ログイン"Budhe... Bibi Kirana cerita banyak hal. Kenapa Budhe malah panik? Budhe pasti kenal Bibiku, kan?" tanya Nismara polos, menatap wanita tua itu dengan nada suara yang tenang.Budhe Murni menggeleng kuat-kuat."Aneh... Harusnya kenal sih. Kata Bibi, dia sudah ada di dekat Ibu dan Ayah jauh sebelum aku lahir," gumam Nismara pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri."Nismara... Kamu dan Ndoro Den sudah tahu semuanya?" tanya Budhe Murni, nadanya kian panik.Nismara mengangguk pelan. Sebuah anggukan polos, sebab ia sendiri sebenarnya tidak benar-benar paham arti kata 'semuanya' yang dimaksud oleh Budhe Murni.Reaksi itu membuat Budhe Murni seketika bergeser turun dari tepi dipan. Wanita tua itu duduk bersimpuh di atas tanah dingin, tepat di kaki Nismara. Dari sudut ruangan, Satria mengawasi gestur itu dengan mata dingin. Ia memberi isyarat gelengan kepala saat Nismara hendak bergerak membantunya berdiri."Ampuni Budhemu ini, Nismara... Budhe tidak pernah bermaksud jahat. Kebaikan da
"Budhe... dari dulu aku selalu menganggap Budhe seperti orangtuaku sendiri. Budhe selalu ada di sampingku... Jadi ternyata, semua itu cuma pura-pura?"Budhe Murni tidak menjawab. Wajah tuanya tetap menunduk dalam.Nismara tersenyum tipis—sebuah senyuman getir yang menyembunyikan rasa kecewanya. "Aku nggak marah kok sama Budhe. Aku masih ingat semua kebaikan Budhe padaku selama ini... Aku cuma butuh alasan Budhe."Lagi-lagi, tak ada suara yang keluar dari bibir keriput wanita itu.Nismara berlutut pelan di hadapan kursi kayu tersebut. Tangannya terulur meraih pipi Budhe Murni, lalu mengusap air mata yang menetes di sana dengan ibu jarinya."Budhe... Boleh katakan padaku kenapa?" bujuk Nismara lembut.Tetap hening. Budhe Murni mengatupkan bibirnya rapat-rapat, enggan membalas tatapan Nismara.Nismara menarik napas panjang, lalu berdiri dan berbalik menatap Satria yang sejak tadi mengawasi dari sudut ruangan."Mas Satria, boleh nggak aku lepas ikatannya? Tangan Budhe pasti sakit..." pint
"M-Mas... Nd-Ndoro Den... kenapa kita ke sini? Jangan kurung saya lagi..." suara Nismara gemetar, jelas sekali kalau dia ketakutan. Trauma masa lalu di gubuk kayu itu mendadak bangkit, memutarkan kembali memori kelam saat Satria menahannya secara paksa di tempat yang sama. Jemari Nismara cemas meremas sabuk pengaman, matanya bergerak liar menatap pepohonan rindang yang kini dibasahi rintik hujan.Satria bergeser mendekat. Tangannya terulur menyentuh lembut siku Nismara, ingin meyakinkan kalau dia akan baik-baik saja."Nismara, tenang..." bisik Satria lembut, suaranya sarat akan rasa bersalah saat melihat kilat ketakutan di mata gadis itu.Nismara menggeleng cepat, ia masih menatap Satria dengan tatapan curiga."Aku tidak akan mengurungmu lagi," lanjut Satria mantap, menatap lurus manik mata Nismara yang bergetar. "Kita ke sini untuk bertemu dengan seseorang yang ada di dalam."Nismara menghembuskan napas panjang, gumpalan sesak di dadanya perlahan melonggar. "Si-siapa?""Nanti kamu j
Suasana yang tadinya tegang dan penuh perdebatan langsung berubah hening.Pengakuan Kirana yang menggantung di udara menahan langkah Satria dan Nismara. Niat mereka untuk segera memasuki mobil dan melintasi jalanan desa sirnah seketika. Satria memutar langkah, berbalik menatap Kirana yang masih berdiri tegak di ambang pintu dengan keangkuhan yang sebenarnya malah menunjukkan betapa rapuhnya dia."Bibi... sepertinya Bibi berutang penjelasan kepada kami," tagih Satria dingin, suaranya tenang namun penuh dengan tekanan sebagai pria yang kini merasa bertanggung jawab melindungi Nismara.Kirana masih bersikap tak acuh. Senyum sinis terpatri di bibir merahnya seraya menyilangkan kedua tangan di dada. "Siapa kamu sampai merasa berhak memerintahku?" Satria hendak melangkah maju, namun jemari lembut Nismara menyentuh lengannya, menahannya secara halus. Nismara maju satu langkah, menatap lurus mata bibinya tanpa rasa takut."Bibi benar, Mas Satria atau aku tidak punya hak untuk memaksa Bibi m
"Bibi Kirana... kenapa kami tidak dapat bersatu?"Langkah Nismara terhenti. Ia melepaskan genggaman tangan Satria, lalu berbalik mendekati Kirana. Dua tangannya terulur meraih jemari dingin bibinya yang terkepal kaku. Nismara tidak ingin kembali ke Tirtawening membawa rasa penasaran yang memenuhi rongga dadanya—terutama melihat sikap buruk Kirana yang terus memusuhi mendiang ibunya, Kejora.Kirana menarik tangannya kasar dari genggaman Nismara. Sebuah dengusan napas disertai tatapan sinis mengiringi penolakannya."Apakah karena ibuku, Bibi jadi sangat membenciku?" kejar Nismara lagi, matanya menatap lurus menuntut kejujuran."Nismara... sudah, Nduk. Tidak usah kamu pikirkan," potong Kakek lembut dari tepi meja. Suaranya terdengar lelah, mencoba menengahi badai emosi yang hendak pecah. Namun, kakek Nismara kenal putrinya itu dengan baik. Tidak pandai menahan emosi.Kirana menoleh pada sang Ayah, membalas tatapan ayahnya yang sudah rentah itu dengan gelengan kepala pelan dan senyum pah
Suara denting sendok di atas meja kayu jati itu menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan pagi. Kakek menyantap sarapannya perlahan, menatap Nismara yang sejak tadi hanya menunduk memperhatikan piringnya sendiri.“Nduk…kamu sangat kurus, makan yang banyak” ujar kakek menyendokkan sepotong daging ke piring Nismara. Nismara mendongak dan tersenyum “Makasih, kek!” Di sudut lain, Kirana duduk tegak menatap Satria dengan sorot mata dingin yang sengaja dipamerkan, sesekali menyesap teh dari cangkirnya tanpa minat. Semua orang dapat melihat kalau Kirana merasa tersiksa di sekeliling mereka.Satria meletakkan sendoknya, mengusap sudut bibirnya dengan sapu tangan, lalu menggeser posisi duduk menghadap sang Kakek. Wajah tegasnya tampak tenang."Kakek," panggil Satria hangat. "Sebelum kami pamit kembali ke Tirtawening pagi ini, ada satu hal penting yang ingin saya lakukan secara resmi di hadapan Kakek."Kakek menghentikan kunyahannya, lalu menyapu wajah Satria dengan pandangan penuh







