تسجيل الدخولIa menyeringai, aku tidak tahu kapan pria itu menyusul, yang aku tahu dia tiba-tiba ada di belakang tubuhku. Mungkin tujuannya memang baik, karena hendak membantuku membuka pintu yang sulit aku buka, akan tetapi kenapa reaksi dari wajahnya membuatku takut?
"Kau bahkan sudah mengu|um milikku, apa masih takut juga?!" Aku terkesiap! "Tuan, terkejut dan hal itu sungguh tidak ada hubungannya, dan semua itu jauh berbeda. Kenapa anda menyamakannya dan seolah semua hal yang aku lakukan salah?!" rasa kesal itu sudah menumpuk dalam hati, dan mungkin kalau tidak di tahan, akan meluap dan semakin menjadi-jadi! "Terimakasih sudah membantu, tapi aku mau istirahat sebelum bekerja untuk anda," "Bekerja?" Salah satu alis pria itu terangkat, ia memicingkan matanya dan sesaat setelahnya tampak menatap tubuhku atas dan bawah. Merinding rasanya, belum lagi tatapannya masih terlihat sama, yaitu liar! Tangan besar itu menyentuh punggung dan ke bawah terus hingga berada di bawah pinggang. Aku menatapnya dengan pandangan yang sedikit tajam. "Kau tidak akan bekerja untukku!" "A–apa maksud anda, Tuan?!" "Kau adalah budak naf5uku! Mulailah terbiasa sekarang, dan apa yang aku perintahkan, maka lakukan tanpa bantahan!" Pria itu mendorongku masuk, tapi sesaat setelahnya ia menyentuh pinggangku dan... Bibir ini rasanya hampir kebas karena lu-matan yang terus saja ia berikan, sama seperti tadi, ia pasti melepaskan dan menghirup aroma tubuhku, tepat di leherku. Entahlah apa yang ia hirup di sana, aku merasa tubuhku hanya bau keringat dan cairan bening miliknya saja. "Esok, aku akan memperjelas pekerjaanmu, setelah mandi dan berganti pakaian, istirahatlah." Pria itu pergi begitu saja, tanpa mengatakan apapun lagi. Segala hal yang ia lakukan membuatku sakit kepala, dan untungnya ia tampan..., mungkin kalau dia jelek, aku benar-benar lebih baik mati saja! *** POV Ferdo. Aroma harum itu, manis... Aku tidak bisa berhenti untuk tidak menggigitnya. Sekali seumur hidup, aku baru mendapatkan seorang wanita yang membuatku candu... Brakk! Suara pintu yang terbuka dengan paksa dan kasar itu membuatku menoleh. "Ferdo! Apa yang kau lakukan?! Kau menyeret adikku keluar hanya karena seorang manusia?!" Dev, dia adalah kakak dari Chelsea. Sudah pasti ia akan berbuat demikian setelah adiknya melaporkan apa yang telah aku perbuat padanya! "Dev, dengar aku.... Aku tidak pernah menerima sebuah pengkhianatan! Bukankah dia yang mengemis padaku, dan aku menerimanya. Tapi apa yang ia perbuat padaku? Kau lihat tahu sendiri kan, dan kau juga lihat saat dia bersetubuh dengan temanku sendiri, dan tentu juga temanmu! Kau kira aku akan menerimanya setelah apa yang dia lakukan?!" "Itu memang kesalahan, tapi ada sebabnya! Adikku tidak akan melakukan hal terkutuk itu bila lelaki sialan itu tidak memasukan sesuatu pada minuman adikku! Kamu malah menjadikan ini alasan! Dan kamu pikir, keluargamu menerima manusia itu? Jangan harap Ferdo!" Tatapan itu, dan sebuah ucapannya mungkin benar, tapi siapa perduli?! Harum dan manisnya tidak bisa diabaikan, bagaimana bisa cecunguk sepertinya meremehkan pilihanku? "Kau kira aku perduli? Aku sungguh tidak perduli saat kedua orangtuaku atau bahkan keluarga besarku menolak semua itu. Aku yang memegang kendali, Dev! Kau bisa apa bila aku menginginkannya?! Dan aku harap! Kau juga sama seperti aku! Mendapatkan seorang manusia yang membuatmu lupa kata klan, keluarga, atau bahkan sukumu sendiri!" Suara petir menggelegar, kilatan cahayanya bahkan sampai seakan menembus jendela kaca yang tidak bertirai. Aku menyeringai, dan menatap teman lamaku yang mungkin sebentar lagi akan menjadi musuhku! "Hahahahaha, sebentar lagi ucapanku akan menjadi kenyataan, sekarang angkat kaki dari sini, atau aku yang akan mengusirmu, Dev!" Ia pergi begitu saja, menahan rasa kesalnya, dan aku tahu – ia pasti tidak akan tinggal diam kali ini. Suara langkah kakinya memburu, seakan diburu waktu, padahal emosinya yang hampir meledak! *** Mentari pagi mulai menyapa, rasa nyaman, aman dan lelah membuatku malas untuk bangun. Akan tetapi, kilau cahaya yang menerobos masuk itu menimbulkan silau! Mau tidak mau, harus bangun dan melihat ke sekitar. Aku menggeliat sebelum duduk, dan mulai menatap kamar besar yang aku huni, menguap dan mulai menyibak selimut. Saat hendak bangun dan turun dari ranjang, tubuhku tertahan.. "Lah, aku kenapa ini?! Kenapa aku kok nggak bisa bangun, jangan-jangan aku cidera?!" Jantungku berdegup sangat kencang saat membayangkan banyak hal buruk yang terjadi. Aku berusaha menunduk dan melihat ke arah kaki, tapi setelah aku melihat area bagian bawah perut, aku langsung menoleh ke samping. "Tu–tuan?! Anda di sini, sejak kapan?!" Pria itu, entah sejak kapan ada di sana, tidur di sampingku, dan memelukku?! Apa maksudnya? Perlahan, matanya terbuka... Bola mata berwarna abu-abu itu tampak menatap dengan tatapan cukup tajam, akan tetapi terlihat menawan. Aku menelan ludah, dan sungguh pesona pria itu tidak bisa aku abaikan ternyata! "Kenapa?! Rumah ini adalah rumahku, dan aku bebas mau tidur di mana. Aku akan mandi, setelah aku selesai, kamu juga harus mandi. Ada acara sarapan, setelah itu kita akan pergi ke sebuah tempat." Aku hanya mengangguk, aku juga melihat Ferdo tampak duduk, dan yang paling membuat terkejut lagi untuk kesekian kalinya... Ia bertelanjang dad4, tubuh indahnya itu terlihat, ia benar-benar mempesona, dan membuat desiran aneh. "Kenapa menatapku begitu?! Apa kamu mau?!" Ferdo kembali bicara ngawur. Ia selalu saja menggoda, seakan apa yang ia perlihatkan mungkin membuatku ingin.. "A–apa yang anda katakan?! Aku akan mandi, Tuan." Aku kabur dari pria itu, entahlah ia marah ataupun kecewa, yang penting, kabur aja dulu. *** Di dalam kamar mandi, aku mulai menghidupkan shower, air hangat mulai membasahi kulit, dan bisa sabun yang halus dan beraroma mawar membuatku merasa tenang, dan merasa ringan. Seketika, semua hal yang ada di kepalaku hilang sejenak. Akan tetapi, saat aku mulai mendongak dan menyiram wajahku dengan air hangat itu, aku merasa ada yang mulai menyusuri tubuhku menggunakan tangannya yang besar. Menyentuh segala inci, dan bahkan seakan tidak ada yang mau ia tinggalkan. Aku merinding! "Kenapa, kamu kembali takut?" Bisik orang itu. Antara harus berbalik dan melihat siapa orang itu, atau bertahan dan berusaha meyakinkan tidak terjadi apapun.. tidak ada suara apapun, bagaimana mungkin ada orang yang masuk ke dalam kamar mandi itu?! Jantungku seakan hampir meloncat dari tempatnya, aku berusaha berbalik pelan, dan melihat siapa yang ada di belakang tubuhku, air masihengalir, dan aku membelalakan mata saat melihat siapa yang ada di belakang tubuhku. Kakiku melemas, aku hampir ambruk..."Alicia, aku tak akan membiarkan mereka menyakiti kamu." Suara itu berat, dalam, dan begitu dekat di telingaku. Ferdo tidak menatapku saat mengatakannya. Matanya tetap lurus ke depan, menatap kaca mobil yang gelap, namun tangannya... tangannya menggenggam tanganku dengan sangat erat. Seerat itu hingga aku bisa merasakan dinginnya cincin di jarinya menusuk kulitku. Setelah bicara begitu, lelaki itu memerintahkan sopir agar mobil berjalan maju. Mobil hitam itu melaju. Perjalanan itu terasa sangat lama. Semakin lama kami berjalan, jalanan aspal mulus perlahan menghilang, berganti menjadi jalan tanah berbatu. Lampu-lampu kota mulai menghilang satu per satu. Pohon-pohon di sisi jalan semakin tinggi, semakin rapat, hingga cahaya bulan pun tidak bisa masuk. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam akhirnya sampai ke sebuah tempat yang makin gelap. Ini bukan gelap biasa. Ini adalah gelap yang hidup. Gelap yang bernafas. Aku bisa mendengar suara-suara aneh dari luar. Bukan suara ja
'SRIITTT!' Suara mesin mobil yang mengerem mendadak begitu keras. Tubuhku terdorong ke depan. Selimut tebal itu melorot. Aku terkejut bukan main, dan pada saat yang sama Ferdo akhirnya terbangun, padahal ia baru saja tertidur lelap. Matanya terbuka dalam sepersekian detik. Tidak ada sisa kantuk. Langsung tajam, langsung waspada, langsung menjadi Ferdo yang ditakuti semua orang itu. "Ada apa di luar?" tanyanya dengan ekspresi wajah serius menatap ke depan. Tangannya sudah bergerak ke gagang pintu. Dari kaca depan yang sedikit berembun, aku bisa melihatnya. Di tengah jalan hutan yang gelap itu, berdiri lima orang dengan memakai topeng hitam. Topengnya terbuat dari kayu gelap dengan ukiran aneh, hanya terlihat mata mereka yang menyala merah. Mereka membawa rantai dan belati panjang. Di belakang mereka, pepohonan bergoyang keras meski tidak ada angin. Serigala-serigala bayangan Ferdo menggeram. Max berteriak dari luar, "Tuan! Penyergap! Mundur!" Ferdo langsung berdiri se
"Tapi, apa kamu tidak lelah?" tanyaku pada Ferdo.Aku menatap wajahnya dari dekat. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas terlihat sekarang. Matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi semua orang, kini terlihat sayu dan lelah. Sejak kemarin malam ia tidak tidur sama sekali karena mengurus laporan dari wilayah perbatasan, dan pagi ini ia bahkan tidak sempat menyelesaikan tidurnya karena aku meninggalkannya.Lelaki itu tampak menatapku dan tersenyum lembut. Senyum yang selalu berhasil membuat jantungku berdebar tidak karuan, senyum yang hanya ia perlihatkan padaku seorang.Satu tangannya mengusap kepalaku dengan lembut. Gerakannya pelan, seperti sedang menenangkan seekor kucing kecil yang ketakutan. Jari-jarinya yang panjang menyisir rambutku yang masih berantakan karena baru bangun tidur."Jangan khawatir, aku tak menyetir mobil sendiri. Aku akan tidur di mobil," ujarnya. Suaranya pelan dan serak.Aku merasa lega sedikit. Setidaknya ia tidak akan memaksakan diri menyetir da
Aku bingung menjawab pertanyaan Max saat ia bertanya apa aku memiliki rasa pada Ferdo, bosnya sendiri sekaligus orang yang memberiku segalanya.Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba di tengah sarapan. Aku yang sedang memotong daging di piringku langsung berhenti. Garpu di tanganku terasa berat."Nona Alicia," kata Max pelan dengan suaranya yang selalu tenang dan sopan itu. "Bolehkah saya bertanya sesuatu yang agak pribadi?"Aku mengangguk pelan, masih menatap piringku."Apakah Nona memiliki rasa pada Tuan Ferdo?"Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Apa maksudnya rasa? Rasa takut? Rasa hormat? Atau rasa yang lain yang bahkan aku sendiri tidak berani menyebut namanya.Aku bingung. Bagaimana aku harus menjawabnya?Ferdo adalah bosku sendiri, orang yang memberiku tempat tinggal saat aku tidak punya siapa-siapa. Orang yang memberiku makan, pakaian, pendidikan, bahkan memberiku nama belakangnya agar aku tidak lagi dipanggil anak haram tanpa keluarga. Ia adalah orang yang telah menga
POV Alicia. Ferdo tertidur pulas pagi itu. Setelah tangisnya yang panjang semalam, setelah ia memelukku dengan erat sambil mengatakan bahwa akulah satu-satunya miliknya seutuhnya, Ferdo akhirnya terlelap di sampingku. Ia tertidur dengan wajah yang masih basah oleh sisa air mata, namun napasnya terdengar teratur dan tenang untuk pertama kalinya setelah beberapa hari. Ia tampak kelelahan, aku tidak berani membangunkannya. Aku memandangi wajahnya yang tertidur dari jarak yang dekat. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas. Alisnya yang biasanya selalu berkerut tegang kini terlihat rileks. Bibirnya yang tegas sedikit terbuka, mengeluarkan napas yang berat. Lengan besarya masih melingkar di pinggangku, menjaga agar aku tetap berada di dalam pelukannya bahkan di dalam tidurnya. Aku tidak berani bergerak dengan keras. Aku tidak berani membangunkannya, karena aku tahu ia sangat membutuhkan istirahat. Selama beberapa malam terakhir, ia pasti menghabiskan waktunya untuk men
POV - Alicia. Aku memandang lelaki itu lama. Aku baru saja terbangun dari tidurku yang sangat nyenyak. Kepalaku masih terasa berat dan pusing karena terlalu banyak menangis. Mataku yang sembab terasa perih setiap kali aku mengedipkannya. Cahaya temaram dari lampu kamar membuat pandanganku sedikit buram. Di sampingku, Ferdo duduk dengan kepala yang menunduk. Punggungnya yang biasanya terlihat begitu tegak dan berwibawa, kini terlihat membungkuk dengan lemah. Bahunya bergetar. Awalnya aku sangat membencinya, aku merasa ia begitu kejam. ia banyak bicara hari ini. Bicara penuh penyesalan dan maaf ia lontarkan puluhan kali mungkin. Aku membencinya karena ia telah membuatku berada dalam posisi yang sangat menakutkan ini. Aku membencinya karena ia adalah seorang alpha, makhluk yang kekuatannya jauh di atas manusia biasa sepertiku. Aku membencinya karena tadi aku mendengar suara tembakan dan bentakannya yang menggelegar di aula paviliun, membentak semua pelayan dan mengancam akan







