共有

2. Aturan sang Duke

作者: CeliiCaaca
last update 公開日: 2026-02-08 23:11:12

“Ah… tu-tunggu, Valerius ….”

Elara yang kini menyandang nama Drakenhoff merintih parau. Tubuhnya yang mungil itu tenggelam dalam kebesaran ranjang jati berukir naga tersebut.

Di bawah kungkungan tubuh tegap Valerius, dia merasa seperti seekor burung pipit yang tertangkap cakar elang Utara. Merasakan gelenyar asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. 

Namun, Duke Valerius von Drakenhoff, atau Valerius sebagaimana dia lebih suka dipanggil dalam keintiman yang gelap ini, tidak memberikan ruang bagi Elara untuk bernapas, apalagi berpikir.

Dengan dominasi mutlak, pria itu melesak masuk, mengklaim apa yang kini telah sah menjadi miliknya.

Elara merasa dunianya seakan terbelah; rasa penuh dan sesak menyerbu seketika, menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.

“Ah! S-sakit … tolong hentikan …,” rintih Elara hingga air mata mulai menggenang di sudut matanya yang indah.

Dia mencengkeram sprei sutra di bawahnya hingga jemarinya memutih, berusaha mencari pegangan di tengah badai yang melanda tubuhnya.

Valerius tidak menggubris permohonan itu dengan kata-kata. Sebagai pria yang terbiasa menaklukkan medan perang dan pemberontakan, dia tahu cara mengendalikan situasi.

Dia memberikan sentuhan-sentuhan ringan yang terhitung, sebuah manipulasi fisik untuk mengalihkan perhatian Elara dari rasa sakit menuju sensasi lain yang lebih membingungkan.

“Valerius ….”

“Aku belum selesai,” bisik Valerius dengan suara bariton yang berat dan serak tepat di telinga Elara.

Napasnya memburu dan mengembuskan uap hangat yang kontras dengan udara dingin Utara. Ada kilat kepuasan yang tertahan di matanya; dia menikmati sensasi kemurnian yang belum pernah dia jamah sebelumnya.

Elara hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sambil memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan setiap gerakan Valerius di atas tubuhnya.

Pria ini bukan hanya mengambil kesuciannya, dia sedang memahat nisan bagi masa muda Elara yang bebas.

Valerius tersenyum miring melihat Elara menahan desahan sejak tubuh mereka menyatu beberapa menit yang lalu. 

Mengetahui bahwa wanita di bawah kuasanya adalah istrinya sendiri dan bahwa dia adalah orang pertama yang menorehkan jejak di sana, memberikan kepuasan gelap yang tak terlukiskan bagi sang Duke.

Beberapa saat setelah badai itu mereda, keheningan kembali menyelimuti kamar pengantin yang luas tersebut.

Hanya terdengar detak jam dinding kuno dan napas Elara yang masih tersenggal. Dengan sisa tenaganya, Elara menarik selimut beludru tebal untuk menutupi tubuhnya yang gemetar.

“Shh, sakit sekali,” isaknya pelan. Setiap inci tubuhnya terasa linu, mengingatkan atas transisinya dari seorang Lady menjadi seorang Duchess yang malang. 

Tak lama kemudian, Valerius kembali dari ruang ganti dengan jubah tidur sutra hitam yang longgar.

Dia berdiri di sisi ranjang dengan ekspresi yang kembali datar dan dingin. Tanpa sepatah kata pun, dia melempar sebuah amplop perkamen tebal berstempel segel lilin merah ke arah Elara. Dokumen itu jatuh tepat di atas selimut yang membungkus tubuhnya.

“Baca dan tanda tangani perjanjian itu. Sekarang.”

Dengan tangan yang masih gemetar, Elara membuka segelnya. Matanya menyapu setiap baris tulisan tangan yang tegas dan rapi, lalu kembali membaca dari awal karena dia tidak percaya dengan apa yang tertulis di sana.

Isinya lebih menyerupai surat penyerahan diri sebuah wilayah taklukan daripada kontrak pernikahan. Perjanjian itu penuh dengan batasan yang menghina martabatnya sebagai manusia.

Tidak boleh menolak kapan pun Valerius menginginkan kehadirannya di ranjang, harus menunjukkan sandiwara kebahagiaan dan keharmonisan yang sempurna di hadapan para bangsawan dan keluarga besar.

Dilarang keras membicarakan urusan internal Drakenhoff kepada siapa pun termasuk orang tuanya, dan yang paling mencekik adalah Elara tidak memiliki hak untuk menggugat cerai atau meninggalkan kastil tanpa izin tertulis, untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.

“Ini benar-benar gila. Bahkan kau tidak mencintaiku, Valerius. Bagaimana mungkin aku bisa terlihat bahagia di depan keluargamu atau di hadapan kaisar nanti?” lirih Elara seraya menatap suaminya dengan pandangan tak percaya.

Valerius memutar badannya perlahan dan menatap Elara yang kini duduk menyandar dengan selimut membalut tubuhnya bak perisai rapuh.

“Itu urusanmu. Semakin pandai kau berakting sebagai Duchess yang tercinta, semakin sedikit hukuman yang akan kau terima,” ucapnya dengan nada dingin dan tanpa ekspresi sedikit pun. Begitu datar dan menyeramkan. 

Tidak ada empati di wajah rupawan itu, hanya kontrol dan kepastian mutlak yang menakutkan.

“Hu-hukuman?” Elara tersentak. “Bukankah tugasku hanya melahirkan anak laki-laki untukmu? Kenapa ada ancaman seperti ini?”

Valerius melangkah mendekat lalu membungkuk dan menatap mata Elara dengan jarak yang sangat dekat hingga Elara bisa melihat bayangan dirinya yang ketakutan di pupil mata suaminya.

“Yang jelas,” desisnya pelan, “aku akan menciptakan neraka yang nyata di hidupmu jika kau berani menentang satu saja perintahku. Kau adalah milikku, Elara. Dan di Utara, tidak ada yang bisa lari dari cengkeraman Drakenhoff.”

Elara memejamkan matanya mencoba menahan bendungan air mata yang siap pecah. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat-kuat lalu menarik napas dalam-dalam. 

Jika bisa, dia ingin melompat dari jendela kastil ini dan menghilang ditelan badai salju. Namun bayangan ayahnya yang renta dan rakyat Astley yang bergantung pada investasi pria ini menahannya melakukan itu. 

“Kau tahu ke mana kakakmu, Seraphina, pergi?” tanya Valerius memecah keheningan di dalam kamar yang sunyi itu. 

Elara menggeleng dengan pelan. “Tidak tahu,” jawabnya jujur. “Dia pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.”

Dia lalu menatap Valerius dengan pandangan sayu, kecewa, sekaligus marah yang meluap. “Dan ini yang akan dia dapatkan jika dia tetap tinggal dan menikah denganmu? Perjanjian ini, tidak, ini bukan perjanjian,” lanjutnya dengan suara yang menguat karena amarah.

“Ini adalah rantai. Ini adalah peraturan penjara yang kau pakaikan padaku!”

Valerius tidak membantah. Dia justru tampak menikmati perlawanan istri kecilnya itu. 

“Ya. Aturan yang harus kau patuhi selama kau menyandang nama Drakenhoff,” jawabnya dengan datar. 

Elara menarik napas panjang sembari mencoba mengumpulkan logika di tengah kehancuran mentalnya.

“Kalau kau hanya ingin seorang anak yang mewarisi darah Astley, kenapa kau tidak mencari ibu pengganti saja di luar sana? Kenapa harus aku yang kau seret ke dalam kegilaan ini? Kenapa aku yang harus menjadi korbannya?”

Valerius berdiri tegak kembali dan menatap Elara dengan pandangan merendahkan yang sangat menyakitkan.

“Apa hakmu mengatur pilihanku, Elara? Kau dan keluargamu sudah aku beli dengan harga yang setara dengan emas di satu kerajaan kecil. Kau adalah aset, dan tugas aset adalah mematuhi pemiliknya. Paham?!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
acer.junk45
astagaaaa dukeeee...gilaaaaak kejammm .........
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   380. Akhir Bahagia Kita - The End

    Aula menara dalam yang biasanya terasa dingin dan angker oleh draf sejarah kelam, kini mendadak dipenuhi oleh draf kehangatan spiritual yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Air mata Kael yang membasahi lantai batu seolah menjadi draf pembasuh bagi seluruh penderitaan generasi masa lalu klan Serigala Perak.Mendengar draf diagnosis Kael yang membebaskan masa depan keturunannya, Valerius langsung mengembalikan sang bayi ke dalam dekapan hangat Elara dengan draf gerakan yang teramat lembut dan penuh kehati-hatian."Kau mendengarnya, Elara?" bisik Valerius, suara baritonnya bergetar hebat di sela isak tangis kebahagiaan yang tak lagi ia sembunyikan. "Kutukan itu... kutukan sialan yang membunuh ayah dan kakekku, telah mati hari ini di dalam darah anak kita.""Aku mendengarnya, Valerius... aku mendengarnya dengan sangat jelas," sahut Elara, air matanya meluncur bebas membasahi dahi mungil putranya.Sang Duke langsung berlutut di sisi tempat tidur beludru, menangkup wajah pucat istrinya, l

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   379. Patahnya Kutukan Tiga Puluh Tahun

    Sementara Elara berbaring lemas dengan senyum kelegaan yang amat sangat di atas bantal beludru, atmosfer di sekitar ranjang berangsur-angsur berubah menjadi sunyi. Kehangatan fajar musim semi yang baru saja merayap seolah tertahan di udara.Tabib Kael melangkah mendekat dengan instrumen perak kuno, sebuah mangkuk kecil berlapis draf kuningan dan sebilah jarum tipis yang telah disucikan. Tugas utamanya belum selesai.Sebagai penjaga draf medis klan, ada satu ritual taktis yang jauh lebih krusial daripada sekadar memotong tali pusat: melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tetesan darah pertama sang bayi."Lord Duke, izinkan hamba mengambil setetes darah dari tumit sang pangeran kecil," ucap Kael, suaranya mendadak merendah, sarat akan draf kecemasan yang mendalam.Valerius tidak menjawab, namun rahang tegapnya mengetat kaku. Ia merenggangkan draf jubah bulunya sedikit, membiarkan Kael meraih kaki mungil Louis. Elara yang tadinya tersenyum lelah, kini ikut menahan napasnya, draf trauma ma

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   378. Sentuhan Pertama Sang Pewaris

    Seluruh pelayan di dalam ruangan bersujud syukur, merapatkan dahi mereka ke lantai batu yang dingin sebagai manifes kepatuhan dan kebahagiaan yang teramat besar.Sementara itu, Lyra yang sudah tidak sanggup lagi menahan luapan emosi batinnya, langsung menangis bahagia di bahu Juan yang berjaga di ambang pintu dalam setelah pintu ganda itu sedikit digeser terbuka."Dia selamat, Juan... keponakan kita selamat," isak Lyra, membasahi zirah besi di bahu sang panglima."Aku tahu, Lyra. Aku tahu," sahut Juan, suaranya parau seraya menepuk punggung Lyra dengan tangan kekarnya yang ikut bergetar. "Darah Drakenhoff tidak akan pernah padam."Di sisi ranjang beludru, Tabib Kael menyerahkan bungkusan kain wol kelabu itu dengan sangat perlahan.Tangan kekar Valerius yang biasanya tak pernah gemetar saat menebas leher musuh di medan perang, bahkan saat menghadapi draf sihir hitam Isolde di Puncak Hitam sekalipun kini tampak bergetar hebat laksana daun kering yang

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   377. Tangis Pengubah Takdir

    "Dorong sekali lagi, Elara! Sekarang atau tidak sama sekali!" bentak Tabib Kael, suaranya yang melengking tinggi memutus kepasrahan yang sempat menggantung di udara.Ketegangan di dalam kamar tidur utama mencapai puncaknya ketika Tabib Kael memberikan instruksi terakhir dengan suara lantang di bawah pengawasan Lyra yang terus menyeka keringat di pelipis Elara dengan kain rami yang sudah basah kuyup.Seluruh pelayan senior di dalam ruangan itu menahan napas secara kolektif, tangan mereka terkunci erat pada sisi-sisi ranjang beludru."Aku... aku tidak bisa, Valerius... rahimku terasa terbakar!" jerit Elara, suaranya parau, nyaris habis akibat perjuangan berjam-jam yang menguras draf energinya."Kau bisa, Elara! Demi leluhur Utara, kau adalah wanita terkuat yang pernah menginjakkan kaki di benteng ini!" seru Valerius, suaranya bergetar hebat oleh luapan emosi yang pekat.Ia mempererat genggaman tangannya, membiarkan jemari Elara mencengkeram kulitnya

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   376. Pertempuran di Kamar Bersalin

    "Kael! Di mana kau, Tabib gila?!" teriak Lyra, suaranya melengking tinggi menembus koridor luar menara dalam.Atmosfer menara dalam seketika berubah menjadi medan pertempuran medis yang sangat menegangkan. Suara derap langkah kaki panik dari para pelayan senior terdengar menggema di sepanjang koridor saat mereka membawa baskom air hangat dan kain rami bersih.Pintu-pintu kayu ek dihantam terbuka, mengusir keheningan domestik yang sempat merajai benteng selama tiga bulan terakhir."Siapkan ranjang utama! Ambil draf minyak zaitun dan rebusan daun es sekarang juga!" perintah Tabib Kael, melangkah lebar memasuki kamar dengan kotak medis menara yang terbuka di pelukannya. Wajahnya mengeras penuh kalkulasi taktis medis."Rasa sakitnya... Lyra, ini terlalu cepat!" erang Elara, tubuhnya melengkung kaku di atas kasur beludru.Proses kelahiran sang buah hati berjalan dengan penuh perjuangan fisik yang luar biasa hebat bagi Elara. Kontraksi yang datang bertub

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   375. Tiga Bulan di Ujung Musim Dingin

    Waktu bergulir dengan sangat cepat menembus sisa-sisa musim dingin yang ekstrem di tanah Utara. Tiga bulan penuh telah berlalu sejak kepulangan ajaib Valerius dari Desa Lembah Sunyi yang membungkam faksi sayap kanan.Pemerintahan Drakenhoff kini telah sepenuhnya pulih dan menjadi jauh lebih makmur berkat draf kebijakan ekonomi baru yang dirancang bersama oleh Elara dan Tuan Vane. Saluran perdagangan perbatasan kembali berdenyut, dan gudang gandum di permukiman bawah kota selalu penuh terisi.Fokus seluruh penghuni benteng raksasa itu kini telah beralih sepenuhnya pada menara dalam. Di salah satu sudut ruang santai yang hangat, Elara duduk bersandar di kursi beludru besar, sementara usia kandungan Elara sudah menginjak sembilan bulan penuh. Perut buncitnya kini terasa sangat berat, dan Elara mulai membatasi aktivitas fisiknya di atas kursi takhta dewan adat."Kau harus meminum ramuan akar es ini sampai habis, Elara. Kael bilang ini bagus untuk melemaskan otot pan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status