Share

Kamu Berbeda

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-11-04 22:37:44

Sentuhan bibir Satria di atas bibir Nismara terasa menekan dalam dan menuntut. Amarah atas prasangka para sesepuh serta dorongan kuat untuk melindunginya melebur jadi satu dalam dorongan yang menahan napas.

Nismara menahan napasnya sejenak. Hawa hangat dari dada basah Satria meresap menembus kain kemben tipisnya. Jemari Nismara yang tadinya ragu di bahu Satria perlahan mencengkeram kulit basah pria itu saat tubuhnya ditarik semakin rapat dalam dekapan.

Satria tidak memberi jeda. Tangannya yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Untuk Ndoro   Tidak Akan Melepasmu

    "Nismara, kamu berhutang penjelasan padaku!" desak Satria begitu Prameswari dan Mbok Na melangkah pergi meninggalkan kaputren.Nismara mengangguk pelan. "Iya, seperti Mas Satria juga berhutang penjelasan padaku."Satria menatap Nismara dengan tatapan penuh tanda tanya. Sepasang alis tebalnya bertaut kaku di atas matanya."Sebelum Mas Satria meminta penjelasanku, apa Mas Satria bisa jelaskan kenapa Mas Satria sembunyikan semua hal ini dariku?" lanjut Nismara lurus.Satria diam. Tatapan mata elangnya yang biasa tajam dan mengintimidasi itu tiba-tiba saja meredup. Ia tidak langsung menjawab, membiarkan keheningan tegang mengendap di antara mereka di koridor kayu yang sepi."Tidak bisa menjelaskan?" desis Nismara pelan namun tegas. "Aku menunggu Mas Satria menjelaskannya sendiri, tapi sampai detik ini aku tidak mendapatkannya. Kebetulan kehadiran Ndoro Ayu memaksaku melakukannya."Satria menghembuskan napas berat. Pria tegap itu melangkah satu tapak maju, mencoba meraih jemari Nismara, na

  • Madu Untuk Ndoro   Taruhan

    Nismara tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Satria yang berdiri mematung di ambang pintu. Raut tegap pria itu tak mampu menyembunyikan nada terkejut yang dalam. Sepasang mata elang Satria menatap lembaran kertas segel tua di jemari Nismara dengan kening berkerut—sebab setahunya, dokumen tua milik almarhum Haryo itu tersimpan rapat di dalam kotak besi terkunci di ruang kerjanya.Kapan Nismara mengambilnya?"Nismara..." panggil Satria rendah, suara baritonnya mengudara kaku menahan berbagai tanya."Maafkan saya sudah lancang, Mas Satria," tutur Nismara lembut namun penuh penekanan jernih. Pandangannya beradu lurus dengan mata Satria. "Tapi saya harus melakukan ini untuk melindungi diri."Prameswari yang tadinya terisak mendadak berdiri kaku. Isak tangis buatan yang membasahi pipinya seolah mengering seketika, tergantikan oleh keraguan liar yang memenuhi dadanya."Nis-Nismara... aku tidak tahu apa maksudmu!" ceplos Prameswari gagap, jemarinya meremas kain jaritnya sendiri.Nismara meny

  • Madu Untuk Ndoro   Kesempatan

    Satria mendekati Prameswari, menyambar lengannya kemudian setelah itu menyeretnya keluar.“Apalagi yang kamu rencanakan, hm? Surat pemeriksaan apa? Status? Sebelum pemerintah itu ada tradisi ini sudah ada. Jadi, tidak ada yang bisa mempertanyakan status Nismara lagi di sini!” gertak Satria.Prameswari menatap Satria dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.“Mas-Mas Satria…lepaskan dulu! Ini Sakit. Aku hanya menyampaikan surat ini…Pangarsa sesepuh setuju kalau keberadaan Nismara sudah tidak berguna di sini, karena….”“Karena apa?” potong Satria.“Karena tradisi itu hanya berlaku jika istri sah sedang hamil! Mas Satria sendiri yang membuat kami melaporkan ini karena Mas Satria tidak bisa diajak kerjasama” jelas Prameswari.“Ini usaha terakhirmu, Prameswari! Surat ini tidak berlaku disini karena tradisi di sini lebih kuat dari surat-surat itu. Mungkin Kanjeng Eyang sudah terlalu tua dan pikun.” sindir Satria.Prameswari langsung diam.Nismara hanya melihat dari kejauhan, Prameswari masih b

  • Madu Untuk Ndoro   Kekacauan

    "Ndoro Den! Ndoro Den Satria!" panggil Sastro setengah berbisik namun panik.Satria memutar tubuhnya, menatap Sastro dengan dahi berkerut kencang. "Ada apa, Sastro? Pekerjaan saluran tembikar di gudang tengah terhambat?"Sastro menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Matanya bergerak liar menatap ke sekeliling pelataran yang masih sepi."Bukan gudang tengah, Ndoro..." cicit Sastro dengan suara gemetar."Pagi-pagi sekali tadi, kuli ronda menemukan utusan dari kantor karesidenan kota sudah berdiri di gerbang bawah bersama rombongan kompi tentara KNIL. Tapi bukan itu yang membuat rumit...""Bicara yang jelas!" potong Satria tegas.Sastro menelan ludah dengan susah payah. "Ndoro Ayu Prameswari... beliau baru saja tiba kembali dari kota karesidenan bersama ayahnya. Tapi beliau tidak pulang ke kaputren, Ndoro. Nyonya Prameswari langsung menuju ke kediaman Pangarsa Sesepuh membawa dokumen penyitaan resmi tanah lahan barat."Satria memejamkan matanya sejenak, menahan napas seraya meremas jemarin

  • Madu Untuk Ndoro   Kamu Berbeda

    Sentuhan bibir Satria di atas bibir Nismara terasa menekan dalam dan menuntut. Amarah atas prasangka para sesepuh serta dorongan kuat untuk melindunginya melebur jadi satu dalam dorongan yang menahan napas. Nismara menahan napasnya sejenak. Hawa hangat dari dada basah Satria meresap menembus kain kemben tipisnya. Jemari Nismara yang tadinya ragu di bahu Satria perlahan mencengkeram kulit basah pria itu saat tubuhnya ditarik semakin rapat dalam dekapan.Satria tidak memberi jeda. Tangannya yang menahan tengkuk Nismara bergerak turun menyusuri garis leher hingga mengusap bahu terbuka wanita itu. Usapan jemarinya yang hangat dan sedikit kasar menyapu sisa rasa dingin di bilik mandi yang penuh uap air itu."Mas..." desis Nismara pelan di sela celah bibir mereka yang bertaut. Suaranya serak dan nyaris tak terdengar, tenggelam oleh desiran air dari gentong kayu di samping mereka.Satria menarik wajahnya sedikit, hanya berjarak beberapa milimeter dari bibir Nismara. Sepasang mata elangnya y

  • Madu Untuk Ndoro   Ragu

    Nismara meletakkan sisir kayunya di meja. Dia mendekati Satria, menyentuh lengannya pelan."Ada apa? Ada yang mengganggu pikiran Mas Satria?"Satria langsung terkesiap. Ia menarik napas pendek, menguasai kembali raut wajahnya yang sempat mengeras."Ng-nggak papa... aku mandi dulu..." ucapnya pelan."Ya... aku sudah minta pelayan siapkan air hangat, setelah ini aku masuk dan membantumu," balas Nismara lembut seraya merapikan ikatan kemben kainnya yang sedikit melorot.Satria mengangguk pelan, lalu melangkah melewatkannya menuju bilik mandi kaputren yang berdinding batu kali.Nismara berdiri diam sejenak. Pandangannya menatap punggung lebar Satria dari belakang. Ia bisa melihat ada beban berat yang sedang mempengaruhi pikiran Satria—bukan sekadar urusan gudang tengah atau ancaman karesidenan besok sore, melainkan sesuatu yang baru saja merusak ketenangannya dari ruang belakang.“Aku mengenalmu, Mas Satria. Kamu sedang menyembunyikan sesuatu” gumam Nismara pelan pada udara kosong.Nismar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status