk batu pemakaman. “Baiklah, jangan terburu-buru. Kita bisa membicarakannya.” Anna kembali bicara meski tahu tidak ada yang peduli dengan apa yang dikatakannya. Dia yakin dia akan mati. Jadi dia tidak peduli. Tapi tetap saja kakinya goyah dan tubuhnya gemetar. Apalagi saat si pria tiba tepat di depannya dan meletakkan moncong senjata di antara keningnya, Anna tidak yakin apakah sedang melihat malaikat atau iblis di depannya. Pria ini lebih tampan dari semua aktor yang pernah dilihatnya. Tapi juga lebih menakutkan dari hantu yang pernah ada dalam bayangannya. Anna menelan ludah. Rasa dingin di kening membuat napasnya tercekat. “Tuan—“ Dia tidak ingin menangis. Dia jarang menangis. Tapi airmatanya berkhianat. Saat ini dia menangis dengan cara yang paling memalukan. Dan apa pula yang terjadi di bawah sana? Rasanya sesuatu yang basah mulai merembes. “Kumohon.... Pasti ada yang bisa kulakukan.” Anna mengoceh lagi tanpa sadar. Felix mengerutkan kening, berpikir sesaat. Lalu kilatan cahaya segera melintas di mata gelapnya. Dia mengokang, menekankan moncong senjata lebih dalam ke kulit kening gadis di depannya. Matilah aku. Anna bergumam dalam hati sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Selamat tinggal semua. Sedetik. Dua detik. Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada tembakan. Yang kemudian didengar Anna adalah suara pria itu. “Menikahlah denganku, maka aku akan mengampuni nyawamu.”Kediaman Harrington, beberapa jam kemudian. Anna telah mengutak-atik ponsel miliknya selama hampir satu jam. Wajahnya dipenuhi kerutan, tampak tidak senang. Saat pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan sosok seperti malaikat dengan uap di sekitar kepala dan bertelanjang dada, gadis itu mengangkat wajah. Matanya yang tadinya penuh fokus pada layar ponsel kini teralihkan sepenuhnya. Ekspresinya langsung berubah. Rasa tidak senang tadi telah lenyap berganti perasaan takjub dan terpesona. Felix bisa melihat tatapan mesum itu dengan sangat jelas. Anna sama sekali tidak mencoba menyembunyikan keinginannya untuk menerkam pria yang mengaku sebagai suaminya ini. Tidak ada rasa malu atau usaha untuk berpura-pura tidak tertarik. Tatapannya terus mengikuti gerakan Felix yang mondar-mandir antara kamar mandi dan walk-in closet dan cermin di sudut kamar. Felix mencoba mengabaikan tatapan itu, meski dia bisa merasakan pandangan Anna yang menempel di tubuhnya. Dia mengambil handuk kecil dan me
Gadis di depan sana hanya berupa bayangan kabur dari kejauhan. Felix sebelumnya hanya pernah melihatnya dalam rekaman kamera pengawas. Kali ini dia menyaksikannya secara langsung. Melihat bagaimana tubuh mungil itu bergerak dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Melihat bagaimana darah membasahi tangannya yang halus. Melihat bagaimana matanya yang jernih itu memandang kematian tanpa emosi apa pun.Ini adalah Anna yang sebenarnya. Anna sebelum ingatannya diblokir. Beberapa orang yang tersisa dan masih bertahan di sana, saat melihat sejumlah orang bersenjata menjadi semakin panik. Mereka menyadari bahwa mereka terkepung dari dua sisi. Di satu sisi ada monster berwajah manusia, di sisi lain ada pasukan bersenjata lengkap. Mereka mencoba menyelamatkan diri, berlari ke berbagai arah tanpa rencana yang jelas, tapi hujan peluru segera menyambutnya. Tubuh mereka roboh satu per satu."Jangan dekati gadis itu!" Felix memberikan perintah dengan suara keras yang memotong suara tembakan. Semua an
Anna sudah hendak melanjutkan langkah mengejar Nolan. Tubuhnya bersiap untuk bergerak dengan kecepatan penuh. Pintu telah pula bergerak menutup. Dalam sepersekian detik, tepat sebelum kakinya meluncur ke depan, Anna melirik pada gadis yang tangannya terbelenggu dan bersimpuh di lantai. Gadis itu menatapnya dengan mata yang penuh kekhawatiran.Dia tidak mengenali gadis itu. Tidak ada ingatan tentangnya dalam memori yang baru saja kembali. Tapi wajahnya entah kenapa terasa familiar. Ada sesuatu tentang tatapan matanya, cara dia menatap Anna dengan kepedulian yang tulus. Apakah ada sesuatu yang terlupa? Anna memiringkan wajah, mengamati gadis itu dengan lebih saksama. "Nyonya—" Gadis di lantai menegur dalam panggilan aneh. Suaranya bergetar. Ada keakraban di sana, sesuatu yang membuat Anna berhenti sejenak dan memutuskan.Anna menengadah pada perangkap yang turun. Bilah-bilah besi tajam mulai muncul dari langit-langit, bergerak turun dengan lambat namun pasti. Dalam satu gerakan kilat
Orang pertama yang tersadar dari pemandangan yang menghipnotis itu adalah Nolan. Mungkin karena langkah Anna yang mengarah padanya dengan tatapan yang tidak bisa disalahartikan sebagai hal lain selain niat membunuh. Instingnya sebagai seorang yang telah lama bertahan di dunia gelap langsung bereaksi. Dia mengangkat tangannya yang memegang senjata dan menembak dengan panik. Tangannya gemetar. Satu tembakan, dua tembakan, tiga tembakan berturut-turut meletus di udara.Tembakan itu ditangkis oleh sebuah tubuh yang dijadikan tameng oleh Anna. Gerakannya nyaris tidak tertangkap mata. Tahu-tahu si pemilik tubuh, seorang penjaga berseragam hitam, merasa tubuhnya terangkat dan berondongan timah panas langsung menghantam tubuhnya. Darah menyembur dari beberapa lubang di dadanya. Tubuhnya tersentak-sentak sebelum menjadi lemas, nyawanya melayang dalam sekejap.Anna melempar tubuh itu ke arah dua pria lain yang juga mulai menembak. Tembakan mereka meleset karena pandangan mereka terhalang oleh t
Mulanya tidak ada yang terjadi. Selain rasa pahit yang tertinggal di lidah, Anna tidak merasakan apa-apa. Sejenak dia bingung, menunggu sesuatu yang seharusnya terjadi namun tidak kunjung datang. Dia menatap tangannya sendiri, mencoba merasakan perubahan apa pun dalam tubuhnya. Tidak ada. Hanya keheningan yang menggantung di udara, dan tatapan tajam Nolan yang terus mengawasinya dari luar teralis.Sekarang apa?Anna mengangkat pandangannya, menatap pria itu dengan ekspresi bingung yang sama. Apakah obat itu tidak bekerja? Atau memang membutuhkan waktu lebih lama?"Kau membuatku tidak sabar, Nona Greyson."Suara Nolan memecah keheningan. Nadanya terdengar datar, namun ada kilatan kekesalan di matanya. Dia mengetuk-ngetukkan jari ke lengan kursinya.Nolan akan mencoba cara lainnya. Dengan satu isyarat dari tangannya, seseorang pergi ke luar dengan tergesa-gesa. Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Beberapa orang masuk mendorong beberapa peralatan yang menyerupai kursi listrik. Lo
Anna bahkan tidak sempat berkedip ketika Nolan yang kecewa dengan kode yang kembali salah menembakkan senjatanya lagi. Suara tembakan itu menggema keras di ruangan tertutup, membuat telinga berdenging. Dia memejamkan mata dengan tubuh gemetar, tidak cukup kuat untuk kembali menyaksikan sebuah kematian lagi. Tangannya mencengkeram teralis besi di depannya hingga buku-buku jarinya memutih.Bunyi gedebuk tubuh jatuh ke lantai terdengar setelahnya. Napas Gabriel terhenti. Tidak ada lagi isakan atau teriakan.Tiga orang telah menjadi tiga mayat, tergeletak di lantai dalam genangan darah. Aroma besi dari darah segar memenuhi udara, bercampur dengan bau mesiu yang masih mengepul dari moncong senjata Nolan. Pemandangan itu mengerikan. Mayat-mayat itu berbaring dalam posisi tidak wajar, mata mereka masih terbuka menatap kosong ke langit-langit.Sebelumnya dia sudah merasa mual saat melihat kematian Aria. Kali ini isi perutnya mendesak ke luar tak terkendali. Perutnya berkontraksi keras, memaks
Seperti halnya kantin yang ramai siang itu, toilet pun demikian. Orang-orang terus datang dan pergi dalam arus yang tidak pernah berhenti. Begitu Anna masuk ke dalam, Una dan Lily hanya menunggu di dekat pintu, mengambil posisi seperti sepasang penjaga.Una bersandar di dinding dan mengeluarkan pon
"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi menjauh dariku." Anna menatap Una dan Lily dengan wajah cemberut. Dia merasa kecewa karena tidak bisa 'menyelamatkan' Silvia hingga bukan gadis itu yang kini berada di sisinya untuk menjaga. Mereka sedang duduk di kantin saat jam istirahat. Anna mengeluarkan
Felix menaikkan alis. Dia sudah mulai curiga dengan senyum nakal di wajah Anna. "Bagaimana caranya kau berbagi?""Sebenarnya, itu tidak benar-benar bisa dibagi. Akulah keberuntungan itu. Kau hanya perlu terus bersamaku, maka kau akan bisa memiliki keberuntungan sepertiku." Anna sedikit pun tidak me
Felix pulang lebih awal hari ini, sebelum makan siang. Sebenarnya dia mengkhawatirkan Anna. Lolos dari maut akan menyebabkan seseorang syok berat. Tapi saat masuk kamar, dia hanya menemukan seorang gadis yang meringkuk pulas di ranjangnya.Bagaimana pun itu telah membuat lega Felix. Dia berdiri di







