Share

Darah

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-10-18 22:38:28

“Asih, sekarang Ndoro Den ada di mana? Bantu aku siapkan baju, aku ingin menyusulnya. Aku tidak mau dia melakukan hal itu karena aku” gumam Nismara tegas dan masih berdiri di ambang pintu kamar mandi ketika kata-kata Asih menggantung di udara.

Penghapusan tradisi, itu hal paling berani yang pernah dilakukan oleh keturunan keluarga Sasmita secara turun temurun.

Satria rela menghadap sesepuh keluarga Sasmita hanya untuk menghapus kebiasaan yang sudah dijalankan turun-temurun. Artinya dia siap men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Untuk Ndoro   Darah Apa Itu?

    “Nismara kamu keguguran? Kamu hamill!”Teriakan Asih yang panik memenuhi pavilliun. Suaranya serak, penuh ketakutan, dan cukup keras hingga membuat dua pelayan yang tadi menemani Prameswari dan berdiri di luar pintu langsung memucat.Prameswari yang sedari tadi hanya mampu berdiri mematung, kini berbalik cepat. Matanya membelalak.“Apa…?”Asih tidak menjawab. Dia terlalu sibuk menahan tubuh Nismara yang mulai lemas. Darah masih mengalir pelan di antara paha Nismara, membasahi kain putih hingga ke lantai kayu. Nismara menggigit bibirnya hingga berdarah, napasnya pendek-pendek, keringat dingin sudah membasahi seluruh wajahnya.“Asih…tolong..sakit…Asih…” air mata Nismara bercucuran, wajahnya kian pucat.“Tolong panggilkan dokter… cepat!” Asih berteriak lagi, kali ini lebih histeris. “Ndoro Putri pendarahan!”Suara keramaian langsung memenuhi koridor. Beberapa pelayan berlari masuk, wajah mereka pucat pasi saat melihat genangan darah. Seseorang berteriak meminta air panas, yang lain berla

  • Madu Untuk Ndoro   Darah

    “Asih, sekarang Ndoro Den ada di mana? Bantu aku siapkan baju, aku ingin menyusulnya. Aku tidak mau dia melakukan hal itu karena aku” gumam Nismara tegas dan masih berdiri di ambang pintu kamar mandi ketika kata-kata Asih menggantung di udara.Penghapusan tradisi, itu hal paling berani yang pernah dilakukan oleh keturunan keluarga Sasmita secara turun temurun.Satria rela menghadap sesepuh keluarga Sasmita hanya untuk menghapus kebiasaan yang sudah dijalankan turun-temurun. Artinya dia siap menanggung segala risiko—termasuk kehilangan gelar sebagai pewaris utama.Dada Nismara terasa sesak. Dia menunduk, memandang jari-jari kakinya yang masih sedikit gemetar. Semalam tubuhnya sudah dipaksa melewati batas, dan pagi ini berita itu datang menampar lebih keras dari apa pun.“Asih…” suaranya pelan. “Kamu yakin benar mendengarnya?”Asih mengangguk antusias. “Benar, Nismara. Ndoro Den bilang dia tidak mau lagi ada perempuan lain. Hanya Nismara!.”Nismara menghela napas panjang. Dia hendak mel

  • Madu Untuk Ndoro   Kalau Bukan Kamu, Aku Tidak Akan Menyentuhnya!

    “Tidak Mas! Aku tidak ingin memiliki anak darimu!” Nismara mendorong tubuh Satria dari atas tubuhnya pelan tapi sedikit bertenaga.Namun Satria tidak serta merta menurut begitu saja, ia mengunci tangan Nismara di atas kepalanya dengan posisi masih sama. Tubuh berkeringat dan lengket mereka masih saling menempel.“Nismara, kalau kamu memang percaya padaku seharusnya tidak masalah kita memiliki anak”Nismara menggeleng kuat “Tidak! Tidak Mas Satria! Tidak sampai statusku jelas!”Satria menatap lurus netra hitam Nismara yang berkilat tajam “Jadi kamu tidak percaya padaku?” tanyanya.Nismara mencoba melepaskan diri, tapi percuma. Walaupun kejantanan Satria sudah tidak setegang tadi di dalam tubuhnya tapi tangannya yang terkunci itu membuat tekanan demi tekanan yang diberikan Satria membuat tubuh Nismara bergetar, area intimnya berdenyut kembali.“Mas Satria..aku bukan tidak percaya! Tapi, apa Mas Satria nggak kasihan dengan anak kita nanti kalau keadaan kita masih seperti ini? Lihat Ndor

  • Madu Untuk Ndoro   Ingin Punya Anak Darimu

    Satria mengangkat wajah sejenak. “Bilang saja kalau mau berhenti.”Nismara menggeleng kecil, kemudian tersenyum. “Jangan berhenti.” Satu kalimat saja cukup membakar gairah yang ada di dalam diri Satria.Satria menarik turun sisa gaun Nismara dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati dari sebelumnya. Kain itu meluncur dari bahu, tersangkut sejenak di siku, lalu jatuh ke pinggang. Payudara Nismara terekspos di bawah cahaya lampu yang redup. Satria menatapnya lama, seolah menghafal, lalu menunduk.“Ah..Nismara…aku rindu…” desahnya pelan. Dada Nismara naik turun menikmati sentuhan demi sentuhan itu, lembut tapi mengirimkan ketegangan yang besar.“Mas…Pelan…” dia mengerang dengan suara tertahan.Lidahnya menyentuh pucuk yang sudah mengeras, menjilat pelan, lalu menghisap. Nismara tersentak, tangan mencengkeram rambut Satria. Satria tidak buru-buru. Ia menghabiskan waktu di sana, berganti dari satu sisi ke sisi lain, memilin dengan lidah, menggigit sangat pelan hingga Nismara mengerang ter

  • Madu Untuk Ndoro   Kamu Satu-Satunya!

    “Kamu… serius?” tanya Satria dengan suara yang bergetar.Nismara mengangguk kecil. Rambutnya yang sedikit berantakan jatuh menutupi sisi wajahnya. “Aku tidak bilang aku sudah sepenuhnya percaya. Aku juga tidak bilang semua amarahku sudah hilang. Masih ada luka dan juga banyak pertanyaan. Tapi… aku akan mencoba menunggu. Asalkan Mas tidak lagi memaksaku. Tidak lagi menarikku kasar seperti tadi. Dan tidak lagi membuatku merasa seperti aku hanya benda yang bisa diatur sesuka hati.”Satria menunduk. Keningnya menempel di lutut Nismara sejenak. Napasnya berat, hangat, dan gemetar. Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka.“Aku janji,” bisiknya. Suaranya hampir tenggelam di kain gaun Nismara. “Aku akan berusaha lebih baik. Aku tidak akan memaksamu lagi seperti tadi. Aku akan belajar… menjadi seseorang yang bisa kamu percaya tanpa harus takut.”Nismara mengulurkan tangan. Gerakannya ragu-ragu di awal, seolah masih menimbang. Lalu jari-jarinya menyentuh rambut

  • Madu Untuk Ndoro   Janji

    “Mas…!”Pekikan Nismara memecah udara di dalam paviliun. Suara itu pelan, tapi cukup untuk menghentikan segalanya.Satria membeku di tempat. Tangannya yang sempat menarik kain gaun Nismara berhenti di tengah gerakan. Napasnya masih memburu dan…berat, dadanya naik-turun tak beraturan, tapi matanya melebar—seolah baru saja tersadar dari sebuah mimpi buruk yang ia ciptakan sendiri. Jari-jarinya masih mencengkeram sobekan kecil di bahu gaun itu, dan ia bisa merasakan getaran halus di ujung jarinya.Keheningan yang menyusul terasa jauh lebih berat daripada amarah mana pun.Satria melepaskan cengkeramannya pelan-pelan, seolah takut kalau ia bergerak terlalu cepat, Nismara akan hancur di hadapannya. Ia mundur satu langkah, lalu dua langkah. Jarak yang ia ciptakan terasa seperti tembok. Jari-jarinya gemetar di sisi tubuhnya. Bukan karena marah yang belum selesai, melainkan karena takut. Takut pada dirinya sendiri dan juga takut pada apa yang hampir ia lakukan.“Maaf…” suaranya serak, hampir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status