Share

5: Tuntutan Ibu Mertua

Penulis: Ana_miauw
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-06 12:24:15

Setengah melamun Almira saat memotong buah di mini barnya. Ia sama sekali tidak fokus hari ini sampai harus pulang lebih cepat. Riuh sekali kepala Almira. Terlalu banyak sesuatu yang sedang ia pikirkan. Salah satunya, percakapan panasnya dengan Reza pagi tadi.

Tapi seperti yang dikatakan oleh ibu mertuanya, tibalah kini wanita tua itu di sini. Membuat Almira segera bergegas membuka pintu, begitu bel rumah terdengar.

“Assalamualaikum, Al...” sapa wanita tua itu.

“Waalaikumsalam, Ibu. Mari masuk, Bu,” jawab Almira sembari meraih tangan ibu mertuanya.

“Reza belum pulang, Al?” Ibu Ratna melangkah masuk dengan membawa sebuah bungkusan kertas cukup besar. Aroma jamu-jamuan langsung menyeruak dari sana.

“Belum, Bu. Mau Al buatin minum apa?”

“Apa ya? Teh aja deh, Al.”

Almira membawa mertuanya ke area dapur yang menyatu dengan ruang makan. Ibu Ratna duduk di kursi bar, memperhatikan punggung menantunya yang sibuk menyiapkan teh.

“Sedang apa, Al? Masak apa sore-sore begini?” tanya beliau lembut, suaranya terdengar penuh perhatian.

“Ini lagi potong buah saja, Bu. Soalnya Mas Reza nggak pesen dimasakin apa-apa. Biasanya malah dia yang bawa pulang makanan ke rumah,” sahut Almira.

Ibu Ratna mengangguk-angguk kecil. Memahami bahwa anaknya adalah seorang chef. Jadi mungkin saja dialah yang lebih banyak berperan di dalam dapur ini.

Kemudian, ditunjukkannya lah bungkusan yang beliau bawa untuk Almira. “Ini yang Ibu bilang tadi pagi, Al, akar-akaran dari Kalimantan. Katanya bagus banget buat kesuburan wanita. Nanti malam kamu rebus ya, Nak. Diminum berdua sama Reza. Sebenarnya sih, Ibu pengen liat kalian berdua minum di depan Ibu langsung, tapi apa mau dikata kalau Mas Reza nya belum pulang kan?”

Almira meletakkan secangkir teh di depan mertuanya, lalu menjawab, “Iya, Bu. Mas Reza katanya ada gala dinner malam ini, jadi kemungkinan pulangnya cukup larut.”

Ibu Ratna menghela napas panjang, sebuah helaan yang terdengar sangat prihatin. “Gala dinner lagi? Kalian jadi jarang ketemu kan kalau sering-sering seperti ini?”

“Ya nggak sesering itu juga sih, Bu. Kadang Mas Reza bisa pulang lebih cepat, kok,” bela Almira.

Ibu Ratna menyesap tehnya, lalu kembali menatap menantunya, “Kalau begini caranya kapan kalian bisa punya anak? Kalau lagi program itu nggak boleh terlalu capek. Harus bisa luangkan waktu lebih banyak buat quality time berdua. Bulan madu kek, atau lebih baiknya dan sangat dianjurkan, sempatkan umroh sekali-sekali. Minta langsung sama Allah di sana, pasti permintaan kalian cepat dikabul.”

Almira terdiam. Dia selalu kehilangan kata-kata kalau sudah berurusan dengan semua ceramah ibu mertuanya. Terlebih ketika beliau melanjutkan,

“Percuma saja kan kalau misalnya kalian bela-belain kerja, mengumpulkan banyak uang tapi nggak ada anak? Tetap nggak akan terasa sempurna. Mau diwariskan ke siapa harta kalian nanti?”

Ugh, rasanya... Sangat menusuk sekali sampai ke tulang-tulang Nada.

“Ibu Cuma mau yang terbaik untuk kalian,” lanjutnya.

Terbaik untuk kami atau ibu sendiri? Batin Almira. Ia benar-benar tertekan dan lelah, jika harus terus menjadi bulan-bulanan tuntutan yang salah sasaran ini.

Katakan saja, Al. Katakan kalau rahimmu sehat. Katakan kalau masalahnya ada pada putranya sendiri! Suara hatinya kembali menjerit.

Almira mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata Ibu Ratna. Jujur, ia sudah tidak tahan lagi memikul dosa yang bukan miliknya. Hingga ketika ia mencoba untuk berterus terang...

“Bu, sebenarnya, soal itu…” Almira menjeda di pertengahan, ia menimbang-nimbang; apakah betul apa yang hendak ia katakan? Tapi ia merasa sudah terjebak sekarang dan mau tak mau harus menuntaskannya.

“Kenapa, Nak? Ada yang mau Al sampaikan? Nggak apa-apa. Santai saja. Ibu mau mendengarkan,” sahut Ibu Ratna, tampak berusaha membuat sang menantu nyaman.

“Sebenarna, soal anak itu... bukan di Almira masalahnya. Mas Reza… dia…”

Jantung Almira berdegup kencang hingga terasa ke telinga. Sedikit lagi. Sedikit lagi satu rahasia besar itu akan tumpah. Wajah Ibu Ratna tampak berubah serius, ia sedikit memajukan duduknya, siap mendengarkan pengakuan yang akan mengubah segalanya.

Ketika sebuah suara...

Drrrtt! Drrrtt!

Kini seketika menjeda keduanya. Almira langsung tersentak, keberaniannya seolah menguap bersama nada dering itu.

“Duh, ganggu aja ya teman Ibu. Sebentar ya, Nak. Nanti kita lanjut lagi,” Ibu Ratna memilih untuk menyelesaikan urusannya terlebih dahulu, yang mungkin ia rasa jauh lebih penting.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    7: Pertengkaran Lagi

    Sinar matahari membasuh ruang makan dengan warna keemasan. Di mana Reza sudah duduk di sana, tampak santai menonton televisi. Ya, pria itu tampak lebih semringah karena sisa tawa dari obrolan mereka semalam, saat Almira menyandarkan kepala di bahunya sambil menonton televisi hingga dini hari. Kalau sedang demikian, Reza merasa bahwa Almira adalah istri yang sangat mencintainya. Jika saja sesuatu atau realitas yang ada pada dirinya, tak kembali membawa mereka ke permukaan.Di belakang Reza, Almira sendiri sedang menuangkan cairan kecoklatan dari panci kecil ke dalam gelas keramik. Itu adalah jamu akar-akaran yang dibawa oleh Ibu Ratna kemarin.“Diminum ya, Mas, selagi hangat,” Almira meletakkan gelas jamu tersebut di meja depan Reza duduk.“Apa ini?” Reza bertanya.“Ini jamu dari Ibu...”“Oh iya, Ibu kemarin ke sini ya?”“Iya, Mas. Nggak perlu dijelasin udah pahamlah ya, maksud beliau setiap datang ke sini. Soalnya pasti nggak akan jauh-jauh buat bahas cucu.” Almira tersenyum

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    6: Kilas Balik

    Hampir tengah malam saat deru mesin mobil Reza terdengar di halaman. Almira masih terjaga di ruang tamu, menatap layar televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton. Pikirannya melayang entah ke mana. Ya, seperti biasa—perempuan dengan segala ke-overthinking-annya.Almira beranjak membukakan pintu untuk Reza ketika pria itu masuk dengan wajah lelah.“Nggak langsung tidur aja, Al? Kan udah tahu kalau aku bakal pulang larut,” kata Reza.“Nggak masalah kan, Mas, kalau aku pengen nungguin kamu? Belum ngantuk juga soalnya,” sahut Almira sambil membantu meletakkan sepatu Reza di tempat yang semestinya.Ia menyuguhkan minum dan sedikit camilan sehat sebelum Reza benar-benar beristirahat. Almira menemaninya, sembari mengobrol tentang aktivitas mereka hari ini.“Selina udah kewalahan, jadi aku mutusin buat nambah satu karyawan lagi,” cerita Almira.“Itu bagus. Dengan begitu berarti kamu sudah membantu orang dengan membuka lowongan pekerjaan,” tanggap Reza.“Tapi… pengeluaran jadi nambah

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    5: Tuntutan Ibu Mertua

    Setengah melamun Almira saat memotong buah di mini barnya. Ia sama sekali tidak fokus hari ini sampai harus pulang lebih cepat. Riuh sekali kepala Almira. Terlalu banyak sesuatu yang sedang ia pikirkan. Salah satunya, percakapan panasnya dengan Reza pagi tadi.Tapi seperti yang dikatakan oleh ibu mertuanya, tibalah kini wanita tua itu di sini. Membuat Almira segera bergegas membuka pintu, begitu bel rumah terdengar.“Assalamualaikum, Al...” sapa wanita tua itu.“Waalaikumsalam, Ibu. Mari masuk, Bu,” jawab Almira sembari meraih tangan ibu mertuanya.“Reza belum pulang, Al?” Ibu Ratna melangkah masuk dengan membawa sebuah bungkusan kertas cukup besar. Aroma jamu-jamuan langsung menyeruak dari sana.“Belum, Bu. Mau Al buatin minum apa?”“Apa ya? Teh aja deh, Al.”Almira membawa mertuanya ke area dapur yang menyatu dengan ruang makan. Ibu Ratna duduk di kursi bar, memperhatikan punggung menantunya yang sibuk menyiapkan teh.“Sedang apa, Al? Masak apa sore-sore begini?” tanya beliau lembut

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    4: Maaf Untuk Semalam

    Keesokan paginya setelah keduanya melewati malam yang dingin itu, Almira menyusul Reza yang lebih dulu keluar kamar dibanding dirinya karena begitu selesai berbenah diri, ia langsung sibuk membalas semua pesan.Hingga ditemukannya sang suami di balik kitchen island, sedang memotong sayuran dengan gerakan profesional. Jelas, ini memang keahliannya.“Pagi, Al,” sapa Reza datar, tanpa menoleh. “Aku buatkan Egg Benedict dengan saus hollandaise kesukaanmu. Duduklah.”Almira menarik kursi bar. Memperhatikan punggung suaminya yang kokoh, namun menyimpan sekelumit rahasia yang mengunci rapat kebahagiaan mereka.Dan ketika Almira mencoba memulai pembicaraan, “Mas, soal yang semalam...”Reza langsung memotongnya, “Aku sudah bilang, hitungannya dimulai hari ini kan?”“Nggak, aku Cuma mau minta maaf kalau cara bicaraku mungkin membuatmu tersinggung.”Hening.Reza tak menjawab. Pada dasarnya hal ini memang melukainya. Tapi ia juga tak bisa memungkiri bahwa Almira hanya sedang memperjuangkan diriny

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    3: Satu Tahun, Waktu Kita

    Pukul setengah sepuluh malam ketika Almira tiba di rumahnya. Di garasi, mobil Reza—suaminya sudah terparkir di tempatnya, hingga dipastikan pria itu sudah pulang lebih dulu, mungkin beberapa menit yang lalu.Sedikit cerita, kehidupan Almira sebenarnya sudah sangat berkecukupan. Reza adalah seorang chef di Hotel Internasional yang bergaji puluhan juta perbulan. Secara fisik, dia juga sempurna. Kekurangannya hanya satu, itu yang sedang Almira keluhkan.Sebenarnya ini tidak apa-apa kalau Reza mau berusaha. Sayangnya, pria itu terkesan tidak terlalu peduli atau bahkan cuek. Sementara Almira? Dia bahkan sudah sering dipaksa minum jamu dan obat-obatan oleh ibu mertuanya. Bahkan tak jarang, diantar untuk melakukan terapi macam-macam.Sedangkan Reza? Dialah yang dianggap sempurna. Semua kekurangan dan kesalahan ditumpahkan pada dirinya. Almira merasa ini tidak adil, ia tidak bisa membuka semuanya, juga atas nama cinta, tapi Reza malah terlihat biasa-biasa saja.Jika ditanya apakah Reza pria y

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    2: Jawaban

    Setelah mengehla napas, Ustadz Rayyan segera menundukkan pandangan ke arah meja kayu di hadapannya untuk menjaga marwah Almira, memberikan ruang bagi wanita itu agar tidak merasa dihakimi. Raut wajahnya tetap teduh dan penuh wibawa.“Mbak Almira. Saya paham, pertanyaan ini memang terasa berat karena menyangkut hal paling privat dalam rumah tangga. Namun, dalam syariat, ini adalah perkara penting. Islam adalah agama yang adil; ia tidak menghendaki penderitaan bagi siapa pun, baik suami maupun istri.”Ustadz Rayyan kemudian mulai menjelaskan dengan bijak, bahwasanya—salah satu tujuan utama dalam pernikahan adalah hifzhun nafs, menjaga kesucian diri dan mendapatkan ketenangan batin atau sakinah. Hubungan biologis bukan sekadar pemuas nafsu, melainkan hak yang sah bagi suami maupun istri.“Dan jika suami Mbak Almira—Mas Reza—mengalami kendala medis seperti impotensi atau kelemahan syahwat, maka secara syariat, itu merupakan alasan yang kuat bagi seorang istri untuk mengajukan fasakh atau

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status