LOGINPanggilan yang disampaikan lewat Sastro itu menggantung di udara, memutus duka yang belum sepenuhnya mereda. Satria tak langsung menjawab. Tangannya masih mendekap tubuh Nismara, seolah mengukuhkan benteng terakhir sebelum badai yang sebenarnya menghantam mereka."Mas..." bisik Nismara parau, suaranya hampir tenggelam di balik dada bidang Satria.Satria melonggarkan pelukan perlahan. Matanya yang memerah menatap Nismara dengan sorot terluka, lalu beralih menatap pintu kayu yang masih terkunci."Katakan pada Pangarsa Sesepuh, kami akan segera menghadap, tapi nggak sekarang. Keadaan Nismara sedang tidak baik." sahut Satria dingin, suaranya datar namun sarat ancaman yang terselubung.Dari balik pintu, langkah kaki Sastro terdengar menjauh secara perlahan. Keheningan kembali menyergap keputren, tapi kali ini bukan keheningan hampa pasca-duka, melainkan ketegangan yang merambat cepat ke setiap sudut ruangan.Satria bergeser, mengambil selendang kain batik dan kain tapih kering dari dalam
Saat membuka mata, Nismara merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Ia merasa tubuhnya seperti bukan miliknya lagi.Ada rasa kosong yang dalam di perut bawahnya—bukan sekadar sakit, melainkan rasa hampa, walaupun dia baru tahu ada calon bayi di perutnya tak beberapa minggu yang lalu.Pinggangnya terasa pegal, seolah baru saja digilas. Paha dalamnya basah oleh keringat dingin dan sisa darah yang sudah mengering. Napasnya pendek. Setiap kali dia mencoba menggerakkan kaki, rasa nyeri tumpul langsung menjalar dari rahimnya yang kini terasa lenggang.Tangannya secara refleks menyentuh perut. Datar. Tidak ada apa-apa.“Mas Satria…” desahnya lirih.Air mata langsung menetes tanpa suara.“Bayinya… sudah tidak ada.” tambahnya lagi dengan air mata yang berurai.Ruangan kaputren terasa sunyi. Hanya terdengar deru angin pelan dari celah jendela kayu dan aroma minyak herbal yang masih menggantung di udara. Di samping dipannya, Satria duduk membungkuk. Kedua sikunya bertumpu di lutut, k
“Nismara kamu keguguran? Kamu hamill!”Teriakan Asih yang panik memenuhi pavilliun. Suaranya serak, penuh ketakutan, dan cukup keras hingga membuat dua pelayan yang tadi menemani Prameswari dan berdiri di luar pintu langsung memucat.Prameswari yang sedari tadi hanya mampu berdiri mematung, kini berbalik cepat. Matanya membelalak.“Apa…?”Asih tidak menjawab. Dia terlalu sibuk menahan tubuh Nismara yang mulai lemas. Darah masih mengalir pelan di antara paha Nismara, membasahi kain putih hingga ke lantai kayu. Nismara menggigit bibirnya hingga berdarah, napasnya pendek-pendek, keringat dingin sudah membasahi seluruh wajahnya.“Asih…tolong..sakit…Asih…” air mata Nismara bercucuran, wajahnya kian pucat.“Tolong panggilkan dokter… cepat!” Asih berteriak lagi, kali ini lebih histeris. “Ndoro Putri pendarahan!”Suara keramaian langsung memenuhi koridor. Beberapa pelayan berlari masuk, wajah mereka pucat pasi saat melihat genangan darah. Seseorang berteriak meminta air panas, yang lain berla
“Asih, sekarang Ndoro Den ada di mana? Bantu aku siapkan baju, aku ingin menyusulnya. Aku tidak mau dia melakukan hal itu karena aku” gumam Nismara tegas dan masih berdiri di ambang pintu kamar mandi ketika kata-kata Asih menggantung di udara.Penghapusan tradisi, itu hal paling berani yang pernah dilakukan oleh keturunan keluarga Sasmita secara turun temurun.Satria rela menghadap sesepuh keluarga Sasmita hanya untuk menghapus kebiasaan yang sudah dijalankan turun-temurun. Artinya dia siap menanggung segala risiko—termasuk kehilangan gelar sebagai pewaris utama.Dada Nismara terasa sesak. Dia menunduk, memandang jari-jari kakinya yang masih sedikit gemetar. Semalam tubuhnya sudah dipaksa melewati batas, dan pagi ini berita itu datang menampar lebih keras dari apa pun.“Asih…” suaranya pelan. “Kamu yakin benar mendengarnya?”Asih mengangguk antusias. “Benar, Nismara. Ndoro Den bilang dia tidak mau lagi ada perempuan lain. Hanya Nismara!.”Nismara menghela napas panjang. Dia hendak mel
“Tidak Mas! Aku tidak ingin memiliki anak darimu!” Nismara mendorong tubuh Satria dari atas tubuhnya pelan tapi sedikit bertenaga.Namun Satria tidak serta merta menurut begitu saja, ia mengunci tangan Nismara di atas kepalanya dengan posisi masih sama. Tubuh berkeringat dan lengket mereka masih saling menempel.“Nismara, kalau kamu memang percaya padaku seharusnya tidak masalah kita memiliki anak”Nismara menggeleng kuat “Tidak! Tidak Mas Satria! Tidak sampai statusku jelas!”Satria menatap lurus netra hitam Nismara yang berkilat tajam “Jadi kamu tidak percaya padaku?” tanyanya.Nismara mencoba melepaskan diri, tapi percuma. Walaupun kejantanan Satria sudah tidak setegang tadi di dalam tubuhnya tapi tangannya yang terkunci itu membuat tekanan demi tekanan yang diberikan Satria membuat tubuh Nismara bergetar, area intimnya berdenyut kembali.“Mas Satria..aku bukan tidak percaya! Tapi, apa Mas Satria nggak kasihan dengan anak kita nanti kalau keadaan kita masih seperti ini? Lihat Ndor
Satria mengangkat wajah sejenak. “Bilang saja kalau mau berhenti.”Nismara menggeleng kecil, kemudian tersenyum. “Jangan berhenti.” Satu kalimat saja cukup membakar gairah yang ada di dalam diri Satria.Satria menarik turun sisa gaun Nismara dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati dari sebelumnya. Kain itu meluncur dari bahu, tersangkut sejenak di siku, lalu jatuh ke pinggang. Payudara Nismara terekspos di bawah cahaya lampu yang redup. Satria menatapnya lama, seolah menghafal, lalu menunduk.“Ah..Nismara…aku rindu…” desahnya pelan. Dada Nismara naik turun menikmati sentuhan demi sentuhan itu, lembut tapi mengirimkan ketegangan yang besar.“Mas…Pelan…” dia mengerang dengan suara tertahan.Lidahnya menyentuh pucuk yang sudah mengeras, menjilat pelan, lalu menghisap. Nismara tersentak, tangan mencengkeram rambut Satria. Satria tidak buru-buru. Ia menghabiskan waktu di sana, berganti dari satu sisi ke sisi lain, memilin dengan lidah, menggigit sangat pelan hingga Nismara mengerang ter







