เข้าสู่ระบบ"Erin Ferdinand, menendang wajah suaminya... Kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Daddy mu jika aku mengatakannya em? " Erin tidak menjawab, dia hanya duduk diam mendengarkan Melvin menyampaikan kejahatan yang baru beberapa saat dia lakukan. "Tidak menjawab? " Sepertinya Melvin menunggu Erin memberikan tanggapan atas apa yang baru dia katakan. Duduk saling berhadapan di meja makan dan hanya di batasi oleh meja makan. Melvin seolah sedang melakukan persidangan dan Erin adalah terdakwa. Entah hukuman jenis apa yang akan dia dapatkan di malam selarut ini. "Kenapa juga kamu tiba-tiba tidur di sampingku, itu kan membuat orang kaget, " Ujar Erin dengan suara pelan mungkin hanya dia yang bisa mendengar ucapanya sendiri. Itu harapannya. "Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Melvin menatap dengan picingan mata. "Tidak!" Sangkal Erin cepat. Secepat dia menarik nafas. "Ahhh dia dengar, padahal suaraku pelan sekali. Dia tidak mungkin mengar apa yang aku ucapkan dalam hati kan? " bantin Erin m
"Tapi kak aku... " kalimat Erin tertahan saat melihat Melvin dan sekertaris yang baru saja menyuruhnya datang secepat mungkin di sini lewat dan sepertinya mereka akan kaluar. "Rasanya aku ingin langsung menangkap kecoa itu dan langsung aku lempar ke wajahnya. Dua orang yang menyebalkan hari ini, " pekik Erin kesal dalam hati melihat dua orang sama mengesalkannya dalam hidupnya. "Hai kenapa berhenti ayo jalan!" Perintah penghuni kamar yang memilih masalah kecoa pada Erin dia sudah berjalan mendahului Erin yang terhenti tadi saat melihat Melvin dan Lev. Tiba di depan kamar, penghuni itu langsung membuka pintu kamarnaya dan memerintahkan Erin untuk mencari kecoa yang tadi mengangungnya. "Katanya hotel terbaik tapi kok ada serangga, " Gerututnya. "Benar aku juga ingin mengatakan itu, ini hotel apaan, Moonlight Hotel lebih baik dari ini ," ujar Erin membenarkan dalam hati. "Sekarang kamu masuk dan cari kecoa itu, aku tidak ingi
“Maksud kamu, aku harus turun di sini?”ulang Erin tidak percaya dengan kata yang barusan dia dengar. “Apa dia bercanda, dia ingin meninggalkan kan aku di tengah jalan,” batinya, masih tidak percaya. “Jarak Faradise Hotel dari sini tidak lebih dari seratus meter dan tempat kamu kuliah tidak jauh dari gedung Paradise Hotel.” “Lalu? Apa hubungannya dengan kamu menyuruhku turun di sini?” tanya Erin kebingungan dengan nada sedikit kesal. Wajarkan dia bereaksi seperti itu. Dia diusir dari dalam mobil dengan alasan yang membuatnya bingung. Sebelum memberi jawaban pada Erin, pemilik Paradise Hotel itu terlihat menarik sudut bibirnya lalu menatap ke arah Erin. “Aku bersedia menikah dengan Melvin dengan syarat, aku tidak ingin siapapun tahu pernikahan ini … kamu ingat perminat itu, aku yakin kamu tidak melupakan permintaan itu Erin Aurora Caroline Ferdinad!” “Haaa,” Erin menghembuskan nafasnya jengah. Rasanya Melvin terlalu berbelit-belit memberinya penjelasan yang membuatnya tambah kesal
Erin terlihat ketakutan melihat orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam aparteman, kenapa bisa. Pertanyaan yang ada di benak Erin saat ini. “Saya Lev, sekertaris Tuan Melvin, Maaf sudah membuat anda kaget,” ucap Lev. Dia datang ke sini atas permintaan Melvin dan keberadaan Erin di aparteman ini tentu saja sudah diketahui oleh sekertaris tersebut. Raut wajah ketakutan Erin langsung menghilang di wajah cantiknya saat mendengar penjelasan Lev, berganti dengan tatapan mengamati. “Ah iya kenapa aku tidak sadar, dia kan juga ada di pernikahan aku dengan Melvin,”batin Erin menyadari jika laki-laki yang ada di hadapanya sudah pernah ia lihat saat di hotel. ‘Maaf Nona saya datang kesini ingin mengambil berkas di meja kerja Tuan Melvin dan juga menyampaikan jika Tuan Melvin akan berada di kantor untuk waktu yang lama, jadi saya akan mengantar anda ke rumah orang tua Tuan Melvin. Erin sedikit kaget mendengar informasi yang disampaikan oleh sekertaris suaminya ini, apa sesibuk itu suamin
“Sakit!” keluh Erin sambil mengusap dahinya yang baru saja disentil oleh Melvin. “Iiihh kenapa kamu menyentil ku, sakit tahu!” pekiknya kesal dengan raut wajah merah padam. “Itu cara supaya isi kepalamu kembali normal,” Balas Melvin seolah bisa menebak apa yang sementara dipikirkan oleh Erin. “Memang apa isi kepalaku, memang kamu tahu?” tentang Erin, meminta Melvin mengatakan apa yang dia pikirkan sampai Melvin seenaknya mengatakan seperti itu padannya, tangannya masih terus mengusap dahinya untuk menghilangkan rasa sakit akibat ulah Melvin. Melvin tersenyum miring, lalu dengan pelan kembali mendekati Erin sambil menundukkan kepalanya menatap wajah kesal wanita yang sudah menjadi istrinya. “Ingin aku realisasikan saja apa yang tadi kamu pikirkan. em?”. Erin seketika panik dan menggeleng cepat, paham maksud dari ucapan Melvin “Tidak!”. “Kalau begitu cepat ganti bajumu dan tidur, besok pagi kita akan kembali ke partemanku”. “Apartemen? Maksudnya kita berdua. Eh tunggu, aku tidak
Sesuai permintaannya pernikahannya dengan laki-laki yang saat ini berjalan di sampingnya, terlaksana dengan tertutup. Tak ada media dan tak ada rekan bisnis dari kedua yang hadir. Hanya keluarga inti, itu adalah syarat yang di inginkan Erin saat mengiyakan pernikahannya. "Ini serius aku sudah menjadi istri orang menyebalkan ini?" batin Erin sambil menatap punggung lebar di depannya. Ah dia tidak akan lupa kalimat pertama yang dikeluarkan Melvin tadi, mengatakan jika dia bisu. Erin meremas gaunnya. Iya kembali kesal saat mengingat ucapan Melvin tadi. "Aku sungguh ingin mencakar wajahnya. Tidak, aku ingin mengigit lehernya" batinya kesal. Sambil menatap tajam leher putih bersih milik suaminya. “Tiin” Suara pintu lift terbuka. Erin Langsung mengubur rencana balas dendamnya, dan tanpa saling bicara, Melvin bergeser sedikit menjauh seolah memberi isyarat agar Erin masuk lebih dulu ke dalam lift. Malam ini, sesuai dengan agenda pernikahan mereka, Erin dan Melvin akan menghabiskan m







