LOGINIa mengembalikan ponselku dengan 12 digit nomor ponselnya. Dengan hati yang berbunga-bunga ,aku segera menyimpan nomornya.
Dara Chubby. Begitu namanya kusimpan."Oke, Mas mau. Nanti Mas ajak juga teman-teman Mas," jawabku mantap."Siiip! Aku masuk dulu, ya. Sampai jumpa."Ia memutar tubuhnya membelakangiku, lalu perlahan menjauh memasuki gerbang rumah. Rambut hitam panjangnya yang dikuncir kuda masih terbayang hingga ia menghilang.Ah! Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama.Tiga bulan berkenalan dengan Dara, aku memantapkan hati untuk menikahinya. Tak ada proses pacaran seperti yang aku lakukan beesama Sarah, tapi dari kedekatan itu aku bisa tahu dan merasa kalau dia memiliki rasa yang sama. Sebelum mengutarakan niatku padanya, terlebih dulu aku meminta restu Ibu."Ibu keberatan, Rul. Kenapa tidak dengan Sarah saja? Jelas-jelas kita sudah kenal lama. Katamu Dara itu anak bungsu dan dari keluarga berada, kanSetelah seharian di rumah Mama, sore harinya aku dan Nada pulang. Tentu saja setelah kami bersih dan wangi karena sudah selesai mandi sore. Tentu juga setelah aksi mengamankan aset selesai kuurus. Selagi Nada asyik bermain besama Kakek Neneknya, tadi aku mendatangi sebuah bank syariah di kota, mengurus penyewaan safe deposit box guna menyimpan sertifikat kebun dan beberapa logam mulia yang kerap kubeli untuk persiapan masa depan.Kesejahteraan hidup Mas Nasrul ada di tanganku sekarang. Gajinya yang telah dipotong kridit mobil tentu tidak akan cukup untuk kebutuhan rumah selama sebulan, kecuali ia mendapatkan seseran seperti yang sudah-sudah. Sedangkan di sisi lain dia sedang tergila-gila pada Sarah, tentu saja itu juga membutuhkan biaya.Pak Joko, jika ia tidak menuruti perkataanku yang hanya menyerahkan uang panen kebun kepadaku, maka ia harus siap untuk kehilangan pekerjaan. Kehilangan pundi-pundi rupiah yang ia gunakan untuk menyambung hidup dan s
Dari spion kiri kulihat Sarah mencak-mencak mengusap air kotor yang mengenai pakaiannya. Kaca jendela yang tertutup rapat membuatku tak dapat mendengar umpatannya. Ya, tadi aku sengaja melajukan mobil lebih kencang saat melewati genangan air di dekatnya, sehingga pakaiannya kecipratan sisa hujan yang sudah terkontaminasi dengan berbagai kuman.Aku tergelak. Rasakan! Pasti Mas Nasrul adalah orang pertama yang akan ia semprot nanti. Perjalanan terus berlanjut, Nada masih terlelap. Alunan merdu dari pelantun sholawat Nabi mengalun lembut di telingaku, menemaniku."Sayang … Kok, nggak bilang kalau mau ke sini?" sambut Mama saat melihatku turun dari mobil."Biar kejutan, Ma," kekehku menyambut rangkulan Mama. Pipiku bertubi ia cium dengan gemas. Ya, seperti itulah Mamaku."Sendirian? Nasrul nggak ikut?" tanya Mama dengan kepala celingukan mencari keberadaan laki-laki yang sedang konslet hatinya itu."Sama Nada, Ma. Tuh, masih tidur,"
Kumandang adzan subuh terdengar dari toa masjid. Kedua bola mataku mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan temaramnya cahaya di dalam kamar. Saat kupalingkan muka ke samping, tidak terdapat Mas Nasrul di sisi Nada. Ke mana dia? Apa sudah bangun lebih dulu?Kususun bantal di tepi ranjang memnyerupai pagar agar Nada tidak jatuh jika ia bergeser, kemudian menguncir rambutku yang kusut masai bekas tidur semalam. Setelah badan terasa enakan, aku beranjak keluar kamar.Begitu ke luar kamar kulihat ruang sholat nampak masih gelap. Artinya Mas Nasrul belum bangun, pun dengan Ibu. Aku sholat duluan saja, nanti baru kucari Mas Nasrul dan Ibu.Cepat kubawa kakiku menuju kamar mandi, mengambil wudhu, lalu sholat di ruangan khusus samping kamar Ibu. Mama pernah mengatakan, salah satu godaan terberat dalam waktu sholat adalah waktu subuh. Di mana setan membujuk kita untuk kembali tidur meski telah sempat terjaga.Tok! Tok! Tok!Kuketuk pintu kamar I
Mendengar itu aku bergegas merebahkan diri, memeluk guling dan beralih menghadap tembok. Apa yang ingin Ibu bicarakan? Jika mengenai hal tadi, mengapa takut aku mendengar?Ceklek! Pintu kamar dibuka, tak lama kemudian ranjang sedikit bergoyang. Mataku yang pura-pura tidur kupejamkan senatural mungkin, jangan sampai ketahuan jika aku berbohong.Ceklek! Kembali pintu tertutup. Aku tidak langsung bangkit, masih kuteruskan kepura-puraanku. Benar saja, tak lama kemudian pintu kembali menimbulkan suara.Aku yakin, tadi itu Mas Nasrul hanya berpura-pura ke luar kamar. Ia ingin menjebak kebohonganku. Fiuh! Tidak sia-sia sesekali ikut Ibu nonton sinetron, dari keteledoran pemerannya aku belajar hal ini.Telingaku kembali melebar setelah Mas Nasrul benar-benar pergi, tak ada suara apapun sampai kemudian suara pintu ruang kerja Mas Nasrul terbuka lalu tertutup kembali. Oke, mereka berbicara di ruang kerja rupanya.
"Kamu kenapa, Nduk? Kok, seperti orang gelisah terus?" tanya Ibu yang melihatku bolak-balik mengganti saluran televisi.Nafasku berhembus kasar. Apa sebaiknya kuceritakan saja pada Ibu, ya? Bukankah Mas Nasrul itu sangat menyayangi Ibu. Mudah-mudahan Mas Nasrul mau mendengarkan jika Ibu yang menasihati."Hmm, Bu, menurut Ibu mungkin nggak kalau Mas Nasrul menduakan Dara?" Kupalingkan tatapaku pada Ibu yang seketika terhenyak."Kenapa nanya gitu, Nduk? Menurut Ibu nggak mungkin, lha wong dari awal saja Nasrul kadung cinta mati sama kamu." Ibu terkekeh setelah menjawab pertanyaannku.Ibu benar, dari awal Mas Nasrul memang sangat bucin padaku. Aku pun dapat merasakan itu. Makanya hatiku benar-benar merasa sakit mendapati kenyataan yang dia lakukan kemarin. Hal apa yang membuat Mas Nasrul berubah? Bukankah semua sudah kuubah sesuai maunya? "Tapi, Bu … Mas Nasrul memang punya perempuan lain," lirihku.
Mas Nasrul. Itu Mas Nasrul, suamiku. Aku yakin. Siapa perempuan yang berani memposting foto suami orang lain?Irama yang berdetak di dalam dadaku tak lagi sama. Aliran darah di tubuhku terasa mengalir cepat keseluruh tubuh. Inginku berpikiran positif bahwa itu bukan suamiku, tapi sisi lain hatiku sangat meyakini itu memang dia. Mas Nasrulku.Bulir bening perlahan menetes di pipi, terasa hangat. Berbanding terbalik dengan bulir dari es yang menempel di dinding gelas tadi yang dingin. Sekali lagi kubaca caption yang tertera di atas foto.[Thanks love 💕 sudah meluangkan waktunya untuk makan siang denganku]Apa ini ada hubungannya dengan teleponku yang diriject? Kugigit bibir bawahku dengan kuat, menahan isak yang mulai menguat.Jangan main-main denganku, Mas! Jangan bangunkan singa yang sedang tidur. Aku sudah menuruti semua keinginanmu akan sikapku. Mengistirahatkan Ibu dari aktivitas rumah dan mengasuh Nada, yang







