LOGINDia menyentuhku, dan aku membeku. Semua yang terjadi, seakan tidak bisa ditolak, entah karena memang terbawa suasana, atau semua memang hanya sebuah reaksi dari tubuh yang memang tidak menolak.
"Reaksimu tidak buruk juga, tidak menolak, tapi juga tidak menerima. Lalu, apa kita lanjut saja?" ujar Ferdo. Bagian intiku dimasuki oleh salah satu jarinya, aku sebenarnya ingin mendorongnya agar berhenti, tapi aku tidak bisa! Aku tidak bisa melakukannya, dan sialnya bibirku malah mende-sah dan aku merasa bagian itu makin gatal. Tapi, saat aku menginginkan lebih, ia pergi begitu saja dan membuatku bingung. "Apa yang dia lakukan?! Dia mempermainkan aku?!" Aku kesal, mulai bicara sendiri dan marah! Tetapi, aku juga ingin. "Aaagggghhhh! Tuhan memberikan takdir sialan!" teriakanku sangat keras, tapi aku yakin tidak akan ada yang bisa mendengarkannya. *** Setelah mandi, dress panjang berwarna hitam mulai aku kenakan, bertali spaghetti dan kulit ini begitu kontras. Mengenakan riasan tipis sudah cukup, dan setelahnya mengenakan beberapa perhiasan yang sudah tersedia. Langkah kaki mulai menyusuri lorong dan turun dari tangga, mengikuti kata hati, hanya itu yang bisa dilakukan sekarang. Tidak ada yang bisa dimintai sebuah keterangan, ataupun dimintai jawaban. Hingga pada akhirnya ada seseorang yang berkata... "Sebelah sini, Nona. Beliau sudah menunggu anda." Aku tidak menjawab, hanya diam dan mengikuti. Setelah berjalan beberapa waktu, pintu besar dibuka, seakan menungguku untuk segera masuk. Di depan sana, di meja panjang Yeng terlihat seperti ruang makan, aku melihat banyak orang berpakaian serba hitam yang seakana sudah menunggu. Tapi, saat aku mulai ragu, entah dari mana asalnya, seorang pria mulai menggenggam jari-jemari ini, dan mulai membawaku masuk. Langkah kaki itu menuntun, agar aku ikut masuk. Aku menuruti meskipun sedikit berat hati. Apa aku salah? Salah karena sudah ada di sini? "Jadi, ini manusia itu?" Seorang lelaki paruh baya mulai angkat bicara. Tatapannya tajam, seakan hendak menghunusku. Membuat keberanianku goyah, tapi genggaman tangan itu makin erat, seakan hendak meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. "Iya, Ayah. Dia Alicia, wanita yang akan menikah denganku malam ini." Ferdo bicara dengan suara mantap. "Apa?!" Semua orang bicara hampir bersamaan, dan pada saat yang sama – aku malah hanya bisa menahan nafas saat pria itu bicara malam ini! "Ferdo! Apa kamu gila! Dia itu manusia!" teriak salah satu wanita paruh baya sembari menunjuk ke arahku. Aku makin bingung, dan hal yang kemarin menjadi pertanyaan besar dalam kepalaku akhirnya kembali membuatku ingat... Segala hal itu harus dipertanyakan apa maksudnya! "Bagaimana bisa dia akan melahirkan generasi penerus! Apa kamu tidak memikirkan hal itu?! Apa kau sudah gila?! Meninggalkan Chelsea, ras kuat yang bisa melahirkan generasi penerus yang mungkin bisa menjadi terunggul dengan manusia lemah yang bisa saja mati bila mengandung anakmu?!" teriakan dari seorang pria kembali terdengar. Degh! Batinku sekali lagi. "A–apa maksudnya?! Tuan, bisakah anda jelaskan padaku, apa maksudnya semua ini, dan bukankah kalian juga manusia?!" aku memberanikan diri untuk bertanya, mempertaruhkan segalanya, bahkan nyawaku, keselamatan, atau apapun itu. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan, tidak ada lagi yang pantas untuk dipertahankan, bahkan nyawa ini sekalipun, tidak sepantasnya dijaga. Mati, ya sudah! Mati saja! Hanya itu yang ada di dalam kepala. "Wah, dia bahkan tidak tahu kalau kau adalah generasi penerus dari Alpha tertinggi saat ini, Ferdo?! Kau yakin akan mempertaruhkan semuanya demi dia?!" Lelaki lua yang duduk paling ujung mulai angkat bicara. Aku tidak mau percaya begitu saja, semua terasa sangat tidak masuk akal! "Tidak, itu tidak mungkin! Bagaimana mungkin hal itu ada?! Atau ini hanya sebuah adegan filem saja," aku menoleh ke arah Ferdo, mulai meminta jawaban, dan berharap pria itu akhirnya mengiyakan segala ucapanku barusan. Akan tetapi, reaksi Ferdo tidak sesuai dengan harapan. Aku tertawa getir saat menyadari hal gila ini mungkin nyata. "Tidak mungkin kan, Tuan. Semua ini bohong, kan? Tolong katakan apapun," aku mulai memohon. Tapi dia masih bungkam! "Mau memohon seperti apapun kamu, jawaban itu benar adanya, dan kami adalah ras terkuat saat ini. Chelsea memiliki darah Alpha yang kuat untuk mengandung benih dari Ferdo, dan selama ini, adapun manusia yang bisa mengandung keturunan Alpha, mereka akan meninggal setelah melahirkan. Kecil kemungkinan bayi itu selamat!" Sebuah ucapan itu seolah benar adanya, bak mendengar kilatan sambaran petir, semua terasa makin membuatku tidak bisa menerima kenyataan. Aku menatap mereka semua, lalu menatap ke arah Ferdo. Pria itu diam, dan tidak ada yang ia jelaskan. Seakan menyetujui segala hal yang mereka katakan. "Lebih baik mati saja sekalian," "Cih! Manusia tidak berguna! Kalau benar dia bisa mengandung, aku tidak yakin janinya akan hidup! Kalaupun hidup, dia akan mati!" Ucapan-ucapan itu akhirnya terus mereka lontarkan, sengaja menakut-nakuti, dan mungkinemang berusaha untuk mendorong mundur. "Hentikan! Kalian bisa diam, 'kan?!" Teriakan itu mulai terdengar dan menggema di seluruh ruangan. Bukan dari diriku, melainkan dari Ferdo. "Dia adalah pengantin penggantiku! Mau aku menikah dengan siapa, itu bukan urusan kalian, dan sekuat apapun ras itu– akan ternodai oleh pengkhianatan! Siapa yang tidak setuju, maka maju, kita tanding, satu lawan satu..., sebelum ada yang jatuh terkapar dan tewas, maka tidak akan ada yang boleh menyerah! Maju!" Ferdo mulai berteriak dan menantang mereka semua, dan anehnya mereka semua diam. Aku menolah ke arah Ferdo, dan setelah melihat matanya yang mulai menyala merah, akhirnya aku mulai menyadari – mungkinkah itu yang membuat mereka berhenti memberikan protes dan kritikan, dan mungkin itu juga yang membuat mereka diam! Tapi, semua tidak akan berakhir begitu saja bukan?! Melihat betapa kerasnya perdebatan itu, rasa-rasa ya akan ada part kedua setelah ini. Seorang pria yang cukup muda mulai berdiri, ia menghampiri Ferdo, dan akhirnya perkelahian terjadi. Aku membelalakan mata setelah melihat tangan kekar Ferdo berubah! Tubuh yang awalnya terlihat sempurna seketika berubah besar dan berbulu! Kukunya panjang, dan yang membuatku makin lemas adalah tinggi tubuhnya yang berubah tigakali lipat dari tinggi awal. Kepalanya perlahan berubah, selayaknya kepala anjing berwarna abu-abu. Dan pria yang ada di hadapannya juga terlihat demikian, hal ini menakutkan. Aku hampir pingsan, terlebih saat aku mulai melihat mereka melompat dan mulai menyerang satu sama lain! Suara raungan dan lolongan anjing memekakan telinga, dan apa aku benar-benar ada di dunia nyata?! Atau aku hanya berada di alam bawah sadar saja? Tubuhku ambruk ke lantai, aku tidak sanggup lagi menahan tubuh ini."Alicia, aku tak akan membiarkan mereka menyakiti kamu." Suara itu berat, dalam, dan begitu dekat di telingaku. Ferdo tidak menatapku saat mengatakannya. Matanya tetap lurus ke depan, menatap kaca mobil yang gelap, namun tangannya... tangannya menggenggam tanganku dengan sangat erat. Seerat itu hingga aku bisa merasakan dinginnya cincin di jarinya menusuk kulitku. Setelah bicara begitu, lelaki itu memerintahkan sopir agar mobil berjalan maju. Mobil hitam itu melaju. Perjalanan itu terasa sangat lama. Semakin lama kami berjalan, jalanan aspal mulus perlahan menghilang, berganti menjadi jalan tanah berbatu. Lampu-lampu kota mulai menghilang satu per satu. Pohon-pohon di sisi jalan semakin tinggi, semakin rapat, hingga cahaya bulan pun tidak bisa masuk. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam akhirnya sampai ke sebuah tempat yang makin gelap. Ini bukan gelap biasa. Ini adalah gelap yang hidup. Gelap yang bernafas. Aku bisa mendengar suara-suara aneh dari luar. Bukan suara ja
'SRIITTT!' Suara mesin mobil yang mengerem mendadak begitu keras. Tubuhku terdorong ke depan. Selimut tebal itu melorot. Aku terkejut bukan main, dan pada saat yang sama Ferdo akhirnya terbangun, padahal ia baru saja tertidur lelap. Matanya terbuka dalam sepersekian detik. Tidak ada sisa kantuk. Langsung tajam, langsung waspada, langsung menjadi Ferdo yang ditakuti semua orang itu. "Ada apa di luar?" tanyanya dengan ekspresi wajah serius menatap ke depan. Tangannya sudah bergerak ke gagang pintu. Dari kaca depan yang sedikit berembun, aku bisa melihatnya. Di tengah jalan hutan yang gelap itu, berdiri lima orang dengan memakai topeng hitam. Topengnya terbuat dari kayu gelap dengan ukiran aneh, hanya terlihat mata mereka yang menyala merah. Mereka membawa rantai dan belati panjang. Di belakang mereka, pepohonan bergoyang keras meski tidak ada angin. Serigala-serigala bayangan Ferdo menggeram. Max berteriak dari luar, "Tuan! Penyergap! Mundur!" Ferdo langsung berdiri se
"Tapi, apa kamu tidak lelah?" tanyaku pada Ferdo.Aku menatap wajahnya dari dekat. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas terlihat sekarang. Matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi semua orang, kini terlihat sayu dan lelah. Sejak kemarin malam ia tidak tidur sama sekali karena mengurus laporan dari wilayah perbatasan, dan pagi ini ia bahkan tidak sempat menyelesaikan tidurnya karena aku meninggalkannya.Lelaki itu tampak menatapku dan tersenyum lembut. Senyum yang selalu berhasil membuat jantungku berdebar tidak karuan, senyum yang hanya ia perlihatkan padaku seorang.Satu tangannya mengusap kepalaku dengan lembut. Gerakannya pelan, seperti sedang menenangkan seekor kucing kecil yang ketakutan. Jari-jarinya yang panjang menyisir rambutku yang masih berantakan karena baru bangun tidur."Jangan khawatir, aku tak menyetir mobil sendiri. Aku akan tidur di mobil," ujarnya. Suaranya pelan dan serak.Aku merasa lega sedikit. Setidaknya ia tidak akan memaksakan diri menyetir da
Aku bingung menjawab pertanyaan Max saat ia bertanya apa aku memiliki rasa pada Ferdo, bosnya sendiri sekaligus orang yang memberiku segalanya.Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba di tengah sarapan. Aku yang sedang memotong daging di piringku langsung berhenti. Garpu di tanganku terasa berat."Nona Alicia," kata Max pelan dengan suaranya yang selalu tenang dan sopan itu. "Bolehkah saya bertanya sesuatu yang agak pribadi?"Aku mengangguk pelan, masih menatap piringku."Apakah Nona memiliki rasa pada Tuan Ferdo?"Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Apa maksudnya rasa? Rasa takut? Rasa hormat? Atau rasa yang lain yang bahkan aku sendiri tidak berani menyebut namanya.Aku bingung. Bagaimana aku harus menjawabnya?Ferdo adalah bosku sendiri, orang yang memberiku tempat tinggal saat aku tidak punya siapa-siapa. Orang yang memberiku makan, pakaian, pendidikan, bahkan memberiku nama belakangnya agar aku tidak lagi dipanggil anak haram tanpa keluarga. Ia adalah orang yang telah menga
POV Alicia. Ferdo tertidur pulas pagi itu. Setelah tangisnya yang panjang semalam, setelah ia memelukku dengan erat sambil mengatakan bahwa akulah satu-satunya miliknya seutuhnya, Ferdo akhirnya terlelap di sampingku. Ia tertidur dengan wajah yang masih basah oleh sisa air mata, namun napasnya terdengar teratur dan tenang untuk pertama kalinya setelah beberapa hari. Ia tampak kelelahan, aku tidak berani membangunkannya. Aku memandangi wajahnya yang tertidur dari jarak yang dekat. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas. Alisnya yang biasanya selalu berkerut tegang kini terlihat rileks. Bibirnya yang tegas sedikit terbuka, mengeluarkan napas yang berat. Lengan besarya masih melingkar di pinggangku, menjaga agar aku tetap berada di dalam pelukannya bahkan di dalam tidurnya. Aku tidak berani bergerak dengan keras. Aku tidak berani membangunkannya, karena aku tahu ia sangat membutuhkan istirahat. Selama beberapa malam terakhir, ia pasti menghabiskan waktunya untuk men
POV - Alicia. Aku memandang lelaki itu lama. Aku baru saja terbangun dari tidurku yang sangat nyenyak. Kepalaku masih terasa berat dan pusing karena terlalu banyak menangis. Mataku yang sembab terasa perih setiap kali aku mengedipkannya. Cahaya temaram dari lampu kamar membuat pandanganku sedikit buram. Di sampingku, Ferdo duduk dengan kepala yang menunduk. Punggungnya yang biasanya terlihat begitu tegak dan berwibawa, kini terlihat membungkuk dengan lemah. Bahunya bergetar. Awalnya aku sangat membencinya, aku merasa ia begitu kejam. ia banyak bicara hari ini. Bicara penuh penyesalan dan maaf ia lontarkan puluhan kali mungkin. Aku membencinya karena ia telah membuatku berada dalam posisi yang sangat menakutkan ini. Aku membencinya karena ia adalah seorang alpha, makhluk yang kekuatannya jauh di atas manusia biasa sepertiku. Aku membencinya karena tadi aku mendengar suara tembakan dan bentakannya yang menggelegar di aula paviliun, membentak semua pelayan dan mengancam akan







