Share

BAB 02

“Cari penggantiku mas.” Ucap Zahra begitu saja.

Entah apa yang di pikirkan Zahra, namun kalimat itu yang terlintas di benaknya saat merenungkan diri selepas pulang dari rumah sakit.

“Apa maksudmu berbicara  seperti itu?” Mizan semakin emosi mendengar penuturan sang istri.

“Carilah penggantiku dan menikahlah dengannya pilih yang lebih baik dariku mas.” Ucap Zahra kini yang tidak bisa membendung lagi air matanya, membiarkan air matanya terjun bebas di kedua matanya yang indah.

“Apa yang sedang kamu pikirkan Zahra? Mengapa aku harus menikahi wanita lain?” sungguh kini Mizan tidak memahami apa yang dipikirkan sang istri, mengapa harus memintanya menikahi wanita lain sedangkan  dia sangat sangat mencintai Zahra.

“Aku saat ini punya penyakit kanker serviks stadium akhir mas, umurku tidak akan lama lagi.”

“Itu tidak masalah bagiku sayang, kita berjuang bersama. Aku akan mencarikan rumah  sakit terbaik di negara ini, sekalipun harus  sampai ke luar negeri  tidak masa, asal jangan yang meminta hal yang tidak bisa aku kabulkan seperti itu.” Mizan membawa tubuh Zahra dalam dekapannya.

“Tapi aku takut mas.”

“Jangan takut ada aku yang selalu di sampingmu.”

*****

Satu tahun telah berlalu setelah di nyatakan positif mengidap penyakit stadium akhir, kini Zahra sedikit mengalami perubahan setelah berobat ke Singapura, saat ini seperti biasa sudah tugasnya menyiapkan  makan  untuknya dan Mizan, padahal sudah sering kali menyuruh agar asisten  di mansionnya saja yang membuatkan makanan  dan menyuruh agar lebih focus saja pada pengobatannya.

Namun seperti biasa pula Zahra selalu menolak dengan alasan sudah menjadi tanggung jawabnya.

“Sayang aku hari ini akan lembur, jadi tidak perlu menunggu ku pulang dan menyiapkan makanan, tidurlah lebih awal.”

“Lembur lagi?” tanya Zahra yang kini sedang menyiapkan nasi dan lauk pauk yang baru saja dia masak.

“Iya mau bagaimana lagi, project saat ini harus lebih cepat diselesaikan karena sudah ada project lain yang sudah menanti.”

Ada rasa ingin agar Mizan tidak lembur terus menerus  karena saat ini sudah jarang bisa quality time bersama, namun mau bagaimana lagi karena sudah menjadi tanggung jawab pekerjaannya.

“Iya sudah kalau begitu hati – hati nanti pulangnya.”

Beberapa menit berlalu seperti biasa karena sekarang mulai jarang banyak waktu, mereka mencuri – curi waktu untuk sekedar menanyakan kabar saat jam makan, agar komunikasi terus terjalin.

“Aku sudah selesai, terima kasih sarapannya sayang. Aku akan pergi sekarang.” MIzan pun bersiap setelah melihat jam di ponselnya.

“Tidak perlu berterima kasih, iya sudah aku antar sampai depan.”

Zahra pun mengantar sang suami berangkat bekerja, setelah pergi kini dia bersiap untuk ke butik.

Butik yang telah dia kelola sebelum menikah dengan dengan Mizan, tidak setiap hari dia pergi ke butik karena Mizan melarangnya demi kesehatan. Jadi hanya sesekali selebihnya bila ada sesuatu dilakukan secara daring.

“Selamat pagi bu Zahra.” Sapa sang asistennya saat melihat Zahra masuk ke dalam butik.

“Pagi Mila keadaan butik kemarin aman?”

“Alhamdulillah butik aman dan lancer bu.”

“Syukurlah kalau begitu, saya masuk dulu iya kalau begitu.”

“Baik bu silahkan, oh iya saya sudah menyiapkan teh di dalam bu barusan.”

“Baik, terima kasih iya.” Zahra pun masuk ke ruangannya dan mulai melakukan kegiatannya dari mendesain dan mengecek ke adaan butik saat ramai pengujung.

Zahra begitu focus dengan dunianya saat mendesain sampai  tidak terasa hari sudah siang, kalau saja asistennya tidak menegur untuk mengajaknya makan mungkin dia akan tetap focus mendesain beberapa gaun, karena kebetulan hari ini ada beberapa konsumen yang ingin Zahra yang mendesainnya secara langsung.

“Bu ayo kita makan siang terlebih dahulu.” Ucap Mila yang melihat bosnya belum keluar untuk makan siang.

“Oh sudah jam makan siang, iya sudah ayo kita pergi cari makan.” Zahra keluar  dari ruangannya untuk makan siang.

Zahra keluar dari butik untuk mencari makan siang, saat di perjalanan dia tidak sengaja menabrak seseorang saat berjalan.

“Ouh…aku minta maaf tidak sengaja  menabrakmu.” Ucap Zahra meminta maaf saat seorang wanita terjatuh saat berpapasan dengannya.

“Tidak apa – apa saya juga minta maaf karena saya kurang memperhatikan jalan.” Sahut wanta tersebut lalu seraya bangun dan menepuk pakaian bagian belakangnya.

“Apa kamu terluka?” Zahra memperhatikan wanita tersebut takut ada yang terluka.

“Tidak…aku tidak apa – apa aku permisi sedang buru –buru permisi.” Wanita tersebut pergi meninggalkan Zahra.

Melihat wanita itu dalam keadaan baik baik saja, Zahra pun kembali menyusuri jalan menuju tempat yang menjadi tujuannya.

“Jadi dia wanitanya? Menarik, baiklah pemainan akan segera kita mulai.” Wanita tadi berpapasan dengan Zahra tersenyum misterius seraya berjalan menyusuri jalan ke sebuah kafe.

“Maaf lama.” ucap wanita tersebut menghampiri sebuah meja yang terdapat beberapa orang yang di kenalnya.

“tumben dari mana dulu? Tumben mukanya bahagia begitu.”

“Ada deh rahasia.”

“Wah Mira kita sudah bisa main rahasiaan sekarang.”

“Sudahlah bukan hal penting ayo segera pesan biar aku yang traktir hari ini.” Sahut Mira.

“Wah mantap nih.”

Jam menunjukkan pukul empat sore, Zahra memutuskan kembali ke mantion karena merasa tubuhnya mulai terasa lelah.

Baru sampai Zahra sudah di sambut oleh bibi dan keponakan  dari  Mizan yang selalu membuat Zahra selalu memiliki stok kesabaran.

“Dari mana saja kamu?” tanya Endah bibinya Mizan.

“Habis pulang dari butik bi.” sahut Zahra sekenanya.

“Alah pake alesan ke butik, palingan nongkrong di kafe, ngabisin duit kak Mizan” tuduh Hilda.

Dan benar saja baru selesai berbicara padahal dia berkata jujur, sudah mendapatkan tuduhan seperti itu.

“Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu? Apa ada buktinya seperti yang kamu tuduhkan itu?” ucap Zahra sedikit kesal karena tubuhnya lelah malah datang di tuduh yang tidak benar.

“Sudah jangan bicara lagi tolong bawakan minuman saja aku sangat haus!"

Dengan terpaksa Zahra mengambilkan Minum untuk Endah karena malas untuk berdebat lebih lanjut. dan setelahnya pergi ke kamar membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya.

"Ada apa bi Endah kemari tanpa memberitahu tidak seperti biasanya."

"Sudahlah aku lelah lebih baik aku berendam air hangat saja."

Setelah selesai dengan ritual membersihkan dirinya, Zahra beranjak turun untuk membuat makanan. terlihat Endah dan Hilda masih di ruang tengah.

"Sepertinya mereka akan menginap." tanpa menghiraukan keduanya Zahra membuat makanan untuk dirinya sendiri karena Mizan sebelumnya sudah berpesan tidak perlu membuatkannya makanan karena akan pulang larut malam.

setelah selesai Zahra pun kembali naik menuju kamarnya berniat memakannya di kamar.

"Enak banget bikin makanan nggak bagi - bagi." sindir Hilda yang melihat Zahra pergi ke kamarnya membawa makanan.

"Ada di dapur." sahut Zahra singkat tanpa berbasa - basi lagi.

Meski tidak begitu akur Zahra tetap berusaha bersikap baik dan selalu membuat makanan untuk bibi dan anaknya tersebut bila datang ke mansion, selama mereka berdua tidak berulah membuatnya kesal.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status