Home / Romansa / Pengantin Tanpa Malam Pertama / 4: Maaf Untuk Semalam

Share

4: Maaf Untuk Semalam

Author: Ana_miauw
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-06 12:22:29

Keesokan paginya setelah keduanya melewati malam yang dingin itu, Almira menyusul Reza yang lebih dulu keluar kamar dibanding dirinya karena begitu selesai berbenah diri, ia langsung sibuk membalas semua pesan.

Hingga ditemukannya sang suami di balik kitchen island, sedang memotong sayuran dengan gerakan profesional. Jelas, ini memang keahliannya.

“Pagi, Al,” sapa Reza datar, tanpa menoleh. “Aku buatkan Egg Benedict dengan saus hollandaise kesukaanmu. Duduklah.”

Almira menarik kursi bar. Memperhatikan punggung suaminya yang kokoh, namun menyimpan sekelumit rahasia yang mengunci rapat kebahagiaan mereka.

Dan ketika Almira mencoba memulai pembicaraan, “Mas, soal yang semalam...”

Reza langsung memotongnya, “Aku sudah bilang, hitungannya dimulai hari ini kan?”

“Nggak, aku Cuma mau minta maaf kalau cara bicaraku mungkin membuatmu tersinggung.”

Hening.

Reza tak menjawab. Pada dasarnya hal ini memang melukainya. Tapi ia juga tak bisa memungkiri bahwa Almira hanya sedang memperjuangkan dirinya, untuk kebahagiaannya sendiri.

Beberapa saat kemudian, Reza berbalik, menyajikan piring dengan penataan kelas hotel bintang lima di depan Almira. “Aku udah buat janji temu dengan dokter spesialis andrologi di RS Medika jam empat sore ini. Kamu puas?”

“Ini bukan soal puas nggak puas. Aku Cuma pengen Mas berusaha lebih serius.”

Reza melepas apronnya, lalu duduk di hadapan Almira. “Aku berusaha, Al. Tapi tolong, jangan bawa-bawa nama Ustadz itu lagi ke rumah ini. Masalah ranjang kita bukan konsumsi publik, meskipun dia berlabel pemuka agama.”

“Dia memberikan solusi syariat, Mas! Bukan bergosip,” bela Almira, suaranya mulai naik satu oktav.

Reza terkekeh sinis. “Solusi? Solusinya adalah memberimu durasi satu tahun untuk mengadili aku? Lucu sekali.”

“Nggak mungkin Ustadz Rayan mengkarang-karang aturan ini sendiri, Mas. Dia punya kita rujukannya untuk itu.”

“Makanlah sarapanmu sebelum berangkat,” pungkas Reza menutup topik ini.

“Aku pengen kita sarapan sama-sama. Kita udah lama nggak melakukan itu.”

“Kamu kan, yang merusaknya?”

Telak, Almira terdiam mendapat balasan komentar dari suaminya itu. Meski ia juga bingung dan tak mengerti, mengapa ini malah menjadi sebuah kesalahannya sendiri?

Padahal, ia hanya sedang menuntut haknya dengan sedikit gertakan agar Reza mau berusaha lebih serius.

“Mas...” Almira melunak. Ia merendahkan suaranya dengan tatapan memohon. “Mas yakin akan tetap berangkat sekarang? Hari masih terlalu pagi... mau ngapain di sana?”

“Tenang suamimu ini imp oten. Jadi sudah dipastikan dia nggak akan bisa selingkuh,” balasnya lebih menohok.

“Kita nggak harus berjarak hanya karena ucapanku semalam. Aku Cuma inginkan satu hal, aku pengen kita jadi pasangan suami-istri yang sesungguhnya.”

“Aku ada tugas pagi.”

“Lalu buat apa Mas masak sarapan ini kalau akhirnya Mas tinggal pergi?”

“Untukmu. Makanlah!” Reza bangkit, mengambil kunci mobilnya tanpa menyentuh sarapannya sedikit pun. “Oh iya, aku juga pulang larut malam ini. Ada gala dinner di hotel. Jadi jangan menungguku.”

Sepeninggal Reza, rumah besar itu terasa seperti kuburan. Almira menghela napas panjang, air matanya hampir jatuh namun ia tahan. Ia segera bersiap menuju butiknya, Zahra Modesty. Karena kerja adalah satu-satunya pelarian yang ia punya dari rumah tangga yang kian hari kian terasa seperti es.

Sesampainya di butik, Selina sudah menunggu di ruang kerja Almira dengan dua gelas kopi.

“Gimana? Perang dunia ketiga?” tanya Selina hati-hati begitu melihat wajah sembap sahabatnya.

Almira menjatuhkan dirinya di sofa kerja. “Dia setuju, Sel. Tapi caranya... dia seperti menganggapku musuh sekarang. Dia setuju ke dokter sore ini, tapi dia juga menutup diri rapat-rapat.”

“Setidaknya dia mau ke dokter, Mir. Itu progres,” sahut Selina sambil menyerahkan kopi. “Oh ya, tadi ada kurir antar kain sampel dari vendor baru. Dan... ada titipan pesan dari asisten Ustadz Rayyan.”

Almira mengernyitkan dahi. “Pesan apa?”

“Beliau Cuma menyampaikan, kalau kamu butuh jadwal untuk bimbingan lebih lanjut atau konsultasi bersama suami, jadwal beliau kosong di Kamis sore.”

Almira tertegun. Entah apa yang sedang ia pikirkan.

“Mir?” Selina melambaikan tangan di depan wajah Almira. “Malah bengong.”

“Kayaknya nggak mungkin, deh, Mas Reza mau ketemu sama Ustadz itu. Dia udah langsung menunjukkan kesan nggak suka begitu denger namanya.”

“Mungkin dia malu,” menurut Selina.

“Udah aku bilang kan kemarin, aku ragu. Nyatanya, ini emang jadi bumerang buat aku sendiri. Dia menganggap aku menguliti aibnya.”

“Hati-hati, Mas Reza juga bisa bikin kamu merasa bersalah hanya karena dia malu kekurangannya diketahui oleh orang lain.”

Almira terdiam lagi sesaat. Karena ucapan sang teman juga ada benarnya.

Tak berselang lama dari percakapannya dengan Selina, beberapa pesan Almira terima dari ibu mertuanya.

Sulit bagi Almira untuk berprasangka baik jika ibu mertuanya sudah mulai mengirim rangkaian pesan tanpa jeda begini. Karena pasti tak jauh-jauh dari permintaannya agar ia segera memberikannya cucu.

Kenyataannya memang benar kan?

Karena kalimat yang pertama...

Ibuu: Almira. Ibu susah belikan akar-akaran dari Kalimantan. Katanya bagus buat kesuburan wanita.

Ibuu: Nanti malam kamu pulang lebih cepat ya. Ibu mau ke rumah.

Ibuu: Mas Reza juga, bilangin supaya pulang cepat. Soalnya nggak Cuma kamu, Mas Reza pun harus minum. Ibu mau liat kalian minum di depan Ibu langsung.

Ibuu: Sampai ketemu sore nanti ya, Nak.

Almira menghela napas panjangnya. Ia benar-benar lelah meladeni semua kehendak wanita tua itu dan segala tuntutannya—yang hanya ditujukan pada dirinya saja.

Cobalah sekali saja ia bertanya pada putranya sendiri tentang bagaimana kehidupannya di masa lalu, hingga hal itu menjadi sebab kesulitannya saat ini. Jangan selalu menganggap perempuan sebagai penentu utama tertundanya kelahiran seorang keturunan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    107: Epilog

    Enam bulan telah berlalu sejak fajar yang membawa perubahan besar itu menyingsing di atas langit Pesantren Al-Fatih. Kehidupan di ndalem kini telah menemukan ritme barunya—sebuah harmoni yang jauh lebih hidup daripada tahun-tahun sebelumnya yang hanya diisi oleh kesunyian. Cabang Butik baru Almira, kini juga berdiri anggun di sisi timur komplek pesantren, tepat di lahan yang dijanjikan Rayyan tempo hari. Bangunannya modern namun tetap memiliki sentuhan arsitektur Islam yang kental. Hari itu, Almira sedang duduk di meja kerjanya yang luas, memperhatikan dua orang santriwati tingkat akhir yang sedang magang di sana, belajar teknik memotong pola kain sutra.Almira mengusap perutnya yang kini sudah mulai menonjol di balik gamis longgar berbahan ceruti premium. “Ustazah, ini polanya sudah benar?” tanya salah satu santriwati dengan sopan.Almira tersenyum teduh. “Sudah bagus, Siti. Ingat, setiap jahitan itu seperti doa; harus rapi dan penuh kesabaran. Kalau hati kita tenang, pak

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    106: Masa Pencarian Sudah Selesai

    “Sekarang giliran kamu yang mandi. Mas tunggu di sini, kita shalat jamaah,” ucap Rayyan lembut, tangannya masih enggan lepas dari pinggang Almira.Almira mengangguk, melepaskan pelukannya. Lalu dengan segera, ia menyambar handuknya dan menghilang di balik pintu kamar mandi.Almira butuh waktu untuk menenangkan degup jantungnya yang sedari tadi tak mau kompromi. Di balik pintu, ia menyandarkan punggungnya, menarik napas dalam-dalam, dan tersenyum pada bayangannya sendiri di cermin.Sepuluh menit kemudian, Almira keluar dengan wajah yang jauh lebih segar. Ia sudah mengenakan mukena satin berwarna broken white yang senada dengan suasana kamar mereka.Rayyan sudah menunggu di atas sajadah, telah mengenakan baju koko putih bersih dan peci hitam yang membuatnya tampak sangat bersahaja namun berwibawa.“Allahu Akbar...”Rayyan memulai salat. Lantunan takbiratul ihramnya terdengar begitu mantap. Di belakangnya, Almira mengikuti setiap gerakan dengan kekhusyukan yang belum pernah ia rasa

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    105: Sepertinya Dia Menjaganya Untukmu

    Masih Di Kamar Pengantin... Kamar itu biasanya terasa sunyi dan fungsional, mencerminkan kepribadian Rayyan Al-Fatih yang praktis dan teratur. Tidak banyak hiasan, tidak ada barang yang berlebihan—semuanya tertata rapi sebagaimana hidupnya yang disiplin. Namun pagi ini, udaranya terasa berbeda. Lebih hangat, lebih hidup. Ada aroma mawar dan melati yang tertinggal dari riasan pengantin semalam, bercampur dengan aroma maskulin khas kayu cendana milik sang pemilik kamar dan wangi lembut Almira. Perpaduan itu menciptakan suasana baru yang membahagiakan.Almira az-Zahra mengerjapkan matanya, seolah takut jika semua ini hanya mimpi yang akan hilang begitu saja. Hal pertama yang ia rasakan adalah hangat di pinggangnya—sebuah lengan kokoh yang melingkar posesif, seakan memberi perlindungan tanpa perlu diminta. Begitu matanya terbuka sempurna, jantungnya langsung berdegup kencang, naik hingga ke pangkal tenggorokan.Hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, Rayyan terlelap. Napas pria it

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    104: SUJUD SYUKUR DALAM JAMAAH PERTAMA

    Tangan kokoh Rayyan masih menggenggam jemari Almira saat mereka melintasi selasar ndalem yang mulai sunyi. Lampu-lampu taman temaram memberikan bayangan panjang di lantai kayu. Setiap langkah kaki Almira terasa berat, karena debaran di dadanya yang kian menggila. Ia merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta, padahal ia adalah seorang ibu dari dua anak.Begitu mereka sampai di depan pintu kamar, Rayyan berhenti sejenak. Ia menatap Almira dengan senyum tipis yang begitu teduh, lalu perlahan membuka pintu jati tersebut. Wangi bunga melati dan mawar yang tadi sempat dipuji Selina kini menyeruak lebih kuat, menyambut mereka dalam kehangatan yang privat.Rayyan menutup pintu dan menguncinya. Bunyi klik kecil itu terdengar begitu nyaring di telinga Almira, seolah menandakan bahwa dunia luar—dengan segala fitnah dan kerumitannya—telah resmi terkunci di luar sana.“Mas ambil air wudhu dulu ya,” pamit Rayyan lembut.Almira hanya mengangguk kecil, membiarkan suaminya masuk ke kamar

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    103: Ayo, Kita Juga Butuh Istirahat🤭

    Adzan maghrib baru selesai ketika Rayyan perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Almira yang nampak lebih tenang, meski sisa air mata masih membekas di sudut matanya yang indah.“Ganti bajumu. Kita akan tunaikan hak Allah dulu,” ucap Rayyan. “Kita jamaah di sini?” tanya Almira. “Bagaimana kalau shalat Isya saja nanti? Sekaligus shalat...”“Ah, iya,” Almira segera mengangguk. Mengerti akan maksud pria itu. “Sekarang aku ke masjid besar dulu, bareng sama Papa Hendra dan para santri. Kamu shalat di ndalem saja bersama Mbak Fatma dan Mama Sofia, ya?”Almira mengangguk patuh. “Iya, Ustaz. Eh, Mas Ustaz.”Rayyan terkekeh, lalu mengusap kepala istrinya dengan gemas. Pintu ruang kerja terbuka, dan mereka keluar bersama. Di selasar, Selina sudah menunggu dengan wajah sumringah namun tetap menjaga sikap di depan sang Ustaz. Rayyan memberikan anggukan sopan kepada sahabat istrinya itu sebelum melangkah menuju area depan untuk bergabung dengan jamaah pria.“Tolong bantu aku

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    102: DERMAGA DOA DI PESANTREN AL-FATIH 2

    Waktu berlalu dengan cepat. Matahari mulai condong ke arah barat, meninggalkan semburat warna jingga dan ungu di langit Pesantren Al-Fatih. Setelah rangkaian acara yang melelahkan, para tamu mulai berpamitan.Mbak Fatma dengan sigap menghampiri anaknya sendiri dan juga keponakannya. “Sudah, Abang Akmal, Arka, Dina... ikut Ummi Fatma dulu yuk. Kita main di taman belakang, lihat ikan koi di kolam. Umma dan Abah mau istirahat sebentar, jangan diganggu ya,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Almira.Almira merasa wajahnya memanas. Ia mengikuti langkah Rayyan menuju bangunan utama ndalem. Mereka tidak menuju kamar pengantin, melainkan ke ruang kerja pribadi Rayyan. Sebuah ruangan yang sangat sakral, penuh dengan ribuan kitab yang tertumpuk rapi hingga ke langit-langit, dengan aroma parfum gaharu yang menenangkan dan udara yang sejuk.Begitu pintu jati itu tertutup, suasana mendadak menjadi sangat sunyi.Almira merasa lidahnya kelu. Meski mereka sudah sah, ada rasa canggung

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status