Share

Bab 2

Penulis: Tia
Keesokan paginya, aku pergi ke studio jahit milikku.

Semasa kuliah, aku mengambil jurusan desain busana. Setelah lulus, aku sempat membangun usaha pembuatan produk tekstil berdasarkan pesanan bersama seorang teman. Usaha itu kami jalankan selama beberapa tahun.

Namun, setelah menikah, Kenzo terus mengatakan bahwa keluarganya tidak membutuhkan penghasilanku. Tanpa kusadari, pesanan yang kuterima pun perlahan makin sedikit.

Meski begitu, aku tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia jahit-menjahit.

Sore itu, begitu sampai di rumah, sopir Kenzo menyerahkan sebuah slip pengambilan barang kepadaku.

Lokakarya kerajinan tangan.

Satu set gaun pengantin untuk kelinci abu-abu.

Aku langsung menelepon Kenzo.

Dia mengangkatnya tak lama kemudian. Dari seberang terdengar samar suara orang-orang yang sedang berada di ruang rapat.

"Ada apa?"

"Kamu nyuruh aku ngambil baju kelincinya Yuna?"

Dia terdiam selama dua detik.

"Sekalian lewat."

"Aku nggak searah."

Suara Kenzo langsung merendah.

"Giana, jangan bersikap kekanak-kanakan hanya karena urusan begini."

"Yuna ada pemotretan iklan sore ini. Dia nggak sempat pergi ke sana."

"Bukannya dulu kamu yang paling sayang sama dia?"

Aku tersenyum tipis.

"Dulu aku juga nggak tahu kalau orang yang paling dia sayangi ternyata suamiku."

Sejenak, suasana di seberang sana benar-benar sunyi.

Ketika Kenzo kembali bicara, suaranya sudah sedingin es.

"Keterlaluan."

"Aku peringatkan ya, jangan sembarangan ngomong hal begitu di depan dia."

"Dia sensitif. Nggak kayak kamu yang sangat pandai menahan diri."

Pandai menahan diri.

Lagi-lagi kata itu.

Aku mengakhiri panggilan, tetapi tetap pergi ke lokakarya kerajinan tangan tersebut.

Aku bukan pergi untuk mengambil pesanan Yuna.

Aku hanya ingin melihat sendiri, sejauh apa mereka telah menginjak-injak harga diriku.

Begitu tiba di sana, pegawai toko langsung mengenali kartu keanggotaanku.

"Nyonya Hendriko, Pak Kenzo secara khusus berpesan agar set ini dibuat persis seperti yang ada di foto."

Kotaknya dibuka di hadapanku.

Di dalamnya terdapat sebuah gaun pengantin mungil, ukurannya tak lebih besar dari telapak tangan.

Potongan pinggang, tali bahu, hingga bagian bawahnya dibuat persis seperti gaun pengantinku.

Bahkan deretan kancing mutiara di bagian belakangnya pun lengkap, tak kurang satu pun.

Namun, yang paling mencolok adalah renda di sepanjang tepi tudung pengantin itu.

Aku mengenalinya seketika.

Itu renda dari gaun lama milik ibuku.

Malam sebelum pernikahan kami, aku duduk di tepi ranjang dan menjahit renda itu di tudung pengantinku sendiri. Satu jahitan demi satu jahitan.

Saat itu, Kenzo duduk di sampingku sambil memperhatikanku.

"Barang setua ini masih mau kamu jahit?"

"Ini cara Ibu menemaniku di hari pernikahanku," jawabku.

Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menggenggam tanganku.

"Giana, nanti aku beliin yang baru. Tapi kalau kamu mau simpan yang ini, aku akan bantu menjaganya."

Namun sekarang, renda tua itu justru dipotongnya dan dijahitkan ke gaun pengantin kelinci milik Yuna.

Pegawai toko itu masih tersenyum sambil memuji ketelitian Kenzo.

"Pak Kenzo benar-benar sangat teliti. Bahkan contoh kainnya pun beliau bawa sendiri."

Jari-jariku perlahan terasa dingin.

Saat aku keluar sambil membawa kotak itu, mobil Kenzo sudah menunggu di tepi jalan.

Yuna duduk di kursi penumpang depan.

Hari itu, dia membawa boneka kelinci abu-abu tersebut bersamanya.

Kelinci itu mengenakan setelan rok kecil, dengan jepit rambut mutiara tersemat di samping telinganya.

Begitu melihatku, Yuna sempat tertegun sebelum kemudian tersenyum.

"Giana, kenapa kamu sampai datang sendiri?"

"Aku kira Kenzo nggak tega nyuruh kamu repot-repot mengambilnya."

Dia turun dari mobil dan mengulurkan tangan untuk menerima kotak itu.

Namun, aku tidak langsung menyerahkannya.

"Renda ini dari mana?"

Tatapan Yuna berkilat sesaat. Setelah itu, dia buru-buru menoleh kepada Kenzo.

Kenzo mengernyit.

"Aku yang ngambil itu."

Aku menatapnya lekat-lekat.

"Kamu ambil itu dari kotak gaun pengantinku?"

"Hanya sedikit dari bagian pinggirnya."

Nada suaranya mulai terdengar tidak sabar.

"Lagi pula, kamu nggak akan pakai gaun pengantin itu lagi. Daripada hanya disimpan begitu saja."

"Yuna menyukainya, jadi aku ambil sedikit untuk dibuatkan sesuatu."

"Kalau kamu memang keberatan, nanti aku beliin renda yang baru."

Aku tersenyum.

"Ibuku juga bisa dibeliin yang baru?"

Wajah Kenzo seketika menegang.

Mata Yuna langsung memerah.

"Giana, maafin aku, ya."

"Aku benar-benar nggak tahu renda itu sepenting itu buat kamu."

"Aku cuma pernah bilang renda di gaun pengantinmu sangat indah."

"Aku nggak nyangka Kenzo akan mengingatnya."

Dia mengucapkan kata "mengingatnya" dengan sangat pelan.

Namun, justru itulah yang paling menusuk.

Kenzo mengingat satu ucapan sambil lalu tentang sesuatu yang disukai Yuna.

Tetapi dia melupakan bahwa renda itu adalah peninggalan terakhir yang ditinggalkan ibuku untukku.

Aku akhirnya menyerahkan kotak itu kepada Yuna.

"Pegang dengan baik."

Dia tertegun.

Aku melanjutkan, "Pakai yang benar. Jangan sampai jatuh."

"Aku jijik lihatnya."

Air mata Yuna langsung berderai.

"Giana, bagaimana kamu bisa bicara begitu sama aku?"

Kenzo segera berdiri di hadapannya.

"Giana, minta maaf."

Aku mengangkat wajah.

"Kamu nyuruh aku minta maaf ke dia?"

"Dia 'kan nggak tahu."

"Tapi kamu tahu."

Jakun Kenzo bergerak. Namun, dia tidak menjawab.

Dia tetap berdiri di depan Yuna.

Seperti sebuah dinding.

Dinding yang memisahkanku dari mereka.

Yuna bersembunyi di balik tubuhnya sambil menangis sampai bahunya bergetar.

"Kenzo, apa aku seharusnya nggak menyukai gaun pengantin itu?"

Kenzo menenangkannya dengan suara lembut.

"Ini bukan salahmu."

Aku mengangguk pelan.

Bukan salahnya.

Kalau begitu, berarti ini salahku.

Salah karena selama ini aku terlalu lama menganggap diriku sendiri tidak lebih penting daripada mereka.

Sampai akhirnya mereka merasa gaun pengantinku, kenanganku, bahkan peninggalan ibuku, bisa dicabik sesuka hati lalu dijahitkan ke tubuh sebuah boneka kelinci.

Malamnya, Yuna mengunggah sebuah postingan di media sosial.

Dalam foto itu, kelinci abu-abu tersebut mengenakan gaun pengantin mungil.

Tudung pengantinnya menjuntai di dekat telinga, dengan tepian renda yang rapi dan indah.

Keterangan gambarnya berbunyi [Akankah kebahagiaan yang kupinjam suatu hari nanti benar-benar menjadi milikku?]

Seseorang berkomentar, [Seperti pengantin versi mini.]

Yuna membalas, [Disiapkan sendiri oleh suamiku.]

Aku menatap kata "suamiku" itu cukup lama.

Ketika Kenzo pulang, aku meletakkan kotak gaun pengantin tersebut di atas meja.

Ada bagian dari tudung pengantin yang hilang.

Pinggirannya kasar dan tak beraturan, seperti daging yang habis digerogoti.

Kenzo mengernyit begitu melihatnya.

"Jangan begini."

"Jangan bikin seolah-olah aku sudah lakuin sesuatu yang benar-benar nggak bisa dimaafin."

Aku menatapnya. "Kalau gitu, apa yang sudah kamu lakuin?"

Dia terdiam.

Beberapa saat kemudian, dia mendekat dan hendak memelukku.

"Giana, nanti aku ganti."

"Kalau kamu mau berfoto buat kenang-kenangan, aku akan temani."

"Bahkan kalau kamu mau, aku bisa ngadain pernikahan baru buat kamu."

Aku mundur selangkah.

"Dengan gaun pengantin baru buat mengenang bagaimana kamu menggunting gaun lamaku demi Yuna?"

Wajah Kenzo seketika mengeras.

"Giana, apa kamu harus segitunya sampai semuanya mentok?"

Aku menatapnya.

"Bukan aku yang buat semuanya jadi begini. Kamu sendiri yang bertindak keterlaluan."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 9

    Setelah bercerai, aku pindah ke sebuah apartemen kecil di selatan kota.Aku membeli seprai merah, cangkir merah, dan sebuah payung merah untuk diriku sendiri.Saat pertama kali datang ke rumahku, temanku tertawa dan berkata aku seperti sedang merayakan Tahun Baru sekali lagi.Aku mengangguk. "Memang benar.""Merayakannya lagi dari awal."Gaun pengantin itu tidak kuperbaiki.Renda lama peninggalan Ibu kusimpan terpisah dan tidak pernah lagi kujahitkan ke pakaian apa pun.Aku juga tidak menjadikannya benda kenang-kenangan.Renda itu terbaring tenang di dalam sebuah kotak kayu, seperti dulu Ibu diam-diam mencintaiku.Yuna akhirnya pergi.Kudengar dia menghapus semua unggahan di media sosialnya.Ada juga yang bilang dia pernah mendatangi Kenzo, tetapi ditolak dan tidak diizinkan masuk.Aku tidak pernah memastikan kebenarannya.Bagaimanapun juga, apa pun akhir kisahnya dengan Kenzo, itu sudah tidak ada hubungannya denganku.Sedangkan Kenzo ....Dia tidak pernah datang mencariku lagi.Dia ha

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 8

    Setelah mengajukan perceraian, kami sepakat untuk datang bersama mengambil akta cerai.Di depan kantor catatan sipil, dia berdiri di bawah tangga sambil membawa sebotol soda jeruk.Embun membasahi permukaan botol kaca itu.Saat aku mendekat, suaranya terdengar begitu pelan."Giana."Aku mengangguk."Masuklah."Namun, dia tetap berdiri di tempatnya."Aku sampai harus pergi ke beberapa tempat untuk dapatkan ini.""Dulu, ini minuman kesukaanmu."Aku menatap botol soda itu.Dulu, aku pasti akan menerimanya.Hanya karena dia masih mengingat sedikit kenangan dari masa lalu, aku akan memaklumi semua luka yang telah diberikannya.Namun, sekarang aku hanya berkata, "Aku sudah nggak minum yang manis."Dia tertegun.Aku tersenyum tipis."Manusia bisa berubah."Jemari yang menggenggam botol itu perlahan memutih."Kalau begitu, akan kuingat lagi.""Apa yang sekarang kamu sukai dan nggak kamu sukai, akan kupelajari lagi dari awal."Aku menatapnya."Kamu tahu apa yang paling nggak aku sukai sekarang?

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 7

    Sebelum gugatan resmi diajukan, pengacaraku menjadwalkan satu kali perundingan terakhir.Pertemuan itu berlangsung di kantor pengacara.Kali ini, Kenzo akhirnya bersedia berkompromi dan menyetujui perceraian secara baik-baik. Dia mengenakan pakaian formal, setelan hitam dengan dasi abu-abu tua.Dasi itu dulu kubelikan untuknya.Waktu itu, aku pernah berkata bahwa warna abu-abu membuatnya terlihat lebih berwibawa.Baru belakangan aku tahu, ternyata bukan aku yang menyukai warna abu-abu.Yuna-lah yang menyukainya.Di ruang rapat, pengacara mendorong rancangan pembagian harta ke hadapanku."Pak Kenzo bersedia melepaskan rumah yang diperoleh selama pernikahan beserta seluruh tabungannya."Aku menjawab, "Bagi saja sesuai ketentuan hukum."Kenzo langsung mengangkat kepala."Giana, aku mau kasih semuanya padamu."Aku menatapnya."Berikan saja pada Yuna.""Dia suka barang-barangmu.""Aku sudah nggak suka."Wajahnya seketika pucat."Aku dan dia sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi.""Itu urusa

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 6

    Yuna segera mengunggah sesuatu di akun media sosialnya.Sembilan foto sekaligus dalam satu unggahan.Setiap pakaian milik kelinci abu-abu itu ditata di bagian tengah, seolah sengaja dipamerkan.Ada setelan kerja, gaun ala putri kerajaan, jas dokter, hingga gaun pengantin mini.Keterangannya berbunyi, [Ada kebersamaan yang seharusnya tidak disalahpahami.]Unggahan itu sengaja disembunyikannya dariku.Namun, dia lupa bahwa kami memiliki terlalu banyak teman yang sama.Tak lama kemudian, tangkapan layar unggahan itu sudah dikirim ke ponselku.Seorang teman bahkan meneleponku dengan marah."Giana, dia sudah gila, ya?""Mau aku suruh orang memakinya?"Aku menjawab tenang, "Nggak perlu.""Biarkan saja dia mengunggahnya."Dua jam kemudian, unggahan itu tersebar di internet.Awalnya, orang-orang hanya menganggapnya sebagai tontonan untuk hiburan.Sampai seseorang mulai menguliknya dan menemukan bahwa setiap pakaian boneka yang dipamerkan Yuna ternyata persis sama dengan paket bertema yang pern

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 5

    Pada hari ketiga setelah meninggalkan rumah, aku pergi ke tempat perawatan gaun pengantin.Pegawai toko membentangkan gaun pengantinku di atas kain lembut.Satu sudut tudung pengantinnya hilang, menyisakan tepian yang kasar dan berjumbai.Dia mengenakan sarung tangan putih, lalu memeriksanya cukup lama sebelum akhirnya menggeleng."Renda lama ini nggak mungkin dikembaliin sepenuhnya seperti semula.""Kalau hanya renda biasa, masih bisa diganti.""Tapi Anda bilang ini peninggalan keluarga. Jadi, kami nggak menyarankan Anda perbaiki sembarangan."Aku menatap bagian yang hilang itu sejenak, lalu mengangguk."Tolong buatin surat keterangan kerusakannya."Pegawai itu tampak tertegun."Anda mau ngajuin ganti rugi?""Bukan."Aku menutup kotak gaun pengantin itu."Aku cuma mau nyimpan buktinya."Baru saja aku selesai bicara, lonceng angin di pintu berbunyi.Kenzo berdiri di luar.Kelihatannya dia tidak tidur semalaman. Kemejanya kusut, sementara bayangan jambang mulai terlihat di dagunya.Di t

  • Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci   Bab 4

    Pada hari aku pindah, Kenzo tidak pulang.Dia hanya mengirim satu pesan.[Yuna sedang nggak sehat. Aku akan pulang nanti. Tenangkan dirimu. Jangan lagi bahas perceraian hanya karena sedang emosi.]Aku menatap pesan itu lama, lalu tersenyum.Sampai sekarang, dia masih mengira aku hanya sedang menunggunya pulang agar dia bisa membujukku.Ketika perusahaan jasa pindahan membunyikan bel, aku baru saja menutup kardus terakhir.Aku tidak menghancurkan barang-barang atau menggunting foto-foto kami.Aku hanya memasukkan salinan surat nikah, dokumen properti, riwayat transaksi rekening, dan kotak gaun pengantin ke dalam sebuah map, satu per satu.Sementara itu, semua pemberian Kenzo kutinggalkan di atas lemari dekat pintu masuk.Kalung, parfum, tas, jam tangan.Di bawah masing-masing barang, kuselipkan secarik catatan.[Yuna yang bantu memilih.][Yuna juga punya yang sama.][Yuna suka aroma ini.][Yuna bilang warna abu-abu cocok untukku.]Catatan terakhir kutaruh di bawah kalung kelinci itu.[G

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status