LOGINAgatha menahan napas. Ia memutar tubuhnya perlahan dengan ketenangan yang dipaksakan. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan gaun panjang khas cendekiawan. Matanya yang cekung menatap Agatha dari balik kacamata tebalnya.
Agatha mengingat jelas berkas informasi yang sempat ia baca sebelum meninggalkan kediaman Sterling. Pria paruh baya di hadapannya tidak lain adalah Dr. Silas, dokter yang memegang kendali atas kesehatan sang Duke selama bertahun-tahun. "Sedang apa Anda mengintip ruang kerja suami Anda, Yang Mulia?" ulang Dr. Silas dengan suara serak yang dipaksakan ramah. Pandangannya langsung terpatri pada wadah porselen kecil di genggaman Agatha. "Dan apa yang Anda bawa di dalam cawan itu?" Agatha menegakkan punggungnya dan membiarkan gaun sutra biru tuanya yang tegas memancarkan keanggunan seorang Duchess. Matanya mengunci Dr. Silas dengan dingin. "Apakah seorang Duchess harus meminta izin pada dokter pribadi hanya untuk menjenguk suaminya sendiri?" sahut Agatha datar. Ia menatap lurus mata cekung pria tua di hadapannya. Dr. Silas membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan kaku. "Tentu tidak, Yang Mulia. Namun, kondisi sang Duke sangat sensitif. Beliau membutuhkan ketenangan penuh dan ramuan medis yang sudah teruji bukan olahan herbal liar.” Agatha menyunggingkan senyuman tipis yang membekukan. "Ramuan medis teruji yang kamu berikan selama bertahun-tahun bahkan tidak sanggup meredakan nyeri sarafnya selama satu malam, Dr. Silas. Jika metode milikmu benar-benar berhasil, suamiku tidak akan meringis kesakitan setiap kali matahari terbenam." Wajah Dr. Silas mendadak memerah dan merasa tersinggung oleh sindiran itu. "Saya hanya menjalankan tugas profesional saya, Yang Mulia!" "Maka biarkan saya menjalankan tugas saya sebagai istrinya," potong Agatha penuh wibawa. "Sekarang, menyingkirlah! Sebelum saya mulai mempertanyakan kompetensi dan kesetiaan Anda pada kastil Blackwood.” Dr. Silas tertegun seribu bahasa. Dokter tua itu akhirnya membungkuk kaku, memutar badan, lalu melangkah pergi menyusuri koridor sunyi dengan terburu-buru. Setelah langkah kaki Dr. Silas menghilang sepenuhnya, Agatha menghela napas pelan, lalu mendorong pintu hingga terbuka lebih lebar. Aroma kayu cendana bercampur minyak lilin menyambutnya. Ia melangkah perlahan mengitari meja kayu besar hingga berdiri tepat di belakang kursi tinggi tempat Arthur bersandar. "Pria ini benar-benar tidak pernah membiarkan dirinya beristirahat," bisik Agatha seraya menatap punggung kaku sang Duke. "Bahkan saat tubuhmu sendiri berteriak meminta pertolongan, Arthur.” Napas sang Duke terdengar berat dan terputus-putus. Otot lehernya menegang, sementara denyut di pelipisnya memperlihatkan rasa sakit hebat yang terus menyiksanya meskipun dalam tidur. "Racun endapan dari senjata bernanah ini sudah menyebar terlalu jauh," gumam Agatha pelan seraya mengamati lekuk ketegangan di wajah Arthur. "Tanpa ramuan ini, rasa sakit itu akan merusak sarafmu perlahan-lahan.” Agatha membuka tutup wadah porselen kecil di tangannya dan mengambil sedikit salep kental yang telah menyerap pendar sihir rahasianya, lalu ia mengoleskan ramuan herbal itu ke pelipis dan tengkuk Arthur. "Ini langkah pertamaku untuk mendapatkan kepercayaanmu," bisik Agatha tepat di dekat telinga Arthur yang terlelap. "Kamu boleh membenciku, tetapi kamu akan membutuhkan jemari ini untuk bertahan hidup.” Otot-otot wajah Arthur mendadak meliuk tegang di bawah sentuhan itu, namun sebelum kesadarannya sempat bangun, aliran hangat sihir penyembuh yang memancar dari jemari Agatha merayap cepat menembus pori-pori kulitnya. Ia mengurut pelan pelipis berurat itu, lalu menggeser jemarinya menyusuri garis rahang hingga ke tengkuk dan kaki sang Duke. Kerutan kaku di kening Arthur mendadak mengendur. Helaan napasnya yang memburu pelan-pelan melambat. Sebuah helaan napas lega hampir menyerupai dengkuran halus lolos dari bibir pria itu. "Nikmatilah keheningan ini," gumam Agatha lembut di balik helaan napasnya. "Karena besok, perang kita yang sesungguhnya baru dimulai." Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik. Sensasi asing yang menghentikan rasa sakit di kepalanya mendadak memicu alarm bahaya di otak sang Duke. Kelopak mata Arthur terbuka lebar. Manik matanya berkilat liar bagai binatang buas yang terbangun di tengah sarangnya dan tanpa aba-aba, tangan kanan Arthur bergerak secepat kilat. Jemari besarnya yang kuat bagai cengkeraman besi memutar ke belakang dan mencengkeram erat pergelangan tangan Agatha dan merenggut tubuh wanita itu hingga terdorong jatuh condong ke hadapannya hingga dada mereka hampir bersentuhan. Ujung hidung mereka nyaris bersinggungan. Agatha bisa merasakan hembusan napas hangat Arthur yang memburu menerpa kulit wajahnya. Sementara mata sang Duke mengunci manik matanya dengan kebuasan yang mengintimidasi. "Siapa yang mengizinkan kamu menyentuhku?!" bentak Arthur dengan suara berat yang parau. Agatha tidak menjerit. Ia tidak memalingkan wajahnya sedikit pun, meskipun cengkeraman di tangannya terasa amat menyakitkan. "Aku hanya mengobati suamiku yang sedang merintih kesakitan dalam tidurnya," sahut Agatha tenang tanpa ada getaran takut. Arthur menyipitkan mata dan dadanya naik turun memburu. Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya dan berusaha mencari celah niat jahat. Namun, yang ia temukan hanyalah pantulan dirinya sendiri dan aroma wangi herbal yang menenangkan di telapak tangan istrinya. Wajahnya yang tak tertutup topeng perak memperlihatkan bekas luka bakar memerah dari jarak dekat, namun Agatha juga tidak menampakkan keraguan sedikit pun. Sadar akan jarak wajah mereka yang terlalu dekat dan detak jantungnya sendiri yang mendadak berdegup kencang, gengsi Arthur sebagai pria dan panglima perang mendadak terusik. Ia segera menghempaskan pergelangan tangan Agatha dengan kasar. "Jangan bertindak lancang, Agatha!" geram Arthur seraya meraih topeng peraknya dari atas meja dan memasangnya kembali dengan terburu-buru. "Aku tidak memintamu menjadi penyembuhku. Keluar dari ruang kerjaku sekarang!" Agatha merapikan gaun sutra biru tuanya yang sedikit kusut, lalu menunjuk wadah porselen di samping tumpukan berkas. "Aku sudah mengoleskan salep itu ke leher, pelipis,dan kakimu," ujar Agatha datar. "Cobalah berdiri dan melangkah, My Lord, lalu katakan padaku apakah rasa sakit yang menyiksamu masih ada." Arthur mengepalkan tangannya di atas meja dan bersiap melontarkan kata-kata pedas lainnya untuk mengusir sang Duchess. "Kamu pikir ramuan daun liarmu dalam hitungan detik bisa ...." Ucapan Arthur terhenti seketika. Rasa nyeri menusuk yang biasanya melilit otot leher, bahu, dan menyebar hingga ke kakinya setiap kali ia terbangun mendadak lenyap. Sensasi hangat dan ringan merayapi bagian tubuhnya yang dioles salep. Arthur tertegun dan matanya membelalak tak percaya. Ia melangkah satu kali lagi tanpa bantuan tongkatnya dan rasa sakit itu benar-benar hilang. Perlahan ia menatap Agatha yang berdiri tenang di hadapannya. "Bagaimana kamu melakukan ini?" tanya Arthur antara takjub dan rasa curiga. "Aku sudah mengatakannya kemarin malam, Arthur. Aku ahli dalam hal ini dan aku adalah penyembuhmu bukan musuhmu, tapi sepertinya rasa percayamu padaku jauh lebih tipis dari kertas dokumen di mejamu," balas Agatha seraya melangkah mendekati pintu keluar. Arthur menatap punggung Agatha dengan perasaan berkecamuk dan kembali membentengi dirinya dengan sikap dingin. Nalurinya sebagai pria yang sering dikhianati oleh orang-orang terdekatnya mengajarkannya untuk tak pernah menyerahkan kepercayaan sepenuhnya pada siapa pun terutama pada seorang Sterling. "Tunggu, Agatha!" panggil Arthur dingin yang menghentikan langkah sang Duchess di ambang pintu. Agatha menoleh sedikit. "Ya, Yang Mulia?" "Ramuanmu mungkin bisa meredakan rasa sakit fisikku," ujar Arthur. "Tapi jangan pernah berpikir rasa sakit yang hilang ini membuatku mempercayaimu sepenuhnya. Keluargamu ahli dalam racun dan manipulasi. Ramuan ini bisa saja menyembuhkanku hari ini, lalu membunuhku perlahan esok hari dan aku akan selalu mengawasi setiap gerak-gerikmu di kastil ini." Agatha menatap suaminya, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Awasilah sesukamu, Arthur!" sahut Agatha pelan namun penuh penekanan. Agatha melangkah keluar dan menutup pintu tanpa menunggu balasan sang Duke. Langkah kaki Agatha yang tenang perlahan menghilang di balik lorong kastil yang dingin. Di dalam ruang kerja, keheningan mendadak terasa terlalu sunyi bagi Arthur. Sang Duke berdiri mematung di samping meja kayunya. Ia menunduk dan menatap kakinya sendiri. Perlahan, ia menghentakkan tumitnya ke lantai batu. Rasa sakitnya benar-benar hilang tidak ada rasa ngilu yang menusuk yang biasanya membuat napasnya tersengal. Arthur melangkah menuju jendela tinggi yang mengarah ke pelataran kastil tanpa tongkat. Setiap langkahnya terasa kokoh dan ringan, sesuatu yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia rasakan sejak tragedi perang itu. "Siapa sebenarnya kamu, Agatha Sterling?"Tiga hari kemudian, kastil Blackwood menerima surat undangan berstempel emas dari Ratu Charlotte. Undangan jamuan teh itu memaksa Agatha kembali ke Mayfair, pusat perkumpulan bangsawan yang penuh racun sosial yang bersembunyi di balik keanggunan para bangsawan.Setibanya di istana, Agatha disambut secara khusus oleh Ratu Charlotte di ruang minum teh pribadi. Sang Ratu dengan matanya yang tajam memindai penampilannya, lalu tersenyum tipis penuh arti."Selamat datang kembali di istana, Duchess of Blackwood," ucap Ratu Charlotte dengan nada anggun seraya menyeruput tehnya perlahan. "Udara musim ini rupanya membawa kesegaran baru bagi Kastil Blackwood. Penampilanmu tampak sangat memukau hari ini."Agatha membungkuk hormat dengan tenang. "Suatu kehormatan besar, Yang Mulia. Terima kasih atas sambutan dan perhatian yang begitu hangat."Ratu Charlotte tertawa kecil dan memberikan gestur ramah yang membuat Agatha tahu bahwa posisinya di istana berdiri di atas fondasi yang aman. Sesaat ke
Agatha menahan napas. Ia memutar tubuhnya perlahan dengan ketenangan yang dipaksakan. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan gaun panjang khas cendekiawan. Matanya yang cekung menatap Agatha dari balik kacamata tebalnya.Agatha mengingat jelas berkas informasi yang sempat ia baca sebelum meninggalkan kediaman Sterling. Pria paruh baya di hadapannya tidak lain adalah Dr. Silas, dokter yang memegang kendali atas kesehatan sang Duke selama bertahun-tahun."Sedang apa Anda mengintip ruang kerja suami Anda, Yang Mulia?" ulang Dr. Silas dengan suara serak yang dipaksakan ramah. Pandangannya langsung terpatri pada wadah porselen kecil di genggaman Agatha. "Dan apa yang Anda bawa di dalam cawan itu?"Agatha menegakkan punggungnya dan membiarkan gaun sutra biru tuanya yang tegas memancarkan keanggunan seorang Duchess. Matanya mengunci Dr. Silas dengan dingin."Apakah seorang Duchess harus meminta izin pada dokter pribadi hanya untuk menjenguk suaminya sendiri?
"Aku menolak," potong Arthur dingin.Kalimat singkat itu menghantam keheningan kamar seperti sabetan belati."Aku tidak butuh tabib berwujud pengantin, Agatha, dan aku tidak sudi menjual perlindunganku hanya untuk janji manis seorang Sterling."Pria itu memiringkan kepalanya dan menatap Agatha dari balik celah topeng perak yang telah kembali menutupi separuh wajahnya. "Simpan racikan daun liarmu untuk dirimu sendiri, Lady Sterling. Aku sudah bertahan hidup bertahun-tahun di medan perang tanpa bantuan seorang putri bangsawan yang tiba-tiba mengaku sebagai penyembuh."Agatha tidak berpaling. "Kamu lebih memilih menderita nyeri saraf tiap malam daripada menerima bantuan dari istrimu sendiri?""Aku lebih memilih rasa sakit yang nyata daripada meminum ramuan dari putri keluarga Sterling yang sewaktu-waktu bisa menggorok leherku saat tertidur," sahut Arthur tajam. Pria itu membalikkan badan dan berjalan menuju pintu penghubung ruang kerjanya."Tidurlah! Jangan campuri urusanku lagi!"
Hujan deras menyiram permukaan tebing batu tempat kastil Blackwood berdiri. Pintu kayu terbuka menyambut kedatangan sang pengantin baru. Arthur yang baru saja mengurus pengamanan benteng di lantai bawah bersama para pengawalnya hanya memberi isyarat dingin pada Mrs. Esper untuk langsung mengantar istrinya.Mrs. Esper, pengurus rumah tangga yang kaku tanpa senyum, menuntun Agatha menyusuri lorong menuju kamar utama di lantai dua."Selamat malam, Yang Mulia! Ini kamar Anda," ujar Mrs. Esper singkat lalu segera pergi.Setelah pintu ditutup dan jejak langkah pelayan itu memudar, Agatha menghela napas panjang. Ia memperhatikan sekelilingnya. Kamar ini sama persis dengan kamar tempat ia mati di kehidupan lalunya.Di kehidupan lalunya, ia akan memilih untuk mengurung diri di kamar. Dada Agatha berdebar kencang dan ingatan tentang jasadnya di bawah ranjang masih membuat jemarinya dingin.Tenggorokannya terasa kering akibat ketegangan di jalan tadi. Agatha melangkah mendekati meja bundar di s
"T-tidak, ini tidak mungkin!" bisik Agatha, suaranya tercekat di tenggorokan.Darahnya membeku dan jemarinya bergetar hebat saat ia berusaha menarik kembali tangannya dari lipatan kain penutup ranjang. Penglihatannya mendadak mengabur dan udara di kamar luas itu serasa mendadak menipis dan menekan dadanya hingga sulit bernapas. Bagaimana mungkin mayat dirinya sendiri ada di bawah tempat tidur ini sementara ia berdiri tegak di sini?"Pembunuh itu, orang yang membunuhku di kehidupan lalu telah menyembunyikan jasadku di kamar ini."Kesadaran itu menghantam benaknya. Agatha memejamkan matanya dan mencengkeram dadanya sendiri demi merasakan detak jantungnya yang memburu kencang. Ia masih bernapas yang membuktikan bahwa ia masih hidup.Namun, sebelum Agatha sempat menyentuh mayat itu, pandangannya mendadak kabur dan berganti dengan goncangan keras kereta kuda.Agatha tersentak kaget. Mata ambernya terbuka lebar dan napasnya tersengal-sengal. Ia tidak berada di dalam kamar kastil Blackwood
Kereta kuda berhenti tepat di pelataran kapel Saint Jude yang merupakan sebuah gereja batu tua di pinggiran Mayfair yang sengaja dikosongkan. Di sana tidak terlihat adanya karpet merah di tangga, lonceng gereja tidak dibunyikan, dan para bangsawan sama sekali tidak diundang tidak seperti pernikahan pada umumnya. Lokasi itu sangat sunyi dan udaranya terasa sangat dingin.Kusir membukakan pintu kereta. Agatha melangkah turun, menegakkan punggungnya, dan membiarkan gaun sutra pengantinnya terseret di atas lantai batu yang kotor.Di dalam kapel yang temaram, nyala lilin-lilin kecil bergetar lemah hanya mampu menerangi sebagian kecil pilar batu tua dan menyembunyikan sisanya dalam bayangan. Di depan altar yang dingin, seorang pria bertubuh tinggi telah berdiri menunggunya dalam balutan jubah putih bersulam emas yang megah.Tangan kanannya bertumpu pada sebuah tongkat kayu hitam berukir kepala singa dari perunggu. Namun yang paling menyita perhatian adalah separuh wajah bagian kirinya yang







