共有

BAB 6 Rencana Gelap

作者: R. Nox
last update 公開日: 2026-08-04 21:45:00

Langkah kaki Liora meninggalkan gedung pusat perusahaan Hale terasa berat namun tak pernah goyah. Di dadanya kini tersimpan kesepakatan yang diambilnya dengan berani. Ia tahu perjalanan menuju panggung itu tak akan mudah. Ada banyak hal yang ingin menjatuhkannya sebelum ia sempat menunjukkan kemampuannya.

Sesampainya di rumah ia tak langsung beristirahat. Pikirannya terus berputar menyusun rencana meski semua jalan pasokan tertutup rapat oleh satu kekuatan yang sama.

Keesokan paginya Liora tiba di butik lebih awal dari biasanya. Rina sudah menunggu di sana dengan wajah penuh kekhawatiran.

Rina berkata. "Bu Liora apakah ada kabar baik dari Tuan Damian?"

Liora menggeleng pelan sambil meletakkan tas kerjanya.

"Tak ada bantuan yang datang Rina. Namun aku diberi kesempatan untuk berjuang dengan caraku sendiri tanpa campur tangan siapa pun."

Rina berkata dengan nada cemas. "Tapi Bu semua pemasok menolak mengambil pesanan kita. Bagaimana kita bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu untuk pameran besar itu?"

Liora berkata sambil menatap lemari penyimpanan kain.

"Kita akan menggunakan apa yang kita miliki. Sisa kain yang sering kita sisihkan atau dianggap kurang bagus bisa kita ubah menjadi sesuatu yang luar biasa dan tak terduga."

Rina berkata ragu. "Apakah Ibu yakin itu bisa dilakukan dengan waktu yang semakin sempit?

Liora berkata tegas. "Aku yakin selama kita berusaha sekuat tenaga dan bekerja sama. Mari kita mulai sekarang juga sebelum matahari semakin tinggi."

Mereka baru saja akan membuka pintu lemari ketika pintu butik didorong terbuka perlahan. Seorang pria tak dikenal masuk membawa tumpukan kain berkilau indah yang jarang ditemukan di pasaran.

Pria asing itu berkata dengan senyum manis.

"Selamat pagi Bu Liora. Saya mendengar Ibu sedang kesulitan mencari bahan baku untuk pesanan besar Ibu."

Liora menatapnya dengan pandangan waspada.

"Siapa Anda dan dari mana Anda mengetahui hal ini?"

"Saya hanya orang yang mengagumi karya-karya Ibu selama ini. Saya ingin memberikan kain ini secara cuma-cuma agar Ibu bisa menyelesaikan pekerjaan dengan hasil terbaik."

Liora menatap kain itu lekat-lekat lalu menggeleng mantap.

"Terima kasih atas niat baik Anda. Namun saya sudah berjanji pada diri sendiri dan orang lain untuk tidak menerima bantuan dari pihak mana pun dalam pekerjaan ini."

Pria asing itu berkata mencoba membujuk. "Pikirkanlah sekali lagi Bu. Tanpa bahan yang layak kesempatan Ibu untuk tampil dan membuktikan kemampuan akan hilang begitu saja."

"Keputusan saya sudah bulat. Saya ingin membuktikan bahwa saya mampu melakukannya dengan usaha dan kemampuan saya sendiri."

Pria itu mendengus kasar lalu berbalik pergi dengan wajah yang berubah masam. Begitu menjauh dari butik ia segera menghubungi seseorang lewat telepon genggamnya.

Pria asing itu berkata lewat telepon. "Dia menolak tawaran itu dengan tegas. Dia benar-benar ingin berjuang dengan caranya sendiri."

Suara dari telepon menjawab dengan nada dingin. "Baik. Jika dia tak mau menerima cara baik maka kita gunakan cara yang tak bisa ditolaknya. Pastikan dia tak akan sempat selesai."

Siang berganti sore. Liora dan Rina sibuk merangkai sisa kain dengan keringat sendiri dan ketelitian tinggi.

Tanpa mereka sadari sepasang mata terus mengawasi setiap gerak gerik mereka dari balik jendela toko di seberang jalan.

Di ruangan kerja Damian di lantai paling atas gedung perusahaan Reynald berdiri dengan wajah serius melapor.

Reynald berkata. "Tuan tadi ada orang asing yang menawarkan bantuan bahan secara cuma-cuma kepada Bu Liora namun ditolaknya dengan tegas."

Damian menatap tajam ke arah luar jendela yang menghadap ke kota.

"Perketat pengawasan di sekitar butik dan rumahnya. Jangan biarkan siapa pun yang mencurigakan mendekatinya tanpa sepengetahuan kita."

Reynald berkata. "Baik Tuan. Namun apakah Bu Liora akan aman dari gangguan orang-orang itu?"

Damian berkata dengan suara rendah namun penuh ancaman.

"Selama aku masih berdiri di sini tak ada yang boleh menyentuh sehelai rambut pun darinya. Siapa pun yang berani melakukannya akan menghadapi aku."

Malam semakin larut. Liora dan Rina pulang dengan membawa harapan kecil di hati meski lelah menyelimuti tubuh. Begitu pintu butik terkunci rapat bayangan gelap perlahan mendekat dari kegelapan malam. Sesuatu yang tajam terselip di balik tangan yang menggenggam erat.

Keesokan paginya saat Liora membuka pintu butik ia terpaku diam di tempat. Semua rancangan busana yang sudah dikerjakan berhari hari kini tercabik berserakan di lantai. Kain kain yang sudah disusun rapi menjadi potongan indah kini tak berbentuk lagi.

Rina berteriak histeris sambil menatap kekacauan itu.

"Bu Liora! Siapa yang tega melakukan ini semua pada karya kita?"

Liora berjongkok perlahan mengambil sisa kain yang sobek. Tangannya bergetar namun matanya tetap teguh tanpa air mata.

"Mereka ingin melihat aku menangis putus asa dan akhirnya menyerah."

Rina berkata dengan suara bergetar menahan tangis. "Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang Bu? Waktu yang tersisa sudah sangat sedikit sekali."

Liora berdiri perlahan sambil meremas potongan kain itu erat di tangannya.

"Kita tidak akan membuat ulang apa yang sudah hancur. Kita akan menciptakan sesuatu yang jauh lebih kuat dan bermakna dari semua ini."

Belum sempat mereka bergerak sedikit pun ponsel Liora bergetar pelan di saku bajunya. Sebuah pesan masuk tanpa nama pengirim yang jelas.

Isi pesan berbunyi singkat namun mengancam.

"Ini baru permulaan. Jika kau tetap bersikeras bukan hanya karyamu yang akan hilang lenyap."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    Bab 15 Pintu Yang Terbuka

    Suara kunci berputar perlahan lalu berhenti.Liora menahan napas, menatap gagang pintu yang mulai turun perlahan.Damian langsung melangkah berdiri di hadapannya, pandangannya tajam dan siap siaga."Tetap di belakangku," ucapnya rendah namun tegas.Liora mundur perlahan hingga punggungnya hampir menyentuh dada pria itu, suaranya bergetar pelan."Siapa yang bisa punya kunci itu? Bukankah hanya kita berdua yang memegang salinan kunci kamar ini?""Rumah ini sudah lama berdiri," jawab Damian tanpa menoleh sedikit pun, matanya tetap terkunci pada pintu di depan. "Banyak orang yang pernah datang dan pergi selama bertahun-tahun. Banyak hal yang tidak pernah diketahui oleh pemiliknya sekalipun."Pintu terdorong perlahan terbuka selebar satu jari.Liora langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, napasnya tertahan."Siapa di sana?" tanya Damian lantang dan tegas.Tidak ada jawaban. Hanya suara angin malam yang berhembus masuk membawa aroma tanah basah.Damian lalu mendorong pintu terbuka l

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    Bab 14 Bayangan Tak Terlihat

    Suara bunyi kunci itu masih bergema pelan di keheningan ruangan. Liora menahan napas, matanya tak berkedip menatap tirai jendela yang bergerak pelan ditiup angin malam.Damian tidak berteriak, tidak juga bergerak tergesa-gesa. Ia melangkah perlahan mendekat, matanya tetap tajam mengawasi setiap gerakan kain itu."Siapa di sana?" suaranya rendah namun penuh ketegasan.Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang berdesir lembut membelai dedaunan di luar.Damian berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Liora. Tatapannya sedikit melunak namun tetap berwibawa."Tetap di sana. Jangan bergerak ke mana pun."Liora mengangguk pelan, tangannya meremas selimut hingga terlipat kasar karena gugup."Hati-hati..." ucapnya hampir tak terdengar.Damian mengulurkan tangan, perlahan menyibakkan ujung tirai itu dengan gerakan hati-hati. Tidak ada siapa-siapa. Hanya jendela yang terbuka lebar, menampakkan kegelapan pekat dan angin dingin yang mulai masuk menyentuh kulit.Liora menghela napas panjang namun dad

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 13 Di Balik Pintu

    Langkah kaki perlahan menjauh hingga hilang ditelan keheningan lorong.Liora bersandar di balik pintu, napasnya masih terasa berat.Ia mengenali suara itu.Di ujung lorong, Damian baru hendak melangkah pergi.Langkahnya tiba-tiba terhenti.Matanya menangkap hal yang ganjil itu. Pintu kamar Liora tidak tertutup rapat.Ia berjalan mendekat perlahan. Tangannya menyentuh pintu lalu mendorongnya lebar-lebar.Brak..Liora tersentak kaget, tubuhnya miring kehilangan keseimbangan. Damian bergerak cepat, melingkarkan lengannya di pinggang Liora menahannya.Wajah mereka begitu dekat hingga ujung hidung bersentuhan.Pipi Liora seketika memerah, ia buru-buru menunduk dan menarik diri perlahan.Damian juga segera melepaskan tangannya, mundur selangkah dan menatap ke arah jendela. Wajahnya kembali datar dingin seolah tak ada apa-apa yang terjadi."Kau tidak menutup pintu dengan benar," ucapnya tenang, suaranya tidak berubah.Liora meremas ujung gaun dengan gugup, matanya tak berani menatapnya."Ak

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 12 Dibalik Kebenaran

    Pria bertudung itu menutup mulutnya rapat. Tak satu kata lagi keluar.Damian menatapnya dingin. "Kau tak mau bicara?""Kau takkan percaya siapa dia," jawab pria itu pelan. "Orang yang paling kau percaya."Damian menoleh. "Reynald.""Ya Tuan.""Bawa mereka. Amankan. Jangan biarkan siapa pun menjangkau.""Siap, Tuan."Mereka pergi. Tinggal berdua di jalan sepi. Angin malam berhembus kencang. Damian melepas jas tebalnya, menyodorkannya sekilas tanpa menatap."Pakai. Jangan sampai sakit." Ucapnya datar lalu memalingkan wajah.Liora menerima jas itu pelan. Tangannya gemetar. "Terima kasih."Damian melangkah menjauh. "Kita harus pulang sekarang."Liora mengikuti di belakang. Langkahnya pelan. "Damian..."Damian berhenti. Tak menoleh. "Apa lagi.""Apakah..," Liora menelan ludah susah payah, "apakah kau sebenci itu menikah denganku? Sehingga setiap menatapku, kau tak bisa menyembunyikan kedinginan itu?"Damian diam. Hening yang panjang menyelimuti mereka."Dan kau pikir aku menginginkan pe

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 11 Ancaman

    Bunyi benturan memekakkan telinga. Mobil miring hebat, debu beterbangan memenuhi ruang yang sempit itu."Tetap diam di tempat," perintah Damian singkat dan tegas. Ia segera melepas sabuk pengaman, matanya menatap tajam ke arah kaca depan yang retak berantakan."Apa yang terjadi? Apakah kita ditabrak?" tanya Liora pelan, tangannya mencengkeram pinggiran kursi erat menahan syok yang menyesakkan dada."Kita dipaksa berhenti," jawab Damian dingin tanpa mengalihkan pandangan. "Mereka tak sekadar mengikuti dari jauh. Mereka berniat melumpuhkan kita sepenuhnya malam ini."Langkah kaki berat terdengar berputar perlahan mengelilingi mobil yang kini terjebak di jalan sepi dan gelap itu."Jangan keluarkan suara sedikit pun," bisik Damian menatapnya lekat. "Tunggu perintahku sebelum bergerak."Liora mengangguk pelan, menahan napas. Tiba-tiba ketukan keras menghantam kaca jendela samping hingga bergetar."Keluar sekarang!" seru suara kasar dari luar. "Kalian tak bisa lari lagi dari kami!"Damia

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 10 Sisa Puing

    Perlahan sosok itu melangkah keluar dari persembunyiannya. Cahaya remang lampu jalan menyentuh wajahnya sesaat itu adalah Reynald. Wajahnya tampak serius dan kaku, bibirnya terkatup rapat menyimpan rahasia besar yang baru saja ia temukan. Matanya menyapu sekeliling dengan tajam, memastikan aman sebelum menyampaikan kebenaran itu."Kabar ini tak bisa ditunda," gumamnya pelan, lalu berjalan cepat menuju Damian.Hatinya bergemuruh, apa yang didengarnya bukan hal biasa, melainkan bahaya nyata yang mengancam nyawa mereka.Di sana, Damian masih setia mendampingi Liora yang terbaring di tandu. Mendengar langkah mendekat, ia menoleh, wajah tegasnya menyisakan cemas, namun matanya tetap tajam menanti kabar pasti."Kau sudah kembali?" tanya Damian pelan agar tidak mengganggu Liora yang mulai lelah."Apakah kau berhasil menemukan kebenaran?""Saya melihat dan mendengar segalanya dengan jelas, Tuan," jawab Reynald serius sambil menunduk hormat."Ada hal penting yang harus segera dilaporkan." Reyn

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status