Mag-log inElara tersentak mendengar bentakan suaminya yang menggelegar di dalam kastil megah itu.
Suara itu bukan sekadar kemarahan, melainkan otoritas mutlak yang menuntut ketundukan total. Tubuhnya yang mungil tampak menciut, diselimuti ketakutan yang begitu pekat hingga akhirnya dia menyerah.
Dengan lemas, Elara menganggukkan kepala pasrah. “Baiklah, Duke Valerius. Aku tidak akan banyak bertanya lagi padamu,” bisik Elara dengan suara yang hampir tertelan sunyi.
“Tapi, aku memohon satu hal. Izinkan aku bertemu dengan ayahku besok di kediaman Astley. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya sebelum aku sepenuhnya menetap di Utara.”
Valerius melangkah mendekat dan menatap Elara dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Kau sudah menjadi milikku, Elara. Sejak pendeta suci mengucapkan pemberkatan, kau bukan lagi bagian dari keluarga Astley,” ucap Valerius dengan nada rendah yang mengancam.
“Pergi menemui ayahmu sekarang sama saja dengan mengantarkan nyawamu ke neraka. Kau adalah Duchess Drakenhoff, dan tempatmu adalah di balik tembok ini.”
Elara mengangkat wajahnya dan menatap Valerius dengan sorot mata tidak percaya. Jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar larangan itu.
“Ka-kau … melarangku bertemu dengan orang tuaku sendiri?” ucapnya dengan nada lirih yang bergetar karena emosi.
“Tapi itu tidak ada di dalam perkamen perjanjian pernikahan yang kau berikan, Valerius! Aku membacanya dari baris pertama hingga terakhir. Tidak ada satu pun klausul yang mengatakan aku harus memutus hubungan dengan keluargaku!”
Valerius tidak menjawab. Dia rasa, dia tidak perlu menjelaskan tindakannya kepada wanita yang dia anggap sebagai komoditas politik itu.
Dia hanya menghela napas panjang, bosan atas protes istrinya. Tanpa kata, sang Duke membalikkan badannya yang tegap, menarik selimut beludru hitam, dan berbaring memunggungi Elara.
Dalam hitungan detik, pria itu memejamkan mata dan mematikan kesadarannya dari dunia luar seolah percakapan barusan hanyalah hal sepele.
Elara memandangi punggung lebar itu dengan campuran amarah yang membara dan kepasrahan yang pahit. Jantungnya masih berdetak tak karuan, pikirannya kacau balau membayangkan hari-harinya ke depan.
Dia merasa seperti dikurung dalam jeruji besi tak kasat mata di tengah kemegahan Kastil Drakenhoff. Diikat oleh utang, dibungkam oleh ancaman, dan dipaksa bertahan dalam sebuah kehidupan yang sama sekali bukan pilihannya.
“Malangnya nasibku, Ya Tuhan,” ucapnya lirih ke arah kegelapan malam, sebelum akhirnya dia meringkuk di sisi ranjang yang paling jauh dari suaminya.
**
Keesokan paginya, begitu matahari musim dingin menyembul tipis di ufuk Timur, Valerius sudah berangkat menuju benteng pertahanan untuk meninjau kavaleri serigala Utara.
Elara melihat kesempatan itu sebagai satu-satunya celah untuk bernapas. Dengan jantung yang berdebar kencang, Elara mengenakan jubah berkerudung cokelat sederhana untuk menyamarkan identitasnya.
Dia bermaksud mengendap-endap keluar dari kastil, berharap bisa menyewa kereta kuda rakyat jelata untuk membawanya kembali ke wilayah Astley yang berjarak setengah hari perjalanan.
“Berhenti, Duchess! Anda dilarang melangkah lebih jauh oleh Yang Mulia Duke Valerius.”
Suara berat dan dingin itu menghentikan langkah Elara tepat di ambang gerbang samping kastil.
Dua penjaga berseragam zirah hitam dengan lambang kepala serigala di dada mereka berdiri tegak seperti patung tak bernyawa, menghalangi jalan dengan tombak yang bersilangan.
Elara membeku sejenak. Matanya menatap nanar ke arah hamparan salju di luar sana.
Di kejauhan, dia bisa melihat pintu gerbang besi hitam yang menjulang tinggi, gerbang yang memisahkan dirinya dengan kebebasan.
“Aku harus pergi ke kediaman orang tuaku. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan ayahku mengenai urusan wilayah kami. Aku mohon, bukakan jalan untukku,” pinta Elara, sembari berusaha mempertahankan martabatnya sebagai seorang bangsawan.
“Duke Valerius telah menitahkan kepada kami agar tidak membiarkan Anda menginjakkan kaki di luar kastil ini tanpa izin langsung dan pengawalan dari beliau,” jawab salah satu dari mereka dengan nada tegas yang mematikan harapan Elara.
Elara mengepalkan tangannya di balik jubah, mencoba menahan rasa sesak di dada yang terus bergemuruh.
“Kali ini saja, aku memohon kepada kalian. Aku berjanji, aku tidak akan memberitahu Valerius. Aku hanya butuh waktu dua jam untuk bicara dengan ayahku,” pintanya dengan suara yang mulai serak karena putus asa.
Namun, permohonan itu justru memicu protokol yang lebih keras.
Sesuai dengan instruksi rahasia yang diberikan Valerius jika sang pengantin pengganti mencoba melarikan diri, kedua penjaga itu tidak hanya menghalangi jalan, mereka meraih lengan Elara dengan paksa.
“Hei! Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan aku!” teriak Elara saat dirinya diseret menyusuri lorong-lorong gelap menuju ruang bawah tanah kastil.
Dia terus meronta-ronta dengan kaki yang terus menendang zirah baja, namun kekuatannya tidak sebanding dengan para raksasa Utara itu.
Alih-alih dibawa kembali ke kamarnya, Elara justru didorong masuk ke dalam sebuah ruangan lembap yang biasanya digunakan untuk menyimpan cadangan gandum atau sebagai ruang interogasi darurat.
“Keluarkan aku dari sini! Aku adalah Duchess kalian! Beraninya kalian memperlakukanku seperti ini!” teriak Elara sembari terus menggedor-gedor pintu kayu ek tebal yang telah dikunci dari luar.
Suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu, namun tidak ada jawaban. Dia dikurung seperti maling yang baru saja ketahuan mencuri di rumah majikannya. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang pias.
“Kenapa jadi seperti ini?” ucapnya lirih sembari menyandarkan punggungnya di tembok batu yang dingin. Tubuhnya merosot hingga dia terduduk di lantai yang berdebu.
“Aku seperti burung dalam sangkar emas yang tidak akan pernah bisa mengepakkan sayap lagi.”
Elara tidak tahu berapa lama dia dikurung di sana. Waktu seolah berhenti berputar di dalam kegelapan gudang bawah tanah itu.
Hingga akhirnya, suara derit kunci yang diputar terdengar memilukan. Pintu terbuka perlahan, menampakkan siluet tinggi besar yang menghalangi cahaya obor dari luar.
Sosok Valerius muncul. Jubah perangnya masih berbau amis darah dan salju, menambah kesan mengerikan pada penampilannya. Dia menatap nyalang ke arah Elara yang terduduk lesu di lantai.
“Beraninya kau menentang perintahku, Elara!” suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding batu, membuat debu-debu berterbangan.
Tubuh Elara bergetar hebat melihat kemarahan yang terpancar dari mata abu-abu pria itu.
“A-aku hanya ingin bicara dengan ayahku, Valerius. Aku tidak bermaksud kabur selamanya, aku hanya ingin penjelasan kenapa dia menyerahkanku padamu,” ucap Elara terbata dengan suara yang nyaris hilang.
Valerius melangkah maju lalu mencengkeram rahang Elara dengan tangan yang dilapisi sarung tangan kulit hitam, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam neraka di matanya.
“Dengarkan aku baik-baik, Pengantin Pengganti,” desis Valerius dengan suara yang lebih mematikan daripada teriakannya.
“Sekali lagi kau mencoba melewati gerbang kastil tanpa izinku, atau mencoba menghubungi penghianat dari keluarga Astley itu, aku tidak akan segan-segan mengirimkan kepala ayahmu dalam kotak perak ke hadapanmu!”
“Jadi ini, wanita dari keluarga Astley yang menjadi pengantin pengganti bagi sang Monster Utara?”Suara bariton yang ringan namun mengandung nada penasaran itu membuat Elara menoleh.Langkahnya sempat terhenti begitu melihat seorang pria dengan jubah sutra berwarna biru safir yang anggun berdiri tegak di hadapannya.Rambutnya pirang pucat, ditata rapi ke belakang dengan sebuah mahkota kecil di lengan bajunya yang menandakan status bangsawan tinggi.Senyumnya terlihat ramah, namun sorot matanya yang keemasan menyimpan rasa ingin tahu yang dalam.Wajah Elara mendongak, lalu bibirnya membentuk senyum tipis, sebuah refleks kesopanan yang telah mendarah daging dalam dirinya sebagai seorang Lady.“Ya. Aku Elara. Dan kau siapa?” tanyanya dengan suara sopan namun sedikit canggung.Dia masih merasa asing dengan kastil besar ini yang terasa seperti labirin penuh rahasia, apalagi harus berhadapan dengan orang-orang yang tampaknya telah mengenal suaminya jauh lebih lama.Pria itu tersenyum lebar
“Tidak … tidak!” seru Elara panik dengan mata membola karena ketakutan. “Kumohon, Valerius, jangan lakukan itu! Jangan sakiti ayahku!” pintanya dengan nada memelas. Dia sama sekali tidak menduga bahwa keinginannya untuk bertemu sang ayah akan berakhir menjadi ancaman yang mempertaruhkan nyawa.Di wilayah Utara yang dikuasai oleh garis darah Drakenhoff, kata-kata sang Duke adalah hukum, dan pedangnya adalah hakim.Wajah Valerius masih tampak sekeras pahatan batu granit. Dia tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan atas teror yang dia tanamkan di hati istrinya.“Dan satu lagi,” katanya dengan datar. “Mulai detik ini, kau harus berhenti memberikan bantuan di kedai ramuan sahabatmu di perbatasan itu. Kau tidak akan lagi menginjakkan kaki di sana.”Elara terbelalak. Dunianya seolah runtuh untuk kesekian kalinya. “Apa? Ta-tapi … itu adalah satu-satunya tempat di mana aku merasa berguna, Valerius. Sahabatku membutuhkanku untuk meracik obat bagi rakyat jelata!”Di kedai kecil yang terletak
Elara tersentak mendengar bentakan suaminya yang menggelegar di dalam kastil megah itu. Suara itu bukan sekadar kemarahan, melainkan otoritas mutlak yang menuntut ketundukan total. Tubuhnya yang mungil tampak menciut, diselimuti ketakutan yang begitu pekat hingga akhirnya dia menyerah.Dengan lemas, Elara menganggukkan kepala pasrah. “Baiklah, Duke Valerius. Aku tidak akan banyak bertanya lagi padamu,” bisik Elara dengan suara yang hampir tertelan sunyi.“Tapi, aku memohon satu hal. Izinkan aku bertemu dengan ayahku besok di kediaman Astley. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya sebelum aku sepenuhnya menetap di Utara.”Valerius melangkah mendekat dan menatap Elara dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Kau sudah menjadi milikku, Elara. Sejak pendeta suci mengucapkan pemberkatan, kau bukan lagi bagian dari keluarga Astley,” ucap Valerius dengan nada rendah yang mengancam.“Pergi menemui ayahmu sekarang sama saja dengan mengantarkan nyawamu ke neraka. Kau adalah Duchess D
“Ah… tu-tunggu, Valerius ….”Elara yang kini menyandang nama Drakenhoff merintih parau. Tubuhnya yang mungil itu tenggelam dalam kebesaran ranjang jati berukir naga tersebut.Di bawah kungkungan tubuh tegap Valerius, dia merasa seperti seekor burung pipit yang tertangkap cakar elang Utara. Merasakan gelenyar asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Namun, Duke Valerius von Drakenhoff, atau Valerius sebagaimana dia lebih suka dipanggil dalam keintiman yang gelap ini, tidak memberikan ruang bagi Elara untuk bernapas, apalagi berpikir.Dengan dominasi mutlak, pria itu melesak masuk, mengklaim apa yang kini telah sah menjadi miliknya.Elara merasa dunianya seakan terbelah; rasa penuh dan sesak menyerbu seketika, menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.“Ah! S-sakit … tolong hentikan …,” rintih Elara hingga air mata mulai menggenang di sudut matanya yang indah.Dia mencengkeram sprei sutra di bawahnya hingga jemarinya memutih, berusaha mencari pegangan di tengah badai yang melanda tu
“Lahirkan seorang putra untukku.”Duke Valerius von Drakenhoff, pria yang oleh seluruh kekaisaran dijuluki sebagai “Monster dari Utara”, berdiri memunggungi ranjang kebesaran yang ditutupi kelambu beludru merah tua.Elara von Astley, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai Lady Elara yang terabaikan, mendongakkan kepalanya dengan napas tertahan.Dia berdiri kaku di tengah ruangan yang luas itu. Hari yang seharusnya menjadi puncak kejayaan keluarga Astley, bagi Elara, hanyalah sebuah awal dari vonis penjara seumur hidup yang tidak pernah dia minta.Elara tidak pernah membayangkan akan berakhir di kamar ini, di bawah tatapan pria paling ditakuti di kekaisaran. Rencana awalnya sudah disusun dengan sangat rapi oleh sang ayah.Kakaknya, Lady Seraphina von Astley, sang primadona kerajaan yang memiliki kecantikan luar biasa, seharusnya menjadi sosok yang berdiri di sini.Seraphina dijadwalkan untuk dinikahkan dengan Duke Valerius dalam sebuah transaksi politik murni yang dingin.Keluarga Astle







