LOGINRoda-roda pesawat jet pribadi Varmadeo Group mencicit halus di atas landasan pacu Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.Pintu tangga hidrolik jet pribadi terdorong turun.Di luar sana, di bawah sorotan lampu landasan pacu, tiga unit mobil SUV hitam milik tim pengamanan Varmadeo Group sudah berjejer rapi dengan mesin menyala.Aira melangkah turun menaiki anak tangga pesawat dengan langkah kaki yang gemetar. Di belakangnya, Nora dan Serafina berjalan membuntuti.Namun sebelum kaki Aira sempat menyentuh pelataran, Adriel melangkah cepat memotong barikade pengawal."Aira," panggil Adriel.Aira mendongak. “Adriel?"Tanpa membuang waktu, Adriel melangkah lebih cepat, lalu merengkuh tubuh Aira ke dalam pelukannya.Aira menahan napas sejenak sewaktu mencium aroma khas suaminya yang maskulin. Aroma yang selalu menjadi tempat paling aman. Aira melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya."Aku takut," bisik Aira. Isak tangis yang ditahannya sepanjang penerbangan seketika meledak di
Di dalam rumah, Aira sedang duduk di ruang tengah bersama si kecil EJ yang terlelap di pangkuannya. Di sampingnya, Nora sedang merapikan lipatan pakaian bayi, sementara Serafina duduk di dekat pintu teras.Brak!Pintu depan terbuka secara mendadak.Marcus melangkah masuk dengan cepat dan terburu-buru.Aira tersentak pelan, memeluk EJ lebih erat. Sementara Serafina secara refleks memegang gagang senjata api di pinggangnya."Marcus?" gumam Aira, matanya membelalak kaget. "Ada apa? Kenapa kamu datang ke sini mendadak begini?"Marcus menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Aira, membungkukkan tubuhnya sedikit."Nyonya Aira, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika saya mengejutkan Nyonya," ucap Marcus dengan napas yang memburu kencang. "Saya membawa instruksi langsung dari Tuan Adriel."Serafina melangkah maju. "Ada masalah apa di Jakarta? Kenapa Tuan Adriel menyuruhmu datang tanpa memberi tahu aku lebih dulu?"Marcus tidak menoleh ke arah Serafina, sepasang matanya tetap terkunci pada
Di ambang pintu unit apartemen, Dimitri berdiri tegap. Wajah tampannya telah kembali tanpa ekspresi sedikit pun, seolah amukan yang dilontarkannya tadi tidak pernah terjadi.Di seberang ruangan, Valerie berdiri mematung di samping sofa kulit. Ia menatap Dimitri dengan cemas.Dimitri memutar tubuh, menatap Valerie."Aku harus pergi sebentar," ucap Dimitri.Valerie menelan ludah, melangkah mendekati meja tengah. "K-Kamu mau ke mana? Kenapa tidak menungguku sampai besok pagi?""Aku harus menemui dan berkoordinasi langsung dengan tim hukumku di luar—" Tiba-tiba Dimitri diam, menyunggingkan senyum dingin. "Kita harus merancang dokumen proteksi tambahan sebelum pihak Polda melayangkan surat pemanggilan resmi besok."Valerie menatap mata Dimitri, mencoba mencari kejujuran di balik binar dingin pria itu. Valerie menganggukkan kepalanya. "Baik, serahkan semuanya padaku. Jangan biarkan orang-orang tua dari yayasan itu merusak posisi kita."Dimitri menyunggingkan ssenyum. Pria itu melangkah maj
Valerie Collins berbaring menyamping di atas kasur. Kepala Valerie bersandar di atas lengan Dimitri, sementara salah satu tangannya melingkar di pinggang pria itu.Valerie mengelus pelan dada Dimitri yang sudah terbuka. Ia mendongakkan kepalanya sedikit, menatap garis rahang dan paras tampan blasteran milik pemuda di sampingnya."Dimitri," panggil Valerie.Dimitri tidak langsung berpaling. Tangannya mengusap helai-helai rambut Valerie secara teratur, namun tatapan matanya terasa teramat dingin."Hm?" sahut Dimitri.Valerie menyunggingkan senyum tipis, merapatkan wajahnya ke leher Dimitri untuk menghirup wangi cologne maskulin yang melekat di kulit pria itu."Kamu sungguh tidak sedang berbohong padaku, kan, Sayang?" bisik Valerie pelan. "Kamu janji kita akan menikmati seluruh hasil pengalihan aset itu bersama setelah situasi mereda?""Apakah setelah semua perlindungan yang kuberikan padamu, kamu masih meragukan kata-kataku?" balas Dimitri tanpa menoleh. "Aku sudah menyusun seluruh lang
Valerie berlari kecil mendekati Dimitri yang sedang berdiri bersedekap dada. Ekspresinya tampak mengeras. "Apa-apaan maksudmu? Kenapa kamu mengubah kode akses pintu apartemenmu tiba-tiba?" "Aku terpaksa melakukannya," sahut Valerie. "Kamu tahu betul bagaimana gencarnya tim Varmadeo Group mengintai pergerakan kita belakangan ini. Aku hanya ingin memastikan apartemenku tetap aman." "Benarkah?" Dimitri mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap lurus mata Valerie. "Atau kamu sengaja agar aku tidak bisa masuk, hm?" Jantung Valerie seketika berdegup kencang. Ia teringat email anonim yang diterimanya tadi pagi. Dokumen yang membocorkan bahwa Dimitri berniat melimpahkan seluruh tuduhan skandal lima puluh miliar rupiah kepadanya sebagai tersangka tunggal.Namun, Valerie dengan cepat menepis keraguan di hatinya. Ia melangkah lebih dekat, mengulurkan kedua tangan untuk mengusap pelan kemeja Dimitri."Kenapa kamu harus berpikir sejauh itu, Sayang?" bisik Valerie lembut. "Aku ini mil
Di dalam kabin belakang ambulans yang melaju kencang, Guntur Ragendra terbaring lemah di atas brankar. Sebuah masker oksigen mengungkung wajahnya yang pucat pasi bagaikan kertas. Beberapa kabel indikator detak jantung menempel di balik kemeja, menghubungkan tubuh itu ke layar monitor portabel yang memancarkan grafik detak nadi.Dua orang dokter spesialis jantung bersama satu perawat berjuang melakukan stabilisasi darurat di sepanjang jalan.Prabu duduk berlutut di kabin ambulans yang sempit, menggenggam tangan kiri Guntur yang terasa dingin. "Tuan Besar... bertahanlah, Tuan..." gumam Prabu. "Jangan tinggalkan kami dalam situasi seperti ini. Saya mohon, Tuan Besar."Dokter spesialis di sampingnya menatap layar monitor dengan raut tegang. "Tekanan darahnya terus merosot di bawah angka delapan puluh! Kita harus mengamankan sirkulasi darah ke otak sebelum tiba di rumah sakit!""Baik, Dokter!" sahut perawat cepat, menyuntikkan cairan obat ke dalam selang infus Guntur.Ciiit!Ban mobil amb
Restoran privat itu berada di lantai paling atas, sengaja dipesan oleh Leonidas Varmadeo untuk bisa menghabiskan istirahat siang dengan makan siang bersama. Leonidas duduk di tengah, di sisi kanan ada Alexander. Sementara di sisi kiri, Catarina yang paling antusias dengan kebiasaan macam ini.“Kali
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Ta







