LOGINValerie berlari kecil mendekati Dimitri yang sedang berdiri bersedekap dada. Ekspresinya tampak mengeras. "Apa-apaan maksudmu? Kenapa kamu mengubah kode akses pintu apartemenmu tiba-tiba?" "Aku terpaksa melakukannya," sahut Valerie. "Kamu tahu betul bagaimana gencarnya tim Varmadeo Group mengintai pergerakan kita belakangan ini. Aku hanya ingin memastikan apartemenku tetap aman." "Benarkah?" Dimitri mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap lurus mata Valerie. "Atau kamu sengaja agar aku tidak bisa masuk, hm?" Jantung Valerie seketika berdegup kencang. Ia teringat email anonim yang diterimanya tadi pagi. Dokumen yang membocorkan bahwa Dimitri berniat melimpahkan seluruh tuduhan skandal lima puluh miliar rupiah kepadanya sebagai tersangka tunggal.Namun, Valerie dengan cepat menepis keraguan di hatinya. Ia melangkah lebih dekat, mengulurkan kedua tangan untuk mengusap pelan kemeja Dimitri."Kenapa kamu harus berpikir sejauh itu, Sayang?" bisik Valerie lembut. "Aku ini mil
Di dalam kabin belakang ambulans yang melaju kencang, Guntur Ragendra terbaring lemah di atas brankar. Sebuah masker oksigen mengungkung wajahnya yang pucat pasi bagaikan kertas. Beberapa kabel indikator detak jantung menempel di balik kemeja, menghubungkan tubuh itu ke layar monitor portabel yang memancarkan grafik detak nadi.Dua orang dokter spesialis jantung bersama satu perawat berjuang melakukan stabilisasi darurat di sepanjang jalan.Prabu duduk berlutut di kabin ambulans yang sempit, menggenggam tangan kiri Guntur yang terasa dingin. "Tuan Besar... bertahanlah, Tuan..." gumam Prabu. "Jangan tinggalkan kami dalam situasi seperti ini. Saya mohon, Tuan Besar."Dokter spesialis di sampingnya menatap layar monitor dengan raut tegang. "Tekanan darahnya terus merosot di bawah angka delapan puluh! Kita harus mengamankan sirkulasi darah ke otak sebelum tiba di rumah sakit!""Baik, Dokter!" sahut perawat cepat, menyuntikkan cairan obat ke dalam selang infus Guntur.Ciiit!Ban mobil amb
Di ruang makan utama yang beratap tinggi, Guntur Ragendra sedang duduk di atas kursi roda mewah dengan semangkuk bubur ayam hangat yang tersaji.Lastri berdiri bersedekap beberapa langkah di samping meja makan, bersiap melayani.Prabu melangkah masuk, dan Guntur menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Melirik Prabu dari sudut matanya.Prabu mendekat, membungkuk. "Tuan Besar Guntur. Ada hal yang gawat yang harus saya laporkan sekarang juga."Guntur meletakkan sendok ke atas mangkuk, menarik serbet dan mengusap bibirnya perlahan, lalu menatap Lastri."Lastri," panggil Guntur."Iya, Tuan Besar?" sahut Lastri seraya membungkuk hormat."Tinggalkan ruangan ini," perintah Guntur tenang, mengibaskan tangannya pelan. Lastri menelan ludahnya. "Baik, Tuan Besar."Dengan langkah cepat, Lastri mundur lalu menutup pintu ruang makan tersebut."Katakan, Prabu. Ada apa?"Prabu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengontrol suaranya."Ini... ini mengenai situasi terbaru di Yayasan Ragendra, Tuan Besar!
Di teras belakang, Aira duduk sendirian. Tangannya meremas cangkir kosong di pangkuannya, sambil menatap jauh ke arah hamparan kebun hijau. Namun pandangannya tampak kosong.Pikiran Aira masih tertahan pada peristiwa kemarin sore di hotel, ketika Selena secara mengejutkan menolak ajakannya untuk tinggal bersama.“Aku ini wanita bermasalah yang punya masa lalu kelam bersama suamimu,”Kata-kata Selena terus menggaung di benak Aira. Aira menghembuskan napas panjang. Ia memahami betul bahwa penolakan Selena karena janji masa lalu yang dibuat Selena di hadapan Leonidas Varmadeo. Selena berjanji untuk tidak lagi mengusik rumah tangga Adriel dan Aira.Nora melangkah keluar dari arah pintu dapur sambil membawa nampan kecil."Nyonya Aira," sapa Nora begitu lembut. "Minum teh hangatnya dulu, Nyonya. Dari tadi subuh setelah menyusui EJ, Nyonya cuma duduk melamun di sini."Aira tersentak pelan. Ia memutar kepala, menyunggingkan senyuman tipis."Terima kasih ya, Nora," ucap Aira pelan, meraih cang
Pukul sembilan pagi tepat, empat orang pria paruh baya berkemeja batik sutra mahal duduk di sofa kulit di depan ruang kerja Adriel di kantor Varmadeo Group.Pintu terbuka. Marcus melangkah keluar dengan postur tubuhnya yang tinggi besar."Tuan Adriel sudah bersedia menerima kalian di dalam," ujar Marcus.Pak Kusuma dan tiga tetua lainnya seketika berdiri, hampir saja menabrak meja kopi di depan mereka.Di dalam ruang kerja pimpinan yang amat luas, Adriel duduk bersandar di atas kursi kulit hitam mewah. Pria itu tidak menyambut kedatangan para tetua dengan berdiri atau tersenyum. Pak Kusuma mendadak menjatuhkan kedua lututnya tepat tiga langkah di hadapan meja kerja Adriel. Tiga tetua di belakangnya ikut membungkukkan tubuh mereka dalam-dalam."Sir V, tolong kami!" seru Pak Kusuma . "Tolong selamatkan kami dan sisa aset Yayasan Ragendra!"Adriel menyesap kopi hitamnya secara perlahan."Selamatkan kalian?" ulang Adriel. "Sungguh menggelikan, Pak Kusuma," cemoohnya dingin. "Empat bulan
Sinar matahari pagi di kawasan Ngawi terasa begitu hangat. Pendaran cahayanya menerobos masuk menembus celah gorden kamar 308, menyinari meja yang kini dipenuhi oleh coretan sketsa dan salinan dokumen.Di dalam kamar suite yang tenang itu, Aira dan Selena duduk berhadapan. Cangkir teh herbal yang sudah mendingin tergeletak di samping laptop milik Selena.Selena menggeser sebuah bagan alur. Tangannya bergerak sangat cepat."Berdasarkan analisis dan pola transaksi yang kuperiksa sepanjang malam, titik terlemah dari seluruh pergerakan ini sama sekali bukan pada Dimitri."Aira mencondongkan tubuhnya ke depan, mendengarkan. "Lalu di mana letak celah terbesarnya?"Selena menyunggingkan senyuman dingin."Celah terbesarnya ada pada emosi Valerie Collins," jawab Selena yakin. "Valerie adalah wanita narsistik yang bertindak berdasarkan obsesi dan ketergantungan pada pria. Dia tidak pernah menggunakan logika. Valerie membantu Dimitri karena rasa cemburunya padamu dan haus akan pengakuan."Selena
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Ta
Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pr







