Home / Zaman Kuno / Pengantin Pengganti sang Duke Kejam / 4. Bekerjalah di Bawah Perintahku

Share

4. Bekerjalah di Bawah Perintahku

Author: CeliiCaaca
last update Last Updated: 2026-02-08 23:40:42

“Tidak … tidak!” seru Elara panik dengan mata membola karena ketakutan. 

“Kumohon, Valerius, jangan lakukan itu! Jangan sakiti ayahku!” pintanya dengan nada memelas. 

Dia sama sekali tidak menduga bahwa keinginannya untuk bertemu sang ayah akan berakhir menjadi ancaman yang mempertaruhkan nyawa.

Di wilayah Utara yang dikuasai oleh garis darah Drakenhoff, kata-kata sang Duke adalah hukum, dan pedangnya adalah hakim.

Wajah Valerius masih tampak sekeras pahatan batu granit. Dia tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan atas teror yang dia tanamkan di hati istrinya.

“Dan satu lagi,” katanya dengan datar. “Mulai detik ini, kau harus berhenti memberikan bantuan di kedai ramuan sahabatmu di perbatasan itu. Kau tidak akan lagi menginjakkan kaki di sana.”

Elara terbelalak. Dunianya seolah runtuh untuk kesekian kalinya. “Apa? Ta-tapi … itu adalah satu-satunya tempat di mana aku merasa berguna, Valerius. Sahabatku membutuhkanku untuk meracik obat bagi rakyat jelata!”

Di kedai kecil yang terletak di pinggiran kota satelit itulah Elara bisa menjadi dirinya sendiri.

Tanpa gelar Lady atau Duchess yang menyesakkan, dia bisa tertawa, berbagi cerita, dan sejenak melupakan bahwa dirinya hanyalah tawanan dari sebuah pernikahan politik yang dipaksakan.

Namun, reaksi Valerius cepat dan keras. “Kau pikir pundi-pundi emas Drakenhoff tidak sanggup menghidupimu hingga kau harus mengotori tanganmu dengan akar-akar pohon di kedai kumuh itu?” ucap Valerius dingin.

“Bu-bukan begitu. Aku hanya ingin memiliki kehidupan, aku hanya ….”

Belum sempat Elara melanjutkan ucapannya, tangan besar dan kokoh milik Valerius mencengkeram bahu Elara dan menekannya kuat-kuat ke dinding batu yang kasar.

Elara meringis kesakitan, terkejut oleh kekuatan fisik yang ditunjukkan pria itu. Dia mencoba menggeliat, namun genggaman itu menahannya seakan dia tak lebih dari boneka kain yang tak berdaya di tangan seorang prajurit.

“Aku tak suka mengulang titahku, Elara.” Suara Valerius berubah menjadi geraman sang predator.

Matanya membara, tidak sekadar menunjukkan amarah, tapi menunjukkan hasrat untuk mengendalikan setiap helaan napas istrinya, setiap jengkal geraknya di dalam kerajaan ini.

“Dan kau akan membunuhku juga jika aku menolak perintahmu?” Elara berusaha tetap tenang, walau lututnya bergetar di balik gaunnya yang kotor itu.

“Ayolah, Valerius. Izinkan aku memiliki satu hal yang tersisa dari hidupku. Aku janji akan pulang ke kastil sebelum lonceng menara berbunyi—”

“Sekali tidak tetap tidak, Elara!” bentaknya dengan keras. 

Elara spontan menundukkan kepala, dan kedua bahunya bergetar halus. Dia merasa tubuhnya mengecil, menciut, dan makin kehilangan kendali atas takdirnya sendiri di bawah bayang-bayang jubah hitam sang Duke.

Air mata sudah menggenang di sudut matanya, panas dan menyakitkan. Namun, dia menggigit bibir, menolak untuk menunjukkan kelemahan lebih jauh di depan pria yang tak punya hati ini.

“Jika kau begitu haus akan kesibukan, maka kau harus berada di dekatku. Aku sudah menyiapkan posisi untukmu di balairung utama,” perkataan itu jatuh begitu saja dari bibir Valerius, begitu dingin namun jelas.

Seolah dia sudah menyusun rencana itu jauh-jauh hari, menunggu saat yang tepat untuk menjerat Elara lebih dalam ke dalam jaringnya.

Elara sontak mendongakkan kepala. Matanya menatap Valerius dengan penuh keraguan, alisnya bertaut rapat.

“Maksudmu … aku akan bekerja di dalam dewan urusan wilayahmu?” tanyanya dengan pelan, sembari mencoba menakar niat tersembunyi dari sang "Monster" yang kini menjadi suaminya itu.

Valerius melepaskan cengkeramannya dan berbalik tanpa sedikit pun menoleh lagi. “Ya. Kau akan menjadi Sekretaris Pribadi Duke. Segala urusan korespondensi dengan wilayah Selatan dan administrasi pajak perbatasan akan melalui tanganmu.”

Elara langsung terperangah. “Hah?” bibirnya setengah terbuka, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tugas itu biasanya diberikan kepada cendekiawan atau ksatria kepercayaan.

“Mengurus surat-surat rahasiamu? Menemanimu dalam pertemuan dengan para Baron? Mengatur jadwal kunjungan ke garnisun, bahkan mungkin harus ikut dalam perjalanan dinas ke Ibu Kota Kekaisaran? Sekretaris seperti itu maksudmu?” tanyanya dengan suara meninggi, memastikan bahwa telinganya tidak salah menangkap kata-kata yang begitu mustahil.

Valerius menoleh pelan ke arah Elara dengan tatapan tajamnya yang membuat Elara kembali tegang kala melihat mata elang itu menatapnya. 

“Ya. Mulai esok hari, saat fajar menyingsing, kau sudah resmi menjadi sekretaris pribadiku." 

Elara menghela napas panjang, merasa bingung karena tidak pernah bekerja di lingkungan birokrasi kerajaan yang penuh intrik sebelumnya, apalagi menjadi tangan kanan pria yang seperti badai berjalan itu.

Dalam pikirannya, pekerjaan itu bukan sekadar tugas negara, melainkan jebakan dalam balutan kesibukan. Sebuah cara agar Valerius bisa memantau setiap detik hidupnya.

“Kau tidak memiliki niat buruk padaku, kan? Ingat, Valerius. Kau sendiri yang bilang tujuan utamaku di sini adalah melahirkan pewaris untukmu,” ucap Elara dengan suara nyaris bergetar, mencoba mengingatkan pria itu pada kontrak awal mereka.

Mendengar itu, Valerius tersenyum samar, sebuah senyum misterius yang membuat bulu kuduk Elara meremang. Ada sesuatu yang sangat berbahaya dalam lengkungan bibir itu.

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,” jawab Valerius enteng.

Dia lalu berjalan perlahan mendekati Elara, hingga bayangannya menelan tubuh wanita itu. “Yang jelas, aku hanya mengizinkanmu berinteraksi dengan dunia luar jika kau berada dalam jangkauan pengawasanku.”

Elara kembali terdiam. Dalam benaknya yang kalut, dia menyadari ini bukan hanya tentang pekerjaan atau bantuan administratif. Ini tentang kontrol total.

Tentang bagaimana Valerius ingin memegang kendali atas seluruh eksistensinya, memastikan bahwa tidak ada satu celah pun bagi Elara untuk merencanakan pelarian atau menghubungi kakaknya yang kabur.

“Mau atau tidak, itu pilihanmu,” lanjut Valerius tanpa ekspresi, suaranya sedatar hamparan salju di luar kastil. “Yang pasti, kesempatan untuk keluar dari sel bawah tanah ini tidak akan datang dua kali.”

Elara menatap pria itu cukup lama. Dia tahu, jika menolak, maka dia akan kembali dikurung di dalam kamar atau gudang ini, hidup tanpa arah, hanya menunggu waktu malam tiba untuk “memenuhi kewajibannya” di atas ranjang.

Tapi jika dia menerima, dia akan masuk ke dalam jantung kekuasaan Drakenhoff, lebih dekat dengan pria yang emosinya tidak bisa diprediksi itu.

Namun pada akhirnya, keinginannya untuk tetap bisa melihat dunia luar, untuk merasa berguna meski di bawah tekanan, menang mengalahkan rasa takutnya.

“Ya! Aku mau! Aku tidak bisa terus-menerus membusuk di kastil ini tanpa melakukan apa pun,” jawabnya mantap, sembari mencoba menegakkan punggungnya yang letih.

Valerius menyunggingkan senyum yang sulit diartikan, lalu mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Elara.

“Bagus,” bisiknya dengan nada yang dingin. “Kalau begitu, bersiaplah menyambut hari pertamamu di neraka yang baru, Duchess Elara.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   5. Kedatangan Wanita tak Diundang

    “Jadi ini, wanita dari keluarga Astley yang menjadi pengantin pengganti bagi sang Monster Utara?”Suara bariton yang ringan namun mengandung nada penasaran itu membuat Elara menoleh.Langkahnya sempat terhenti begitu melihat seorang pria dengan jubah sutra berwarna biru safir yang anggun berdiri tegak di hadapannya.Rambutnya pirang pucat, ditata rapi ke belakang dengan sebuah mahkota kecil di lengan bajunya yang menandakan status bangsawan tinggi.Senyumnya terlihat ramah, namun sorot matanya yang keemasan menyimpan rasa ingin tahu yang dalam.Wajah Elara mendongak, lalu bibirnya membentuk senyum tipis, sebuah refleks kesopanan yang telah mendarah daging dalam dirinya sebagai seorang Lady.“Ya. Aku Elara. Dan kau siapa?” tanyanya dengan suara sopan namun sedikit canggung.Dia masih merasa asing dengan kastil besar ini yang terasa seperti labirin penuh rahasia, apalagi harus berhadapan dengan orang-orang yang tampaknya telah mengenal suaminya jauh lebih lama.Pria itu tersenyum lebar

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   4. Bekerjalah di Bawah Perintahku

    “Tidak … tidak!” seru Elara panik dengan mata membola karena ketakutan. “Kumohon, Valerius, jangan lakukan itu! Jangan sakiti ayahku!” pintanya dengan nada memelas. Dia sama sekali tidak menduga bahwa keinginannya untuk bertemu sang ayah akan berakhir menjadi ancaman yang mempertaruhkan nyawa.Di wilayah Utara yang dikuasai oleh garis darah Drakenhoff, kata-kata sang Duke adalah hukum, dan pedangnya adalah hakim.Wajah Valerius masih tampak sekeras pahatan batu granit. Dia tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan atas teror yang dia tanamkan di hati istrinya.“Dan satu lagi,” katanya dengan datar. “Mulai detik ini, kau harus berhenti memberikan bantuan di kedai ramuan sahabatmu di perbatasan itu. Kau tidak akan lagi menginjakkan kaki di sana.”Elara terbelalak. Dunianya seolah runtuh untuk kesekian kalinya. “Apa? Ta-tapi … itu adalah satu-satunya tempat di mana aku merasa berguna, Valerius. Sahabatku membutuhkanku untuk meracik obat bagi rakyat jelata!”Di kedai kecil yang terletak

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   3. Ancaman Mengerikan sang Duke

    Elara tersentak mendengar bentakan suaminya yang menggelegar di dalam kastil megah itu. Suara itu bukan sekadar kemarahan, melainkan otoritas mutlak yang menuntut ketundukan total. Tubuhnya yang mungil tampak menciut, diselimuti ketakutan yang begitu pekat hingga akhirnya dia menyerah.Dengan lemas, Elara menganggukkan kepala pasrah. “Baiklah, Duke Valerius. Aku tidak akan banyak bertanya lagi padamu,” bisik Elara dengan suara yang hampir tertelan sunyi.“Tapi, aku memohon satu hal. Izinkan aku bertemu dengan ayahku besok di kediaman Astley. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya sebelum aku sepenuhnya menetap di Utara.”Valerius melangkah mendekat dan menatap Elara dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Kau sudah menjadi milikku, Elara. Sejak pendeta suci mengucapkan pemberkatan, kau bukan lagi bagian dari keluarga Astley,” ucap Valerius dengan nada rendah yang mengancam.“Pergi menemui ayahmu sekarang sama saja dengan mengantarkan nyawamu ke neraka. Kau adalah Duchess D

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   2. Aturan sang Duke

    “Ah… tu-tunggu, Valerius ….”Elara yang kini menyandang nama Drakenhoff merintih parau. Tubuhnya yang mungil itu tenggelam dalam kebesaran ranjang jati berukir naga tersebut.Di bawah kungkungan tubuh tegap Valerius, dia merasa seperti seekor burung pipit yang tertangkap cakar elang Utara. Merasakan gelenyar asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Namun, Duke Valerius von Drakenhoff, atau Valerius sebagaimana dia lebih suka dipanggil dalam keintiman yang gelap ini, tidak memberikan ruang bagi Elara untuk bernapas, apalagi berpikir.Dengan dominasi mutlak, pria itu melesak masuk, mengklaim apa yang kini telah sah menjadi miliknya.Elara merasa dunianya seakan terbelah; rasa penuh dan sesak menyerbu seketika, menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.“Ah! S-sakit … tolong hentikan …,” rintih Elara hingga air mata mulai menggenang di sudut matanya yang indah.Dia mencengkeram sprei sutra di bawahnya hingga jemarinya memutih, berusaha mencari pegangan di tengah badai yang melanda tu

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   1. Pengantin Pengganti yang Malang

    “Lahirkan seorang putra untukku.”Duke Valerius von Drakenhoff, pria yang oleh seluruh kekaisaran dijuluki sebagai “Monster dari Utara”, berdiri memunggungi ranjang kebesaran yang ditutupi kelambu beludru merah tua.Elara von Astley, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai Lady Elara yang terabaikan, mendongakkan kepalanya dengan napas tertahan.Dia berdiri kaku di tengah ruangan yang luas itu. Hari yang seharusnya menjadi puncak kejayaan keluarga Astley, bagi Elara, hanyalah sebuah awal dari vonis penjara seumur hidup yang tidak pernah dia minta.Elara tidak pernah membayangkan akan berakhir di kamar ini, di bawah tatapan pria paling ditakuti di kekaisaran. Rencana awalnya sudah disusun dengan sangat rapi oleh sang ayah.Kakaknya, Lady Seraphina von Astley, sang primadona kerajaan yang memiliki kecantikan luar biasa, seharusnya menjadi sosok yang berdiri di sini.Seraphina dijadwalkan untuk dinikahkan dengan Duke Valerius dalam sebuah transaksi politik murni yang dingin.Keluarga Astle

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status