MasukKeesokan paginya setelah keduanya melewati malam yang dingin itu, Almira menyusul Reza yang lebih dulu keluar kamar dibanding dirinya karena begitu selesai berbenah diri, ia langsung sibuk membalas semua pesan.
Hingga ditemukannya sang suami di balik kitchen island, sedang memotong sayuran dengan gerakan profesional. Jelas, ini memang keahliannya. “Pagi, Al,” sapa Reza datar, tanpa menoleh. “Aku buatkan Egg Benedict dengan saus hollandaise kesukaanmu. Duduklah.” Almira menarik kursi bar. Memperhatikan punggung suaminya yang kokoh, namun menyimpan sekelumit rahasia yang mengunci rapat kebahagiaan mereka. Dan ketika Almira mencoba memulai pembicaraan, “Mas, soal yang semalam...” Reza langsung memotongnya, “Aku sudah bilang, hitungannya dimulai hari ini kan?” “Nggak, aku Cuma mau minta maaf kalau cara bicaraku mungkin membuatmu tersinggung.” Hening. Reza tak menjawab. Pada dasarnya hal ini memang melukainya. Tapi ia juga tak bisa memungkiri bahwa Almira hanya sedang memperjuangkan dirinya, untuk kebahagiaannya sendiri. Beberapa saat kemudian, Reza berbalik, menyajikan piring dengan penataan kelas hotel bintang lima di depan Almira. “Aku udah buat janji temu dengan dokter spesialis andrologi di RS Medika jam empat sore ini. Kamu puas?” “Ini bukan soal puas nggak puas. Aku Cuma pengen Mas berusaha lebih serius.” Reza melepas apronnya, lalu duduk di hadapan Almira. “Aku berusaha, Al. Tapi tolong, jangan bawa-bawa nama Ustadz itu lagi ke rumah ini. Masalah ranjang kita bukan konsumsi publik, meskipun dia berlabel pemuka agama.” “Dia memberikan solusi syariat, Mas! Bukan bergosip,” bela Almira, suaranya mulai naik satu oktav. Reza terkekeh sinis. “Solusi? Solusinya adalah memberimu durasi satu tahun untuk mengadili aku? Lucu sekali.” “Nggak mungkin Ustadz Rayan mengkarang-karang aturan ini sendiri, Mas. Dia punya kita rujukannya untuk itu.” “Makanlah sarapanmu sebelum berangkat,” pungkas Reza menutup topik ini. “Aku pengen kita sarapan sama-sama. Kita udah lama nggak melakukan itu.” “Kamu kan, yang merusaknya?” Telak, Almira terdiam mendapat balasan komentar dari suaminya itu. Meski ia juga bingung dan tak mengerti, mengapa ini malah menjadi sebuah kesalahannya sendiri? Padahal, ia hanya sedang menuntut haknya dengan sedikit gertakan agar Reza mau berusaha lebih serius. “Mas...” Almira melunak. Ia merendahkan suaranya dengan tatapan memohon. “Mas yakin akan tetap berangkat sekarang? Hari masih terlalu pagi... mau ngapain di sana?” “Tenang suamimu ini imp oten. Jadi sudah dipastikan dia nggak akan bisa selingkuh,” balasnya lebih menohok. “Kita nggak harus berjarak hanya karena ucapanku semalam. Aku Cuma inginkan satu hal, aku pengen kita jadi pasangan suami-istri yang sesungguhnya.” “Aku ada tugas pagi.” “Lalu buat apa Mas masak sarapan ini kalau akhirnya Mas tinggal pergi?” “Untukmu. Makanlah!” Reza bangkit, mengambil kunci mobilnya tanpa menyentuh sarapannya sedikit pun. “Oh iya, aku juga pulang larut malam ini. Ada gala dinner di hotel. Jadi jangan menungguku.” Sepeninggal Reza, rumah besar itu terasa seperti kuburan. Almira menghela napas panjang, air matanya hampir jatuh namun ia tahan. Ia segera bersiap menuju butiknya, Zahra Modesty. Karena kerja adalah satu-satunya pelarian yang ia punya dari rumah tangga yang kian hari kian terasa seperti es. Sesampainya di butik, Selina sudah menunggu di ruang kerja Almira dengan dua gelas kopi. “Gimana? Perang dunia ketiga?” tanya Selina hati-hati begitu melihat wajah sembap sahabatnya. Almira menjatuhkan dirinya di sofa kerja. “Dia setuju, Sel. Tapi caranya... dia seperti menganggapku musuh sekarang. Dia setuju ke dokter sore ini, tapi dia juga menutup diri rapat-rapat.” “Setidaknya dia mau ke dokter, Mir. Itu progres,” sahut Selina sambil menyerahkan kopi. “Oh ya, tadi ada kurir antar kain sampel dari vendor baru. Dan... ada titipan pesan dari asisten Ustadz Rayyan.” Almira mengernyitkan dahi. “Pesan apa?” “Beliau Cuma menyampaikan, kalau kamu butuh jadwal untuk bimbingan lebih lanjut atau konsultasi bersama suami, jadwal beliau kosong di Kamis sore.” Almira tertegun. Entah apa yang sedang ia pikirkan. “Mir?” Selina melambaikan tangan di depan wajah Almira. “Malah bengong.” “Kayaknya nggak mungkin, deh, Mas Reza mau ketemu sama Ustadz itu. Dia udah langsung menunjukkan kesan nggak suka begitu denger namanya.” “Mungkin dia malu,” menurut Selina. “Udah aku bilang kan kemarin, aku ragu. Nyatanya, ini emang jadi bumerang buat aku sendiri. Dia menganggap aku menguliti aibnya.” “Hati-hati, Mas Reza juga bisa bikin kamu merasa bersalah hanya karena dia malu kekurangannya diketahui oleh orang lain.” Almira terdiam lagi sesaat. Karena ucapan sang teman juga ada benarnya. Tak berselang lama dari percakapannya dengan Selina, beberapa pesan Almira terima dari ibu mertuanya. Sulit bagi Almira untuk berprasangka baik jika ibu mertuanya sudah mulai mengirim rangkaian pesan tanpa jeda begini. Karena pasti tak jauh-jauh dari permintaannya agar ia segera memberikannya cucu. Kenyataannya memang benar kan? Karena kalimat yang pertama... Ibuu: Almira. Ibu susah belikan akar-akaran dari Kalimantan. Katanya bagus buat kesuburan wanita. Ibuu: Nanti malam kamu pulang lebih cepat ya. Ibu mau ke rumah. Ibuu: Mas Reza juga, bilangin supaya pulang cepat. Soalnya nggak Cuma kamu, Mas Reza pun harus minum. Ibu mau liat kalian minum di depan Ibu langsung. Ibuu: Sampai ketemu sore nanti ya, Nak. Almira menghela napas panjangnya. Ia benar-benar lelah meladeni semua kehendak wanita tua itu dan segala tuntutannya—yang hanya ditujukan pada dirinya saja. Cobalah sekali saja ia bertanya pada putranya sendiri tentang bagaimana kehidupannya di masa lalu, hingga hal itu menjadi sebab kesulitannya saat ini. Jangan selalu menganggap perempuan sebagai penentu utama tertundanya kelahiran seorang keturunan.Sinar matahari membasuh ruang makan dengan warna keemasan. Di mana Reza sudah duduk di sana, tampak santai menonton televisi. Ya, pria itu tampak lebih semringah karena sisa tawa dari obrolan mereka semalam, saat Almira menyandarkan kepala di bahunya sambil menonton televisi hingga dini hari. Kalau sedang demikian, Reza merasa bahwa Almira adalah istri yang sangat mencintainya. Jika saja sesuatu atau realitas yang ada pada dirinya, tak kembali membawa mereka ke permukaan.Di belakang Reza, Almira sendiri sedang menuangkan cairan kecoklatan dari panci kecil ke dalam gelas keramik. Itu adalah jamu akar-akaran yang dibawa oleh Ibu Ratna kemarin.“Diminum ya, Mas, selagi hangat,” Almira meletakkan gelas jamu tersebut di meja depan Reza duduk.“Apa ini?” Reza bertanya.“Ini jamu dari Ibu...”“Oh iya, Ibu kemarin ke sini ya?”“Iya, Mas. Nggak perlu dijelasin udah pahamlah ya, maksud beliau setiap datang ke sini. Soalnya pasti nggak akan jauh-jauh buat bahas cucu.” Almira tersenyum
Hampir tengah malam saat deru mesin mobil Reza terdengar di halaman. Almira masih terjaga di ruang tamu, menatap layar televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton. Pikirannya melayang entah ke mana. Ya, seperti biasa—perempuan dengan segala ke-overthinking-annya.Almira beranjak membukakan pintu untuk Reza ketika pria itu masuk dengan wajah lelah.“Nggak langsung tidur aja, Al? Kan udah tahu kalau aku bakal pulang larut,” kata Reza.“Nggak masalah kan, Mas, kalau aku pengen nungguin kamu? Belum ngantuk juga soalnya,” sahut Almira sambil membantu meletakkan sepatu Reza di tempat yang semestinya.Ia menyuguhkan minum dan sedikit camilan sehat sebelum Reza benar-benar beristirahat. Almira menemaninya, sembari mengobrol tentang aktivitas mereka hari ini.“Selina udah kewalahan, jadi aku mutusin buat nambah satu karyawan lagi,” cerita Almira.“Itu bagus. Dengan begitu berarti kamu sudah membantu orang dengan membuka lowongan pekerjaan,” tanggap Reza.“Tapi… pengeluaran jadi nambah
Setengah melamun Almira saat memotong buah di mini barnya. Ia sama sekali tidak fokus hari ini sampai harus pulang lebih cepat. Riuh sekali kepala Almira. Terlalu banyak sesuatu yang sedang ia pikirkan. Salah satunya, percakapan panasnya dengan Reza pagi tadi.Tapi seperti yang dikatakan oleh ibu mertuanya, tibalah kini wanita tua itu di sini. Membuat Almira segera bergegas membuka pintu, begitu bel rumah terdengar.“Assalamualaikum, Al...” sapa wanita tua itu.“Waalaikumsalam, Ibu. Mari masuk, Bu,” jawab Almira sembari meraih tangan ibu mertuanya.“Reza belum pulang, Al?” Ibu Ratna melangkah masuk dengan membawa sebuah bungkusan kertas cukup besar. Aroma jamu-jamuan langsung menyeruak dari sana.“Belum, Bu. Mau Al buatin minum apa?”“Apa ya? Teh aja deh, Al.”Almira membawa mertuanya ke area dapur yang menyatu dengan ruang makan. Ibu Ratna duduk di kursi bar, memperhatikan punggung menantunya yang sibuk menyiapkan teh.“Sedang apa, Al? Masak apa sore-sore begini?” tanya beliau lembut
Keesokan paginya setelah keduanya melewati malam yang dingin itu, Almira menyusul Reza yang lebih dulu keluar kamar dibanding dirinya karena begitu selesai berbenah diri, ia langsung sibuk membalas semua pesan.Hingga ditemukannya sang suami di balik kitchen island, sedang memotong sayuran dengan gerakan profesional. Jelas, ini memang keahliannya.“Pagi, Al,” sapa Reza datar, tanpa menoleh. “Aku buatkan Egg Benedict dengan saus hollandaise kesukaanmu. Duduklah.”Almira menarik kursi bar. Memperhatikan punggung suaminya yang kokoh, namun menyimpan sekelumit rahasia yang mengunci rapat kebahagiaan mereka.Dan ketika Almira mencoba memulai pembicaraan, “Mas, soal yang semalam...”Reza langsung memotongnya, “Aku sudah bilang, hitungannya dimulai hari ini kan?”“Nggak, aku Cuma mau minta maaf kalau cara bicaraku mungkin membuatmu tersinggung.”Hening.Reza tak menjawab. Pada dasarnya hal ini memang melukainya. Tapi ia juga tak bisa memungkiri bahwa Almira hanya sedang memperjuangkan diriny
Pukul setengah sepuluh malam ketika Almira tiba di rumahnya. Di garasi, mobil Reza—suaminya sudah terparkir di tempatnya, hingga dipastikan pria itu sudah pulang lebih dulu, mungkin beberapa menit yang lalu.Sedikit cerita, kehidupan Almira sebenarnya sudah sangat berkecukupan. Reza adalah seorang chef di Hotel Internasional yang bergaji puluhan juta perbulan. Secara fisik, dia juga sempurna. Kekurangannya hanya satu, itu yang sedang Almira keluhkan.Sebenarnya ini tidak apa-apa kalau Reza mau berusaha. Sayangnya, pria itu terkesan tidak terlalu peduli atau bahkan cuek. Sementara Almira? Dia bahkan sudah sering dipaksa minum jamu dan obat-obatan oleh ibu mertuanya. Bahkan tak jarang, diantar untuk melakukan terapi macam-macam.Sedangkan Reza? Dialah yang dianggap sempurna. Semua kekurangan dan kesalahan ditumpahkan pada dirinya. Almira merasa ini tidak adil, ia tidak bisa membuka semuanya, juga atas nama cinta, tapi Reza malah terlihat biasa-biasa saja.Jika ditanya apakah Reza pria y
Setelah mengehla napas, Ustadz Rayyan segera menundukkan pandangan ke arah meja kayu di hadapannya untuk menjaga marwah Almira, memberikan ruang bagi wanita itu agar tidak merasa dihakimi. Raut wajahnya tetap teduh dan penuh wibawa.“Mbak Almira. Saya paham, pertanyaan ini memang terasa berat karena menyangkut hal paling privat dalam rumah tangga. Namun, dalam syariat, ini adalah perkara penting. Islam adalah agama yang adil; ia tidak menghendaki penderitaan bagi siapa pun, baik suami maupun istri.”Ustadz Rayyan kemudian mulai menjelaskan dengan bijak, bahwasanya—salah satu tujuan utama dalam pernikahan adalah hifzhun nafs, menjaga kesucian diri dan mendapatkan ketenangan batin atau sakinah. Hubungan biologis bukan sekadar pemuas nafsu, melainkan hak yang sah bagi suami maupun istri.“Dan jika suami Mbak Almira—Mas Reza—mengalami kendala medis seperti impotensi atau kelemahan syahwat, maka secara syariat, itu merupakan alasan yang kuat bagi seorang istri untuk mengajukan fasakh atau







