Home / Romansa / Madu Untuk Ndoro / Jangan Meninggalkan Bekas!

Share

Jangan Meninggalkan Bekas!

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-08-10 17:52:53
“Ndoro Den… jangan… saya…tidak bisa,” bisik Nismara bergetar, merapatkan kedua lengannya di dada untuk melindungi diri.

“Jangan takut…” balas Satria pelan, mengulurkan tangan lalu membuka jubah luarnya hingga jatuh meluncur ke lantai.

Beberapa detik kemudian.

Ceklek!

Pintu kamar mendadak terbuka lebar.

“Kalian belum selesai?” Tanya Prameswari saat masuk ke dalam kamar. “Mas Satria?” Tanya Pramesari. Mendengar suara Prameswari, Nismara takut kalau Prameswari tahu malam ini dia tidak melakukan apa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Untuk Ndoro   Tetap Di Sisiku

    Sastro membelalakkan matanya, menatap skema tembikar di gerobak lalu beralih menatap Satria. "Ndoro... cara ini logis. Saluran air di belakang gudang memang selalu dingin sepanjang hari."Satria menatap Nismara dengan pandangan yang dalam. Di tengah cacian dan tuduhan sebagai gundik dari warga yang dibelanya, wanita ini tidak sedikit pun menunjukkan rasa dendam. Ia justru berdiri di sana, membawa solusi praktis di saat semua orang kehilangan akal sehat.Satria mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi imbauan tegas agar massa yang berkumpul bisa menahan diri."Tenang semuanya! Dengarkan saya!" bentak Satria dengan nada bariton yang berwibawa, memotong keributan di pelataran. "Masalah ini sedang diselesaikan sekarang juga. Beri kami waktu untuk mengarahkan pekerjaan di gudang tengah ini. Saya jamin hasil panen kalian tidak akan terbuang sia-sia!"Namun, salah satu tetua kuli menyela kasar seraya menunjuk ke arah tembikar di gerobak Nismara. "Bagaimana kami bisa tenang, Ndoro? Ndoro

  • Madu Untuk Ndoro   Bantuan Nismara

    Kegaduhan di area gudang tengah terdengar hingga ke batas perkebunan. Puluhan warga dan kuli panggul mengepung halaman gudang yang berdebu. Suara teriakan panik bercampur amarah bersahut-sahutan di udara pagi yang kian menghangat. Bau asam dari tumpukan daun teh dan buah-buahan yang mulai membusuk tercium menyengat, tertahan oleh hawa lembap yang terperangkap di dalam bangunan bambu tersebut.Satria berdiri di pelataran gudang, dikelilingi oleh Sastro dan beberapa kepala mandor yang tampak pucat pasi."Bagaimana bisa stok kapur tohor di gudang belakang kosong, Sastro?!" tanya Satria dengan nada suara kaku dan menegang.Sastro menunduk dalam-dalam, dadanya naik turun karena panik. "Saya tidak tahu, Ndoro Den... Kemarin sore batu kapur dan arang jati itu masih menumpuk di lumbung belakang. Tapi saat para kuli hendak mengambilnya tadi pagi, gemboknya sudah rusak dan bahannya sudah dibuang ke sungai dekat lembah. Tidak ada yang tersisa."Satria mengepalkan tangannya rapat-rapat. Sabota

  • Madu Untuk Ndoro   Tinggalkan Satria

    "Wah... hebat sekali, seorang pelayan sekarang berakting menjadi seorang juragan yang sok ngatur dan memiliki kuasa."Suara itu terdengar sangat lantang dibarengi dengan tepuk tangan lambat yang bergema di koridor kaputren. Raden Mas Subroto melangkah masuk dengan tenang, memamerkan senyum tipis yang sarat akan sindiran.Nismara tidak mau mencari masalah. Ia menundukkan kepalanya sedikit dan menyatukan jemari di depan dada, memberi hormat layaknya aturan kesopanan di rumah ini."Jadi... di kaputren ini Nyonya besarnya kamu? Bukan Prameswari?" sindir Subroto pedas. Matanya meneliti Nismara dari ujung kepala hingga ujung kaki.Nismara masih tak menyahut. Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan kepanikan meski pria di hadapannya inilah yang menyuruh Asih mencuri buku catatan pribadinya."Benar-benar punya nyali," timpal Subroto lagi. Ia melangkah satu tapak lebih dekat. "Siapa yang menyangka, hm? Prameswari membawa kehancurannya sendiri ke kaputren ini."Jemari Nismara meremas erat pinggir

  • Madu Untuk Ndoro   Pengkhianat

    "Asih, kamu tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?" tanya Nismara setelah kepergian Satria.Ia memanggil Asih berdiri di sudut ruangan kaputren yang sepi. Angin pagi berembus dingin menembus celah jendela kayu, memiringkan nyala lilin kecil di atas meja."A-aku tidak tahu, Nismara... memangnya ada apa?" sahut Asih dengan suara gugup. Matanya bergerak gelisah, tak berani menatap langsung sepasang mata Nismara. Jemari tangannya meremas ujung kain sampingnya erat-erat."Aku kehilangan barang penting... hanya sebuah buku, tapi buku itu sangat penting," ucap Nismara tegas, suaranya pelan namun memancarkan tekanan yang menuntut kejujuran.Wajah Asih seketika memucat. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan gerakan panik. "Aku tidak tahu... aku hanya membantu bersih-bersih di kamar depan. Aku tidak tahu, sumpah!""Aku nggak menuduhmu... aku hanya cerita aku kehilangan buku penting itu," balas Nismara tenang. Ia melangkah mendekati Asih, menghentikan langkahnya tepat dua tapak di depan p

  • Madu Untuk Ndoro   Ingatan Yang Tersisa

    Satria lari terburu-buru menatap kotak yang ada di hadapan Nismara."Nggak mungkin... di sini tidak ada yang masuk selain penggeledahan waktu itu... tapi saat itu barang itu masih ada," bisik Satria dengan raut kaku.Nismara mengangguk pelan. Jemarinya mematung di atas peti kayu yang kini dasarnya tampak kosong melompong. Hanya tersisa sisa kain sampul kusam yang melapisi bagian bawah kotak.Satria tampak putus asa. Nismara sendiri bingung bagaimana mungkin buku bersampul kulit yang warna kertasnya mulai menguning itu bisa hilang. Dia sangat yakin benda itu masih ada beberapa hari yang lalu saat ia merapikan pakaian-pakaian lamanya."Bagaimana ini..." desis Satria. Suaranya pelan, namun bergetar menahan tekanan besar yang mendadak kembali menghimpit dadanya.Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Satria memutar tubuhnya dan melangkah cepat keluar dari kamar. Langkah kakinya yang berat menggerus lantai kayu kaputren, menuju meja kerjanya di sudut ruangan tengah. Satria menarik laci-la

  • Madu Untuk Ndoro   Buku Itu....

    "Siapa yang memerintahkanmu masuk ke sini?!" bentak Satria.Satria sejujurnya terkejut dengan kedatangan Prameswari yang tiba-tiba, lagipula sejak kapan wanita itu peduli dengan warga dan hasil panen? Tatapan Satria memadam, pegangan tangannya pada jemari Nismara terlepas perlahan saat ia berdiri pasang badan membelakangi Nismara."Ingat Prameswari, aku belum membuat perhitungan denganmu gara-gara kejadian semalam!" tambah Satria dingin.Prameswari menyilangkan kedua tangannya di dada, melangkah masuk dengan gaun sutra mewahnya yang berdesir menggeser lantai kayu. Tatapannya menatap tajam ke arah Satria, mengabaikan keberadaan Nismara yang memilih diam menonton perdebatan suami-istri tersebut di balik punggung Satria."Mas... kamu gila, ya! Aku ini semalam juga minum, kamu lihat sendiri. Kamu sendiri yang mencari-cari alasan. Aku saja baik-baik saja," cibir Prameswari dengan nada sinis, mengibaskan tangannya seolah tuduhan Satria soal racun herbal semalam hanyalah isapan jempol semat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status