ログインLangkah kaki Liora meninggalkan gedung pusat perusahaan Hale terasa berat namun tak pernah goyah. Di dadanya kini tersimpan kesepakatan yang diambilnya dengan berani. Ia tahu perjalanan menuju panggung itu tak akan mudah. Ada banyak hal yang ingin menjatuhkannya sebelum ia sempat menunjukkan kemampuannya.
Suara kunci berputar perlahan lalu berhenti.Liora menahan napas, menatap gagang pintu yang mulai turun perlahan.Damian langsung melangkah berdiri di hadapannya, pandangannya tajam dan siap siaga."Tetap di belakangku," ucapnya rendah namun tegas.Liora mundur perlahan hingga punggungnya hampir menyentuh dada pria itu, suaranya bergetar pelan."Siapa yang bisa punya kunci itu? Bukankah hanya kita berdua yang memegang salinan kunci kamar ini?""Rumah ini sudah lama berdiri," jawab Damian tanpa menoleh sedikit pun, matanya tetap terkunci pada pintu di depan. "Banyak orang yang pernah datang dan pergi selama bertahun-tahun. Banyak hal yang tidak pernah diketahui oleh pemiliknya sekalipun."Pintu terdorong perlahan terbuka selebar satu jari.Liora langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, napasnya tertahan."Siapa di sana?" tanya Damian lantang dan tegas.Tidak ada jawaban. Hanya suara angin malam yang berhembus masuk membawa aroma tanah basah.Damian lalu mendorong pintu terbuka l
Suara bunyi kunci itu masih bergema pelan di keheningan ruangan. Liora menahan napas, matanya tak berkedip menatap tirai jendela yang bergerak pelan ditiup angin malam.Damian tidak berteriak, tidak juga bergerak tergesa-gesa. Ia melangkah perlahan mendekat, matanya tetap tajam mengawasi setiap gerakan kain itu."Siapa di sana?" suaranya rendah namun penuh ketegasan.Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang berdesir lembut membelai dedaunan di luar.Damian berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Liora. Tatapannya sedikit melunak namun tetap berwibawa."Tetap di sana. Jangan bergerak ke mana pun."Liora mengangguk pelan, tangannya meremas selimut hingga terlipat kasar karena gugup."Hati-hati..." ucapnya hampir tak terdengar.Damian mengulurkan tangan, perlahan menyibakkan ujung tirai itu dengan gerakan hati-hati. Tidak ada siapa-siapa. Hanya jendela yang terbuka lebar, menampakkan kegelapan pekat dan angin dingin yang mulai masuk menyentuh kulit.Liora menghela napas panjang namun dad
Langkah kaki perlahan menjauh hingga hilang ditelan keheningan lorong.Liora bersandar di balik pintu, napasnya masih terasa berat.Ia mengenali suara itu.Di ujung lorong, Damian baru hendak melangkah pergi.Langkahnya tiba-tiba terhenti.Matanya menangkap hal yang ganjil itu. Pintu kamar Liora tidak tertutup rapat.Ia berjalan mendekat perlahan. Tangannya menyentuh pintu lalu mendorongnya lebar-lebar.Brak..Liora tersentak kaget, tubuhnya miring kehilangan keseimbangan. Damian bergerak cepat, melingkarkan lengannya di pinggang Liora menahannya.Wajah mereka begitu dekat hingga ujung hidung bersentuhan.Pipi Liora seketika memerah, ia buru-buru menunduk dan menarik diri perlahan.Damian juga segera melepaskan tangannya, mundur selangkah dan menatap ke arah jendela. Wajahnya kembali datar dingin seolah tak ada apa-apa yang terjadi."Kau tidak menutup pintu dengan benar," ucapnya tenang, suaranya tidak berubah.Liora meremas ujung gaun dengan gugup, matanya tak berani menatapnya."Ak
Pria bertudung itu menutup mulutnya rapat. Tak satu kata lagi keluar.Damian menatapnya dingin. "Kau tak mau bicara?""Kau takkan percaya siapa dia," jawab pria itu pelan. "Orang yang paling kau percaya."Damian menoleh. "Reynald.""Ya Tuan.""Bawa mereka. Amankan. Jangan biarkan siapa pun menjangkau.""Siap, Tuan."Mereka pergi. Tinggal berdua di jalan sepi. Angin malam berhembus kencang. Damian melepas jas tebalnya, menyodorkannya sekilas tanpa menatap."Pakai. Jangan sampai sakit." Ucapnya datar lalu memalingkan wajah.Liora menerima jas itu pelan. Tangannya gemetar. "Terima kasih."Damian melangkah menjauh. "Kita harus pulang sekarang."Liora mengikuti di belakang. Langkahnya pelan. "Damian..."Damian berhenti. Tak menoleh. "Apa lagi.""Apakah..," Liora menelan ludah susah payah, "apakah kau sebenci itu menikah denganku? Sehingga setiap menatapku, kau tak bisa menyembunyikan kedinginan itu?"Damian diam. Hening yang panjang menyelimuti mereka."Dan kau pikir aku menginginkan pe
Bunyi benturan memekakkan telinga. Mobil miring hebat, debu beterbangan memenuhi ruang yang sempit itu."Tetap diam di tempat," perintah Damian singkat dan tegas. Ia segera melepas sabuk pengaman, matanya menatap tajam ke arah kaca depan yang retak berantakan."Apa yang terjadi? Apakah kita ditabrak?" tanya Liora pelan, tangannya mencengkeram pinggiran kursi erat menahan syok yang menyesakkan dada."Kita dipaksa berhenti," jawab Damian dingin tanpa mengalihkan pandangan. "Mereka tak sekadar mengikuti dari jauh. Mereka berniat melumpuhkan kita sepenuhnya malam ini."Langkah kaki berat terdengar berputar perlahan mengelilingi mobil yang kini terjebak di jalan sepi dan gelap itu."Jangan keluarkan suara sedikit pun," bisik Damian menatapnya lekat. "Tunggu perintahku sebelum bergerak."Liora mengangguk pelan, menahan napas. Tiba-tiba ketukan keras menghantam kaca jendela samping hingga bergetar."Keluar sekarang!" seru suara kasar dari luar. "Kalian tak bisa lari lagi dari kami!"Damia
Perlahan sosok itu melangkah keluar dari persembunyiannya. Cahaya remang lampu jalan menyentuh wajahnya sesaat itu adalah Reynald. Wajahnya tampak serius dan kaku, bibirnya terkatup rapat menyimpan rahasia besar yang baru saja ia temukan. Matanya menyapu sekeliling dengan tajam, memastikan aman sebelum menyampaikan kebenaran itu."Kabar ini tak bisa ditunda," gumamnya pelan, lalu berjalan cepat menuju Damian.Hatinya bergemuruh, apa yang didengarnya bukan hal biasa, melainkan bahaya nyata yang mengancam nyawa mereka.Di sana, Damian masih setia mendampingi Liora yang terbaring di tandu. Mendengar langkah mendekat, ia menoleh, wajah tegasnya menyisakan cemas, namun matanya tetap tajam menanti kabar pasti."Kau sudah kembali?" tanya Damian pelan agar tidak mengganggu Liora yang mulai lelah."Apakah kau berhasil menemukan kebenaran?""Saya melihat dan mendengar segalanya dengan jelas, Tuan," jawab Reynald serius sambil menunduk hormat."Ada hal penting yang harus segera dilaporkan." Reyn







