Home / Zaman Kuno / Pengantin Pengganti sang Duke Kejam / 48. Gejala yang Datang Tiba-tiba

Share

48. Gejala yang Datang Tiba-tiba

Author: CeliiCaaca
last update Last Updated: 2026-03-02 00:46:51

Pagi itu, udara di dalam Kastil Drakenhoff terasa lebih mencekik dari biasanya. Elara tengah berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, menatap pantulan wajahnya yang sepucat salju di luar.

Rasa mual yang tajam tiba-tiba menghantam ulu hatinya, memaksanya membungkuk dan membekap mulut dengan telapak tangan. Ia berjuang sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

“Jangan sekarang ... belum saatnya,” bisik Elara pada dirinya sendiri.

Sudah dua hari ini dia merasa tubuhnya berubah. Ar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   54. Terjebak di Hutan Terlarang

    Suara gesekan ranting yang menghantam tubuh menjadi satu-satunya peringatan sebelum Obsidian tergelincir di tepian lereng yang tertutup es.Kuda itu meringkik panik, kakinya kehilangan tumpuan pada tanah yang rapuh.Valerius bereaksi secepat kilat, ia merangkul pinggang Elara dan menariknya melompat dari pelana tepat sebelum kuda itu terjerembap jatuh ke dalam jurang dangkal di sisi jalan.Bruk!Tubuh mereka berguling di atas salju yang keras, menghantam akar pohon yang menonjol sebelum akhirnya berhenti di dasar cekungan. Keheningan mendadak menyergap, hanya menyisakan suara deru angin yang semakin kencang.Valerius bangkit dengan segera, meskipun bahunya menghantam batu cukup keras. Lalu menghampiri Elara yang terbaring sambil memegangi lengannya.“Bisa berdiri?” tanya Valerius dengan napas memburu. Tanpa menunggu jawaban lagi, Valerius langsung menarik tangan Elara untuk membantunya bangkit.Elara meringis sambil membersihkan salju dari mantelnya. “Peganganku lepas ... Obsidian, di

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   53. Undangan Memburu yang Mendadak

    Salju tipis menyelimuti pelataran Kastil Drakenhoff saat Valerius berdiri di samping seekor kuda hitam besar bernama Obsidian.Dia mengenakan jubah berburu berlapis kulit serigala, sementara Elara berdiri beberapa langkah darinya, membungkus tubuhnya dengan mantel wol tebal yang diberikan pelayan pagi tadi.“Kenapa kita harus melakukan ini sekarang?” tanya Elara dengan suara yang masih sedikit parau akibat sisa demamnya. “Aku baru saja bisa berjalan tanpa merasa pening, dan kau ingin aku pergi ke hutan utara?”Valerius memeriksa tali pelana kuda dengan gerakan efisien. “Kael bilang kau butuh udara segar agar paru-parumu tidak membeku di dalam kamar. Jika kau tidak segera pulih, semua laporan militer itu akan menumpuk hingga musim semi. Aku butuh asistenku kembali bekerja.”Elara menyipitkan mata seraya menatap suaminya dengan penuh selidik. “Hanya karena itu? Atau karena kau tidak suka melihat Roderick membawakanku bunga liar setiap pagi ke kamar?”Tangan Valerius berhenti sejenak di

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   52. Perhatian yang Canggung

    Pagi berikutnya, sinar matahari yang dingin menyentuh lantai marmer kamar utama, namun kehangatan masih enggan menyapa atmosfer di dalam ruangan.Elara sudah duduk bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya masih pucat, namun matanya sudah cukup tajam untuk mengamati kegelisahan pria di hadapannya.Valerius berdiri di samping tempat tidur, sembari memegang mangkuk porselen berisi sup herbal dan sesendok cairan obat yang kental. Ia tampak sangat tidak serasi dengan benda-benda itu.Duke Utara yang lebih terbiasa memegang gagang pedang atau pena bulu itu kini terlihat seperti pria yang sedang menjinakkan bom.“Buka mulutmu,” perintah Valerius. Suaranya begitu kaku, tengah mencoba mempertahankan otoritas yang biasanya ia miliki.Elara menatap sendok itu, lalu menatap Valerius dengan datar. “Aku punya tangan, Duke. Aku bisa melakukannya sendiri.”“Tanganmu masih bergetar seperti daun kering,” balas Valerius sambil mendekatkan sendok ke bibir Elara. “Jangan membantah. Kael bilang kau harus m

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   51. Gengsi sang Duke

    Pagi menyelinap masuk melalui jendela-jendela tinggi, namun kegelapan di dalam kamar utama seolah enggan beranjak. Elara perlahan membuka matanya.Langit-langit kamar yang dihiasi ukiran naga Drakenhoff adalah hal pertama yang ia lihat. Kepalanya terasa seperti dihantam palu besar, dan tenggorokannya sekering padang pasir.Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun ia merasakan beban berat. Valerius duduk di samping tempat tidurnya, kepalanya bersandar pada satu tangan, matanya yang abu-abu tampak merah karena kurang tidur.Begitu merasakan pergerakan Elara, pria itu langsung tegak. Wajahnya kembali menjadi topeng es dalam hitungan detik.“Kau akhirnya bangun,” suara Valerius terdengar parau.Elara mencoba bersuara, namun hanya rintihan kecil yang keluar. Ia melihat ke arah meja kecil di samping tempat tidur.Di sana, tumpukan dokumen yang biasanya memenuhi ruang kerja tidak terlihat. Hanya ada beberapa botol obat dan baskom berisi air dingin.“Minum ini,” perintah Valerius sambil menyo

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   50. Kabar yang Sangat Valerius Tunggu

    Master Kael baru saja selesai melakukan pemeriksaan kedua yang lebih mendalam setelah ketegangan di ruang kerja mereda.Valerius berdiri mematung di kaki ranjang, matanya yang abu-abu tidak sedetik pun lepas dari wajah istrinya yang tampak sangat rapuh di balik selimut bulu tebal.“Katakan padaku, Kael,” suara Valerius terdengar parau, akibat dari sisa-sisa amarahnya masih terasa di udara. “Apa yang terjadi dengan darahnya? Kau bilang ada perubahan tadi.”Master Kael menghela napas panjang, lalu merapikan alat-alat medisnya ke dalam tas kulit.Dia menatap sang Duke dengan pandangan yang sarat akan teguran. “Saya melakukan kesalahan pada pemeriksaan awal karena terburu-buru oleh tekanan Anda, Duke. Perubahan pada darahnya bukan karena kehidupan baru. Itu adalah tanda kegagalan fungsi tubuh akibat kelelahan ekstrem dan demam yang sangat tinggi.”Valerius menyipitkan mata. “Jadi ... dia tidak hamil?” tanyanya mencoba memastikan pendengarannya apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak

  • Pengantin Pengganti sang Duke Kejam   49. Kondisi sang Duchess

    “Bagaimana keadaannya, Kael?” suara Valerius memecah kesunyian, dengan rendah dan penuh ancaman yang tertahan.Master Kael tidak langsung menjawab. Dia meletakkan tangan Elara kembali ke atas selimut, lalu beralih mengambil sampel darah kecil yang tadi ia ambil dari ujung jari Elara.Dia meneteskan cairan perak ke dalamnya. Cairan itu tidak berubah menjadi hitam seperti biasanya jika terkena kutukan, melainkan berpendar redup dengan warna keemasan yang aneh.Kael berbalik lalu menatap Valerius dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Ada perubahan besar pada komposisi darahnya, Duke. Ini bukan serangan kutukan yang menular, dan ini bukan karena kelelahan administratif semata.”Valerius melangkah maju, dan memangkas jarak di antara mereka. “Bicaralah dengan bahasa yang kumengerti, Tua Bangka. Apa maksudmu dengan perubahan darah?”“Darahnya ... bereaksi terhadap sesuatu yang baru di dalam tubuhnya,” Kael berbisik, sementara matanya melirik ke arah Elara yang masih memejamkan mata.“Ada en

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status