LOGINAdrian kembali mencium bibir Meysa dengan tempo sedikit menuntut meninggalkan jejak kehangatan membuat Meysa mengerang pelan. Dia menindih tubuh Meysa hingga kulit mereka saling bersentuhan dan bergesekan membuat gelenyar aneh yang mulai mereka rasakan, bak sengatan listrik yang membuat bulu kuduk meremang.Satu persatu sisa pakaian di tubuh keduanya mulai Adrian lepaskan dan tercecer begitu saja di lantai kamar, kini tubuh keduanya sudah tak halangi sehelai benang pun. Rasa malu yang Meysa rasakan tadi mulai digantikan dengan perasaan mengebu, seperti ada tarikan magnet, dia mulai mengingkinkan lebih.Kamar yang luas itu begitu sunyi, hanya terdengar suara detik jarum jam dan suara decapan ciuman Meysa dan Adrian yang semakin lama semakin intes. Deru napas keduanya mulai memburu, keringat muncul ditubuh mereka membuat tubuh yang menempel itu terasa lengket.Adrian melepaskan ciumannya, dia bangkit dari posisinya lalu bergerak ke arah saklar lampu yang berada tak jauh dari sisi ranjan
Sentuhan pertama itu lembut, sebuah ketukan pelan di bibir seolah meminta izin. Tapi begitu tautan itu mengunci, segalanya berubah menjadi intens dan mendesak.Tangan Adrian bergerak cepat ke tengkuk Meysa, jemarinya tenggelam di antara helai rambutnya, menahan kepala Meysa agar tidak menjauh satu milimeter pun. Meysa membalasnya dengan cara yang sama, jemarinya meremas kemeja Adrian, menarik pria itu semakin rapat hingga tak ada lagi udara yang tersisa di antara dada mereka.Ciuman itu dalam, penuh tuntutan, dan sarat akan emosi yang selama ini mereka pendam. Setiap pagutan terasa seperti pembuktian bahwa mereka akhirnya benar-benar ada di sini, bersama. Napas mereka memburu, berkejaran dengan detak jantung yang berdentum bertalu-talu di balik rusuk. Adrian memiringkan kepalanya, memperdalam pautan, mengecap rasa manis yang selalu membuatnya hilang kendali, sementara Meysa melepaskan desahan pelan yang langsung tertelan di bibir Adrian.Waktu seolah melambat, tapi sensasi di sekitar
Me: Aku langsung pulang ke rumah setelah acara selesai, kakak titip ibu ya.Meysa tersenyum tipis setelah selesai mengirim pesan untuk Maya, meski sudah hampir tengah malam namun dia tetap mengirim pesan pada Maya karena tak ingin adiknya khawatir."Mey," panggil Adrian.Meysa meletakkan ponselnya ke meja rias menatap Adiran dari cermi besar dimana suaminya baru saja masuk ke kamar sambil membawa segelas cangkir di atas nampan."Buat kamu."Meysa berdiri dari duduknya lalu menghampiri suaminya yang duduk di sofa, tercium aroma harum dari coklat panas yang Adrian bawa."Minum selagi masih panas," ucap Adrian.Meysa mengangguk kemudian mengambil cangkir itu, Meysa meniupnya pelan sebelum meminumnya. Rasa manis dan hangat bercampur jadi satu membuat tubuh Meysa terasa rileks dan hangat."Hem...enak," puji Meysa."Benarkah?"Adrian meraih tangan Meysa lalu ikut meminum coklat itu dari cangkir yang sama. Meysa sedikit membelakan matanya terkejut karena tindakan Adrian yang tiba-tiba, kini
Ting.Layar tablet milik seorang reporter terkenal tiba-tiba menyala sesaat setelah Celine meletakkan ponselnya, pira itu lekas membuka pesan yang baru saja di kirim oleh Celine. Dia mengerutkan keningnya melihat isi pesan itu lengkap dengan keterangan serta foto seseorang pria paruh baya."Siapa ini, dan apa yang harus saya lakukan?" tanya reporter itu."Buat berita tentang pria ini, sesuai dengan apa yang aku kirim tadi.""Dia bukan siapa-siapa, hanya seorang pria yang sedang mendekam di penjara karena kasus korupsi.""Apa menariknya?" tanya reporter sambil menatap Celine.Celine mengangkat cangkir berisi kopi yang masih mengepul, dia menyeruput kopi panas itu lalu meletakkan kembali cangkirnya ke meja."Dia adalah ayah angkat dari istri Adrian Lysander.""Adrian Lysander? Dia sudah menikah?"Celine mengangguk sebagai jawaban. "Aku ingin berita ini tranding, sebisa mungkin meredam berita yang sedang naik sekarang."Reporter pria itu mnegangguk. "Aku akan mengirimnya pada tim editor,
"Apa maksud kamu?"Nora menatap layar ponselnya yang menujukkan sebuah foto seseorang lengkap dengan keterangan serta latar belakang hingga kehidupannya. Dia tidak mengetahui siapa seseorang yang baru saja dikirim oleh Celine, dia pun menatap sahabatnya dengan tatapan bingung.Celine hanya tersenyum sambil bersedekap dada."Cel, siapa pria dalam foto ini?""Ayah angkat pengasuh miskin itu," jawab Celine."Apa? Jadi, dia ayah angkat Meysa?"Celine mengangguk sebagai jawaban. "Benar, saat aku menyuruh orangku untuk nenyelidiki Meysa, mereka menemukan fakta ini. Awalnya, memang kebenaran ayah Meysa disembunyikan oleh keluarga karena meninggalkan jejak buruk untuk keluarga mereka.""Lalu, apa rencana kamu?" tanya Nora."Mudah saja, aku hanya perlu menyebarkan berita ini.""Apa kamu yakin, Cel?" tanya Nora sedikit ragu.Celine menegakan tubuhnya. "Setelah aku pikir-pikir lagi, tidak ada salahnya mencoba rencana ini. Aku punya beberapa kenalan media yang, ya...mungkin mereka mau kerja sama d
"Bagaimana semua bisa jadi seperti ini Nora? Bukankah Adrian adik kamu? Seharusnya kamu lebih bisa mengendalikan Adrian agar dia tidak berbuat seenaknya seperti ini pada kebijakan perusahaan.""Benar, dia memang CEOnya tapi bukan berarti dia bisa bertindak semaunya tanpa mempertimbangkan pendapat pemegang saham yang lain."Nora merasakan telinganya semakin panas ketika beberapa oknum pemegang saham serta petinggi perusahaan protes kepadanya, ini di luar kendalinya. Rencana awal mereka bukan seperti ini, namun kini dia justru mendapat protes dari beberapa petinggi."Maaf atas kekacauan yang terjadi di sini, kami juga tidak tahu rencana Adrian meski kami ini keluarga," ucap Bagas mencoba melindungi istrinya."Tapi kami juga butuh kejelasan, bagaimana pun kami juga memiliki hak atas perusahaan Lysander.""Sial, kenapa semua orang justru menyalahkan aku?" batin Nora kesal."Maaf tuan, tapi melihat bukti yang tuan Adrian berikan sudah lebih dari cukup untuk menyetujui keputusan beliau.""Sa







