MasukTring!
"Selamat! Hadiah dari tugas pertama telah diterima oleh Martis."Suara sistem kembali terdengar di telinga Martis.Martis melihat ada sebuah buku. Dan ternyata ketika dibuka dan membacanya itu terlihat seperti buku tabungan. Dan terselip sebuah kartu di dalam buku itu."Eh...? Ini apa? Ini seperti kartu-kartu yang digunakan oleh orang-orang kayak itu. Bukankah ini untuk menarik uang?"Martis membaca lagi buku itu. Ternyata di sana juga ada panduan bagaimana cara menggunakannya."Jadi begitu. Kalau begitu aku coba lihat deh. Cek Saldo!" ucap Martis.Setelah mengatakan itu, sistem muncul di hadapannya dan memperlihatkan saldo yang dimiliki Martis. Ia juga penasaran berapa uang yang ia dapatkan setelah menyelesaikan tugas pertamanya tadi."Wah! Ini..., ini banyak sekali!" ucap Martis.Martis melihat kalau sistem menampilkan saldo miliknya ada sepuluh juta. Wow! Hanya push-up seratus kali langsung mendapatkan uang sepuluh juta?"Aku bisa kaya mendadak kalau begini terus! Hahaha...! Tapi tunggu, kartu ini..., bisakah aku pakai? Bagaimana kalau uangnya tidak ada?" ucap Martis."Ah, aku coba saja besok. Kalau aku bisa mengambil dari mesin uang itu, tandanya sistem memang nyata," gumam Martis.Karena sangat bersemangat melihat-lihat informasi yang ada di dalam sistem, Martis pun akhirnya tertidur sampai larut malam.Marta masuk ke dalam kamar anaknya itu dan membalutkan tubuh Martis dengan selimut. Setelah mengecup kening Martis, Marta pun kembali ke kamarnya.***Besok paginya, Martis terlihat sangat ceria."Selamat pagi Ayah, Ibu!" seru Martis."Pagi juga. Wah, nampaknya anak Ibu ini sedang bahagia. Benarkah?" goda Marta."Hehehe..., iya Ibu. Ibu benar. Aku memang sedang merasa bahagia. Bahagia sekali bahkan!" jawab Martis.Setelah sarapan, kedua orang tua Martis seperti biasa pergi ke toko kue milik mereka. Jaraknya lumayan jauh dari rumah. Sedangkan Martis biasanya pergi keluyuran entah ke mana. Keseringannya Martis akan pergi ke pasar. Karena jika ada yang membutuhkan bantuan maka Martis lah yang akan membantu. Lumayan bila membantu-bantu di pasar Martis bisa mendapatkan uang dari upahnya. Walaupun kecil, tapi cukup untuk Martis gunakan membeli kebutuhan sehari-harinya.Terkadang Martis juga pergi ke toko kue orang tuanya untuk membantu.Namun hari ini, nampaknya Martis ingin mencoba mengambil uang dari kartu yang ia dapatkan dari sistem semalam."Aku akan coba. Kalau saja berhasil, aku ingin membelikan pakaian dan makanan enak untuk Ayah dan Ibu!" gumam Martis. Ia memandangi kartu itu kemudian keluar rumah menuju tempat pengambilan uang.Ketika di sepanjang jalan Martis sambil membaca-baca panduan di dalam sistem cara pengambilan uang. Karena ini memang pertama kalinya, Martis merasa gugup dan takut lupa bagaimana caranya.Beberapa puluh menit kemudian Martis pun sampai di tempat mesin penarikan uang."Hahaha...! Hey teman-teman, lihat siapa ini? Hahaha...! Ada anak cacat! Hahaha...!" ucap Markus."Hahaha...! Hey, mau apa kau kemari? Mau mengemis? Hahaha...!" ucap Adi."Hahaha...!" Lalu yang lainnya ikut tertawa."Bukan urusan kalian!" jawab Martis dengan nada ketus."Apa-apaan tatapanmu itu?" ucap Markus.Bugh!Markus mendorong bahu kanan Martis. Tapi ternyata tubuh Martis tidak jatuh. Bahkan tidak bergerak sedikitpun. Martis pun menyeringai."Hey! Cepat maju! Yang antri bukan hanya kalian saja tahu!"Namun dari belakang ada suara orang yang berteriak.Martis pun maju dan masuk ke dalam bilik mesin pengambilan uang."Cih! Sejak kapan anak cacat miskin itu memiliki kartu? Apakah dia mencuri?" ucap Markus."Entahlah Markus. Eh..., tapi Markus bukankah ini baik?" ucap Adi.Adi dan Markus saling pandang dan kemudian tertawa."Hahaha...!""Kau pasti sepemikiran denganku, bukan? Hem?" tanya Adi."Tentu saja. Kalau begitu, cepat kalian tunggu anak cacat miskin itu. Adi, kau ajak Jajat ke arah sana. Dan Febri, kau ajak Didit ke arah sana. Awasi lewat mana anak itu pergi," ucap Markus.Kemudian teman-teman Markus pun berpencar. Mereka menunggu di depan gang guna menunggu Martis. Ternyata mereka berlima berniat ingin merampas uang yang Martis ambil dari mesin pengambil uang tadi.Dan benar saja, beberapa menit kemudian Martis berjalan dan pergi dari sana. Kebetulan arah yang dituju Martis adalah arah di mana Adi dan Jajat sudah menunggu."Hahaha...! Kau lewat sini ternyata," ucap Adi.Suwiwit...!Jajat membunyikan kode dari mulutnya. Dan tak lama kemudian Didit dan Febri pun datang ke sana."Mau apa kalian? Kenapa kalian terus menggangguku? Kali ini, aku sarankan kalian jangan usil lagi kepadaku. Kalian akan menyesal kali ini. Percaya atau tidak? Hem?" ucap Martis dengan santai. Kali ini Martis merasa tenang dan sangat percaya diri."Hahaha...! Bualan macam apa lagi kali ini? Apa kau mengancam kami? Hu..., takut..., hahahaha...!" jawab Adi."Nampaknya ada seorang pencuri nih di sini, wah wah wah...! Bagaimana ini teman-teman?" ucap Jajat."Eh..., di mana? Di mana pencurinya?" ucap Adi.Aura kegelapan di dalam Aula Utama Istana Pusat Sektor Bintang Sembilan mendadak bergolak hebat. Asap racun hitam pekat memancar dari tubuh sang Raja Iblis Bintang Lautan, membentuk tentakel-tentakel bayangan beracun yang melilit takhta kristal tempat Kaisar Dewa Bintang Utama terbaring lemas. Raja Iblis Bintang Lautan tertawa melengking, suaranya menggetarkan pilar-pilar giok raksasa di sekeliling aula. "Manusia sombong! Kau pikir aura keemasan kecilmu itu bisa menandingi Racun Jiwa Purba yang telah meresap ke dalam Inti Takdir Sektor Bintang Sembilan?!" Martis melangkah maju sendirian di atas lantai kristal aula. Jubah keemasannya melambai tenang, sementara manik matanya seakan memancarkan kedalaman samudra keemasan yang begitu luas dan tak terukur. "Mia, Rian, amankan perimeter aula," perintah Martis tanpa mengalihkan pandangannya dari sang Raja Iblis. "Estias, Brakas... jaga pintu masuk dari sisa-sisa pasukan musuh." "SIAP, TUAN MARTIS!" Estias dan Brakas buru-buru berba
Tekanan Otoritas Dominion milik Martis mengguncang seluruh lapisan lautan awan emas. Jenderal Dewa Bintang Emas yang semula begitu angkuh kini berlutut merapat ke tanah, napasnya tersengal-sengal di bawah tatapan mata keemasan Martis. Ratusan prajurit berzirah emas di sekeliling mereka bahkan tidak sanggup mengangkat kepala. "P-Pengendali Sistem...?" bisik Jenderal Dewa dengan bibir gemetar. "Kekuatan penundukan otoritas ini... setara dengan Penguasa Tertinggi Sektor Bintang Sembilan." Martis mengibaskan jubah keemasannya secara perlahan. Dengan satu kedipan mata, tekanan gravitasi yang menghantam pasukan dewa itu mendadak mengendur, memberikan mereka ruang untuk bernapas kembali. "Kami datang ke Realm Dewa ini bukan untuk membawa kehancuran," ujar Martis dengan suara beratnya yang tenang. "Tetapi jika ada yang mencoba mengusik keluargaku, aku tidak keberatan meratakan seluruh Istana Langit ini." Estias dan Brakas yang melihat musuh sudah tertunduk lemas buru-buru melangkah ma
Begitu daun pintu Gerbang Realm Antar-Dimensi terbuka sempurna, gulungan cahaya keemasan bercampur biru perak meluncur keluar, menyelimuti seluruh padang kristal Ujung Utara. Hawa spiritual yang merembes dari balik gerbang felt begitu pekat, setiap detik napas yang dihirup di dekatnya terasa sanggup menaikkan kapasitas energi seseorang secara instan. Namun, reaksi pertama dari rombongan begitu kaki mereka bersiap melangkah masuk justru diwarnai kehebohan yang menggelikan. "T-Tuan Martis, tunggu sebentar!" teriak Estias panik seraya menahan langkah kaki raksasanya di ambang gerbang. Estias buru-buru menyuruh Brakas berdiri di depannya. Dengan jemari batu raksasanya yang kaku, Estias membetulkan letak mantel bulu pelangi berhias bunga matahari di tubuh Brakas, lalu menyisir rambut batu adiknya itu menggunakan telapak tangannya. "Kak Estias, kenapa aku dirapikan seperti mau menghadiri lamaran?!" bisik Brakas seraya berdiri tegap sambil menahan napas konyol. "Kau tidak paham, Br
Raja Iblis Es Purba melebarkan sepasang sayap kristal hitamnya yang membentang puluhan meter. Dengan satu kepakan keras, angin badai es beracun bertiup kencang membelah daratan Ujung Utara. Hujan jarum es hitam bernoda racun malapetaka meluncur deras menyasar ke arah rombongan! "Pasukan Serigala Es meledak saja sudah konyol, ini lagi hujan jarum bertabur racun!" jerit Estias seraya cepat-cepat menarik mantel bulu pelanginya menutupi seluruh kepala raksasanya. "Kak Estias! Mantel kita jangan sampai bolong, nanti hawa dingin masuk!" balas Brakas panik. Tanpa ragu, Brakas langsung melompat dan bersembunyi di bawah ketiak raksasa Estias, membuat kedua raksasa berzirah murni itu terlihat seperti satu gumpalan bulu pelangi raksasa bergelombang yang gemetaran konyol. "HOOH! Paman Batu dan Paman Zirah malah jadi benteng gumpalan bulu!" teriak Ikan Lele Hitam yang bersembunyi aman di balik sanggul anggun Mia. Mia tersenyum tipis, mengibaskan selendang cahaya peraknya ke udara. "Tirai
Pengumuman dari Ikan Lele Putih tentang Pilar Utara yang bersalju seketika mengubah suasana di lereng Gunung Api Purba yang baru saja pulih. Jika biasanya Estias dan Brakas berdiri gagah bagaikan pilar batu yang tak tergoyahkan, kali ini respons kedua raksasa pelindung itu benar-benar di luar dugaan. "S-Salju Abadi?!" bisik Estias dengan suara beratnya yang mendadak bergetar hebat. Raksasa batu berzirah emas-perak itu memegang dadanya yang dilapisi Zirah Pelindung Dominion Absolut, lalu pelan-pelan merosot duduk di atas batuan pasir hitam. Wajah garangnya mendadak pucat pasi. "Kak Estias... jangan bilang kalau..." Brakas ikut menegang. Ia reflek merapatkan kedua lengan zirah raksasanya ke badan, melipat tubuh tingginya hingga terlihat seperti benteng melingkar yang konyol. "Tubuh batu kita... kalau kena dingin ekstrem Utara... bersin sedikit saja bisa retak-retak!" "Benar, Adikku!" jerit Estias dramatis seraya memegang kepala raksasanya dengan kedua tangan. "Ingatkah kau kejad
Aura ketakutan seketika melingkupi pucuk Gunung Api Purba. Kebekuan kristal keemasan yang menahan aliran lahar raksasa itu seakan menjadi penanda batas antara kekuatan mahluk biasa dan sang Pengendali Sistem sejati. Jenderal Iblis Kerak Bumi meraung murka, tubuh lahar raksasanya membesar dua kali lipat akibat penolakan atas kekalahannya. "Manusia sombong! Aku dibuat dari Inti Magma Benua Utama! Kau tidak bisa menghancurkanku!" Sang Jenderal Iblis menerjang langsung ke arah Martis dengan kedua tangannya yang mengepal raksasa, membawa tekanan panas yang sanggup melumuri seluruh kawah menjadi abu dalam sekejap. Namun, Martis hanya menarik napas pelan. Matanya berkilat dengan pendaran sistem yang teramat pekat. "Memutarbalikkan Struktur Elemen: Inti Es Api Murni!" TRING! [Sistem Pengendali Utama: Mengeksekusi Reorganisasi Molekul Magma] [Efek: Mengubah Energi Panas Menjadi Segel Dominion Suci Absolut] WUSZZZZZZZT—BOOOOM! Tanpa sentuhan fisik sama sekali, gelombang aura k
Jackson adalah seorang pejuang yang terkenal di kalangannya. Dia dikenal karena kecepatan dan kekuatannya yang luar biasa, tetapi yang paling menonjol adalah kemampuan khususnya. Jackson memiliki kemampuan untuk memanipulasi waktu. Dalam pertempuran, dia bisa melambatkan waktu di sekitarnya, memberi
Akhirnya pengintai yang berhasil Martis tangkap langsung dibawa oleh Odele untuk diinterogasi.Namun nampaknya, kali ini orang itu benar-benar mengunci mulutnya dengan rapat. Setiap kali diancam dan bahkan dipukuli, orang itu hanya menyeringai. Dan lagi, ia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.Od
Martis pun bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang . Sebab, salah satu langkah saja, maka kehidupan di masa depan akan ada dampak buruknya. Maka dari itu, Martis akhirnya berpikir sejenak. Dalam hatinya Martis berkata, 'Sistem, apakah ada kemungkinan aku bisa menghubungi keluargaku di dimensi
Kali ini, pada tahapan selanjutnya, yaitu Tapak Ketiga, nampaknya Elnara mengalami sedikit kesulitan. Wajar saja, karena Martis sendiri pun tadi malam cukup kesulitan untuk bisa menguasai Tapak Ketiga ini. "Guru, apakah sesulit ini?" tanya Elnara, ia mulai terengah. "Begitulah. Elnara, jujur sa







