Home / Zaman Kuno / Pengantin Pengganti sang Duke Kejam / 5. Kedatangan Wanita tak Diundang

Share

5. Kedatangan Wanita tak Diundang

Author: CeliiCaaca
last update Last Updated: 2026-02-08 23:51:26

“Jadi ini, wanita dari keluarga Astley yang menjadi pengantin pengganti bagi sang Monster Utara?”

Suara bariton yang ringan namun mengandung nada penasaran itu membuat Elara menoleh.

Langkahnya sempat terhenti begitu melihat seorang pria dengan jubah sutra berwarna biru safir yang anggun berdiri tegak di hadapannya.

Rambutnya pirang pucat, ditata rapi ke belakang dengan sebuah mahkota kecil di lengan bajunya yang menandakan status bangsawan tinggi.

Senyumnya terlihat ramah, namun sorot matanya yang keemasan menyimpan rasa ingin tahu yang dalam.

Wajah Elara mendongak, lalu bibirnya membentuk senyum tipis, sebuah refleks kesopanan yang telah mendarah daging dalam dirinya sebagai seorang Lady.

“Ya. Aku Elara. Dan kau siapa?” tanyanya dengan suara sopan namun sedikit canggung.

Dia masih merasa asing dengan kastil besar ini yang terasa seperti labirin penuh rahasia, apalagi harus berhadapan dengan orang-orang yang tampaknya telah mengenal suaminya jauh lebih lama.

Pria itu tersenyum lebar dan menjulurkan tangan yang dihiasi cincin zamrud.

“Roderick. Salam kenal, Duchess. Selamat datang di pusat kekuasaan Utara yang dingin ini.”

Elara pun hendak membalas uluran tangan itu, jemarinya sudah setengah terangkat.

Namun, sebelum kulit mereka sempat bersentuhan, sebuah tangan lain yang lebih besar, kokoh, dan berbalut sarung tangan kulit hitam mencengkeram pergelangan tangan Elara terlebih dahulu.

Genggaman itu milik Valerius.

Dengan ekspresi dingin dan mata abu-abu yang tajam seperti elang mengawasi mangsa, Valerius berdiri di samping mereka.

Kehadirannya begitu tiba-tiba, membawa hawa tekanan yang membuat bulu kuduk berdiri. Atmosfer di serambi itu seketika mendingin.

“Ikut aku!” titah Valerius datar dan tegas.

Dia menarik tangan Elara tanpa basa-basi, menyeretnya menjauh dan meninggalkan Roderick yang hanya bisa menatap punggung mereka sambil mengangkat alis dengan senyum penuh arti.

Pintu ruang kerja dari kayu ek tebal itu ditutup dengan hentakan keras yang bergema.

Suasana di dalam ruangan yang dipenuhi rak-rak buku tua dan peta wilayah itu mendadak hening, hanya suara deru perapian dan napas mereka yang terdengar.

“Valerius! Dia siapa? Apa dia salah satu penasihat di istana ini?” tanya Elara sambil mengusap pergelangan tangannya yang sedikit memerah.

“Kau tidak boleh dekat atau berkenalan dengan siapa pun di dalam benteng ini tanpa izinku, Elara!” jawab Valerius dengan nada tinggi yang menggelegar.

Elara mengerutkan kening, dengan rasa geram mulai membakar dadanya.

“Bagaimana aku bisa menjalankan tugas sebagai sekretarismu kalau kau melarangku bicara dengan siapa pun? Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?

“Sejak pagi tadi aku hanya berdiri mematung di sudut meja kerjamu, tidak ada perkamen yang harus kusalin, tidak ada surat yang harus kubaca!”

Valerius menghela napas panjang, suara desisnya terdengar jelas dalam keheningan ruangan itu.

Dia lalu berjalan memutar meja besar yang dipenuhi dengan segel-segel lilin, dan berdiri menghadap Elara sambil menyilangkan tangan di depan dada bidangnya.

“Aku pergi ke barak, kau ikut. Aku di sini, kau juga di sini. Sekarang duduk di sana.” Dia menunjuk sebuah kursi berlapis kulit serigala di depan perapian.

Elara menoleh ke arah kursi itu, lalu kembali menatap suaminya dengan tatapan getir. “Itu namanya penjaga penjara, Valerius. Bukan sekretaris pribadi.”

Valerius hanya menatapnya diam, namun dalam diamnya itu terselip peringatan yang sangat nyata.

Dia tak menjawab, hanya memandangi Elara seolah menantang wanita itu untuk melangkah keluar dari batas yang ia tetapkan.

Elara akhirnya menyerah, menuruti perintah itu dan duduk dengan ekspresi kesal yang tidak bisa ditutup-tutupi.

Dalam hatinya, Elara merasa lebih seperti tawanan perang yang dipamerkan ketimbang seorang Duchess.

Bekerja di dekat Valerius ternyata jauh lebih menyiksa dibanding hanya terkurung di kamar, karena di sini dia bisa melihat dengan jelas bagaimana setiap orang takut pada suaminya.

“Roderick … aku masih penasaran dengan pria itu. Dia tahu bahwa aku adalah pengantin pengganti,” ucap Elara dengan suara pelan, matanya menatap kosong ke arah jendela yang memperlihatkan benteng pertahanan Utara yang curam.

Valerius yang sedang memeriksa laporan logistik militer menoleh sekilas. “Dia adalah sepupuku, Earl dari wilayah Timur. Dan kau dilarang keras berada dalam radius lima langkah darinya. Aku akan memberimu hukuman berat jika kau berani menjalin percakapan dengannya lagi.”

“Baiklah,” ucap Elara akhirnya diiringi helaan napas kasar.

Namun, sebelum suasana benar-benar tenang, tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka tanpa aba-aba dari pengawal luar.

Seorang wanita dengan tubuh semampai, mengenakan gaun sutra merah menyala yang sangat kontras dengan musim dingin, berjalan masuk dengan penuh percaya diri.

Riasan wajahnya sangat mencolok, dan aroma parfum mawar yang sangat kuat seketika memenuhi ruangan.

“Aku datang, Valerius!” seru wanita itu dengan nada manja dan suara nyaring yang memekakkan telinga.

Dia lalu melangkah mendekati meja kerja sang Duke tanpa rasa takut.

Elara terdiam dan hanya mengerutkan kening seraya menatap tajam ke arah wanita asing yang tiba-tiba muncul itu.

Ada perasaan tidak nyaman yang merayap di dadanya, rasa cemburu yang dia sendiri belum pahami, atau mungkin rasa terhina karena keberadaan wanita itu seolah mengabaikan status Elara di ruangan tersebut.

“Apa yang kau lakukan di sini, Cendana?” tanya Valerius dengan nada dingin dan kaku. Matanya tak menampakkan sedikit pun rasa senang dengan kedatangan tamu tak diundang itu.

“Hei! Kau lupa? Kau sendiri yang mengirim pesan lewat burung merpati untuk menemuiku. Bukankah sudah lama kita tidak menghabiskan malam bersama di paviliun bawah? Kau tidak merindukanku, Sang Monster?” ucap wanita itu sembari mencebikkan bibirnya yang merah delima dengan manja.

Elara menahan napasnya. Ucapan wanita itu menghantam keras martabatnya sebagai seorang istri sah, meski pernikahan itu tanpa cinta.

Hatinya terasa tercabik menyadari bahwa suaminya mungkin masih memelihara wanita simpanan di dalam istana ini.

“Bisa-bisanya dia membiarkan wanita seperti itu masuk padahal dia baru saja membawaku ke sini,” gumam Elara lirih.

“Aku tidak pernah mengirim pesan padamu,” jawab Valerius dengan tegas. “Pergilah ke paviliunmu dan jangan menggangguku lagi saat aku sedang bekerja.”

Namun, Cendana tidak mundur. Dia justru mendekat dan mencondongkan tubuhnya di atas meja kerja Valerius, memamerkan perhiasannya yang mahal, yang mungkin diberikan oleh Valerius sebelumnya.

Dia adalah wanita yang selama ini menjadi pelampiasan hasrat sang Duke di kala penat dengan urusan perang, dan dia tampak sangat bangga dengan posisi itu.

“Kenapa? Setidaknya kita bisa minum anggur bersama siang ini, kan?” Suaranya kali ini lebih lembut, sebuah rayuan halus yang mencoba merobohkan ketegasan Valerius.

“Aku sedang sibuk. Pergi sekarang juga, sebelum pengawal menyeretmu keluar secara paksa dari balairung ini!” Nada suara Valerius tidak bisa dibantah, penuh kemarahan terpendam yang membuat Cendana terhenyak.

Mata wanita berbaju merah itu membelalak, tak percaya bahwa Valerius benar-benar mengusirnya, terutama di depan Elara yang dia anggap hanya sebagai pajangan politik.

Wajah Cendana memerah karena amarah yang meluap.

“Menyebalkan!” umpatnya lantang, lalu menghentakkan kakinya di atas lantai batu.

Sebelum pergi, dia menoleh tajam ke arah Elara dan menatapnya dengan pandangan merendahkan dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Kau menolakku hanya karena wanita pengganti ini?” tanya Cendana dengan senyum sinis yang menyayat.

“Kau pikir aku tidak tahu, Valerius? Pernikahanmu dengan darah Astley ini hanyalah transaksi kotor. Tidak lama lagi, setelah kau mendapatkan apa yang kau mau, kalian akan berakhir! Dia hanyalah rahim sewaan!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   5. Kedatangan Wanita tak Diundang

    “Jadi ini, wanita dari keluarga Astley yang menjadi pengantin pengganti bagi sang Monster Utara?”Suara bariton yang ringan namun mengandung nada penasaran itu membuat Elara menoleh.Langkahnya sempat terhenti begitu melihat seorang pria dengan jubah sutra berwarna biru safir yang anggun berdiri tegak di hadapannya.Rambutnya pirang pucat, ditata rapi ke belakang dengan sebuah mahkota kecil di lengan bajunya yang menandakan status bangsawan tinggi.Senyumnya terlihat ramah, namun sorot matanya yang keemasan menyimpan rasa ingin tahu yang dalam.Wajah Elara mendongak, lalu bibirnya membentuk senyum tipis, sebuah refleks kesopanan yang telah mendarah daging dalam dirinya sebagai seorang Lady.“Ya. Aku Elara. Dan kau siapa?” tanyanya dengan suara sopan namun sedikit canggung.Dia masih merasa asing dengan kastil besar ini yang terasa seperti labirin penuh rahasia, apalagi harus berhadapan dengan orang-orang yang tampaknya telah mengenal suaminya jauh lebih lama.Pria itu tersenyum lebar

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   4. Bekerjalah di Bawah Perintahku

    “Tidak … tidak!” seru Elara panik dengan mata membola karena ketakutan. “Kumohon, Valerius, jangan lakukan itu! Jangan sakiti ayahku!” pintanya dengan nada memelas. Dia sama sekali tidak menduga bahwa keinginannya untuk bertemu sang ayah akan berakhir menjadi ancaman yang mempertaruhkan nyawa.Di wilayah Utara yang dikuasai oleh garis darah Drakenhoff, kata-kata sang Duke adalah hukum, dan pedangnya adalah hakim.Wajah Valerius masih tampak sekeras pahatan batu granit. Dia tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan atas teror yang dia tanamkan di hati istrinya.“Dan satu lagi,” katanya dengan datar. “Mulai detik ini, kau harus berhenti memberikan bantuan di kedai ramuan sahabatmu di perbatasan itu. Kau tidak akan lagi menginjakkan kaki di sana.”Elara terbelalak. Dunianya seolah runtuh untuk kesekian kalinya. “Apa? Ta-tapi … itu adalah satu-satunya tempat di mana aku merasa berguna, Valerius. Sahabatku membutuhkanku untuk meracik obat bagi rakyat jelata!”Di kedai kecil yang terletak

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   3. Ancaman Mengerikan sang Duke

    Elara tersentak mendengar bentakan suaminya yang menggelegar di dalam kastil megah itu. Suara itu bukan sekadar kemarahan, melainkan otoritas mutlak yang menuntut ketundukan total. Tubuhnya yang mungil tampak menciut, diselimuti ketakutan yang begitu pekat hingga akhirnya dia menyerah.Dengan lemas, Elara menganggukkan kepala pasrah. “Baiklah, Duke Valerius. Aku tidak akan banyak bertanya lagi padamu,” bisik Elara dengan suara yang hampir tertelan sunyi.“Tapi, aku memohon satu hal. Izinkan aku bertemu dengan ayahku besok di kediaman Astley. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya sebelum aku sepenuhnya menetap di Utara.”Valerius melangkah mendekat dan menatap Elara dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Kau sudah menjadi milikku, Elara. Sejak pendeta suci mengucapkan pemberkatan, kau bukan lagi bagian dari keluarga Astley,” ucap Valerius dengan nada rendah yang mengancam.“Pergi menemui ayahmu sekarang sama saja dengan mengantarkan nyawamu ke neraka. Kau adalah Duchess D

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   2. Aturan sang Duke

    “Ah… tu-tunggu, Valerius ….”Elara yang kini menyandang nama Drakenhoff merintih parau. Tubuhnya yang mungil itu tenggelam dalam kebesaran ranjang jati berukir naga tersebut.Di bawah kungkungan tubuh tegap Valerius, dia merasa seperti seekor burung pipit yang tertangkap cakar elang Utara. Merasakan gelenyar asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Namun, Duke Valerius von Drakenhoff, atau Valerius sebagaimana dia lebih suka dipanggil dalam keintiman yang gelap ini, tidak memberikan ruang bagi Elara untuk bernapas, apalagi berpikir.Dengan dominasi mutlak, pria itu melesak masuk, mengklaim apa yang kini telah sah menjadi miliknya.Elara merasa dunianya seakan terbelah; rasa penuh dan sesak menyerbu seketika, menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.“Ah! S-sakit … tolong hentikan …,” rintih Elara hingga air mata mulai menggenang di sudut matanya yang indah.Dia mencengkeram sprei sutra di bawahnya hingga jemarinya memutih, berusaha mencari pegangan di tengah badai yang melanda tu

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   1. Pengantin Pengganti yang Malang

    “Lahirkan seorang putra untukku.”Duke Valerius von Drakenhoff, pria yang oleh seluruh kekaisaran dijuluki sebagai “Monster dari Utara”, berdiri memunggungi ranjang kebesaran yang ditutupi kelambu beludru merah tua.Elara von Astley, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai Lady Elara yang terabaikan, mendongakkan kepalanya dengan napas tertahan.Dia berdiri kaku di tengah ruangan yang luas itu. Hari yang seharusnya menjadi puncak kejayaan keluarga Astley, bagi Elara, hanyalah sebuah awal dari vonis penjara seumur hidup yang tidak pernah dia minta.Elara tidak pernah membayangkan akan berakhir di kamar ini, di bawah tatapan pria paling ditakuti di kekaisaran. Rencana awalnya sudah disusun dengan sangat rapi oleh sang ayah.Kakaknya, Lady Seraphina von Astley, sang primadona kerajaan yang memiliki kecantikan luar biasa, seharusnya menjadi sosok yang berdiri di sini.Seraphina dijadwalkan untuk dinikahkan dengan Duke Valerius dalam sebuah transaksi politik murni yang dingin.Keluarga Astle

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status