مشاركة

Siksaan

مؤلف: Strawberry
last update تاريخ النشر: 2026-08-18 08:01:43

“Aaaah……. Ahhhh….. Nismara!!! Nismaraaa!!!!”

Jeritan histeris Prameswari menggema nyaring, melintasi koridor belakang hingga menembus pintu kamar pelayan. Suara itu melengking keras membuat semua yang mendengar langsung waspada. 

Prameswari adalah seorang nyonya muda yang dari awal masuk ke rumah ini selalu minta dilayani dengan baik

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Memetik Kebebasan

    “Hanya bisa menjadi gundikku katamu? Kamu terlalu naif Prames!” gertak Satria.Jemari Satria mengepal kaku di sisi tubuhnya. "Lagipula…" Prameswari sengaja menggantung kalimatnya, menatap lurus ke dalam iris mata Satria yang pekat. "Aku rasa sudah waktunya kita berhenti berpura-pura, Mas.""Berpura-pura tentang apa?"Prameswari maju satu langkah lagi, memangkas jarak di antara mereka. "Dokter pribadi keluarga sudah memeriksa kondisiku. Katanya kondisiku sekarang jauh lebih baik. Aku… aku sudah bisa melayanimu lagi sebagaimana mestinya seorang istri."Ruangan seketika terasa semakin menghimpit."Jadi," lanjut Prameswari dengan nada menang, "kau sudah tidak membutuhkan Nismara lagi untuk mengisi ranjangmu."Sorot mata Satria mendadak berubah sangat gelap. "Jangan," desisnya rendah.Suara itu begitu tajam hingga menghentikan napas Prameswari sesaat. Namun, wanita itu justru salah mengartikan ketegangan Satria sebagai pertanda bahwa argumennya berhasil menembus celah pertahanan suaminya.

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Bukan Seorang Gundik

    Satria baru saja melangkah keluar dari ruang kerjanya ketika menyadari kehadiran Prameswari di ruang tengah. Dia jarang melihat Prameswari walaupun selalu pulang ke kediaman.Perempuan itu duduk tenang di atas sofa kayu berukir, mengetuk-ngetuk jemarinya santai pada cangkir teh porselen di meja. Raut wajahnya terpoles keanggunan seorang wanita aristokrat dengan harga diri yang tinggi dan tidak bisa diusik Satria hanya melirik sekilas, melanjutkan langkah tanpa niat berhenti."Ada apa?" tanya Satria datar. Dia tahu pasti Prameswari duduk di situ untuk menunggunya, bukan sebuah kebetulan.Prameswari menyunggingkan senyum tipis, kepalanya terangkat anggun. "Aku baru saja mendapat kabar dari Budhe Murni."Langkah Satria terhenti seketika. Pria itu berbalik pelan, menatap istrinya tajam. "Urusan apa?""Urusan Nismara."Suasana di ruang tengah langsung berubah kaku. Sorot mata Satria meredup pekat, namun Prameswari yang menangkap perubahan itu sama sekali tidak gentar dan pura-pura tidak

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Umpan

    Langkah kaki Prameswari menerobos masuk ke dalam kamar pelayan di sudut belakang rumah utama. Budhe Murni yang sedang merapikan kain langsung menjatuhkan diri, berlutut di atas lantai semen yang dingin. Wanita paruh baya itu hafal betul temperamen Ndoro Ayu-nya—jika Prameswari sampai sudi melangkah ke biliknya begini, artinya ada badai besar yang siap menghantam."Kenapa harus berlutut? Bangunlah… aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu," ucap Prameswari sembari mengibaskan jemarinya pelan.Budhe Murni tak lantas percaya. Ia mendongak ragu, menatap raut wajah Prameswari yang terpoles senyum tipis."Apa aku sejahat itu sampai kamu harus sebegini takutnya?" sindir Prameswari ringan."Ti-tidak, Ndoro Ayu…" jawab Budhe Murni menyembunyikan getar suaranya. Dalam hati, wanita tua itu paham betul betapa licik dan kejamnya wanita di hadapannya ini.Prameswari duduk di tepi bangku kayu kecil, mengusap lipatan kebaya sutranya dengan anggun. "Budhe… sebetulnya belakangan ini aku memikirkan N

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Saat Kebebasan Bukan Lagi Jalan Keluar

    Nismara duduk di atas ranjang dengan kedua kaki ditekuk merapat ke dada, menyandarkan keningnya di atas lutut. Beberapa kali ia menarik napas panjang, mencoba mengurai beban berat yang menghimpit ulu hatinya."Belum tidur?" suara lembut Satria memecah sunyi. Pria itu mengulurkan tangan, menyentuh lengan Nismara pelan. "Kenapa? Banyak yang dipikirkan?"Nismara tidak langsung menjawab. Pikirannya memang terlalu bising oleh keraguan dan ketakutan yang berkecamuk."Ndoro Den… apakah benar kelak Ndoro Den akan membebaskan saya?" tanya Nismara lirih, hampir berupa bisikan.Satria menegakkan posisi duduknya. Tangan besarnya terulur merangkul bahu Nismara, menarik tubuh lemas gadis itu agar merapat ke sisinya.Malam terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Ada kehampaan yang aneh menggantung di dada Nismara, membuatnya merasa begitu rapuh."Ndoro…" panggilnya pelan."Hm?" sahut Satria halus, jemarinya bermain lembut di antara anak rambut di pelipis Nismara."Kalau suatu hari saya pergi…" Nismara

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Benih Keraguan

    "Murni! Karyo!"Teriakan Prameswari terdengar dari dalam kamar di sudut rumah utama. Ruangan bernuansa gelap itu kini tak ubahnya tempat pengasingan baginya. Sudah berminggu-minggu Satria tak pernah lagi tidur di sana. Kalaupun pria itu sesekali pulang, langkah kakinya tak pernah sekalipun mengarah ke ambang pintu kamarnya. Namun, sampai saat ini Prameswari belum menyadari bahwa seluruh rahasia dan rencana telah terbongkar di mata Satria. Pria itu hanya sedang menyusun langkah, menunggu saat yang tepat untuk menghantamnya.Pintu terdorong pelan. Budhe Murni dan Pak Karyo masuk melangkah terburu-buru dengan kepala tertunduk dalam, mereka langsung duduk di lantai."Apa yang kalian temukan tadi malam?" tuntut Prameswari dingin, matanya menyipit, gesturenya menunjukkan kalau dia sudah menunggu dengan tidak sabar. "Jangan beri aku berita buruk lagi. Kalian paham?"Pak Karyo menelan ludah sebelum memberanikan diri bersuara. "Saya dan istri saya bertemu Ndoro Den Satria, Ndoro Ayu… tapi Ndo

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Begini Saja, Keluar?

    "Siapa pun kamu, keluar!" bentak Satria.Pria itu berdiri di ambang pintu gubuk, dadanya bertelanjang dengan kedua tangan bersedekap, menatap lurus ke arah kegelapan rimbunnya pepohonan. Sunyi. Hanya desis angin malam yang menyapu dedaunan kering."Keluar, atau aku yang ke sana!" ulangnya, suaranya rendah dan penuh tekanan.Tak lama kemudian, semak-semak berkresek pelan. Dua sosok melangkah keluar dari kegelapan—Budhe Murni dan suaminya, Pak Karyo. Wajah keduanya pucat pasi. Begitu melangkah ke area tanah terbuka, mereka langsung berlutut di hadapan Satria."Maafkan kami, Ndoro Den… maafkan kami. Kami datang atas perintah Ndoro Ayu," cicit Karyo dengan tubuh gemetar karena ketakutan."Apa yang dia inginkan?" tanya Satria dingin."Ndoro Ayu meminta kami memastikan tempat keberadaan Ndoro Den dan Nismara," jawab Karyo pelan, tak berani mendongak.Kening Satria berkerut tipis. Matanya menyipit, mengunci dua sosok di bawahnya. "Mustahil kalian bisa menemukan tempat ini kalau tidak tahu se

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status