LOGINTiga hari kemudian, kastil Blackwood menerima surat undangan berstempel emas dari Ratu Charlotte. Undangan jamuan teh itu memaksa Agatha kembali ke Mayfair, pusat perkumpulan bangsawan yang penuh racun sosial yang bersembunyi di balik keanggunan para bangsawan.
Setibanya di istana, Agatha disambut secara khusus oleh Ratu Charlotte di ruang minum teh pribadi. Sang Ratu dengan matanya yang tajam memindai penampilannya, lalu tersenyum tipis penuh arti. "Selamat datang kembali di istana, Duchess of Blackwood," ucap Ratu Charlotte dengan nada anggun seraya menyeruput tehnya perlahan. "Udara musim ini rupanya membawa kesegaran baru bagi Kastil Blackwood. Penampilanmu tampak sangat memukau hari ini." Agatha membungkuk hormat dengan tenang. "Suatu kehormatan besar, Yang Mulia. Terima kasih atas sambutan dan perhatian yang begitu hangat." Ratu Charlotte tertawa kecil dan memberikan gestur ramah yang membuat Agatha tahu bahwa posisinya di istana berdiri di atas fondasi yang aman. Sesaat kemudian, setelah berpamitan dan meninggalkan ruang pribadi sang Ratu, Agatha melangkah menyusuri koridor marmer yang membawanya langsung ke aula utama. Sesi jamuan utama pun dimulai. Agatha melangkah masuk ke aula dengan gaun sutra merah marun berpotongan tegas. Di antara denting cangkir porselen Meissen, gaun-gaun berenda mahal, dan aroma parfum yang saling beradu, kehadirannya langsung menyita perhatian. "Oh, lihat siapa yang akhirnya menampakkan diri!" suara merdu yang dipaksakan manis melingkupi pendengaran Agatha. Lady Beatrice Sterling melangkah mendekat dengan gaun renda merah muda yang dipenuhi oleh permata halus. Senyumannya mengembang lebar yang sudah dihafal Agatha sebagai topeng dari kebencian. "Kak Agatha, maksudku, Yang Mulia," ujar Beatrice setengah membungkuk yang memancing perhatian para nyonya bangsawan di sekitarnya. "Kami sangat mengkhawatirkanmu. Bagaimana kehidupanmu di Kastil Blackwood yang dingin itu? Apakah Duke memperlakukanmu dengan baik?" Agatha menyesap tehnya perlahan dan membiarkan keheningan menggantung sejenak. "Kastil Blackwood sangat hangat, Beatrice. Jauh lebih hangat daripada rumah yang dipenuhi oleh orang-orang bermuka dua." Beatrice menegang sejenak, namun dengan cepat menguasai raut wajahnya. Ia tertawa kecil dan mengibaskan kipas bulunya. "Ah, Kakak selalu pandai bersikap tegar, tapi kita semua tahu betapa beratnya hidup berdampingan dengan pahlawan perang yang bertemperamen sulit dan berwajah penuh luka." Beatrice lalu berbalik menghadapi para nyonya bangsawan senior dan Countess yang mengerumuni meja utama. "Bicara soal ketenangan jiwa," lanjut Beatrice dengan nada percaya diri. Ia mengeluarkan sebuah botol porselen berukir indah dari tas kecilnya. "Saya baru saja meracik minyak aromaterapi herbal penenang. Formula ini khusus saya kembangkan untuk meredakan stres, kecemasan, dan insomnia berat, bahkan Ratu pun sangat menyukai aromanya saat saya persembahkan tadi." Beatrice melirik Agatha dengan tatapan mengejek. "Mungkin Kak Agatha sangat membutuhkannya, mengingat betapa melelahkannya menjadi istri seorang monster." Beberapa nyonya bangsawan menutup mulut dengan kipas dan menahan senyum. Beatrice sengaja merancang situasi itu untuk mempermalukan Agatha di hadapan publik. "Bolehkah aku mencium aromanya lebih dekat, Beatrice?" tanya Agatha tenang tanpa sedikit pun keraguan atau kemarahan di wajahnya. Beatrice tersenyum puas dan mengira Agatha mulai terpengaruh dan ingin menyerah. "Tentu saja, Kakak. Cobalah!" Agatha menerima botol porselen itu, membuka tutupnya, dan menyesap aromanya perlahan. Dalam hitungan detik, ia langsung mengenali tiap komposisi di dalamnya. Ini adalah formula minyak penenang yang ia ciptakan di kehidupan lalunya, formula yang dicuri Beatrice dari buku catatannya di rumah kaca. "Formula yang mengagumkan," puji Agatha pelan. Ia memutar botol porselen itu. "Ekstrak lavender liar, minyak kayu cendana, dan ekstrak daun belladonna terkonsentrasi yang dicampur minyak bergamot?" Beatrice mengangkat dagunya angkuh. "Tentu saja. Itu kombinasi rahasia yang aku riset berbulan-bulan." "Pilihan yang sangat berani, Beatrice," potong Agatha dengan nada yang begitu lembut, namun berpotensi mematikan. "Tapi bukankah sangat berbahaya, jika ekstrak belladonna dalam kadar ini bertemu langsung dengan minyak bergamot dan terpapar panas tubuh?" Para nyonya bangsawan di sekeliling mereka mendadak menghentikan percakapan. "A-apa maksudmu?" raut wajah Beatrice mulai goyah. "Efeknya bukan menenangkan, tetapi memicu ruam merah panas dan rasa gatal seperti terbakar pada kulit yang sensitif," jelas Agatha dengan ekspresi polos tanpa cela. "Mungkin kamu tidak mengetahuinya, Beatrice, karena kamu terlalu sibuk menerima pujian daripada menguji keamanan reaksinya secara menyeluruh." Tamparan halus itu menghantam telak. Wajah Beatrice berubah pucat pasi. "I-itu tidak benar!" sergah Beatrice gugup. Ia menyadari pandangan para nyonya bangsawan di sekitarnya mendadak berubah penuh keraguan. "Aku sudah mengujinya berulang kali. Kamu hanya iri pada bakatku, Agatha." Agatha tersentak pelan seraya tersenyum tipis. "Jika begitu, kenapa kamu tidak membuktikannya sekarang di hadapan para Nyonya? Cukup oleskan dua tetes di pergelangan tanganmu sendiri." Suasana jamuan teh mendadak hening membeku. Beatrice mematung. Tangannya gemetar hebat. Ia tahu betul ia tidak pernah meriset zat itu, ia hanya menjiplak catatan Agatha tanpa paham reaksi kimia di dalamnya. Jika menolaknya, ia dianggap menipu. Namun jika mengoleskannya, kulit mulusnya berisiko terkena ruam parah. "Kenapa diam, Lady Beatrice?" bisik Countess of Salisbury yang berdiri tepat di sampingnya dan menatap Beatrice dengan mata memicing curiga. Saat Beatrice terdesak, sebuah suara berat yang teratur menghentak lantai dari arah lorong luar jamuan. "Sepertinya ada perbincangan tentang ilmu pengobatan yang cukup hangat di sini." Arthur Pendelton melangkah masuk. Sang Duke mengenakan seragam militer bernuansa hitam perak yang megah dan topeng peraknya berkilat memantulkan cahaya lilin kristal. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat para bangsawan menahan napas dalam kemegahan aura intimidasinya. Agatha tersentak pelan. Matanya beradu dengan manik Arthur di balik topeng. "Pria ini benar-benar tidak punya pekerjaan lain selain memata-mataiku?" sungut Agatha yang hampir menyerupai bisikan. "Duchess-ku benar," suara Arthur bergema tenang. "Sebagai mantan panglima perang yang sering berurusan dengan racun perbatasan, campuran ini memang beracun untuk kulit. Ini sangat tidak bertanggung jawab membawa barang berbahaya ini ke jamuan Ratu." Bisikan tajam dan tatapan menghina dari para nyonya bangsawan langsung mengarah pada Beatrice. Sang adik hanya bisa tertunduk dalam-dalam, menahan malu dan amarah yang membakar dadanya, karena kebohongan serta niat jahatnya terbongkar habis. "I-itu tidak benar! Yang Mulia, Anda salah paham. S-saya tidak bermaksud ...." Tanpa memberi kesempatan pada Beatrice untuk membela diri, Arthur memegang jemari Agatha dan membungkuk hormat secara dingin kepada para bangsawan. Dengan wibawa yang menghentikan riuh bisikan di ruangan itu, sang Duke menuntun istrinya melangkah pergi. Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan utama jamuan teh menuju lorong istana yang lebih tenang. Agatha menarik pelan tangannya dari genggaman Arthur dan menatap suaminya dengan alis bertaut. "Kamu sengaja memunculkan diri untuk memamerkan kekuasaanmu, My Lord?" tanya Agatha dengan nada kesal yang tertahan. "Aku bisa menangani Beatrice sendirian tanpa campur tanganmu." Arthur menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Agatha. Pria itu memajukan tubuhnya sedikit dan mengikis jarak hingga Agatha bisa merasakan kehangatan yang menguar dari dada bidang sang Duke. "Aku tidak meragukan kemampuanmu," ujar Arthur bertonasi rendah dan dalam. "Aku hanya tidak menyangka istriku ternyata memiliki lidah yang cukup beracun dan berbahaya." Dada Agatha bergemuruh berada begitu dekat dengan Arthur membuat napasnya mendadak tidak teratur. "Apakah kamu menyesal telah menikahi wanita berbahaya sepertiku, Duke of Blackwood?" tantang Agatha seraya menatap lurus mata di balik topeng perak itu. Arthur tak langsung menjawab. Ia menatap dalam-dalam wajah Agatha dan membiarkan keheningan menggantung di antara mereka."Justru sebaliknya. Untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan kita aku mulai merasa pernikahan ini tidak seburuk yang kubayangkan," bisik Arthur serak di dekat telinga Agatha.Sebelum Agatha sempat mencerna arti dari ucapan itu atau membalasnya, seorang pengawal berzirah setengah berlari mendekat dan membungkuk hormat di hadapan Arthur."Mohon maaf menganggu waktu Anda, Yang Mulia," bisik pengawal itu tergesa-gesa. "Ada pesan darurat dari markas Parlemen. Tuan Besar diminta segera hadir."Arthur menatap Agatha sejenak, lalu kembali memasang raut wajahnya yang dingin dan tak tersentuh."Tunggulah di lorong selatan ini, Agatha!Kereta kuda sudah bersiap di pintu samping. Aku hanya mengurus hal ini sebentar dan akan segera kembali," ujar Arthur datar tanpa menunggu persetujuan istrinya.Pria itu berbalik dan melangkah cepat menyusuri lorong bersama pengawalny
Tiga hari kemudian, kastil Blackwood menerima surat undangan berstempel emas dari Ratu Charlotte. Undangan jamuan teh itu memaksa Agatha kembali ke Mayfair, pusat perkumpulan bangsawan yang penuh racun sosial yang bersembunyi di balik keanggunan para bangsawan.Setibanya di istana, Agatha disambut secara khusus oleh Ratu Charlotte di ruang minum teh pribadi. Sang Ratu dengan matanya yang tajam memindai penampilannya, lalu tersenyum tipis penuh arti."Selamat datang kembali di istana, Duchess of Blackwood," ucap Ratu Charlotte dengan nada anggun seraya menyeruput tehnya perlahan. "Udara musim ini rupanya membawa kesegaran baru bagi Kastil Blackwood. Penampilanmu tampak sangat memukau hari ini."Agatha membungkuk hormat dengan tenang. "Suatu kehormatan besar, Yang Mulia. Terima kasih atas sambutan dan perhatian yang begitu hangat."Ratu Charlotte tertawa kecil dan memberikan gestur ramah yang membuat Agatha tahu bahwa posisinya di istana berdiri di atas fondasi yang aman. Sesaat ke
Agatha menahan napas. Ia memutar tubuhnya perlahan dengan ketenangan yang dipaksakan. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan gaun panjang khas cendekiawan. Matanya yang cekung menatap Agatha dari balik kacamata tebalnya.Agatha mengingat jelas berkas informasi yang sempat ia baca sebelum meninggalkan kediaman Sterling. Pria paruh baya di hadapannya tidak lain adalah Dr. Silas, dokter yang memegang kendali atas kesehatan sang Duke selama bertahun-tahun."Sedang apa Anda mengintip ruang kerja suami Anda, Yang Mulia?" ulang Dr. Silas dengan suara serak yang dipaksakan ramah. Pandangannya langsung terpatri pada wadah porselen kecil di genggaman Agatha. "Dan apa yang Anda bawa di dalam cawan itu?"Agatha menegakkan punggungnya dan membiarkan gaun sutra biru tuanya yang tegas memancarkan keanggunan seorang Duchess. Matanya mengunci Dr. Silas dengan dingin."Apakah seorang Duchess harus meminta izin pada dokter pribadi hanya untuk menjenguk suaminya sendiri?
"Aku menolak," potong Arthur dingin.Kalimat singkat itu menghantam keheningan kamar seperti sabetan belati."Aku tidak butuh tabib berwujud pengantin, Agatha, dan aku tidak sudi menjual perlindunganku hanya untuk janji manis seorang Sterling."Pria itu memiringkan kepalanya dan menatap Agatha dari balik celah topeng perak yang telah kembali menutupi separuh wajahnya. "Simpan racikan daun liarmu untuk dirimu sendiri, Lady Sterling. Aku sudah bertahan hidup bertahun-tahun di medan perang tanpa bantuan seorang putri bangsawan yang tiba-tiba mengaku sebagai penyembuh."Agatha tidak berpaling. "Kamu lebih memilih menderita nyeri saraf tiap malam daripada menerima bantuan dari istrimu sendiri?""Aku lebih memilih rasa sakit yang nyata daripada meminum ramuan dari putri keluarga Sterling yang sewaktu-waktu bisa menggorok leherku saat tertidur," sahut Arthur tajam. Pria itu membalikkan badan dan berjalan menuju pintu penghubung ruang kerjanya."Tidurlah! Jangan campuri urusanku lagi!"
Hujan deras menyiram permukaan tebing batu tempat kastil Blackwood berdiri. Pintu kayu terbuka menyambut kedatangan sang pengantin baru. Arthur yang baru saja mengurus pengamanan benteng di lantai bawah bersama para pengawalnya hanya memberi isyarat dingin pada Mrs. Esper untuk langsung mengantar istrinya.Mrs. Esper, pengurus rumah tangga yang kaku tanpa senyum, menuntun Agatha menyusuri lorong menuju kamar utama di lantai dua."Selamat malam, Yang Mulia! Ini kamar Anda," ujar Mrs. Esper singkat lalu segera pergi.Setelah pintu ditutup dan jejak langkah pelayan itu memudar, Agatha menghela napas panjang. Ia memperhatikan sekelilingnya. Kamar ini sama persis dengan kamar tempat ia mati di kehidupan lalunya.Di kehidupan lalunya, ia akan memilih untuk mengurung diri di kamar. Dada Agatha berdebar kencang dan ingatan tentang jasadnya di bawah ranjang masih membuat jemarinya dingin.Tenggorokannya terasa kering akibat ketegangan di jalan tadi. Agatha melangkah mendekati meja bundar di s
"T-tidak, ini tidak mungkin!" bisik Agatha, suaranya tercekat di tenggorokan.Darahnya membeku dan jemarinya bergetar hebat saat ia berusaha menarik kembali tangannya dari lipatan kain penutup ranjang. Penglihatannya mendadak mengabur dan udara di kamar luas itu serasa mendadak menipis dan menekan dadanya hingga sulit bernapas. Bagaimana mungkin mayat dirinya sendiri ada di bawah tempat tidur ini sementara ia berdiri tegak di sini?"Pembunuh itu, orang yang membunuhku di kehidupan lalu telah menyembunyikan jasadku di kamar ini."Kesadaran itu menghantam benaknya. Agatha memejamkan matanya dan mencengkeram dadanya sendiri demi merasakan detak jantungnya yang memburu kencang. Ia masih bernapas yang membuktikan bahwa ia masih hidup.Namun, sebelum Agatha sempat menyentuh mayat itu, pandangannya mendadak kabur dan berganti dengan goncangan keras kereta kuda.Agatha tersentak kaget. Mata ambernya terbuka lebar dan napasnya tersengal-sengal. Ia tidak berada di dalam kamar kastil Blackwood







