Share

Bab 5. Racikan sang Duchess

Author: Miarosa
last update publish date: 2026-10-08 18:07:15

​​"Aku menolak," potong Arthur dingin.

Kalimat singkat itu menghantam keheningan kamar seperti sabetan belati.

"Aku tidak butuh tabib berwujud pengantin, Agatha, dan aku tidak sudi menjual perlindunganku hanya untuk janji manis seorang Sterling."

Pria itu memiringkan kepalanya dan menatap Agatha dari balik celah topeng perak yang telah kembali menutupi separuh wajahnya. 

"Simpan racikan daun liarmu untuk dirimu sendiri, Lady Sterling. Aku sudah bertahan hidup bertahun-tahun di medan perang tanpa bantuan seorang putri bangsawan yang tiba-tiba mengaku sebagai penyembuh."

​Agatha tidak berpaling. 

"Kamu lebih memilih menderita nyeri saraf tiap malam daripada menerima bantuan dari istrimu sendiri?"

​"Aku lebih memilih rasa sakit yang nyata daripada meminum ramuan dari putri keluarga Sterling yang sewaktu-waktu bisa menggorok leherku saat tertidur," sahut Arthur tajam. 

Pria itu membalikkan badan dan berjalan menuju pintu penghubung ruang kerjanya.

"Tidurlah! Jangan campuri urusanku lagi!"

​Pintu kayu itu terhempas kencang dan meninggalkan Agatha sendirian di kamar. Ia menghela napas panjang dan mengurut pelipisnya yang berdenyut. 

Namun, di balik penolakan ketus itu, Agatha sempat menangkap sesuatu ketika ia berdiri sangat dekat dengan sang Duke tadi, aroma wangi herbal segar bercampur mint dari sarung tangannya tanpa sadar membuat helaan napas Arthur yang tegang menjadi sedikit lebih teratur. 

Nyeri saraf pria itu perlahan mereda hanya dari aroma terapi sederhana yang tersisa di pakaian Agatha.

​"Kamu boleh menolakku malam ini, Arthur," batin Agatha seraya melangkah menuju sofa.

"Tapi kamu tidak akan bisa menolak kesembuhanmu besok."

​Keesokan paginya, sinar matahari samar menembus kabut tebal Kastil Blackwood. Agatha terbangun lebih awal dan mengganti gaun pengantin mewahnya yang sudah terkoyak dengan gaun sutra tebal berwarna biru tua berpotongan tegas yang ada di lemari. 

Kainnya jatuh dengan anggun yang dihiasi sulaman benang perak halus di pinggir kerah dan lengannya memancarkan kesan dingin sekaligus wibawa seorang Duchess.

Agatha melangkah keluar kamar dan menyusuri pekarangan belakang kastel yang terabaikan. 

Di antara semak belukar liar yang ditutupi embun pagi, mata Agatha yang sudah terlatih dengan cepat menemukan apa yang dicari, daun willow liar, akar valerian, dan tanaman marigold yang kaya akan zat pereda nyeri serta anti inflamasi alami. 

Ia memetik bahan-bahan itu lalu melangkah lurus menuju dapur utama kastil.

​Di dalam dapur, aroma adonan roti panggang menguar di udara. Beberapa pelayan wanita dan juru masak paruh baya mendadak menghentikan aktivitas mereka saat melihat sang Duchess baru masuk tanpa pengawalan.

Mrs. Esper, yang sedang menyusun cangkir-cangkir teh di atas nampan perak, tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan cerek tembaga di tangannya. Wajahnya yang kaku mendadak pucat pasi dan matanya membelalak lebar melihat Agatha berdiri tegak di ambang pintu dapur.

"Astaga, Yang Mulia! Apa yang Anda lakukan di dapur? Kenapa Anda tidak memanggil pelayan atau meminta kami mengantarkan sarapan ke kamar Anda?"

Agatha hanya diam. Matanya yang tajam menatap lurus tepat ke dalam iris mata Mrs. Esper yang panik dan gugup. Ia meremas celemeknya dan melangkah mundur setengah langkah seolah hendak menghindari intimidasi tak kasatmata yang dipancarkan sang Duchess.

"Jangan menatap saya seperti itu, Mrs. Esper. Wajah panikmu membuat saya berpikir kamu sedang melihat hantu," cetus Agatha dingin sambil berjalan mendekati wanita itu.

Mrs. Esper sebagai pengurus rumah tangga utama kastil Blackwood adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab penuh atas pasokan air minum dan kenyamanan setiap kamar. Agatha tahu betul wanita tua ini adalah orang yang menyusupkan racun arsenik tak berbau itu ke teko airnya, racun yang di kehidupan lalunya yang telah merenggut nyawanya.

​"Tampaknya ada orang di kastil ini yang sangat tidak menginginkan kehadiran saya pagi ini," ujar Agatha pelan. Ia menyunggingkan senyuman dingin yang membekukan.

Mrs. Esper menyapu keringat dingin di pelipisnya dan berusaha keras menguasai diri. 

"A-apa maksud Anda, Yang Mulia? Saya hanya terkejut melihat Anda berada di area dapur.”

Namun, Agatha memilih menahan lidahnya. Ia tidak bisa menuduhnya terang-terangan sekarang, karena ia tidak punya bukti. Tuduhan tanpa dasar hanya akan membuat musuh rahasianya semakin waspada.

"Aku membutuhkan lumpang batu dan beberapa mangkuk porselen," ujar Agatha tenang.

Ia mengabaikan tatapan meremehkan dari para pelayan yang saling berbisik di belakangnya.

​"Apakah hidangan sarapan yang akan disiapkan kurang berkenan di lidah Anda?" cibir salah seorang pelayan muda dengan nada sinis.

"Di kastil ini, kami menyajikan hidangan layak bukan olahan rumput liar."

​Agatha menghentikan langkahnya dan menatap pelayan muda itu dengan tatapan yang dingin membekukan. 

"Siapa namamu?"

​Pelayan itu tersentak dan mencengkeram celemeknya ragu. 

"B-Betty, Yang Mulia."

​"Ingat posisimu, Betty," tegur Agatha datar namun sarat ancaman. 

"Aku adalah Duchess of Blackwood. Jika sekali lagi aku mendengar lidahmu berbicara lancang tentang apa yang kukerjakan, aku akan memastikan kamu menanggung akibatnya di luar gerbang kastil ini sebelum matahari terbenam."

​Hening seketika menyergap dapur. Betty menunduk dalam-dalam dengan wajah pucat pasi, sementara Mrs. Esper terdiam dan tak menyangka sang Duchess baru memiliki wibawa yang begitu menekan. Tanpa membantah lagi, Mrs. Esper menyerahkan lumpang batu dan alat yang diminta Agatha.

Selama satu jam berikutnya, Agatha memproses bahan-bahan herbal itu di sudut dapur yang sepi tidak ada pelayan yang berani mendekat atau mengusiknya lagi. Ia menumbuk akar valerian dan dedaunan willow liar hingga halus, memeras ekstrak murni berwarna hijau pekat, lalu mencampurnya dengan lilin lebah cair hingga membentuk salep kental yang beraroma menenangkan.

“​Obat ini tidak boleh sekedar menyembuhkan. Ini harus menjadi bukti bahwa aku adalah satu-satunya penawar bagi kehancurannya,” gumam Agatha seraya menatap pantulan dirinya di permukaan cawan.

Saat jemarinya mengaduk ramuan tersebut secara diam-diam, Agatha memejamkan mata. Ia menghela napas panjang dan membiarkan kekuatan sihir penyembuh rahasia dari jiwanya mengalir perlahan melalui ujung jemarinya.

​"Alirkan kesembuhan, tarik kembali racun yang mengendap," bisik Agatha lirih.

Pendar cahaya keemasan tipis yang hampir tak kasatmata menyatu ke dalam salep itu dan melipatgandakan khasiat alaminya agar mampu menarik keluar racun infeksi serta menetralkan nyeri saraf terdalam secara instan. Salep ini bukan hanya meredakan nyeri otot dan saraf, tetapi juga menarik keluar racun infeksi dari luka terbuka yang paling parah sekalipun.

​Setelah memindahkan salep itu ke dalam wadah porselen kecil, Agatha menyusuri koridor lantai atas menuju ruang kerja sang Duke. Ia mengintip perlahan dari balik celah pintu. Arthur berada di sana sedang duduk di kursi kebesarannya di balik meja yang dipenuhi tumpukan dokumen. Namun, pria itu tidak sedang bekerja.

Arthur tertidur pulas akibat kelelahan luar biasa. Topeng peraknya tergeletak di atas meja dan membiarkan sisi kiri wajahnya yang dipenuhi bekas luka bakar terekspos tanpa perlindungan. Keningnya berkerut dalam, bibirnya terkatup rapat, dan jemari tangannya yang terkepal di atas pangkuan masih tampak menegang yang menandakan bahwa bahkan dalam tidurnya pun rasa sakit hebat di tubuhnya tak pernah benar-benar pergi meninggalkan pria itu. Hal itu memicu getaran empati yang dalam di sudut hati Agatha.

"Kamu terlalu keras kepala untuk membiarkan dirimu disembuhkan, Arthur," gumam Agatha sangat pelan dan hampir tak terdengar.

Agatha menarik napas panjang dan bersiap mendorong pintu kayu itu lebih lebar untuk melangkah masuk dan mengobati luka suaminya secara diam-diam. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh permukaan pintu, sebuah sentuhan dingin mendadak mendarat tepat di atas bahunya.

​Agatha tersentak kaget. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan saat sentuhan halus itu menahan gerakannya.

​"Sedang apa Anda mengintip ruang kerja suami Anda, Yang Mulia?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Sang Duke Buruk Rupa   Bab 7. Teh, Ratu, dan Racun Sosial

    Tiga hari kemudian, kastil Blackwood menerima surat undangan berstempel emas dari Ratu Charlotte. Undangan jamuan teh itu memaksa Agatha kembali ke Mayfair, pusat perkumpulan bangsawan yang penuh racun sosial yang bersembunyi di balik keanggunan para bangsawan.Setibanya di istana, Agatha disambut secara khusus oleh Ratu Charlotte di ruang minum teh pribadi. Sang Ratu dengan matanya yang tajam memindai penampilannya, lalu tersenyum tipis penuh arti.​"Selamat datang kembali di istana, Duchess of Blackwood," ucap Ratu Charlotte dengan nada anggun seraya menyeruput tehnya perlahan. "Udara musim ini rupanya membawa kesegaran baru bagi Kastil Blackwood. Penampilanmu tampak sangat memukau hari ini."​Agatha membungkuk hormat dengan tenang. "Suatu kehormatan besar, Yang Mulia. Terima kasih atas sambutan dan perhatian yang begitu hangat."​Ratu Charlotte tertawa kecil dan memberikan gestur ramah yang membuat Agatha tahu bahwa posisinya di istana berdiri di atas fondasi yang aman. Sesaat ke

  • Pengantin Pengganti Sang Duke Buruk Rupa   Bab 6. Sentuhan Yang Membakar

    Agatha menahan napas. ​Ia memutar tubuhnya perlahan dengan ketenangan yang dipaksakan. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan gaun panjang khas cendekiawan. Matanya yang cekung menatap Agatha dari balik kacamata tebalnya.Agatha mengingat jelas berkas informasi yang sempat ia baca sebelum meninggalkan kediaman Sterling. Pria paruh baya di hadapannya tidak lain adalah Dr. Silas, dokter yang memegang kendali atas kesehatan sang Duke selama bertahun-tahun.​"Sedang apa Anda mengintip ruang kerja suami Anda, Yang Mulia?" ulang Dr. Silas dengan suara serak yang dipaksakan ramah. Pandangannya langsung terpatri pada wadah porselen kecil di genggaman Agatha. "Dan apa yang Anda bawa di dalam cawan itu?"​Agatha menegakkan punggungnya dan membiarkan gaun sutra biru tuanya yang tegas memancarkan keanggunan seorang Duchess. Matanya mengunci Dr. Silas dengan dingin."Apakah seorang Duchess harus meminta izin pada dokter pribadi hanya untuk menjenguk suaminya sendiri?

  • Pengantin Pengganti Sang Duke Buruk Rupa   Bab 5. Racikan sang Duchess

    ​​"Aku menolak," potong Arthur dingin.Kalimat singkat itu menghantam keheningan kamar seperti sabetan belati."Aku tidak butuh tabib berwujud pengantin, Agatha, dan aku tidak sudi menjual perlindunganku hanya untuk janji manis seorang Sterling."Pria itu memiringkan kepalanya dan menatap Agatha dari balik celah topeng perak yang telah kembali menutupi separuh wajahnya. "Simpan racikan daun liarmu untuk dirimu sendiri, Lady Sterling. Aku sudah bertahan hidup bertahun-tahun di medan perang tanpa bantuan seorang putri bangsawan yang tiba-tiba mengaku sebagai penyembuh."​Agatha tidak berpaling. "Kamu lebih memilih menderita nyeri saraf tiap malam daripada menerima bantuan dari istrimu sendiri?"​"Aku lebih memilih rasa sakit yang nyata daripada meminum ramuan dari putri keluarga Sterling yang sewaktu-waktu bisa menggorok leherku saat tertidur," sahut Arthur tajam. Pria itu membalikkan badan dan berjalan menuju pintu penghubung ruang kerjanya."Tidurlah! Jangan campuri urusanku lagi!"

  • Pengantin Pengganti Sang Duke Buruk Rupa   Bab 4. Penolakan sang Duke

    Hujan deras menyiram permukaan tebing batu tempat kastil Blackwood berdiri. Pintu kayu terbuka menyambut kedatangan sang pengantin baru. Arthur yang baru saja mengurus pengamanan benteng di lantai bawah bersama para pengawalnya hanya memberi isyarat dingin pada Mrs. Esper untuk langsung mengantar istrinya.Mrs. Esper, pengurus rumah tangga yang kaku tanpa senyum, menuntun Agatha menyusuri lorong menuju kamar utama di lantai dua."Selamat malam, Yang Mulia! Ini kamar Anda," ujar Mrs. Esper singkat lalu segera pergi.Setelah pintu ditutup dan jejak langkah pelayan itu memudar, Agatha menghela napas panjang. Ia memperhatikan sekelilingnya. Kamar ini sama persis dengan kamar tempat ia mati di kehidupan lalunya.​Di kehidupan lalunya, ia akan memilih untuk mengurung diri di kamar. Dada Agatha berdebar kencang dan ingatan tentang jasadnya di bawah ranjang masih membuat jemarinya dingin.Tenggorokannya terasa kering akibat ketegangan di jalan tadi. Agatha melangkah mendekati meja bundar di s

  • Pengantin Pengganti Sang Duke Buruk Rupa   Bab 3. Sabetan pedang pertama

    "T-tidak, ini tidak mungkin!" bisik Agatha, suaranya tercekat di tenggorokan.​Darahnya membeku dan jemarinya bergetar hebat saat ia berusaha menarik kembali tangannya dari lipatan kain penutup ranjang. Penglihatannya mendadak mengabur dan udara di kamar luas itu serasa mendadak menipis dan menekan dadanya hingga sulit bernapas. Bagaimana mungkin mayat dirinya sendiri ada di bawah tempat tidur ini sementara ia berdiri tegak di sini?"Pembunuh itu, orang yang membunuhku di kehidupan lalu telah menyembunyikan jasadku di kamar ini."​Kesadaran itu menghantam benaknya. Agatha memejamkan matanya dan mencengkeram dadanya sendiri demi merasakan detak jantungnya yang memburu kencang. Ia masih bernapas yang membuktikan bahwa ia masih hidup.Namun, sebelum Agatha sempat menyentuh mayat itu, pandangannya mendadak kabur dan berganti dengan goncangan keras kereta kuda.Agatha tersentak kaget. Mata ambernya terbuka lebar dan napasnya tersengal-sengal. Ia tidak berada di dalam kamar kastil Blackwood

  • Pengantin Pengganti Sang Duke Buruk Rupa   Bab 2. Monster di altar

    Kereta kuda berhenti tepat di pelataran kapel Saint Jude yang merupakan sebuah gereja batu tua di pinggiran Mayfair yang sengaja dikosongkan. Di sana tidak terlihat adanya karpet merah di tangga, lonceng gereja tidak dibunyikan, dan para bangsawan sama sekali tidak diundang tidak seperti pernikahan pada umumnya. Lokasi itu sangat sunyi dan udaranya terasa sangat dingin.Kusir membukakan pintu kereta. Agatha melangkah turun, menegakkan punggungnya, dan membiarkan gaun sutra pengantinnya terseret di atas lantai batu yang kotor.​Di dalam kapel yang temaram, nyala lilin-lilin kecil bergetar lemah hanya mampu menerangi sebagian kecil pilar batu tua dan menyembunyikan sisanya dalam bayangan. Di depan altar yang dingin, seorang pria bertubuh tinggi telah berdiri menunggunya dalam balutan jubah putih bersulam emas yang megah.Tangan kanannya bertumpu pada sebuah tongkat kayu hitam berukir kepala singa dari perunggu. Namun yang paling menyita perhatian adalah separuh wajah bagian kirinya yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status