共有

3

作者: Fatimahnur
last update 公開日: 2026-08-14 03:18:31

"Tenang, kau tidak akan mati meski aku gigit. Aku tentu tidak mau rugi karena langsung membuat kamu mati."

Ucapan pria itu membuatku diam, tapi kali ini yang aku pikirkan – bagaimana bisa ia melukaiku, dan aku merasa giginya menancap di le-herku tadi.

Aku mematung, semua hal terasa menakutkan. Rasanya aku hampir mau pingsan, dan aku tidak berani menatap pria itu.

"Tuan, kita sudah sampai."

Sopir di depan mulai bicara, tapi matanya tidak juga menatap ke arah kami berdua. Tanganku ditarik paksa, kakiku terasa masih lemas saat pria itu menarikku tanpa aba-aba.

Kakiku yang masih kram akhirnya membuatku terjatuh ke lantai, dan lututku menghantam permukaan tanah yang keras dan kasar. "Ssshhh," desisku.

Aku menatap lututku, dan ternyata luka tergores. "Ck! Lemah sekali kau!" kata itu terucap begitu saja. Aku mendongak dan menatap pria itu. Mungkin ia kesal padaku, dan mungkin juga muak denganku, tapi aku bisa apa?! Kakiku kram juga karena ulahnya!

Awalnya, suasana hening, tapi beberapa saat setelahnya ia membopong tubuhku dan membawaku ke sebuah rumah besar yang ada di depan sana. Aku refleks mengalungkan tanganku di lehernya, karena aku takut jatuh, dan mungkin tubuhku akan cidera semua.

"Aku harap kau tidak bermanja-manja setelahnya. Dunia luar itu kejam! Aku tidak butuh anak mamah ada di sampingku, dan jangan kau kira aku bisa luluh padamu!"

"Saya mengerti, Tuan. Saya tidak akan melakukannya." Jawabku singkat, dan aku hanya diam setelahnya.

Rumah itu, tampak bagus. Lampu kristal menggentung indah, aku melihatnya dengan mata yang menatap lurus ke depan. Andai saja keadaanku tidak seperti budak naf5u pria itu, aku akan mengagumi rumah itu. Tapi, sekarang aku tidak lebih layaknya barang yang dibeli. Tatapan datar sulit untuk disudahi, menahan nafas saat merasa dad4 ini terasa sesak.

Tidak lama setelahnya, aku melihat banyak pekerja rumah mewah itu yang mulai berdatangan dan berbaris lalu membungkuk. Mereka menatapku sekilas, tapi tatapan itu tampaknya tidak ramah.

"Mulai sekarang, wanita ini akan ada dan tinggal di sini, kalian layani dia, sama seperti melayani aku! Kalian paham?!" tanya pria itu pada seluruh pekerjanya yang ada di sana.

"Mengerti, Tuan." Jawaban mereka serentak, dan setelahnya mereka menundukan kepala. Seolah tidak berani menatap. Aku makin bingung, dan aku juga bertanya-tanya, siapa sebenarnya pria itu?

Tubuhku diturunkan. "Aku harap kau bisa berdiri, dan tidak mempermalukan diri sendiri lagi!" tekan pria bernama Ferdo itu. Aku diam, enggan menjawab, dan aku benar-benar seperti patung bernyawa di sana.

Semua rasa yang mungkin ada dalam diri manusia, berusaha aku bunuhbsatu oersatubselain rasa sakit. Mau setampan apapun dia, mau sebaik apapun nantinya, aku tahu – aku bukanlah orang yang akan dia hargai setelah dia membeliku. Dan aku harap, rasa cinta tidak akan tumbuh meski dia akan sering menjamah tubuhku!

Suara tepukan terdengar dari sebuah pintu yang ada di dalam rumah. Aku refleks menoleh ke arah sumber suara, dan aku mengernyit kan dahi saat melihat seorang wanita datang mendekat, lalu menatapku dengan tatapan tajam, sinis, dan juga merendahkan.

"Kau membawa manusia setelah mencampakan aku, Fedro?!" tanya wanita itu dengan suara yang tegas.

Aku tentu saja terkejut saat mendengar ucapan wanita itu, apa maksudnya? Manusia? Bukankah mereka semua manusia? "Apa katamu?! Aku manusia?" tanyaku spontan. Pertanyaan itu seakan tidak bisa aku bendung saat aku mendengar ucapan dari wanita itu.

Wanita yang tidak aku ketahui namanya itu akhirnya menoleh ke arahku lalu tersenyum meremehkan. "Jadi kamu tidak tahu?!"

"Tahu apa? Bukankah kita sama – manusia?" tanyaku lagi dengan sangat bingung.

"Jangan kau samakan aku dengan rasmu manusia hina! Kau dan seluruh umatmu adalah hama dan gulma yang menghancurkan dunia." Wanita itu tampak marah, dan ia sudah maju seolah hendak menyerangku. Tapi saat beberapa langkah lagi ia sampai, ada beberapa orang yang terlihat menahannya dan aku bahkan tidak tahu, dari mana orang-orang itu datang.

"Lepaskan aku! Ferdo! Kamu tidak bisa begini, aku adalah calon istrimu, dan kamu tidak bisa mengingkari hal itu! Keluargamu tidak akan setuju bila pernikahan kita dibatalkan!"

Mendengar kata-kata wanita itu, aku akhirnya paham..., dia adalah calon istri dari pria yang membeliku. Seketika rasa bersalah datang, hadir tanoa permisi, dan mulai menghantuiku. Aku menjadi orang ketiga, tanpa aku sadari sebelumnya.

"Aku tahu aku akan menikah sebentar lagi, tapi aku tidak sudi menikah dengan seorang wanita yang bahkan sudah menghabiskan satu malam panas bersama teman baikku sendiri!"

Aku menatap ke arah Ferdo, dan melihat pria itu berkata serius pada saat itu. Tatapannya tajam, tegas, dan mungkin ada sebuah luka di sana. Perlahan, aku merasa pinggangku di sentuh dan pria itu menarikku agar aku berada lebih dekat dengan tubuhnya.

Kontak fisik kembali terjadi, aku menahan nafas saat merasan betapa dinginnya tubuh pria itu. Di dalam mobil sebelumnya, aku juga merasa begitu, akan tetapi sebelumnya aku mengira mungkin hanya AC mobil yang membuatku dingin, akan tetapi setelah dekat dengan pria itu, aku mulai merasa, dingin itu bukan sekitar ku, melainkan yang menyentuhku.

"Aku akan menikah dengan wanita ini, dan enyahkan dari hadapanku!"

Aku kembali membelalakan mataku saat mendengar ucapan pria itu! Aku menoleh ke arah pria itu, dengan wajah menegang.

"Tidak! Kau tidak boleh begini padaku!" Wanita itu masih saja berteriak, tapi aku malah tetap fokus pada pria yang membeliku.

"Baiklah ke lantai atas, tidur di kamar paling ujung. Kalau kau mau mandi, sepertinya ada pakaian yang bisa kamu pakai di lantai atas." ujar pria itu sembari melepaskan tangannya dari pinggangku. Aku diam, tapi mataku tetap menatap ke arahnya..

"Tuan, tolong katakan padaku apa maksud dari ucapkan wanita itu tadi?! Kenapa dia mengatakan aku manusia, dan apa kalian bukan manusia?!" tanyaku. Segala pertanyaan itu akhirnya membuat aku tidak bisa diam, meskipun awalnya aku tidak perduli dengan apapun itu.

"Jangan banyak tanya! Cukup apa yang kamu dengar, itu yang kamu ketahui. Sekarang naik ke atas, atau aku akan memaksamu naik ke sana!"

Ferdo pergi meninggalkan aku, dan aku merasa tidak punya pilihan itu. Aku menaiki anak tangga, dan mulai menyelusuri anak tangga.

Aku awalnya merasa ragu saat aku hendak menuju ke kamar itu. Tanganku bergetar saat aku hendak membuka pintu kamar yang mungkin harus aku huni. Baru saja aku hendak membuka pintu kamar, ada seseorang yang menggenggam tanganku dan aku menahan nafas saat merasakan sentuhan itu.

Aku membalikan tubuh, dan aku menahan nafas saat aku melihat siapa yang ada di belakang tubuhku. "Ka–kamu?! Kenapa kamu ada di belakang tubuhku?!" gumamku dengan mata yang terbelalak cukup lebar.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   72,

    "Alicia, aku tak akan membiarkan mereka menyakiti kamu." Suara itu berat, dalam, dan begitu dekat di telingaku. Ferdo tidak menatapku saat mengatakannya. Matanya tetap lurus ke depan, menatap kaca mobil yang gelap, namun tangannya... tangannya menggenggam tanganku dengan sangat erat. Seerat itu hingga aku bisa merasakan dinginnya cincin di jarinya menusuk kulitku. Setelah bicara begitu, lelaki itu memerintahkan sopir agar mobil berjalan maju. Mobil hitam itu melaju. Perjalanan itu terasa sangat lama. Semakin lama kami berjalan, jalanan aspal mulus perlahan menghilang, berganti menjadi jalan tanah berbatu. Lampu-lampu kota mulai menghilang satu per satu. Pohon-pohon di sisi jalan semakin tinggi, semakin rapat, hingga cahaya bulan pun tidak bisa masuk. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam akhirnya sampai ke sebuah tempat yang makin gelap. Ini bukan gelap biasa. Ini adalah gelap yang hidup. Gelap yang bernafas. Aku bisa mendengar suara-suara aneh dari luar. Bukan suara ja

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   71, Penjahat!

    'SRIITTT!' Suara mesin mobil yang mengerem mendadak begitu keras. Tubuhku terdorong ke depan. Selimut tebal itu melorot. Aku terkejut bukan main, dan pada saat yang sama Ferdo akhirnya terbangun, padahal ia baru saja tertidur lelap. Matanya terbuka dalam sepersekian detik. Tidak ada sisa kantuk. Langsung tajam, langsung waspada, langsung menjadi Ferdo yang ditakuti semua orang itu. "Ada apa di luar?" tanyanya dengan ekspresi wajah serius menatap ke depan. Tangannya sudah bergerak ke gagang pintu. Dari kaca depan yang sedikit berembun, aku bisa melihatnya. Di tengah jalan hutan yang gelap itu, berdiri lima orang dengan memakai topeng hitam. Topengnya terbuat dari kayu gelap dengan ukiran aneh, hanya terlihat mata mereka yang menyala merah. Mereka membawa rantai dan belati panjang. Di belakang mereka, pepohonan bergoyang keras meski tidak ada angin. Serigala-serigala bayangan Ferdo menggeram. Max berteriak dari luar, "Tuan! Penyergap! Mundur!" Ferdo langsung berdiri se

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   70, Kendala.

    "Tapi, apa kamu tidak lelah?" tanyaku pada Ferdo.Aku menatap wajahnya dari dekat. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas terlihat sekarang. Matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi semua orang, kini terlihat sayu dan lelah. Sejak kemarin malam ia tidak tidur sama sekali karena mengurus laporan dari wilayah perbatasan, dan pagi ini ia bahkan tidak sempat menyelesaikan tidurnya karena aku meninggalkannya.Lelaki itu tampak menatapku dan tersenyum lembut. Senyum yang selalu berhasil membuat jantungku berdebar tidak karuan, senyum yang hanya ia perlihatkan padaku seorang.Satu tangannya mengusap kepalaku dengan lembut. Gerakannya pelan, seperti sedang menenangkan seekor kucing kecil yang ketakutan. Jari-jarinya yang panjang menyisir rambutku yang masih berantakan karena baru bangun tidur."Jangan khawatir, aku tak menyetir mobil sendiri. Aku akan tidur di mobil," ujarnya. Suaranya pelan dan serak.Aku merasa lega sedikit. Setidaknya ia tidak akan memaksakan diri menyetir da

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   69, Dia Bangun.

    Aku bingung menjawab pertanyaan Max saat ia bertanya apa aku memiliki rasa pada Ferdo, bosnya sendiri sekaligus orang yang memberiku segalanya.Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba di tengah sarapan. Aku yang sedang memotong daging di piringku langsung berhenti. Garpu di tanganku terasa berat."Nona Alicia," kata Max pelan dengan suaranya yang selalu tenang dan sopan itu. "Bolehkah saya bertanya sesuatu yang agak pribadi?"Aku mengangguk pelan, masih menatap piringku."Apakah Nona memiliki rasa pada Tuan Ferdo?"Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Apa maksudnya rasa? Rasa takut? Rasa hormat? Atau rasa yang lain yang bahkan aku sendiri tidak berani menyebut namanya.Aku bingung. Bagaimana aku harus menjawabnya?Ferdo adalah bosku sendiri, orang yang memberiku tempat tinggal saat aku tidak punya siapa-siapa. Orang yang memberiku makan, pakaian, pendidikan, bahkan memberiku nama belakangnya agar aku tidak lagi dipanggil anak haram tanpa keluarga. Ia adalah orang yang telah menga

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   68, Sarapan Pagi.

    POV Alicia. Ferdo tertidur pulas pagi itu. Setelah tangisnya yang panjang semalam, setelah ia memelukku dengan erat sambil mengatakan bahwa akulah satu-satunya miliknya seutuhnya, Ferdo akhirnya terlelap di sampingku. Ia tertidur dengan wajah yang masih basah oleh sisa air mata, namun napasnya terdengar teratur dan tenang untuk pertama kalinya setelah beberapa hari. Ia tampak kelelahan, aku tidak berani membangunkannya. Aku memandangi wajahnya yang tertidur dari jarak yang dekat. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas. Alisnya yang biasanya selalu berkerut tegang kini terlihat rileks. Bibirnya yang tegas sedikit terbuka, mengeluarkan napas yang berat. Lengan besarya masih melingkar di pinggangku, menjaga agar aku tetap berada di dalam pelukannya bahkan di dalam tidurnya. Aku tidak berani bergerak dengan keras. Aku tidak berani membangunkannya, karena aku tahu ia sangat membutuhkan istirahat. Selama beberapa malam terakhir, ia pasti menghabiskan waktunya untuk men

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   67, Bertekuk lutut.

    POV - Alicia. Aku memandang lelaki itu lama. Aku baru saja terbangun dari tidurku yang sangat nyenyak. Kepalaku masih terasa berat dan pusing karena terlalu banyak menangis. Mataku yang sembab terasa perih setiap kali aku mengedipkannya. Cahaya temaram dari lampu kamar membuat pandanganku sedikit buram. Di sampingku, Ferdo duduk dengan kepala yang menunduk. Punggungnya yang biasanya terlihat begitu tegak dan berwibawa, kini terlihat membungkuk dengan lemah. Bahunya bergetar. Awalnya aku sangat membencinya, aku merasa ia begitu kejam. ia banyak bicara hari ini. Bicara penuh penyesalan dan maaf ia lontarkan puluhan kali mungkin. Aku membencinya karena ia telah membuatku berada dalam posisi yang sangat menakutkan ini. Aku membencinya karena ia adalah seorang alpha, makhluk yang kekuatannya jauh di atas manusia biasa sepertiku. Aku membencinya karena tadi aku mendengar suara tembakan dan bentakannya yang menggelegar di aula paviliun, membentak semua pelayan dan mengancam akan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status