Masuk"Ya Gusti... Mas Satria... siapa yang melakukan ini?"Nismara menahan napas. Di bawah remang lampu minyak, isi kamar itu sudah tak lagi sama. Kasur berantakan, isi lemari pakaian berserakan di atas lantai batu, dan meja riasnya sudah bergeser—seperti baru saja diacak-acak oleh seseorang secara terburu-buru.Satria tidak menjawab. Ketegangan yang membeku di rahangnya berganti menjadi emosi yang menggulung di dalam mata merahnya. Satria menurunkan tubuh Nismara perlahan, memastikan Nismara bertumpu dengan aman di tepi dipan yang sprei kainnya sudah terkoyak separuh."Sastro!" panggil Satria. Suaranya tidak teriak, tapi gaungnya membelah malam di sepanjang koridor kaputren.Dalam hitungan detik, langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat. Sastro muncul di ambang pintu, napasnya memburu. Namun, begitu matanya menangkap pemandangan di dalam kamar, wajah abdi dalem kepercayaan itu seketika pucat pasi."Ndoro Den..." gagap Sastro, tangannya gemetar di sisi tubuh. "Demi Gusti, saya... saya
"Bagaimana kalau saya menolak?"Suara Satria bergema tenang di seluruh ruangan Sasana Agung. Sama sekali tidak terdengar getaran ketakutan dalam nadanya, hanya ketegasan yang mendinginkan suasana. Dengan tingginya yang hampir dua meter, Satria berdiri menjulang, menatap Pangarsa Sesepuh tanpa berkedip.Langkah kaki Satria maju satu tapak, menyembunyikan posisi Nismara di belakang punggung tegapnya."Pangarsa bicara soal aturan adat dan pengabaian istri sah," lanjut Satria dengan senyum sinis yang sangat tipis. "Tetapi bukankah Sasana Agung juga punya aturan dasar? Seorang Tuan Muda yang memegang pucuk kepemimpinan bisnis dan aset trah memiliki hak veto atas urusan kaputrennya sendiri, selama keputusan itu tidak merugikan keuangan keluarga."Para tetua yang duduk melingkar mulai saling pandang. Kasak-kusuk pelan kembali terdengar di antara mereka."Satria!" tegur Raden Arya Pradipta seraya melangkah mendekat, wajahnya memerah menahan gusar. "Jangan coba-coba menggunakan celah aturan u
Panggilan yang disampaikan lewat Sastro itu menggantung di udara, memutus duka yang belum sepenuhnya mereda. Satria tak langsung menjawab. Tangannya masih mendekap tubuh Nismara, seolah mengukuhkan benteng terakhir sebelum badai yang sebenarnya menghantam mereka."Mas..." bisik Nismara parau, suaranya hampir tenggelam di balik dada bidang Satria.Satria melonggarkan pelukan perlahan. Matanya yang memerah menatap Nismara dengan sorot terluka, lalu beralih menatap pintu kayu yang masih terkunci."Katakan pada Pangarsa Sesepuh, kami akan segera menghadap, tapi nggak sekarang. Keadaan Nismara sedang tidak baik." sahut Satria dingin, suaranya datar namun sarat ancaman yang terselubung.Dari balik pintu, langkah kaki Sastro terdengar menjauh secara perlahan. Keheningan kembali menyergap keputren, tapi kali ini bukan keheningan hampa pasca-duka, melainkan ketegangan yang merambat cepat ke setiap sudut ruangan.Satria bergeser, mengambil selendang kain batik dan kain tapih kering dari dalam
Saat membuka mata, Nismara merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Ia merasa tubuhnya seperti bukan miliknya lagi.Ada rasa kosong yang dalam di perut bawahnya—bukan sekadar sakit, melainkan rasa hampa, walaupun dia baru tahu ada calon bayi di perutnya tak beberapa minggu yang lalu.Pinggangnya terasa pegal, seolah baru saja digilas. Paha dalamnya basah oleh keringat dingin dan sisa darah yang sudah mengering. Napasnya pendek. Setiap kali dia mencoba menggerakkan kaki, rasa nyeri tumpul langsung menjalar dari rahimnya yang kini terasa lenggang.Tangannya secara refleks menyentuh perut. Datar. Tidak ada apa-apa.“Mas Satria…” desahnya lirih.Air mata langsung menetes tanpa suara.“Bayinya… sudah tidak ada.” tambahnya lagi dengan air mata yang berurai.Ruangan kaputren terasa sunyi. Hanya terdengar deru angin pelan dari celah jendela kayu dan aroma minyak herbal yang masih menggantung di udara. Di samping dipannya, Satria duduk membungkuk. Kedua sikunya bertumpu di lutut, ke
“Nismara kamu keguguran? Kamu hamill!”Teriakan Asih yang panik memenuhi pavilliun. Suaranya serak, penuh ketakutan, dan cukup keras hingga membuat dua pelayan yang tadi menemani Prameswari dan berdiri di luar pintu langsung memucat.Prameswari yang sedari tadi hanya mampu berdiri mematung, kini berbalik cepat. Matanya membelalak.“Apa…?”Asih tidak menjawab. Dia terlalu sibuk menahan tubuh Nismara yang mulai lemas. Darah masih mengalir pelan di antara paha Nismara, membasahi kain putih hingga ke lantai kayu. Nismara menggigit bibirnya hingga berdarah, napasnya pendek-pendek, keringat dingin sudah membasahi seluruh wajahnya.“Asih…tolong..sakit…Asih…” air mata Nismara bercucuran, wajahnya kian pucat.“Tolong panggilkan dokter… cepat!” Asih berteriak lagi, kali ini lebih histeris. “Ndoro Putri pendarahan!”Suara keramaian langsung memenuhi koridor. Beberapa pelayan berlari masuk, wajah mereka pucat pasi saat melihat genangan darah. Seseorang berteriak meminta air panas, yang lain berla
“Asih, sekarang Ndoro Den ada di mana? Bantu aku siapkan baju, aku ingin menyusulnya. Aku tidak mau dia melakukan hal itu karena aku” gumam Nismara tegas dan masih berdiri di ambang pintu kamar mandi ketika kata-kata Asih menggantung di udara.Penghapusan tradisi, itu hal paling berani yang pernah dilakukan oleh keturunan keluarga Sasmita secara turun temurun.Satria rela menghadap sesepuh keluarga Sasmita hanya untuk menghapus kebiasaan yang sudah dijalankan turun-temurun. Artinya dia siap menanggung segala risiko—termasuk kehilangan gelar sebagai pewaris utama.Dada Nismara terasa sesak. Dia menunduk, memandang jari-jari kakinya yang masih sedikit gemetar. Semalam tubuhnya sudah dipaksa melewati batas, dan pagi ini berita itu datang menampar lebih keras dari apa pun.“Asih…” suaranya pelan. “Kamu yakin benar mendengarnya?”Asih mengangguk antusias. “Benar, Nismara. Ndoro Den bilang dia tidak mau lagi ada perempuan lain. Hanya Nismara!.”Nismara menghela napas panjang. Dia hendak mel







