Home / Romansa / Madu Untuk Ndoro / Kembalinya Agung

Share

Kembalinya Agung

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-10-30 17:54:37

Di kamar utama, Prameswari duduk di tepi ranjang dengan napas yang tidak lagi teratur.

Racikan yang ia campurkan ke dalam minuman Satria tadi malam ternyata menyisakan efek yang sama padanya. Ia hanya meneguk sedikit untuk meyakinkan pria itu, tetapi dosisnya terlalu tinggi, dia berpikir setidaknya kalau Satria minum sedikit saja bisa dia perdayai—kini efeknya malah ke dirinya sendiri.

“Sialan!” Umpatnya pelan

Sensasi panas itu kini merayap di seluruh tubuhnya—dari dada turun ke perut seperti b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Untuk Ndoro   Kekacauan

    "Ndoro Den! Ndoro Den Satria!" panggil Sastro setengah berbisik namun panik.Satria memutar tubuhnya, menatap Sastro dengan dahi berkerut kencang. "Ada apa, Sastro? Pekerjaan saluran tembikar di gudang tengah terhambat?"Sastro menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Matanya bergerak liar menatap ke sekeliling pelataran yang masih sepi."Bukan gudang tengah, Ndoro..." cicit Sastro dengan suara gemetar."Pagi-pagi sekali tadi, kuli ronda menemukan utusan dari kantor karesidenan kota sudah berdiri di gerbang bawah bersama rombongan kompi tentara KNIL. Tapi bukan itu yang membuat rumit...""Bicara yang jelas!" potong Satria tegas.Sastro menelan ludah dengan susah payah. "Ndoro Ayu Prameswari... beliau baru saja tiba kembali dari kota karesidenan bersama ayahnya. Tapi beliau tidak pulang ke kaputren, Ndoro. Nyonya Prameswari langsung menuju ke kediaman Pangarsa Sesepuh membawa dokumen penyitaan resmi tanah lahan barat."Satria memejamkan matanya sejenak, menahan napas seraya meremas jemarin

  • Madu Untuk Ndoro   Kamu Berbeda

    Sentuhan bibir Satria di atas bibir Nismara terasa menekan dalam dan menuntut. Amarah atas prasangka para sesepuh serta dorongan kuat untuk melindunginya melebur jadi satu dalam dorongan yang menahan napas. Nismara menahan napasnya sejenak. Hawa hangat dari dada basah Satria meresap menembus kain kemben tipisnya. Jemari Nismara yang tadinya ragu di bahu Satria perlahan mencengkeram kulit basah pria itu saat tubuhnya ditarik semakin rapat dalam dekapan.Satria tidak memberi jeda. Tangannya yang menahan tengkuk Nismara bergerak turun menyusuri garis leher hingga mengusap bahu terbuka wanita itu. Usapan jemarinya yang hangat dan sedikit kasar menyapu sisa rasa dingin di bilik mandi yang penuh uap air itu."Mas..." desis Nismara pelan di sela celah bibir mereka yang bertaut. Suaranya serak dan nyaris tak terdengar, tenggelam oleh desiran air dari gentong kayu di samping mereka.Satria menarik wajahnya sedikit, hanya berjarak beberapa milimeter dari bibir Nismara. Sepasang mata elangnya y

  • Madu Untuk Ndoro   Ragu

    Nismara meletakkan sisir kayunya di meja. Dia mendekati Satria, menyentuh lengannya pelan."Ada apa? Ada yang mengganggu pikiran Mas Satria?"Satria langsung terkesiap. Ia menarik napas pendek, menguasai kembali raut wajahnya yang sempat mengeras."Ng-nggak papa... aku mandi dulu..." ucapnya pelan."Ya... aku sudah minta pelayan siapkan air hangat, setelah ini aku masuk dan membantumu," balas Nismara lembut seraya merapikan ikatan kemben kainnya yang sedikit melorot.Satria mengangguk pelan, lalu melangkah melewatkannya menuju bilik mandi kaputren yang berdinding batu kali.Nismara berdiri diam sejenak. Pandangannya menatap punggung lebar Satria dari belakang. Ia bisa melihat ada beban berat yang sedang mempengaruhi pikiran Satria—bukan sekadar urusan gudang tengah atau ancaman karesidenan besok sore, melainkan sesuatu yang baru saja merusak ketenangannya dari ruang belakang.“Aku mengenalmu, Mas Satria. Kamu sedang menyembunyikan sesuatu” gumam Nismara pelan pada udara kosong.Nismar

  • Madu Untuk Ndoro   Dosa Masa Lalu

    "Kanjeng Eyang, apa maksud Kanjeng Eyang?" tanya Satria. Suaranya serak, menahan sesuatu yang mendadak menggantung kaku di dalam tenggorokannya.Pandangan mata Satria terangkat sedikit, menatap lurus sosok renta di atas amben kayu. Udara di dalam ruangan tengah itu mendadak terasa makin tebal dan sesak, tercium makin pekat oleh aroma kemenyan yang terbakar lambat di sudut meja.Pangarsa Sesepuh menarik napas berat. Dada rentanya kembang kempis, seolah kalimat yang hendak diucapkannya membawa beban puluhan tahun yang selama ini terkunci rapat di bawah tanah kaputren."Aku tidak pernah membencimu, meskipun putraku selalu menaruh iri padamu. Aku hanya berusaha tegas!" tegas Pangarsa Sesepuh pelan, jemarinya mencengkram kepala tongkat cendana dengan amat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.Satria masih diam tak menyahut. Pria itu mempertahankan posisi duduk bersilanya, berdiri kokoh bak karang meski ada firasat buruk yang mulai merayap naik menusuk tengkuknya."Bibi Nismara... perempu

  • Madu Untuk Ndoro   Kecewa

    "Bukan melawan tanpa perhitungan, Nismara," sahut Satria pelan. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Nismara yang berada di genggamannya.Nismara menatap sepasang mata tajam pria itu, menanti penjelasan yang sanggup menenangkan keraguan di dadanya."Pejabat karesidenan dan pedagang Belanda itu hanya peduli pada dua hal, yaitu kualitas barang dan ketepatan waktu pasokan," lanjut Satria seraya memutar tubuhnya, menatap kerumunan kuli yang kini makin cekatan menggali tanah di belakang gudang. "Selama ini, teh dan buah dari Tirtawening selalu mendapat harga tertinggi di warenhuis kota karena rasanya tidak bisa ditandingi oleh perkebunan mana pun di tanah Jawa. Mereka mengancam lewat Subroto hanya karena Bramantya memberi mereka uang pelicin.""Jadi... jika daun teh dan hasil panen kita tetap segar besok sore?" tanya Nismara, mulai menangkap arah pemikiran Satria."Jika hasil panen kita tiba dalam kondisi utuh tanpa cacat sedikit pun, mereka tidak punya alasan untuk menolaknya," pangkas S

  • Madu Untuk Ndoro   Perselisihan

    Raden Mas Subroto yang datang, sepupu Satria itu melangkah santai melintasi pelataran gudang, mengayunkan tongkat kayu berukir di tangannya dengan raut wajah penuh cemooh. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap berseragam kemeja dril karesidenan menyusul dengan langkah kaku.Nismara dengan cepat merapikan letak kebayanya yang sempat bergeser saat mendorong tubuh Satria. Wajahnya kembali tenang dan tertutup, berdiri tepat setengah langkah di belakang bahu tegap Satria."Wah, luar biasa sekali pengelola Tirtawening kita ini," kekeh Subroto, menghentikan langkahnya tepat tiga tapak di depan Satria. Matanya menyapu deretan buruh tani yang kini sibuk mengangkut tembikar dan pipa galian di bawah arahan Sastro. "Rakyat di bawah kebingungan memikirkan nasib panen yang membusuk, dan kamu di sini malah sibuk beradu kasih dengan wanita simpananmu?"Satria tidak berpaling. Ia berdiri kokoh, menyilangkan kedua tangannya di dada. Tatapan matanya dingin dan tajam menancap lurus ke sepasang mata S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status