Share

Pusat Perhatian

Author: Erumanstory
last update publish date: 2026-08-15 12:16:50

Dewi malam itu mengenakan gaun panjang berwarna emerald berbahan sutra premium, dengan hiasan mutiara di beberapa sisi. Bagian dadanya berbentuk V, menampilkan sedikit belahan dadanya yang cukup besar. Terkesan elegan dan seksi sekaligus.

Sandara juga merias wajah Dewi layaknya perias profesional. Satu set perhiasan bermata merah delima menghiasi telinga, leher, dan tangan wanita itu. Membuat aura kecantikan Dewi semakin menguar.

Wajah penuh luka lebam milik Dewi disulap secantik barbie. Pada dasarnya wajah wanita itu memang sudah sangat cantik. Saat penuh luka saja masih mempesona, apalagi setelah dirias seperti sekarang. Wajar saja kalau Bisma sampai terbius pesonanya.

Dewi melangkah maju, mendekati Bisma. Jari-jari lentiknya menyentuh dada sang bodyguard dengan gerakan sedikit sensual. Selanjutnya, jari-jarinya itu juga membelai wajah tampan Bisma, menyusuri rahang tegas miliknya.

"Aku tahu aku cantik, tetapi kamu tidak perlu sampai terpana seperti itu," goda Dewi setengah berbisik sambil menatap mata Bisma. Jangan lupakan juga senyumnya yang merekah.

Bisma memegang pergelangan tangan Dewi, dan menyingkirkannya. Memperlihatkan kalau dirinya tidak nyaman dengan sentuhan wanita itu.

"Saya sudah bilang, jangan bersikap seperti ini, Nyonya. Saya tidak ingin Tuan Heru salah paham."

Seolah tidak mendengarkan, Dewi justru melangkah lebih dekat ke Bisma, memaksa lelaki itu mundur, setiap kali langkah Dewi maju.

"Kamu takut sama Tua Bangka itu, atau takut jatuh dalam pesonaku, hm?" godanya lagi.

Tanpa aba-aba, Bisma menarik pinggang Dewi, membuat tubuh mereka saling menghimpit satu sama lain.

'Gila! Entah mengapa detak jantungku tidak terkontrol gara-gara tindakan spontan Bisma ini. Aku yang menggodanya lebih dulu, tetapi saat dia membalas, ternyata aku gugup juga.' batin Dewi, dengan tatapan terkunci pada mata Bisma yang kini juga menatapnya.

"Saya tidak ada waktu untuk menanggapi keisengan Anda. Sebaiknya sekarang Anda turun, sebelum Tuan Heru naik dan memergoki Nyonya sedang menggoda saya," ucapnya tegas, lalu melepaskan Dewi begitu saja.

Bisma memberi ruang untuk wanita itu berjalan menuju ke arah tangga yang menghubungkan ke lantai bawah.

"Sebenarnya aku masih ingin lebih lama bersamamu, tetapi sepertinya aku harus segera turun sebelum Pak Tua itu mengamuk seperti seekor beruang kelaparan. Bye!"

Dewi sedikit mengangkat gaunnya, lalu berlari kecil ke arah tangga. Bukan karena buru-buru, tetapi dia sebenarnya sedang menyembunyikan semburat merah di pipinya. Tindakan Bisma barusan membuatnya salah tingkah.

Tanpa Dewi sadari, Bisma tersenyum tipis, lalu mengikuti langkahnya.

Seluruh tamu Heru menatap kagum ke arah Dewi yang baru turun dari tangga. Sementara Heru sendiri menyongsong langkah sang istri, dan menyambutnya dengan hangat. Meskipun jijik, Dewi tetap memeluk lengan lelaki tua itu, dan mengikuti langkahnya menuju rekan-rekan kerjanya.

Heru dengan bangga memperkenalkan Dewi pada semua rekannya. Untuk mendukung tindakan Heru, Dewi menunjukkan kelembutannya. Dia juga menyapa semua partner kerja Heru selayaknya nyonya tuan rumah yang ramah.

"Ya Tuhan, ternyata istri Anda cantik sekali, Pak Heru. Tidak hanya muda, tetapi istri Anda memiliki pesona yang sulit ditolak," puji Yerin, salah satu istri rekan kerja Heru.

"Begitulah, makanya saya terus berusaha untuk mendapatkan dia. Istri saya ini simbol keberuntungan saya. Sejak menikah dengannya, banyak proyek yang berhasil saya menangkan." Heru mengatakan itu sambil memandangi wajah Dewi.

Wanita itu tetap memasang senyuman lebar, menunjukkan kalau dia sangat bahagia menjadi 'Nyonya Heru'. Padahal di otaknya penuh rencana. Tentang bagaimana dia bisa kabur tanpa ketahuan.

"Sesuai namanya, istri Anda ini memang seperti Dewi yang turun dari langit. Saya juga bisa melihat bagaimana usaha Anda berkembang pesat dalam sebulan belakangan. Selamat Pak Heru," ucap Hartono tulus.

"Terima kasih, Pak Hartono. Semuanya, mari kita rayakan keberhasilan kita semua. Malam ini kita bersenang-senang sampai pagi!" seru Heru sambil mengangkat gelas di tangannya cukup tinggi.

Semua yang hadir di sana menyahut, dan ikut mengangkat gelas di tangan mereka sebagai bentuk penghormatan pada Heru.

Musik berdentum, semua yang hadir larut dalam pesta. Dari kejauhan, Bisma tetap mengamati Dewi yang tengah bercengkrama dengan para tamu. Sesekali dia menyesap isi gelasnya.

Getaran ponsel di saku celananya mengalihkan perhatian Bisma. Lelaki itu segera mengambil ponselnya, dan membaca pesan singkat yang dia terima dari seseorang.

"Ingat tujuan utamamu, Bisma. Jangan sampai gagal. Hutang nyawa, harus dibayar dengan nyawa."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Rencana Matang

    Kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Bisma akhirnya tiba menjelang sore hari. Sebuah panggilan telepon berdering kencang di ponsel Heru. Telepon itu datang dari pengacara pribadinya yang mengabarkan bahwa pihak kepolisian dan petugas kejaksaan baru saja mendatangi kantor cabang utamanya untuk menyegel seluruh dokumen aset.​Kabar tersebut membuat Heru yang tadinya teler akibat alkohol seketika tersentak panik. Tanpa memikirkan hal lain, Heru langsung menyambar kunci mobilnya, memaki-maki pengemudinya, dan bergegas pergi meninggalkan mansion dengan terburu-buru untuk mengurus masalah hukum yang mencekik lehernya.​Melihat mobil Heru melaju cepat keluar dari gerbang utama, Bisma bergerak cepat. Dia melangkah menuju lantai dua, memastikan Nyonya Dewi berada di dalam kamar dalam keadaan aman dan terkunci dari dalam. Bisma juga sudah menempatkan dua orang pengawal terpercaya binaan klan Sudrajat untuk bersiaga di sekitar koridor kamar Nyonya Dewi.​Setelah merasa situasi mansion benar-bena

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Heru Mulai Gila

    Suara teriakan dan gedoran keras di pintu pagar depan mansion Heru terdengar semakin beringas sejak pagi hari. Tiga orang pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam berdiri memaki-maki di luar pagar, menuntut Heru untuk segera keluar dan melunasi utang-utangnya yang bernilai puluhan miliar rupiah. Di luar gerbang, beberapa wartawan media bisnis juga tampak berkerumun, berusaha mengambil foto kediaman mewah yang sebentar lagi akan disita secara resmi oleh bank.​Kehancuran bisnis Heru kini sudah berada di puncaknya. Tidak ada lagi celah sedikit pun bagi Heru untuk menyelamatkan diri. Dalam waktu kurang dari seminggu, seluruh investor besar menarik modal mereka secara serentak. Rekening perusahaannya maupun rekening pribadinya dibekukan total oleh pihak bank atas perintah lembaga otoritas keuangan yang disokong secara rahasia oleh pengaruh klan Sudrajat. Panggilan telepon dari para sekutu lamanya kini berubah menjadi makian dan tuntutan ganti rugi.​Di dalam ruang tamu utama mansion

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Mengenang Masa Terindah

    ​Setelah berpamitan dengan Ibu Hanum dan Kakek Prawiro di kamar rawat VIP, Dewi dan Bisma berjalan berdampingan menuju lift khusus. Begitu mereka tiba di area parkiran bawah tanah yang sepi, Bisma dengan sigap membukakan pintu depan sebelah kemudi untuk Dewi—bukan lagi pintu penumpang belakang seperti biasanya.​Dewi menyunggingkan senyum tipis, lalu masuk dan duduk santai di samping Bisma. Sedan hitam itu perlahan meluncur meninggalkan area Rumah Sakit Sudrajat Medika, bergabung dengan arus lalu lintas kota Jakarta yang mulai padat menjelang siang.​Suasana di dalam kabin mobil terasa amat sejuk dan tenang. Dewi menyandarkan kepalanya pada sandaran jok, menatap jalanan di luar jendela dengan perasaan yang terasa jauh lebih ringan. Rasa perih di punggungnya seolah tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kebahagiaan luar biasa yang dia rasakan setelah melihat ibunya pulih dan menemukan sosok kakek yang begitu menyayanginya.​Bisma sesekali melirik wanita di sampingnya itu dari ba

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Restu Sang Kakek

    Di dalam kamar perawatan President Suite, suasana terasa begitu hangat dan penuh suka cita. Dewi duduk rapat di samping ranjang Hanum, saling menggenggam tangan dan berbincang ringan. Tawa kecil yang sudah sekian lama menghilang dari bibir Dewi akhirnya terdengar kembali. Hanum terlihat begitu bahagia, berkali-kali mengelus jemari putrinya dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa syukur.​Prawiro Sudrajat berdiri agak jauh di dekat jendela besar kamar, memerhatikan pemandangan indah di hadapannya dengan senyuman lembut di wajah tuanya. Selama berpuluh-puluh tahun, hatinya diliputi rasa bersalah karena telah kehilangan putri tunggalnya. Namun hari ini, melihat Hanum dan Dewi berkumpul kembali dalam keadaan selamat, beban berat di pundak Prawiro seolah terangkat sebagian.​Prawiro melirik ke arah Bisma yang berdiri siaga di dekat pintu masuk dengan tubuh tegap dan wajah tenang. Sikap Bisma yang selalu waspada dan penuh penghormatan menunjukkan betapa profesionalnya pria muda itu. Namun, P

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Pertemuan Pertama Cucu Dan Kakeknya

    ​Mobil sedan hitam yang dikendarai Bisma perlahan memasuki kawasan gedung utama Rumah Sakit Sudrajat Medika—sebuah rumah sakit swasta paling megah dan modern di pusat kota. Mobil itu tidak berhenti di lobi umum, melainkan langsung mengarah ke jalur khusus VIP yang memiliki akses lift pribadi menuju lantai teratas.​Saat keluar dari mobil, Dewi menatap sekelilingnya dengan dahi berkerut heran. Lorong lantai khusus yang mereka lewati sangat sepi, bersih, dan dijaga ketat oleh beberapa pria berjas hitam tebal dengan sikap tegap. Suasananya begitu tenang dan tenteram, sangat berbeda dengan ruang perawatan biasa yang pernah Dewi kunjungi sebelumnya.​Bagaimana mungkin Ibu bisa dirawat di tempat serba mewah dan dijaga ketat seperti ini? Siapa yang membiayai semua ini? batin Dewi seraya melangkah pelan di samping Bisma.​Bisma membimbing Dewi menuju sebuah pintu ganda besar terbuat dari kayu jati berukir di ujung lorong. Sebelum Bisma sempat mengetuk pintu tersebut, gagang pintu lebih dulu b

  • Penjaga Hati Sang Nyonya   Demi Bertemu Ibu

    Rasa panas dan menyengat di punggung Dewi semakin tidak tertahankan ketika pagi menjelang. Meskipun Sandara sudah berusaha membantu membersihkan lukanya dengan peralatan seadanya di kamar, sisa-sisa sabetan cambuk dari Heru membutuhkan penanganan medis yang jauh lebih serius. Setiap kali Dewi mencoba menggerakkan kedua bahunya, kain perban yang menempel pada kulitnya terasa menegang dan menarik bekas luka yang masih basah, menimbulkan denyut nyeri yang menjalar hingga ke kepala.​Dewi tahu dia tidak bisa membiarkan fisiknya terus memburuk dalam kondisi seperti ini. Dia butuh berobat ke rumah sakit untuk mendapatkan pembersihan luka secara steril dan obat pereda nyeri yang memadai. Namun, berhadapan langsung dengan Heru yang sedang emosional dan tertekan tentu bukan pilihan yang bijak.​Dengan langkah pelan dan hati-hati, Dewi keluar dari kamarnya sambil memegangi dinding lorong. Dia berjalan menuruni tangga lantai dua menuju area foyer bawah. Di sana, Dewi melihat Bisma sedang berdiri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status