Se connecter"Tenang, kau tidak akan mati meski aku gigit. Aku tentu tidak mau rugi karena langsung membuat kamu mati."
Ucapan pria itu membuatku diam, tapi kali ini yang aku pikirkan – bagaimana bisa ia melukaiku, dan aku merasa giginya menancap di le-herku tadi. Aku mematung, semua hal terasa menakutkan. Rasanya aku hampir mau pingsan, dan aku tidak berani menatap pria itu. "Tuan, kita sudah sampai." Sopir di depan mulai bicara, tapi matanya tidak juga menatap ke arah kami berdua. Tanganku ditarik paksa, kakiku terasa masih lemas saat pria itu menarikku tanpa aba-aba. Kakiku yang masih kram akhirnya membuatku terjatuh ke lantai, dan lututku menghantam permukaan tanah yang keras dan kasar. "Ssshhh," desisku. Aku menatap lututku, dan ternyata luka tergores. "Ck! Lemah sekali kau!" kata itu terucap begitu saja. Aku mendongak dan menatap pria itu. Mungkin ia kesal padaku, dan mungkin juga muak denganku, tapi aku bisa apa?! Kakiku kram juga karena ulahnya! Awalnya, suasana hening, tapi beberapa saat setelahnya ia membopong tubuhku dan membawaku ke sebuah rumah besar yang ada di depan sana. Aku refleks mengalungkan tanganku di lehernya, karena aku takut jatuh, dan mungkin tubuhku akan cidera semua. "Aku harap kau tidak bermanja-manja setelahnya. Dunia luar itu kejam! Aku tidak butuh anak mamah ada di sampingku, dan jangan kau kira aku bisa luluh padamu!" "Saya mengerti, Tuan. Saya tidak akan melakukannya." Jawabku singkat, dan aku hanya diam setelahnya. Rumah itu, tampak bagus. Lampu kristal menggentung indah, aku melihatnya dengan mata yang menatap lurus ke depan. Andai saja keadaanku tidak seperti budak naf5u pria itu, aku akan mengagumi rumah itu. Tapi, sekarang aku tidak lebih layaknya barang yang dibeli. Tatapan datar sulit untuk disudahi, menahan nafas saat merasa dad4 ini terasa sesak. Tidak lama setelahnya, aku melihat banyak pekerja rumah mewah itu yang mulai berdatangan dan berbaris lalu membungkuk. Mereka menatapku sekilas, tapi tatapan itu tampaknya tidak ramah. "Mulai sekarang, wanita ini akan ada dan tinggal di sini, kalian layani dia, sama seperti melayani aku! Kalian paham?!" tanya pria itu pada seluruh pekerjanya yang ada di sana. "Mengerti, Tuan." Jawaban mereka serentak, dan setelahnya mereka menundukan kepala. Seolah tidak berani menatap. Aku makin bingung, dan aku juga bertanya-tanya, siapa sebenarnya pria itu? Tubuhku diturunkan. "Aku harap kau bisa berdiri, dan tidak mempermalukan diri sendiri lagi!" tekan pria bernama Ferdo itu. Aku diam, enggan menjawab, dan aku benar-benar seperti patung bernyawa di sana. Semua rasa yang mungkin ada dalam diri manusia, berusaha aku bunuhbsatu oersatubselain rasa sakit. Mau setampan apapun dia, mau sebaik apapun nantinya, aku tahu – aku bukanlah orang yang akan dia hargai setelah dia membeliku. Dan aku harap, rasa cinta tidak akan tumbuh meski dia akan sering menjamah tubuhku! Suara tepukan terdengar dari sebuah pintu yang ada di dalam rumah. Aku refleks menoleh ke arah sumber suara, dan aku mengernyit kan dahi saat melihat seorang wanita datang mendekat, lalu menatapku dengan tatapan tajam, sinis, dan juga merendahkan. "Kau membawa manusia setelah mencampakan aku, Fedro?!" tanya wanita itu dengan suara yang tegas. Aku tentu saja terkejut saat mendengar ucapan wanita itu, apa maksudnya? Manusia? Bukankah mereka semua manusia? "Apa katamu?! Aku manusia?" tanyaku spontan. Pertanyaan itu seakan tidak bisa aku bendung saat aku mendengar ucapan dari wanita itu. Wanita yang tidak aku ketahui namanya itu akhirnya menoleh ke arahku lalu tersenyum meremehkan. "Jadi kamu tidak tahu?!" "Tahu apa? Bukankah kita sama – manusia?" tanyaku lagi dengan sangat bingung. "Jangan kau samakan aku dengan rasmu manusia hina! Kau dan seluruh umatmu adalah hama dan gulma yang menghancurkan dunia." Wanita itu tampak marah, dan ia sudah maju seolah hendak menyerangku. Tapi saat beberapa langkah lagi ia sampai, ada beberapa orang yang terlihat menahannya dan aku bahkan tidak tahu, dari mana orang-orang itu datang. "Lepaskan aku! Ferdo! Kamu tidak bisa begini, aku adalah calon istrimu, dan kamu tidak bisa mengingkari hal itu! Keluargamu tidak akan setuju bila pernikahan kita dibatalkan!" Mendengar kata-kata wanita itu, aku akhirnya paham..., dia adalah calon istri dari pria yang membeliku. Seketika rasa bersalah datang, hadir tanoa permisi, dan mulai menghantuiku. Aku menjadi orang ketiga, tanpa aku sadari sebelumnya. "Aku tahu aku akan menikah sebentar lagi, tapi aku tidak sudi menikah dengan seorang wanita yang bahkan sudah menghabiskan satu malam panas bersama teman baikku sendiri!" Aku menatap ke arah Ferdo, dan melihat pria itu berkata serius pada saat itu. Tatapannya tajam, tegas, dan mungkin ada sebuah luka di sana. Perlahan, aku merasa pinggangku di sentuh dan pria itu menarikku agar aku berada lebih dekat dengan tubuhnya. Kontak fisik kembali terjadi, aku menahan nafas saat merasan betapa dinginnya tubuh pria itu. Di dalam mobil sebelumnya, aku juga merasa begitu, akan tetapi sebelumnya aku mengira mungkin hanya AC mobil yang membuatku dingin, akan tetapi setelah dekat dengan pria itu, aku mulai merasa, dingin itu bukan sekitar ku, melainkan yang menyentuhku. "Aku akan menikah dengan wanita ini, dan enyahkan dari hadapanku!" Aku kembali membelalakan mataku saat mendengar ucapan pria itu! Aku menoleh ke arah pria itu, dengan wajah menegang. "Tidak! Kau tidak boleh begini padaku!" Wanita itu masih saja berteriak, tapi aku malah tetap fokus pada pria yang membeliku. "Baiklah ke lantai atas, tidur di kamar paling ujung. Kalau kau mau mandi, sepertinya ada pakaian yang bisa kamu pakai di lantai atas." ujar pria itu sembari melepaskan tangannya dari pinggangku. Aku diam, tapi mataku tetap menatap ke arahnya.. "Tuan, tolong katakan padaku apa maksud dari ucapkan wanita itu tadi?! Kenapa dia mengatakan aku manusia, dan apa kalian bukan manusia?!" tanyaku. Segala pertanyaan itu akhirnya membuat aku tidak bisa diam, meskipun awalnya aku tidak perduli dengan apapun itu. "Jangan banyak tanya! Cukup apa yang kamu dengar, itu yang kamu ketahui. Sekarang naik ke atas, atau aku akan memaksamu naik ke sana!" Ferdo pergi meninggalkan aku, dan aku merasa tidak punya pilihan itu. Aku menaiki anak tangga, dan mulai menyelusuri anak tangga. Aku awalnya merasa ragu saat aku hendak menuju ke kamar itu. Tanganku bergetar saat aku hendak membuka pintu kamar yang mungkin harus aku huni. Baru saja aku hendak membuka pintu kamar, ada seseorang yang menggenggam tanganku dan aku menahan nafas saat merasakan sentuhan itu. Aku membalikan tubuh, dan aku menahan nafas saat aku melihat siapa yang ada di belakang tubuhku. "Ka–kamu?! Kenapa kamu ada di belakang tubuhku?!" gumamku dengan mata yang terbelalak cukup lebar.POV Ferdo.Setelah meniduri wanita itu, tubuh ini rasanya ringan, meskipun nantinya tidak tahu akan semarah apa wanita itu. Seharusnya ia tidak marah, karena ini adalah suatu hal yang wajib ia lakukan dan ia berikan, 'kan?!"Max, aku kelepasan, dan aku meniduri wanita itu." aku mulai bicara pada asisten pribadiku, sembari berjalan menuju ke luar mansion. Ada hal yang harus di lakukan, dan banyak hal yang harus dibereskan."Saya tahu, Tuan." Max menjawab, dengan suara yang sedikit lebih jauh di belakang."Aku tidak tahu apa wanita itu menerimaku, dan benih yang aku tumpahkan dalam rahimnya, tapi aku ingin kamu pastikan, kalau ia tidak melakukan tindakan bodoh setelah apa yang aku lakukan, kamu mengerti apa maksudku?" Aku mulai memberikan sebuah perintah secara tidak langsung. Aku terlalu takut, akan tetapi tidak langsung menjelaskan secara langsung. Entah mengapa, aku takut wanita itu akan melukai dirinya sendiri setelah apa yang terjadi."Tidak usah takut, Tuan. Saya akan memerintahka
Mata merah dengan tangan yang terikat, memberontak dan melolong seperti serigala. Lelaki tampan itu berubah liar, dan tidak terkendali. Menakutkan, tapi tangannya tampak hitam, dan pergelangannya berda-rah! Tidak tega rasanya membiarkannya begitu, tapi aku akui, aku masih sangat kesal padanya!Aku marah, tapi kakiku bergerak mendekat. Mati, jauh lebih baik daripada terjebak antara hubungan keluarga hewan yang tampaknya lebih banyak yang tidak mau menerima.Terus melolong, dan itu terdengar menakutkan... Apa bisa dijinakan? Dia terlalu buas dari sebelumnya, dan apa yang membuatnya menjadi seperti itu?!"Nona! Anda tidak boleh mendekat! Tuan Ferdo sedang tidak terkendali! Beliau bisa melukai anda!" teriak seorang pria, yang entahlah siapa.Aku hanya menoleh sejenak, menatap orang itu lama, dan kembali mendekat ke arah Ferdo. Tekatku bulat, tidak akan menyerah begitu saja meski mereka berkata jangan sekalipun!Dan saat didekati, Ferdo makin menjadi-jadi. Besi yang mengikat pergelangan ta
Ini nyata, bukan ilusi, bukan sebuah mimpi juga, lutut yang terbentur lantai marmer itu terasa sakit. Tapi melihat dua binatang buas itu, apa lebih baik hanya menonton saja? Atau pergi dari sana untuk menyelamatkan diri sendiri.Kata "Berhenti bila salah satu mati," membuat aku makin takut. Dan sialnya keluarga itu malah hanya diam dan menonton saja.Tubuh Ferdo terlempar jauh, ia tampak terluka. Aku spontan menutup mulut saat melihat hal itu. Apa ini akhir dari semuanya?! Dan dia akan tewas karena aku? Dengan tekat yang besar, aku berlari ke arahnya, mencoba memeluknya... Tapi yang aku dapatkan ternyata tidak sesuai harapan. Dia mengayunkan tangannya dan menghantam tubuhku. Aku tersentak cukup jauh, hingga punggungku menghantam sebuah vas yang besar. Bagian depanku perih, dan sakit... Cairan merah mulai keluar, bau da-rah mulai tercium kuat. Perlahan, pandanganku berkunang-kunang, tapi aku melihat silwet bayangan seseorang mulai mendekat, meski aku tidak yakin, apa itu benar dia?***
Dia menyentuhku, dan aku membeku. Semua yang terjadi, seakan tidak bisa ditolak, entah karena memang terbawa suasana, atau semua memang hanya sebuah reaksi dari tubuh yang memang tidak menolak."Reaksimu tidak buruk juga, tidak menolak, tapi juga tidak menerima. Lalu, apa kita lanjut saja?" ujar Ferdo.Bagian intiku dimasuki oleh salah satu jarinya, aku sebenarnya ingin mendorongnya agar berhenti, tapi aku tidak bisa! Aku tidak bisa melakukannya, dan sialnya bibirku malah mende-sah dan aku merasa bagian itu makin gatal. Tapi, saat aku menginginkan lebih, ia pergi begitu saja dan membuatku bingung."Apa yang dia lakukan?! Dia mempermainkan aku?!" Aku kesal, mulai bicara sendiri dan marah! Tetapi, aku juga ingin. "Aaagggghhhh! Tuhan memberikan takdir sialan!" teriakanku sangat keras, tapi aku yakin tidak akan ada yang bisa mendengarkannya.***Setelah mandi, dress panjang berwarna hitam mulai aku kenakan, bertali spaghetti dan kulit ini begitu kontras. Mengenakan riasan tipis sudah cuku
Ia menyeringai, aku tidak tahu kapan pria itu menyusul, yang aku tahu dia tiba-tiba ada di belakang tubuhku. Mungkin tujuannya memang baik, karena hendak membantuku membuka pintu yang sulit aku buka, akan tetapi kenapa reaksi dari wajahnya membuatku takut? "Kau bahkan sudah mengu|um milikku, apa masih takut juga?!" Aku terkesiap! "Tuan, terkejut dan hal itu sungguh tidak ada hubungannya, dan semua itu jauh berbeda. Kenapa anda menyamakannya dan seolah semua hal yang aku lakukan salah?!" rasa kesal itu sudah menumpuk dalam hati, dan mungkin kalau tidak di tahan, akan meluap dan semakin menjadi-jadi! "Terimakasih sudah membantu, tapi aku mau istirahat sebelum bekerja untuk anda," "Bekerja?" Salah satu alis pria itu terangkat, ia memicingkan matanya dan sesaat setelahnya tampak menatap tubuhku atas dan bawah. Merinding rasanya, belum lagi tatapannya masih terlihat sama, yaitu liar! Tangan besar itu menyentuh punggung dan ke bawah terus hingga berada di bawah pinggang. Aku menatapnya
"Tenang, kau tidak akan mati meski aku gigit. Aku tentu tidak mau rugi karena langsung membuat kamu mati."Ucapan pria itu membuatku diam, tapi kali ini yang aku pikirkan – bagaimana bisa ia melukaiku, dan aku merasa giginya menancap di le-herku tadi.Aku mematung, semua hal terasa menakutkan. Rasanya aku hampir mau pingsan, dan aku tidak berani menatap pria itu."Tuan, kita sudah sampai."Sopir di depan mulai bicara, tapi matanya tidak juga menatap ke arah kami berdua. Tanganku ditarik paksa, kakiku terasa masih lemas saat pria itu menarikku tanpa aba-aba.Kakiku yang masih kram akhirnya membuatku terjatuh ke lantai, dan lututku menghantam permukaan tanah yang keras dan kasar. "Ssshhh," desisku.Aku menatap lututku, dan ternyata luka tergores. "Ck! Lemah sekali kau!" kata itu terucap begitu saja. Aku mendongak dan menatap pria itu. Mungkin ia kesal padaku, dan mungkin juga muak denganku, tapi aku bisa apa?! Kakiku kram juga karena ulahnya!Awalnya, suasana hening, tapi beberapa saat







