Beranda / Romansa / Pengantin Tanpa Malam Pertama / 3: Satu Tahun, Waktu Kita

Share

3: Satu Tahun, Waktu Kita

Penulis: Ana_miauw
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-06 12:22:05

Pukul setengah sepuluh malam ketika Almira tiba di rumahnya. Di garasi, mobil Reza—suaminya sudah terparkir di tempatnya, hingga dipastikan pria itu sudah pulang lebih dulu, mungkin beberapa menit yang lalu.

Sedikit cerita, kehidupan Almira sebenarnya sudah sangat berkecukupan. Reza adalah seorang chef di Hotel Internasional yang bergaji puluhan juta perbulan. Secara fisik, dia juga sempurna. Kekurangannya hanya satu, itu yang sedang Almira keluhkan.

Sebenarnya ini tidak apa-apa kalau Reza mau berusaha. Sayangnya, pria itu terkesan tidak terlalu peduli atau bahkan cuek. Sementara Almira? Dia bahkan sudah sering dipaksa minum jamu dan obat-obatan oleh ibu mertuanya. Bahkan tak jarang, diantar untuk melakukan terapi macam-macam.

Sedangkan Reza? Dialah yang dianggap sempurna. Semua kekurangan dan kesalahan ditumpahkan pada dirinya. Almira merasa ini tidak adil, ia tidak bisa membuka semuanya, juga atas nama cinta, tapi Reza malah terlihat biasa-biasa saja.

Jika ditanya apakah Reza pria yang baik? Almira bisa katakan ya, dia baik. Pria itu tidak pernah neko-neko. Hidupnya hanya untuk bekerja, pulang ke rumah, kerja lagi. Uang bulanan pun lancar, tidak patriarki soal pekerjaan rumah, dan sering memasakkan Almira makanan yang enak-enak. Tapi ya itu... Reza hanya terlalu terserah. Dia pikir dirinya apa? Hanya toping atau pelengkap hidupnya sajakah?

Terkadang ini juga lah yang Almira sesali. Ia mengetahuinya setelah menikah, Reza tidak jujur pada awalnya dengan alasan bahwa ia juga tak tahu. Sehingga Almira berpikir, apakah dirinya yang terlalu bodoh karena tidak menanyakan kondisi kesehatan pria itu, ataukah memang ini sudah nasibnya begitu?

Sekali lagi Almira katakan, sebenarnya ia tak terlalu masalah asalkan Reza mau berusaha untuk sembuh. Sungguh, Almira tidak apa-apa jika ia harus menunggu. Tapi Reza sepertinya merasa nyaman dengan keadaannya yang seperti itu.

Harusnya dia sama-sama paham, bagi orang dewasa yang sudah menikah, bersenggama adalah salah satu kebutuhan, keharusan atau bahkan kewajiban. Sebab ada juga saat-saat tertentu bagi laki-laki atau perempuan mencapai waktunya. Tapi apalah kalau sudah begini? Lama-lama Almira gemas juga...

Kembali kepada mereka berdua di dalam mobil...

“Pastiin dia lagi dalam keadaan baik kalau kamu mau bicarakan masalah ini sekarang ya, Mir. Jangan sampai kalian malah jadi berantem,” pesan Selina sebelum temannya itu membuka pintu.

Almira mengangguk. “Makasih udah anterin aku ke sana ya, Sel. Hati-hati di jalan.”

“Oke. Sampai ketemu besok.”

Almira memasuki rumah setelah mobil Selina menjauh dari pekarangan rumahnya, ketika pengharum ruangan langsung menyambut indra penciumannya, bercampur dengan aroma masakan.

Di ruang tengah, akhirnya Almira menemukan suaminya. Reza, dia sedang membelakanginya, menuangkan air ke dalam gelas.

“Baru pulang, Al?” suara Reza terdengar tenang dan lembut seperti biasa. Ia kini berbalik dan tersenyum. Dan ya, senyum itulah yang selalu membuat Almira bersalah karena beberapa kali sempat berpikir untuk pergi dari rumah ini.

“Tumben lama kajiannya,” katanya lagi.

Almira tak langsung menjawab. Ia menatap suaminya yang masih mengenakan kemeja kerja yang rapi.

“Iya, Mas. Tadi mampir sebentar sama Selina,” jawab Almira.

“Makan dulu kalau gitu, Mir. Belum kan? Aku langsung masakin kamu begitu aku pulang tadi.”

Lihatlah. Mungkin di mata orang, lelaki ini begitu sempurna. Sampai memasakkan istrinya saja menjadi hobinya. Tapi bagi Almira, suasana ‘sunyata’ yang dijalaninya sehari-hari ternyata lebih menyedihkan baginya.

Mumpung mood pria itu sedang cukup baik—seperti saran Selina tadi—ia pun memutuskan untuk menyampaikan solusi yang baru saja didapatkannya dari Ustadz Rayyan.

“Mas...” panggil Almira saat Reza hendak beranjak.

Reza menghentikan gerakannya. “Ya?”

“Bisa kita bicara sebentar? Di kamar?”

Almira bisa melihat perubahan pada raut wajah Reza. Rahangnya sedikit mengeras, sebuah reaksi defensif yang selalu muncul setiap kali Almira meminta waktu bicara secara serius. Reza tahu ke mana arah pembicaraan ini, dan ia membencinya.

“Ok, di sini saja kalau begitu. Katakan sekarang saja, Al,” katanya kemudian.

“Oh. Ya sudah.”

“Apa?”

“Ya ... tadi aku nggak Cuma ikut kajian, Mas. Aku menemui Ustadz di biro konsultasi,” Almira memulainya.

“Untuk apa? Mengadu tentang kekuranganku?” Bahu Reza menegang, seiring suaranya yang terdengar berubah menjadi datar.

“Untuk mencari jalan keluar, Mas, bukan untuk menyalahi kekuranganmu.”

“Itu aja bahasanmu, Al. Nggak ada yang lain? Sebegitu inginnya kah, kamu aku sentuh?”

“Mas jangan salah paham dulu,” sanggah Almira merasa tuduhan Reza Tak sepenuhnya benar. “Dua tahun aku diam, menjaga harga dirimu, bahkan di depan ibumu pun aku berpura-pura seolah semuanya baik-baik aja. Aku nggak mau terus-terusan merasa berdosa menyimpan ....”

“Lalu apa katanya? Dia menyarankanmu untuk cerai? Silakan, Al. Aku memang bukan laki-laki sempurna untukmu,” potong Reza.

“Enggak, Mas! Nggak begitu! Kamu dengerin aku dulu!” Almira meraih tangan suaminya yang terasa kaku. “Ustadz bilang, kita punya waktu satu tahun. Satu tahun Hijriah untuk berobat lebih serius. Medis, spiritual, apa pun. Islam memberimu waktu untuk ikhtiar melalui empat musim.”

Reza tertawa pahit, melepaskan tangan Almira. “Satu tahun lagi untuk membuktikan kegagalanku? Kamu pikir aku nggak malu setiap diperiksa dokter dan mereka bilang semuanya ‘normal’ tapi aku tetap begini?”

“Aku bakalan nemenin kamu, Mas. Kita berjuang sama-sama. Mas nggak ingin kah kita punya anak yang lucu-lucu?” ucap Almira. “Tolong berusahalah lagi. Dan kalau dalam satu tahun ini tetap nggak ada perubahan, barulah aku ... mengajukan fasakh.”

Kata ‘fasakh’ meluncur begitu saja, membuat suasana membeku seketika. Reza menatap Almira dengan pandangan yang sulit diartikan—antara marah, malu, dan hancur.

“Jadi sekarang cintamu punya tenggat waktu?” Katanya.

Almira berkaca-kaca. “Bukan cintaku yang punya tenggat waktu, Mas, tapi kesabaranku menghadapi setan yang terus membisikiku untuk durhaka padamu. Aku masih mencintaimu, itulah kenapa aku masih di sini meminta satu tahun lagi.”

Keheningan kembali merajai ruangan itu. Cukup lama Reza terdiam, hingga akhirnya ia mengangguk. “Tidurlah. Besok kita mulai hitungan satu tahunmu itu,” katanya dingin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    7: Pertengkaran Lagi

    Sinar matahari membasuh ruang makan dengan warna keemasan. Di mana Reza sudah duduk di sana, tampak santai menonton televisi. Ya, pria itu tampak lebih semringah karena sisa tawa dari obrolan mereka semalam, saat Almira menyandarkan kepala di bahunya sambil menonton televisi hingga dini hari. Kalau sedang demikian, Reza merasa bahwa Almira adalah istri yang sangat mencintainya. Jika saja sesuatu atau realitas yang ada pada dirinya, tak kembali membawa mereka ke permukaan.Di belakang Reza, Almira sendiri sedang menuangkan cairan kecoklatan dari panci kecil ke dalam gelas keramik. Itu adalah jamu akar-akaran yang dibawa oleh Ibu Ratna kemarin.“Diminum ya, Mas, selagi hangat,” Almira meletakkan gelas jamu tersebut di meja depan Reza duduk.“Apa ini?” Reza bertanya.“Ini jamu dari Ibu...”“Oh iya, Ibu kemarin ke sini ya?”“Iya, Mas. Nggak perlu dijelasin udah pahamlah ya, maksud beliau setiap datang ke sini. Soalnya pasti nggak akan jauh-jauh buat bahas cucu.” Almira tersenyum

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    6: Kilas Balik

    Hampir tengah malam saat deru mesin mobil Reza terdengar di halaman. Almira masih terjaga di ruang tamu, menatap layar televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton. Pikirannya melayang entah ke mana. Ya, seperti biasa—perempuan dengan segala ke-overthinking-annya.Almira beranjak membukakan pintu untuk Reza ketika pria itu masuk dengan wajah lelah.“Nggak langsung tidur aja, Al? Kan udah tahu kalau aku bakal pulang larut,” kata Reza.“Nggak masalah kan, Mas, kalau aku pengen nungguin kamu? Belum ngantuk juga soalnya,” sahut Almira sambil membantu meletakkan sepatu Reza di tempat yang semestinya.Ia menyuguhkan minum dan sedikit camilan sehat sebelum Reza benar-benar beristirahat. Almira menemaninya, sembari mengobrol tentang aktivitas mereka hari ini.“Selina udah kewalahan, jadi aku mutusin buat nambah satu karyawan lagi,” cerita Almira.“Itu bagus. Dengan begitu berarti kamu sudah membantu orang dengan membuka lowongan pekerjaan,” tanggap Reza.“Tapi… pengeluaran jadi nambah

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    5: Tuntutan Ibu Mertua

    Setengah melamun Almira saat memotong buah di mini barnya. Ia sama sekali tidak fokus hari ini sampai harus pulang lebih cepat. Riuh sekali kepala Almira. Terlalu banyak sesuatu yang sedang ia pikirkan. Salah satunya, percakapan panasnya dengan Reza pagi tadi.Tapi seperti yang dikatakan oleh ibu mertuanya, tibalah kini wanita tua itu di sini. Membuat Almira segera bergegas membuka pintu, begitu bel rumah terdengar.“Assalamualaikum, Al...” sapa wanita tua itu.“Waalaikumsalam, Ibu. Mari masuk, Bu,” jawab Almira sembari meraih tangan ibu mertuanya.“Reza belum pulang, Al?” Ibu Ratna melangkah masuk dengan membawa sebuah bungkusan kertas cukup besar. Aroma jamu-jamuan langsung menyeruak dari sana.“Belum, Bu. Mau Al buatin minum apa?”“Apa ya? Teh aja deh, Al.”Almira membawa mertuanya ke area dapur yang menyatu dengan ruang makan. Ibu Ratna duduk di kursi bar, memperhatikan punggung menantunya yang sibuk menyiapkan teh.“Sedang apa, Al? Masak apa sore-sore begini?” tanya beliau lembut

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    4: Maaf Untuk Semalam

    Keesokan paginya setelah keduanya melewati malam yang dingin itu, Almira menyusul Reza yang lebih dulu keluar kamar dibanding dirinya karena begitu selesai berbenah diri, ia langsung sibuk membalas semua pesan.Hingga ditemukannya sang suami di balik kitchen island, sedang memotong sayuran dengan gerakan profesional. Jelas, ini memang keahliannya.“Pagi, Al,” sapa Reza datar, tanpa menoleh. “Aku buatkan Egg Benedict dengan saus hollandaise kesukaanmu. Duduklah.”Almira menarik kursi bar. Memperhatikan punggung suaminya yang kokoh, namun menyimpan sekelumit rahasia yang mengunci rapat kebahagiaan mereka.Dan ketika Almira mencoba memulai pembicaraan, “Mas, soal yang semalam...”Reza langsung memotongnya, “Aku sudah bilang, hitungannya dimulai hari ini kan?”“Nggak, aku Cuma mau minta maaf kalau cara bicaraku mungkin membuatmu tersinggung.”Hening.Reza tak menjawab. Pada dasarnya hal ini memang melukainya. Tapi ia juga tak bisa memungkiri bahwa Almira hanya sedang memperjuangkan diriny

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    3: Satu Tahun, Waktu Kita

    Pukul setengah sepuluh malam ketika Almira tiba di rumahnya. Di garasi, mobil Reza—suaminya sudah terparkir di tempatnya, hingga dipastikan pria itu sudah pulang lebih dulu, mungkin beberapa menit yang lalu.Sedikit cerita, kehidupan Almira sebenarnya sudah sangat berkecukupan. Reza adalah seorang chef di Hotel Internasional yang bergaji puluhan juta perbulan. Secara fisik, dia juga sempurna. Kekurangannya hanya satu, itu yang sedang Almira keluhkan.Sebenarnya ini tidak apa-apa kalau Reza mau berusaha. Sayangnya, pria itu terkesan tidak terlalu peduli atau bahkan cuek. Sementara Almira? Dia bahkan sudah sering dipaksa minum jamu dan obat-obatan oleh ibu mertuanya. Bahkan tak jarang, diantar untuk melakukan terapi macam-macam.Sedangkan Reza? Dialah yang dianggap sempurna. Semua kekurangan dan kesalahan ditumpahkan pada dirinya. Almira merasa ini tidak adil, ia tidak bisa membuka semuanya, juga atas nama cinta, tapi Reza malah terlihat biasa-biasa saja.Jika ditanya apakah Reza pria y

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    2: Jawaban

    Setelah mengehla napas, Ustadz Rayyan segera menundukkan pandangan ke arah meja kayu di hadapannya untuk menjaga marwah Almira, memberikan ruang bagi wanita itu agar tidak merasa dihakimi. Raut wajahnya tetap teduh dan penuh wibawa.“Mbak Almira. Saya paham, pertanyaan ini memang terasa berat karena menyangkut hal paling privat dalam rumah tangga. Namun, dalam syariat, ini adalah perkara penting. Islam adalah agama yang adil; ia tidak menghendaki penderitaan bagi siapa pun, baik suami maupun istri.”Ustadz Rayyan kemudian mulai menjelaskan dengan bijak, bahwasanya—salah satu tujuan utama dalam pernikahan adalah hifzhun nafs, menjaga kesucian diri dan mendapatkan ketenangan batin atau sakinah. Hubungan biologis bukan sekadar pemuas nafsu, melainkan hak yang sah bagi suami maupun istri.“Dan jika suami Mbak Almira—Mas Reza—mengalami kendala medis seperti impotensi atau kelemahan syahwat, maka secara syariat, itu merupakan alasan yang kuat bagi seorang istri untuk mengajukan fasakh atau

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status