Share

Part 3. Bertemu

Matahari Sabtu kali ini masih malu-malu memancarkan sinarnya. Walau sudah pukul 11.00 siang namun hawanya masih seperti pukul 07.00 pagi. Weekend pertama tanpa Mas Reno. Entah dimana dia, setiap detik rasanya masih memikirkan lelaki berhidung mancung itu.

Hari ini malas sekali rasanya berkegiatan. Ku ambil gawai di atas nakas, yang dari semalam sepulang kerja tak kusentuh. Ku buka aplikasi icon berwarna hijau sambil berselonjoran di tempat tidur, banyak chat yang masuk mulai group SD, SMP, SMA, kuliah, sampai group kantor, dan ada beberapa chat pribadi. Tetapi, mata ku tertuju pada pesan dari sosok yang selalu dikangenin. Dia Reisya.

[Rin, Sabtu ini ada acara nggak? Ketemuan yuk, mumpung aku lagi di Jakarta!] 

Duh Reisya, kok kamu selalu ada di saat yang tepat sih. Ku balas pesan darinya.

[Haa! Lu di Jakarta? Oke, kita ketemunya di tempat biasa aja yah Rei, sekitaran pukul 14.00 aja ketemuannya]

[Iye, sampai ketemu nanti yah] balasnya lagi

Reisya adalah teman seperjuanganku sewaktu masih kuliah dulu. Pertemuan tidak terduga sebagai mahasiswa baru kala itu, awal dari persahabatan kami sampai saat ini. Dia juga salah satu saksi perjalanan cintaku dengan Mas Reno.

Ah, lagi-lagi kamu Mas. Andai saja kemarin kamu mau mendengarkan sedikit penjelasan ku, mungkin cerita weekend ini akan berwarna.

***

"Baaaaarrr" Reisya mengagetkanku dari belakang sembari memukul pundak keringku.

"Astagfirullah, kamu Rei, ih. Eh tumbenan nih main ke Jakarta? Kangen banget lho gue sama elu." kupeluk tubuh dia yang agak berisi itu.

"Iya nih, ada urusan kerjaan. Lumayan lah sambil liburan. Hampir seminggu gue di sini besok juga balik." pungkas Reisya, lalu menyedot juice alpukat kesukaannya dari dulu.

"Wah parah lu, udah hampir seminggu di sini baru ngabarin gue. Terus lu kapan nikah? Udah nemu sama pria idaman lu?"

"Hok, hok, hok, a-apaan sih lu Rin,  Na-napa nanya so-soal itu sih ah. Pertanyaan lu bikin gue tersedak gini."

"Lah, wajar dong gue pengen tau, kali aja lu udah nemu." cecarku

"Sabar dong Neng, lu udah sama kayak emak gue, nanyain itu mulu. Eh, ngomong-ngomong gue nggak lagi ganggu weekend lu sama Reno kan?"

Ya ampun kenapa Reisya pakai sebut-sebut nama Reno segala sih, bikin mood gue jadi berantakan.

"Oooii, bengong aja lu, gue nanya ini nanya. Eh bentar-bentar itu muka kenapa jadi badmood gitu Rin. Lu lagi ada masalah?" cecar gadis berambut potongan dora itu.

"Ah enggak, nggak kenapa-kenapa kok" ku palingkan wajah dari Reisya berharap dia tidak menaruh curiga dengan sikapku.

"Lu yakin nggak mau cerita sama gue, Rin?" nada suara Reisya yang merendah membuat dada ini semakin sesak dan airmata pun tak terbendung lagi.

"Rin, lu kok nangis sih? Kenapa? Ada apa? Cerita dong sama gue!" tubuhku dipeluk Reisya airmata pun semakin pecah membasahi bajunya.

"Gue, gue, gue ditalak sama Mas Reno, Rei."

"Haa! Apaa! Di-ditalak? Kenapa bisa?" Reisya seakan tak percaya dengan apa yang aku ucapkan, dia mengguncang tubuhku.

"Iya, ini hanya salah paham. Tapi Mas Reno tidak mau dengerin penjelasan gue, Rei." lirihku

"Apanya salah paham Rin?" Reisya semakin penasaran dengan apa yang sudah terjadi.

Jadi waktu itu........

"Bentar Rin, cowok gue nelfon. Gue angkat dulu yah" Reisya memotong pembicaraan ku.

Selang semenit ....

"Gimana-gimana tadi Rin. Eh iya, cowok gue mau ke sini lu nggak apa-apa kan kalau dia gue ajak gabung sama kita. Biar lu tahu juga siapa pasangan gue sekarang." 

Sekejab ku seka airmata yang sedari tadi mengucur deras. "Haa, lu udah punya cowok? Terus cowok lu di sini juga? Kok lu nggak pernah cerita sama gue sih, Rei. Kerja di sini cowok lu?" cecarku.

Rasa sedih tadi berubah menjadi haru, aku yang tadinya sendu, sedikit terhibur mendengar pernyataan Reisya. Sahabatku ini memang tidak mudah untuk jatuh cinta, sama hal nya dengan aku.

"Lah, kok jadi bahas gue sih. Kan cerita lu lebih penting, Rin. Eh Rin, itu cowok gue udah datang." sahut Reisya, sembari menyubit tanganku.

Posisi ku yang membelakangi pintu masuk, tentu tidak melihat siapa saja yang lalu lalang masuk ke restoran tempat kami nongkrong. Dan.....

"Rin, kenalin ini cowokku." 

Sewaktu mau berdiri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman, mataku membeliak sosok lelaki yang ku kenal berdiri di depan ku dan dia adalah cowok dari sahabatku sendiri. Oh Tuhan, mengapa begitu rumit masalah yang ku hadapi.

Komen (3)
goodnovel comment avatar
jess
setuju. gak jelas karakternya.
goodnovel comment avatar
Bocah Ingusan
tokohnya bego tak sok hebat. ga layak baca
goodnovel comment avatar
Bunda Wina
sapa tuh cowok sahabatny Rin ya jadi penasaran
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status