LOGIN"Kanjeng Eyang, apa maksud Kanjeng Eyang?" tanya Satria. Suaranya serak, menahan sesuatu yang mendadak menggantung kaku di dalam tenggorokannya.Pandangan mata Satria terangkat sedikit, menatap lurus sosok renta di atas amben kayu. Udara di dalam ruangan tengah itu mendadak terasa makin tebal dan sesak, tercium makin pekat oleh aroma kemenyan yang terbakar lambat di sudut meja.Pangarsa Sesepuh menarik napas berat. Dada rentanya kembang kempis, seolah kalimat yang hendak diucapkannya membawa beban puluhan tahun yang selama ini terkunci rapat di bawah tanah kaputren."Aku tidak pernah membencimu, meskipun putraku selalu menaruh iri padamu. Aku hanya berusaha tegas!" tegas Pangarsa Sesepuh pelan, jemarinya mencengkram kepala tongkat cendana dengan amat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.Satria masih diam tak menyahut. Pria itu mempertahankan posisi duduk bersilanya, berdiri kokoh bak karang meski ada firasat buruk yang mulai merayap naik menusuk tengkuknya."Bibi Nismara... perempu
"Bukan melawan tanpa perhitungan, Nismara," sahut Satria pelan. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Nismara yang berada di genggamannya.Nismara menatap sepasang mata tajam pria itu, menanti penjelasan yang sanggup menenangkan keraguan di dadanya."Pejabat karesidenan dan pedagang Belanda itu hanya peduli pada dua hal, yaitu kualitas barang dan ketepatan waktu pasokan," lanjut Satria seraya memutar tubuhnya, menatap kerumunan kuli yang kini makin cekatan menggali tanah di belakang gudang. "Selama ini, teh dan buah dari Tirtawening selalu mendapat harga tertinggi di warenhuis kota karena rasanya tidak bisa ditandingi oleh perkebunan mana pun di tanah Jawa. Mereka mengancam lewat Subroto hanya karena Bramantya memberi mereka uang pelicin.""Jadi... jika daun teh dan hasil panen kita tetap segar besok sore?" tanya Nismara, mulai menangkap arah pemikiran Satria."Jika hasil panen kita tiba dalam kondisi utuh tanpa cacat sedikit pun, mereka tidak punya alasan untuk menolaknya," pangkas S
Raden Mas Subroto yang datang, sepupu Satria itu melangkah santai melintasi pelataran gudang, mengayunkan tongkat kayu berukir di tangannya dengan raut wajah penuh cemooh. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap berseragam kemeja dril karesidenan menyusul dengan langkah kaku.Nismara dengan cepat merapikan letak kebayanya yang sempat bergeser saat mendorong tubuh Satria. Wajahnya kembali tenang dan tertutup, berdiri tepat setengah langkah di belakang bahu tegap Satria."Wah, luar biasa sekali pengelola Tirtawening kita ini," kekeh Subroto, menghentikan langkahnya tepat tiga tapak di depan Satria. Matanya menyapu deretan buruh tani yang kini sibuk mengangkut tembikar dan pipa galian di bawah arahan Sastro. "Rakyat di bawah kebingungan memikirkan nasib panen yang membusuk, dan kamu di sini malah sibuk beradu kasih dengan wanita simpananmu?"Satria tidak berpaling. Ia berdiri kokoh, menyilangkan kedua tangannya di dada. Tatapan matanya dingin dan tajam menancap lurus ke sepasang mata S
Sastro membelalakkan matanya, menatap skema tembikar di gerobak lalu beralih menatap Satria. "Ndoro... cara ini logis. Saluran air di belakang gudang memang selalu dingin sepanjang hari."Satria menatap Nismara dengan pandangan yang dalam. Di tengah cacian dan tuduhan sebagai gundik dari warga yang dibelanya, wanita ini tidak sedikit pun menunjukkan rasa dendam. Ia justru berdiri di sana, membawa solusi praktis di saat semua orang kehilangan akal sehat.Satria mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi imbauan tegas agar massa yang berkumpul bisa menahan diri."Tenang semuanya! Dengarkan saya!" bentak Satria dengan nada bariton yang berwibawa, memotong keributan di pelataran. "Masalah ini sedang diselesaikan sekarang juga. Beri kami waktu untuk mengarahkan pekerjaan di gudang tengah ini. Saya jamin hasil panen kalian tidak akan terbuang sia-sia!"Namun, salah satu tetua kuli menyela kasar seraya menunjuk ke arah tembikar di gerobak Nismara. "Bagaimana kami bisa tenang, Ndoro? Ndoro
Kegaduhan di area gudang tengah terdengar hingga ke batas perkebunan. Puluhan warga dan kuli panggul mengepung halaman gudang yang berdebu. Suara teriakan panik bercampur amarah bersahut-sahutan di udara pagi yang kian menghangat. Bau asam dari tumpukan daun teh dan buah-buahan yang mulai membusuk tercium menyengat, tertahan oleh hawa lembap yang terperangkap di dalam bangunan bambu tersebut.Satria berdiri di pelataran gudang, dikelilingi oleh Sastro dan beberapa kepala mandor yang tampak pucat pasi."Bagaimana bisa stok kapur tohor di gudang belakang kosong, Sastro?!" tanya Satria dengan nada suara kaku dan menegang.Sastro menunduk dalam-dalam, dadanya naik turun karena panik. "Saya tidak tahu, Ndoro Den... Kemarin sore batu kapur dan arang jati itu masih menumpuk di lumbung belakang. Tapi saat para kuli hendak mengambilnya tadi pagi, gemboknya sudah rusak dan bahannya sudah dibuang ke sungai dekat lembah. Tidak ada yang tersisa."Satria mengepalkan tangannya rapat-rapat. Sabota
"Wah... hebat sekali, seorang pelayan sekarang berakting menjadi seorang juragan yang sok ngatur dan memiliki kuasa."Suara itu terdengar sangat lantang dibarengi dengan tepuk tangan lambat yang bergema di koridor kaputren. Raden Mas Subroto melangkah masuk dengan tenang, memamerkan senyum tipis yang sarat akan sindiran.Nismara tidak mau mencari masalah. Ia menundukkan kepalanya sedikit dan menyatukan jemari di depan dada, memberi hormat layaknya aturan kesopanan di rumah ini."Jadi... di kaputren ini Nyonya besarnya kamu? Bukan Prameswari?" sindir Subroto pedas. Matanya meneliti Nismara dari ujung kepala hingga ujung kaki.Nismara masih tak menyahut. Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan kepanikan meski pria di hadapannya inilah yang menyuruh Asih mencuri buku catatan pribadinya."Benar-benar punya nyali," timpal Subroto lagi. Ia melangkah satu tapak lebih dekat. "Siapa yang menyangka, hm? Prameswari membawa kehancurannya sendiri ke kaputren ini."Jemari Nismara meremas erat pinggir







