LOGINHujan deras menyiram permukaan tebing batu tempat kastil Blackwood berdiri. Pintu kayu terbuka menyambut kedatangan sang pengantin baru. Arthur yang baru saja mengurus pengamanan benteng di lantai bawah bersama para pengawalnya hanya memberi isyarat dingin pada Mrs. Esper untuk langsung mengantar istrinya.
Mrs. Esper, pengurus rumah tangga yang kaku tanpa senyum, menuntun Agatha menyusuri lorong menuju kamar utama di lantai dua. "Selamat malam, Yang Mulia! Ini kamar Anda," ujar Mrs. Esper singkat lalu segera pergi. Setelah pintu ditutup dan jejak langkah pelayan itu memudar, Agatha menghela napas panjang. Ia memperhatikan sekelilingnya. Kamar ini sama persis dengan kamar tempat ia mati di kehidupan lalunya. Di kehidupan lalunya, ia akan memilih untuk mengurung diri di kamar. Dada Agatha berdebar kencang dan ingatan tentang jasadnya di bawah ranjang masih membuat jemarinya dingin. Tenggorokannya terasa kering akibat ketegangan di jalan tadi. Agatha melangkah mendekati meja bundar di sudut ruangan, meraih teko perak, dan mengucurkan air ke dalam cangkir. Namun, jemarinya membeku saat cangkir hampir menyentuh bibirnya. Ingatan masa lalunya mendadak menghantam. Rasa terbakar yang merobek tenggorokannya dan rasa sesak yang mencekik napasnya di tengah malam hingga nyawanya melayang perlahan. Agatha mendekatkan cangkir itu ke hidungnya dan sama sekali tidak berbau. Air itu terlihat seperti air biasa pada umumnya. Ia melangkah menuju vas bunga porselen di sudut kamar. Ia mengalirkan seluruh isi gelas dan teko itu ke dalam tanah vas bunga tersebut hingga kosong, lalu mengusap bibirnya dengan saputangan dan hanya dalam hitungan detik, daun-daunnya mengering dan bunganya terkulai mati. Matanya membelalak. "Arsenik murni, racun tak berbau dan tak berwarna," bisik Agatha. "Di kehidupan lalu aku tidak mengira akan ada orang yang meracuniku di kastil Blackwood dan mati konyol oleh air ini, tapi tidak malam ini," ujar Agatha tajam. Matanya berkilat tajam. "Tapi permainan kalian atau siapa pun tidak akan berhasil kali ini." Pintu kamar mendadak terdorong terbuka. Arthur melangkah masuk. Pria itu telah melepas jubahnya dan sekarang hanya mengenakan kemeja linen putih tipis yang memperlihatkan balutan kain kasa di lengan atasnya. Topeng peraknya masih menempel kaku di separuh wajahnya. Jantung Agatha berdegup kencang saat melihat Arthur berjalan mendekat. Pria itu menyandarkan tongkat kayu perunggunya di samping perapian, lalu perlahan menaikkan jemarinya untuk melonggarkan dasi cravat-nya yang kaku. Suasana kamar mendadak canggung saat menyadari mereka sekarang berada di satu ruangan tertutup di malam pertama. Arthur melirik Agatha melalui celah topeng peraknya. "Kamu tidak perlu berdiri mematung seperti itu, Lady Sterling. Aku tahu apa yang ada di pikiranmu." "Apa maksud Anda, My Lord?" tanya Agatha pelan. Arthur mendongak dan perlahan melepaskan topeng peraknya, membiarkan cahaya lilin menerangi sisi kiri wajahnya secara utuh. Bekas luka bakar yang membekas, memerah, dan merusak sebagian rahang serta pipinya terpampang nyata dihadapan Agatha persis seperti bayangan "monster" yang digosipkan seluruh Mayfair. "Lihatlah baik-baik, Agatha!" bisik Arthur tajam menembus kesunyian. "Jijik, ketakutan. Inilah suamimu. Monster perang yang cacat. Apakah kamu tidak ingin menjerit atau memalingkan wajahmu? Seluruh wanita di London bergidik melihat wajah berselimut luka bakar ini. Kamu tentu tidak berbeda dari adikmu itu, bukan?" Agatha tidak berkedip. Mata amber-nya tetap menatap lurus dan mengamati bekas luka itu. "Aku tidak pernah mengatakan jijik padamu." "Kamu tak perlu mengatakannya. Tatapanmu sudah cukup," potong Arthur tajam. Arthur menarik napas berat, lalu memutar tubuhnya membelakangi Agatha. "Tidurlah di sofa itu malam ini. Jaga jarak dariku. Aku tidak memiliki minat untuk menyentuh seorang pengantin yang dipaksa menyerahkan dirinya pada seorang monster. Jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhmu atau memaksakan hakku sebagai suami. Kita jaga jarak masing-masing." Arthur meraih kembali topeng peraknya dan bersiap membalikkan badan. Namun, sebelum pria itu sempat melangkah, suara gesekan kain gaun pengantin memecah kesunyian. Agatha melangkah maju tanpa ragu. Ia mengulurkan tangannya dan perlahan menyentuh punggung tangan Arthur yang mengepal tegang di dekat meja. Arthur tersentak kaget. Tubuhnya menegang seolah baru saja disengat listrik. Ia memutar kepalanya dan menatap pada tangan halus Agatha yang berada di atas tangannya. "Sentuhan ini, apakah terasa seperti sentuhan wanita yang jijik padamu, Arthur?" bisik Agatha lembut. "Apa yang sedang kamu lakukan?" suara Arthur tertahan di tenggorokan. "Aku tidak melihat monster di sini. Aku hanya melihat seorang pahlawan perang yang dikhianati negaranya sendiri." Arthur tertegun. Kata-kata itu menghantam dadanya begitu keras dan melumpuhkan lidahnya untuk sesaat. "Jangan berpura-pura bersimpati, Agatha," ujar Arthur. Ia berusaha menarik tangannya, namun Agatha tidak melepaskannya. "Ini bukan simpati. Ini adalah penawaran," potong Agatha tegas. Agatha menatap lurus pada mata sang Duke. "Aku tahu bekas luka dan cedera pertempuranmu tidak hanya merusak kulit, tetapi juga menyebarkan racun endapan dari senjata bernanah yang membuatmu menderita nyeri hebat setiap malam. Seluruh tabib Kerajaan gagal, bukan? Lenganmu yang tergores pedang tadi juga membutuhkan racikan obat yang tepat agar tidak infeksi." Arthur menatap Agatha dengan mata membelalak heran. Bagaimana wanita ini bisa tahu tentang rasa sakit tersembunyi yang selalu menyiksanya setiap tengah malam? "Kamu hanyalah gadis biasa dari keluarga Sterling. Kamu tak tahu apa-apa tentang lukaku." "Aku tahu lebih banyak dari tabib kerajaan mana pun di London!" potong Agatha tegas. Jemarinya yang lembut memberikan penekanan hangat di punggung tangan Arthur. "Aku ahli dalam botani dan pengobatan rahasia. Aku juga bisa meracik obat untuk meredakan rasa sakitmu, menyembuhkan racun ditubuhmu, dan memulihkan staminamu secara utuh. Aku bisa jadi penyembuhmu," lanjut Agatha. Arthur terdiam dan menatap Agatha penuh rasa selidik dan mencoba mencari cela kebohongan dari wajah pucat di hadapannya. "Ah rupanya kamu sadar betul. Kamu paham sejak awal kalau pernikahan kita ini murni pernikahan politik, bukan? Kamu tidak berniat menjadi istri sungguh, tapi datang untuk berdagang." Agatha menatap lurus mata sang Duke tanpa mengelak. "Jika ini memang pernikahan politik, bukankah penawaranku adalah investasi terbaik untuk Anda, My Lord?" Arthur menyipitkan mata dan mengamati intensitas di wajah pengantin barunya. "Dan apa imbalan yang kamu inginkan untuk tawaran ini?" Sudut bibir Agatha terangkat tipis, lalu membentuk senyuman dingin yang sarat akan dendam. "Lindungi aku dari keluarga Sterling!" jawab Agatha. "Beri aku kekuasaan dan perlindungan penuh sebagai Duchess of Blackwood, maka aku akan memberikanmu kesembuhan dan kesetiaan penuh untuk menghancurkan musuh-musuh kita." Arthur menatap Agatha dalam diam. Kewaspadaannya belum sepenuhnya hilang, namun keberanian dan kecerdasan Agatha yang tak biasa berhasil memancing rasa ingin tahunya. "Sebuah aliansi yang berbahaya, Duchess," gumam Arthur pelan. "Tapi aliansi yang paling menguntungkan untuk kita berdua, My Lord," balas Agatha. Keheningan menyelimuti kamar itu selama beberapa detik. Arthur menatap dalam-dalam pada mata istrinya dan mencari tanda-tanda pengkhianatan. "Kamu menggunakan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluargamu sendiri?" tanya Arthur. Nada suaranya berubah antara kagum dan waspada. "Mereka yang membuangku ke pelukanmu, My Lord," sahut Agatha pelan. "Mereka tidak tahu bahwa mereka justru memberiku senjata paling mematikan." Arthur terdiam sejenak dan menarik tangannya pelan dari genggaman Agatha, lalu melangkah mundur sambil menatap istrinya dengan tatapan intimidatif.Arthur tak langsung menjawab. Ia menatap dalam-dalam wajah Agatha dan membiarkan keheningan menggantung di antara mereka."Justru sebaliknya. Untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan kita aku mulai merasa pernikahan ini tidak seburuk yang kubayangkan," bisik Arthur serak di dekat telinga Agatha.Sebelum Agatha sempat mencerna arti dari ucapan itu atau membalasnya, seorang pengawal berzirah setengah berlari mendekat dan membungkuk hormat di hadapan Arthur."Mohon maaf menganggu waktu Anda, Yang Mulia," bisik pengawal itu tergesa-gesa. "Ada pesan darurat dari markas Parlemen. Tuan Besar diminta segera hadir."Arthur menatap Agatha sejenak, lalu kembali memasang raut wajahnya yang dingin dan tak tersentuh."Tunggulah di lorong selatan ini, Agatha!Kereta kuda sudah bersiap di pintu samping. Aku hanya mengurus hal ini sebentar dan akan segera kembali," ujar Arthur datar tanpa menunggu persetujuan istrinya.Pria itu berbalik dan melangkah cepat menyusuri lorong bersama pengawalny
Tiga hari kemudian, kastil Blackwood menerima surat undangan berstempel emas dari Ratu Charlotte. Undangan jamuan teh itu memaksa Agatha kembali ke Mayfair, pusat perkumpulan bangsawan yang penuh racun sosial yang bersembunyi di balik keanggunan para bangsawan.Setibanya di istana, Agatha disambut secara khusus oleh Ratu Charlotte di ruang minum teh pribadi. Sang Ratu dengan matanya yang tajam memindai penampilannya, lalu tersenyum tipis penuh arti."Selamat datang kembali di istana, Duchess of Blackwood," ucap Ratu Charlotte dengan nada anggun seraya menyeruput tehnya perlahan. "Udara musim ini rupanya membawa kesegaran baru bagi Kastil Blackwood. Penampilanmu tampak sangat memukau hari ini."Agatha membungkuk hormat dengan tenang. "Suatu kehormatan besar, Yang Mulia. Terima kasih atas sambutan dan perhatian yang begitu hangat."Ratu Charlotte tertawa kecil dan memberikan gestur ramah yang membuat Agatha tahu bahwa posisinya di istana berdiri di atas fondasi yang aman. Sesaat ke
Agatha menahan napas. Ia memutar tubuhnya perlahan dengan ketenangan yang dipaksakan. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan gaun panjang khas cendekiawan. Matanya yang cekung menatap Agatha dari balik kacamata tebalnya.Agatha mengingat jelas berkas informasi yang sempat ia baca sebelum meninggalkan kediaman Sterling. Pria paruh baya di hadapannya tidak lain adalah Dr. Silas, dokter yang memegang kendali atas kesehatan sang Duke selama bertahun-tahun."Sedang apa Anda mengintip ruang kerja suami Anda, Yang Mulia?" ulang Dr. Silas dengan suara serak yang dipaksakan ramah. Pandangannya langsung terpatri pada wadah porselen kecil di genggaman Agatha. "Dan apa yang Anda bawa di dalam cawan itu?"Agatha menegakkan punggungnya dan membiarkan gaun sutra biru tuanya yang tegas memancarkan keanggunan seorang Duchess. Matanya mengunci Dr. Silas dengan dingin."Apakah seorang Duchess harus meminta izin pada dokter pribadi hanya untuk menjenguk suaminya sendiri?
"Aku menolak," potong Arthur dingin.Kalimat singkat itu menghantam keheningan kamar seperti sabetan belati."Aku tidak butuh tabib berwujud pengantin, Agatha, dan aku tidak sudi menjual perlindunganku hanya untuk janji manis seorang Sterling."Pria itu memiringkan kepalanya dan menatap Agatha dari balik celah topeng perak yang telah kembali menutupi separuh wajahnya. "Simpan racikan daun liarmu untuk dirimu sendiri, Lady Sterling. Aku sudah bertahan hidup bertahun-tahun di medan perang tanpa bantuan seorang putri bangsawan yang tiba-tiba mengaku sebagai penyembuh."Agatha tidak berpaling. "Kamu lebih memilih menderita nyeri saraf tiap malam daripada menerima bantuan dari istrimu sendiri?""Aku lebih memilih rasa sakit yang nyata daripada meminum ramuan dari putri keluarga Sterling yang sewaktu-waktu bisa menggorok leherku saat tertidur," sahut Arthur tajam. Pria itu membalikkan badan dan berjalan menuju pintu penghubung ruang kerjanya."Tidurlah! Jangan campuri urusanku lagi!"
Hujan deras menyiram permukaan tebing batu tempat kastil Blackwood berdiri. Pintu kayu terbuka menyambut kedatangan sang pengantin baru. Arthur yang baru saja mengurus pengamanan benteng di lantai bawah bersama para pengawalnya hanya memberi isyarat dingin pada Mrs. Esper untuk langsung mengantar istrinya.Mrs. Esper, pengurus rumah tangga yang kaku tanpa senyum, menuntun Agatha menyusuri lorong menuju kamar utama di lantai dua."Selamat malam, Yang Mulia! Ini kamar Anda," ujar Mrs. Esper singkat lalu segera pergi.Setelah pintu ditutup dan jejak langkah pelayan itu memudar, Agatha menghela napas panjang. Ia memperhatikan sekelilingnya. Kamar ini sama persis dengan kamar tempat ia mati di kehidupan lalunya.Di kehidupan lalunya, ia akan memilih untuk mengurung diri di kamar. Dada Agatha berdebar kencang dan ingatan tentang jasadnya di bawah ranjang masih membuat jemarinya dingin.Tenggorokannya terasa kering akibat ketegangan di jalan tadi. Agatha melangkah mendekati meja bundar di s
"T-tidak, ini tidak mungkin!" bisik Agatha, suaranya tercekat di tenggorokan.Darahnya membeku dan jemarinya bergetar hebat saat ia berusaha menarik kembali tangannya dari lipatan kain penutup ranjang. Penglihatannya mendadak mengabur dan udara di kamar luas itu serasa mendadak menipis dan menekan dadanya hingga sulit bernapas. Bagaimana mungkin mayat dirinya sendiri ada di bawah tempat tidur ini sementara ia berdiri tegak di sini?"Pembunuh itu, orang yang membunuhku di kehidupan lalu telah menyembunyikan jasadku di kamar ini."Kesadaran itu menghantam benaknya. Agatha memejamkan matanya dan mencengkeram dadanya sendiri demi merasakan detak jantungnya yang memburu kencang. Ia masih bernapas yang membuktikan bahwa ia masih hidup.Namun, sebelum Agatha sempat menyentuh mayat itu, pandangannya mendadak kabur dan berganti dengan goncangan keras kereta kuda.Agatha tersentak kaget. Mata ambernya terbuka lebar dan napasnya tersengal-sengal. Ia tidak berada di dalam kamar kastil Blackwood







