تسجيل الدخولKereta kuda berhenti tepat di pelataran kapel Saint Jude yang merupakan sebuah gereja batu tua di pinggiran Mayfair yang sengaja dikosongkan. Di sana tidak terlihat adanya karpet merah di tangga, lonceng gereja tidak dibunyikan, dan para bangsawan sama sekali tidak diundang tidak seperti pernikahan pada umumnya. Lokasi itu sangat sunyi dan udaranya terasa sangat dingin.
Kusir membukakan pintu kereta. Agatha melangkah turun, menegakkan punggungnya, dan membiarkan gaun sutra pengantinnya terseret di atas lantai batu yang kotor. Di dalam kapel yang temaram, nyala lilin-lilin kecil bergetar lemah hanya mampu menerangi sebagian kecil pilar batu tua dan menyembunyikan sisanya dalam bayangan. Di depan altar yang dingin, seorang pria bertubuh tinggi telah berdiri menunggunya dalam balutan jubah putih bersulam emas yang megah.Tangan kanannya bertumpu pada sebuah tongkat kayu hitam berukir kepala singa dari perunggu. Namun yang paling menyita perhatian adalah separuh wajah bagian kirinya yang tertutup oleh topeng ukiran perak. Topeng itu nampak dingin, mengintimidasi, dan menyembunyikan bekas luka bakar mengerikan yang dirumorkan bagai wajah iblis. Agatha menghentikan langkahnya di hadapan sang Duke. Pendeta tua yang berdiri di belakang altar tampak gemetar sambil memegang kitab. Arthur menunduk sedikit dan menatap wanita di hadapannya melalui celah topeng perak. Manik matanya yang biru pucat berkilat setajam belati dan menyimpan ketertarikan penuh selidik. Rumor yang ia dengar menyebutkan bahwa pengantinnya adalah gadis penakut yang dipaksa menjadi istrinya. Ia sudah bersiap melihat seorang wanita melangkah maju sambil menangis tersedu-sedu atau pingsan ketakutan melihat topengnya. Namun Agatha justru menatap lurus tepat ke dalam mata biru itu tanpa ada sedikit pun getaran keraguan. "Kamu tidak gemetar, Lady Sterling?" tanya suara bertonasi berat, serak, dan penuh aura intimidasi yang memecah keheningan kapel. "Apakah ada alasan bagiku untuk gemetar, Yang Mulia?" balas Agatha cepat dengan nada suara jernih dan tenang yang menggema di dinding-dinding batu kapel. "Di mata Tuhan, kita hanyalah dua jiwa yang sedang mengikat perjanjian." Sudut bibir Arthur yang tak tertutup topeng terangkat tipis dan membentuk senyuman miring. "Perjanjian?" dengus Arthur ragu. "Tidak ada wanita yang mau menikah denganku tanpa punya niat tersembunyi. Jangan bersikap naif, Agatha. Kamu adalah seorang Sterling. Bagaimana bisa aku percaya kamu datang ke sini bukan untuk meracuniku atau menjadi mata-mata ayahmu?" Manik biru pucatnya menyempit dan menatap Agatha bagaikan seorang jenderal yang sedang menginterogasi tawanan atau musuh politiknya. "Katakan padaku, rahasia apa yang kamu sembunyikan?" bisiknya penuh selidik. Agatha tidak mundur selangkah pun. Ia justru mendongak dan menatap lurus mata biru pucat sang Duke tanpa getar. "Jika aku bermaksud membunuhmu, Yang Mulia, aku tidak akan berdiri sepasrah ini di hadapanmu. Keluargaku mungkin mengirimku ke sini untuk memanfaatkanmu dan menginginkan kekuasaan dan takhtamu, tapi tujuanku sendiri hanya satu, bertahan hidup," balas Agatha tenang namun tegas. Arthur terkekeh sinis. "Bertahan hidup dengan mendekati pria berdarah dingin sepertiku?" "Setidaknya Anda terang-terangan menunjukkan ketajaman Anda," sahut Agatha cepat. "Aku lebih memilih menghadapi pria yang jujur dengan kekejamannya daripada terus berada di dekat orang-orang yang berpura-pura baik padaku." Arthur tertegun dan keheningan merayap di antara mereka berdua selama beberapa detik. Tatapan tajam sang Duke seolah berusaha menguliti isi kepala Agatha dan mencari tahu apakah keberanian wanita itu hanya sekedar pura-pura. Namun yang ia temukan di mata amber pengantinnya hanyalah nyala api keberanian dan tekad yang kuat. "Pendeta," panggil Arthur tanpa mengalihkan pandangannya dari Agatha. "Mulai upacaranya. Sekarang!" Pendeta tua itu tersentak, lalu terbatuk cemas sebelum membalikkan halaman kitabnya dengan terburu-buru. Upacara pernikahan sakral itu berlangsung sangat singkat tanpa adanya khotbah panjang dan tanpa saksi selain bayangan pilar-pilar tua. "Arthur Pendelton, apakah Anda bersedia mengambil wanita ini sebagai istri yang sah?" "Ya," sahut Arthur singkat, tegas, dan tak ragu. "Agatha Sterling, apakah Anda bersedia mengambil pria ini sebagai suami yang sah?" Agatha menarik napas panjang dan meresapi aroma kayu cendana dari jubah sang Duke. "Saya bersedia." "Dengan kuasa Tuhan, saya nyatakan kalian sebagai suami dan istri. Anda boleh memasangkan cincin." Arthur merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah cincin emas putih tebal berhiaskan batu permata safir biru gelap. Pria itu meraih tangan kiri Agatha. Jemari Arthur terasa begitu kasar dan dipenuhi bekas luka pertempuran, namun genggaman tangannya pada saat menyematkan cincin itu di jari manis Agatha sangatlah kokoh dan penuh kehati-hatian yang tak terduga. Sentuhan lembut itu menyadarkan Agatha, bahwa pria ini bukanlah iblis tidak berperasaan seperti yang digosipkan seluruh London. "Perjalanan menuju kastil Blackwood memakan waktu dua jam," bisik Arthur pelan saat ia melepaskan tangan Agatha. "Istirahatlah di kereta mulai malam ini, kehidupan lamamu telah mati, Duchess." "Itu memang yang saya harapkan, My Lord," jawab Agatha. Hujan deras mulai mengguyur saat kereta kuda bertirai tebal yang membawa Agatha tiba di pelataran kastil Blackwood. Bangunan batu megah bergaya Gotik itu berdiri angkuh di atas tebing dan dikelilingi oleh pekatnya kabut malam. Arthur tidak naik di kereta yang sama, sang Duke memilih menunggang kuda hitamnya sendiri di depan rombongan dan mengawal perjalanan seolah memastikan pengantin barunya tiba tanpa kurang suatu apa pun. Seorang pelayan paruh baya berwajah ketus bernama Mrs. Esper menyambut Agatha di pintu utama yang megah tanpa banyak bicara atau obrolan basa-basi. Pelayan itu langsung menuntun Agatha menyusuri koridor-koridor lorong yang remang dan dingin menuju kamar utama Duchess di lantai dua. "Ini kamar Anda, Yang Mulia," ujar Mrs. Esper dingin. "Duke meminta Anda untuk langsung beristirahat. Beliau memiliki urusan mendesak di ruang kerja malam ini." "Terima kasih!" jawab Agatha pendek. Agatha menarik napas lega begitu pintu kayu itu tertutup dan suara langkah kaki pelayan perlahan-lahan memudar di lorong. Ia melepas tudung pengantinnya dan melemparkannya ke atas sofa. Kamar itu sangat luas, didominasi warna gelap dan perabot kayu mahoni mahal, namun suasananya terasa begitu dingin, kaku dan tak berpenghuni. Tubuh Agatha terasa lelah sejak ia terbangun di masa lalu dan menyerap habis tenaganya. Ia melangkah menuju tempat tidur besar bermaterialkan kain beludru merah marun di tengah ruangan. Ia melepas sepatu hak tingginya yang menyiksa. Saat ia hendak melempar sepatunya ke kolong tempat tidur, ujung sepatunya membentur sesuatu yang padat dan keras di bawah sana. Agatha mengerutkan dahi. "Apa itu?" Agatha berlutut di atas karpet tebal. Ia menyingkap kain tirai penutup tempat tidur yang menjuntai hingga ke lantai dan mengintip ke dalam kegelapan kolong ranjang. Bau anyir darah yang menyengat langsung menusuk hidungnya. Mata Agatha membelalak sempurna dan jantungnya seakan berhenti berdetak saat jemarinya membeku di udara. Di dalam remang kegelapan di bawah tempat tidur itu, terbujur kaku sebuah tubuh. Wajah mayat itu pucat keabuan dan matanya melotot hampa, menunjukkan bekas racun mematikan yang merenggut nyawanya. Mayat kaku bergaun pengantin yang membusuk di bawah tempat tidur itu adalah dirinya sendiri, Lady Agatha Sterling.Arthur tak langsung menjawab. Ia menatap dalam-dalam wajah Agatha dan membiarkan keheningan menggantung di antara mereka."Justru sebaliknya. Untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan kita aku mulai merasa pernikahan ini tidak seburuk yang kubayangkan," bisik Arthur serak di dekat telinga Agatha.Sebelum Agatha sempat mencerna arti dari ucapan itu atau membalasnya, seorang pengawal berzirah setengah berlari mendekat dan membungkuk hormat di hadapan Arthur."Mohon maaf menganggu waktu Anda, Yang Mulia," bisik pengawal itu tergesa-gesa. "Ada pesan darurat dari markas Parlemen. Tuan Besar diminta segera hadir."Arthur menatap Agatha sejenak, lalu kembali memasang raut wajahnya yang dingin dan tak tersentuh."Tunggulah di lorong selatan ini, Agatha!Kereta kuda sudah bersiap di pintu samping. Aku hanya mengurus hal ini sebentar dan akan segera kembali," ujar Arthur datar tanpa menunggu persetujuan istrinya.Pria itu berbalik dan melangkah cepat menyusuri lorong bersama pengawalny
Tiga hari kemudian, kastil Blackwood menerima surat undangan berstempel emas dari Ratu Charlotte. Undangan jamuan teh itu memaksa Agatha kembali ke Mayfair, pusat perkumpulan bangsawan yang penuh racun sosial yang bersembunyi di balik keanggunan para bangsawan.Setibanya di istana, Agatha disambut secara khusus oleh Ratu Charlotte di ruang minum teh pribadi. Sang Ratu dengan matanya yang tajam memindai penampilannya, lalu tersenyum tipis penuh arti."Selamat datang kembali di istana, Duchess of Blackwood," ucap Ratu Charlotte dengan nada anggun seraya menyeruput tehnya perlahan. "Udara musim ini rupanya membawa kesegaran baru bagi Kastil Blackwood. Penampilanmu tampak sangat memukau hari ini."Agatha membungkuk hormat dengan tenang. "Suatu kehormatan besar, Yang Mulia. Terima kasih atas sambutan dan perhatian yang begitu hangat."Ratu Charlotte tertawa kecil dan memberikan gestur ramah yang membuat Agatha tahu bahwa posisinya di istana berdiri di atas fondasi yang aman. Sesaat ke
Agatha menahan napas. Ia memutar tubuhnya perlahan dengan ketenangan yang dipaksakan. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan gaun panjang khas cendekiawan. Matanya yang cekung menatap Agatha dari balik kacamata tebalnya.Agatha mengingat jelas berkas informasi yang sempat ia baca sebelum meninggalkan kediaman Sterling. Pria paruh baya di hadapannya tidak lain adalah Dr. Silas, dokter yang memegang kendali atas kesehatan sang Duke selama bertahun-tahun."Sedang apa Anda mengintip ruang kerja suami Anda, Yang Mulia?" ulang Dr. Silas dengan suara serak yang dipaksakan ramah. Pandangannya langsung terpatri pada wadah porselen kecil di genggaman Agatha. "Dan apa yang Anda bawa di dalam cawan itu?"Agatha menegakkan punggungnya dan membiarkan gaun sutra biru tuanya yang tegas memancarkan keanggunan seorang Duchess. Matanya mengunci Dr. Silas dengan dingin."Apakah seorang Duchess harus meminta izin pada dokter pribadi hanya untuk menjenguk suaminya sendiri?
"Aku menolak," potong Arthur dingin.Kalimat singkat itu menghantam keheningan kamar seperti sabetan belati."Aku tidak butuh tabib berwujud pengantin, Agatha, dan aku tidak sudi menjual perlindunganku hanya untuk janji manis seorang Sterling."Pria itu memiringkan kepalanya dan menatap Agatha dari balik celah topeng perak yang telah kembali menutupi separuh wajahnya. "Simpan racikan daun liarmu untuk dirimu sendiri, Lady Sterling. Aku sudah bertahan hidup bertahun-tahun di medan perang tanpa bantuan seorang putri bangsawan yang tiba-tiba mengaku sebagai penyembuh."Agatha tidak berpaling. "Kamu lebih memilih menderita nyeri saraf tiap malam daripada menerima bantuan dari istrimu sendiri?""Aku lebih memilih rasa sakit yang nyata daripada meminum ramuan dari putri keluarga Sterling yang sewaktu-waktu bisa menggorok leherku saat tertidur," sahut Arthur tajam. Pria itu membalikkan badan dan berjalan menuju pintu penghubung ruang kerjanya."Tidurlah! Jangan campuri urusanku lagi!"
Hujan deras menyiram permukaan tebing batu tempat kastil Blackwood berdiri. Pintu kayu terbuka menyambut kedatangan sang pengantin baru. Arthur yang baru saja mengurus pengamanan benteng di lantai bawah bersama para pengawalnya hanya memberi isyarat dingin pada Mrs. Esper untuk langsung mengantar istrinya.Mrs. Esper, pengurus rumah tangga yang kaku tanpa senyum, menuntun Agatha menyusuri lorong menuju kamar utama di lantai dua."Selamat malam, Yang Mulia! Ini kamar Anda," ujar Mrs. Esper singkat lalu segera pergi.Setelah pintu ditutup dan jejak langkah pelayan itu memudar, Agatha menghela napas panjang. Ia memperhatikan sekelilingnya. Kamar ini sama persis dengan kamar tempat ia mati di kehidupan lalunya.Di kehidupan lalunya, ia akan memilih untuk mengurung diri di kamar. Dada Agatha berdebar kencang dan ingatan tentang jasadnya di bawah ranjang masih membuat jemarinya dingin.Tenggorokannya terasa kering akibat ketegangan di jalan tadi. Agatha melangkah mendekati meja bundar di s
"T-tidak, ini tidak mungkin!" bisik Agatha, suaranya tercekat di tenggorokan.Darahnya membeku dan jemarinya bergetar hebat saat ia berusaha menarik kembali tangannya dari lipatan kain penutup ranjang. Penglihatannya mendadak mengabur dan udara di kamar luas itu serasa mendadak menipis dan menekan dadanya hingga sulit bernapas. Bagaimana mungkin mayat dirinya sendiri ada di bawah tempat tidur ini sementara ia berdiri tegak di sini?"Pembunuh itu, orang yang membunuhku di kehidupan lalu telah menyembunyikan jasadku di kamar ini."Kesadaran itu menghantam benaknya. Agatha memejamkan matanya dan mencengkeram dadanya sendiri demi merasakan detak jantungnya yang memburu kencang. Ia masih bernapas yang membuktikan bahwa ia masih hidup.Namun, sebelum Agatha sempat menyentuh mayat itu, pandangannya mendadak kabur dan berganti dengan goncangan keras kereta kuda.Agatha tersentak kaget. Mata ambernya terbuka lebar dan napasnya tersengal-sengal. Ia tidak berada di dalam kamar kastil Blackwood







