تسجيل الدخول“Ada yang bisa saya bantu Tuan, Nona?” tanya Ami begitu mendekat.Sebelum Sean sempat menggerakkan bibirnya, Catherine mencuri start terlebih dahulu. Dia berkata, “Apa boleh saya menanyakan tentang gaun ini?”Alih-alih menunjuk pada gaun yang tengah ditenteng Sean, tangan Catherine terarah pada sebuah gaun putih bermotif floral yang masih terpajang di display.“Oh, tentu saja Nona,” sahut Ami, lengkap dengan senyum ramahnya.Catherine pun bertanya, “Apa ada gaun yang seperti ini, tapi motif bunganya berwarna gelap. Seperti ungu atau biru?”“Ada, Nona. Tapi kain tile-nya berwarna lilac. Untuk kain yang putih, kami hanya menyediakan motif berwarna pink dan kuning. Bagaimana? Apa Anda berkenan melihatnya?” balas Ami.“Boleh,” setuju Catherine.Ami lalu mengambil dress putih floral yang ditunjuk oleh Catherine. Dia juga bertanya, “Ukurannya disamakan dengan ini, Nona?”“Iya,” angguk Catherine.Setelah mendapatkan konfirmasi itu, Ami melangkah pergi menuju gudang. Meninggalkan Sean dan Cat
“Ada aku di sini, tidak perlu memikirkan soal harga,” ujar Sean. Tangannya juga sengaja menepuk-nepuk kantong, memberi kode kalau dia akan mengurus semuanya.Catherine menggelengkan kepala. “Tidak boleh begitu.”Menghembuskan napas kencang, Sean lantas berujar, “Dengan gaji bulananmu yang cuma seupil itu, paling-paling kau cuma bisa beli satu atau dua potong baju saja.”“Apa?” kaget Catherine. Sepasang matanya membola tak percaya.Menggapai tangan Catherine untuk dia gandeng, Sean lantas mulai menaiknya menuju eskalator. Dalam perjalanan, dia berkata, “Anggap saja ini fasilitas yang harus aku penuhi.”“Kalau begitu, aku tidak akan segan lagi,” balas Catherine.Kepalanya menunduk, menyembunyikan rona merah yang mulai tampil di pipi. Malu karena Sean tiba-tiba menggandeng dirinya. Membuat Catherine merasa kalau mereka adalah pasangan yang sedang menghabiskan waktu bersama.“Baguslah kalau kau mengerti,” lega Sean di dalam hati.“Perhatikan langkahmu,” ujarnya lagi ketika mereka sudah sa
Catherine menelan ludahnya dengan susah payah.Amarah yang tadi sempat menguasai dirinya, kini mulai goyah. Firasatnya juga buruk soal ini.“God dammit!” umpat Sean sambil memukul setir sebagai pelampiasan amarah.Dia lalu menjelaskan, “Aku begini karena kau malah terlihat kebingungan saat aku suruh memakai sabuk pengaman.”“Tunggu dulu,” henti lelaki itu seraya menoleh. Sorot matanya dipenuhi oleh keputusasaan ketika bertanya, “Jangan bilang kalau kau tidak tahu soal seatbelt, Cathie.”“Mampus!” jerit batin Catherine.Segera dia memalingkan pandangan ke arah lain. Bibirnya berucap gugup, “Sabuk … anu, aku tahu kok.”Dihadapkan pada kebohongan Catherine yang begitu jelas, Sean semakin murka. Urat di lehernya pun terlihat tegang.“Kalau begitu, coba tunjukkan padaku. Mana benda yang aku maksud,” pintanya geram.Catherine kembali menelan ludah. Tangannya gemetaran menyentuh beberapa benda secara asal. Dia sungguh tidak punya kesan sedikit pun tentang sabuk pengaman yang disebutkan oleh
“Ada aku di sini, tapi dia malah menanyakan Ren?” kesal Sean di dalam hatinya.Sepercik rasa cemburu pun muncul, membuat mood-nya jadi jelek. Wajahnya yang semula berseri, kini seperti digelayuti oleh awan mendung.“Huh! Apa aku kurang menarik dibandingkan lelaki itu?" geramnya kemudian.Dengan wajah sebal level maksimalnya itu, Sean bertanya ketus, “Siapa bilang Ren akan ikut dengan kita?”Sebelah alis Catherine langsung terangkat. “Maksudnya, kau yang menyetir?” tanyanya memastikan.“Jangan menguji kesabaranku, Cathie!” sungut Sean. Menepuk-nepuk kursi yang tengah dia duduki, Sean lantas menyindir, “Matamu itu masih normal, ‘kan? Maksudku, bisa melihat kalau aku duduk di sini.”Lelaki itu menjeda kalimatnya sebentar untuk menarik napas. Lalu dia hembuskan dengan kencang, sekalian melampiaskan rasa dongkol di dalam hati.“Itu artinya aku yang menyetir, Cathie. Masa iya kau perlu menanyakan hal seperti ini.”Catherine mencebikkan bibirnya. “Aku belum pernah melihatmu menyetir sendiri.
Jakun Sean langsung bergerak turun begitu melihat pemandangan menggoda yang ditampilkan oleh Catherine. Meski jarak mereka cukup jauh, mata Sean langsung cosplay menjadi mata elang kalau sudah dihadapkan dengan situasi ini.Matanya naik turun berulangkali karena bingung mau melihat yang mana. Antara melihat bagian atas handuk yang terlihat sangat sesak sampai seperti tak muat menampung sepasang aset pribadi milik Catherine, atau memandangi paha Catherine yang begitu mulus.“Perawatan macam apa yang dia lakukan? Nyaris tidak ada bulu yang terlihat di kakinya,” pikir Sean kemudian.Menyadari Sean yang terpaku di tempatnya tanpa melakukan apa pun, pipi Catherine langsung merona. Buru-buru dia menutupkan kedua tangan. Yang satu menghalangi belahan dadanya, sementara yang lainnya menutupi bagian bawah.“Pelit sekali,” komentar Sean.Bibirnya sedikit maju. Pipinya juga terlihat agak menggembung. Persis seperti seorang anak kecil yang merajuk karena tidak diperbolehkan makan permen.Langsung
Cup!Tanpa memberikan waktu bagi Catherine untuk bereaksi, Sean mendaratkan kecupan manis di leher perempuan itu. Tarikan napasnya terasa berat, berbanding terbalik dengan hatinya yang merasa lega.“Ah, sekarang aku tahu mengapa para vampir begitu terobsesi menemukan ‘wanita pilihan’ yang disebutkan dalam legenda. Hanya menciumnya beberapa detik saja, rasa sakit di dadaku mulai berkurang.”Sean merasa tidak cukup dengan itu, sehingga indra perasanya mulai berkelana. Menyusuri setiap jengkal leher Catherine hingga hampir menyentuh dagu.“Uhh, S-sean. Jangan,” tolak Catherine. Napasnya terdengar seperti gemuruh, seperti melodi yang mendadak hadir di tengah badai.Gadis itu berusaha menundukkan kepalanya dalam-dalam. Berpikir dia dapat menghentikan, atau setidaknya membatasi pergerakan Sean.Sean memang sedikit kesulitan menghadapi trik kecil yang dimainkan Catherine. Namun, dia punya solusinya sendiri.“Begini saja tidak bisa kau tahan, Cathie?” goda Sean.Jemarinya perlahan turun, meng







