مشاركة

Bab. 2 Malam Pertama

مؤلف: Luna Panumbra
last update تاريخ النشر: 2026-07-29 21:36:14

Sesuai permintaannya pernikahannya dengan laki-laki yang saat ini berjalan di sampingnya, terlaksana dengan tertutup. Tak ada media dan tak ada rekan bisnis dari kedua yang hadir. Hanya keluarga inti, itu adalah syarat yang di inginkan Erin saat mengiyakan pernikahannya.

"Ini serius aku sudah menjadi istri orang menyebalkan ini?" batin Erin sambil menatap punggung lebar di depannya.

Ah dia tidak akan lupa kalimat pertama yang dikeluarkan Melvin tadi, mengatakan jika dia bisu. Erin meremas gaunnya. Iya kembali kesal saat mengingat ucapan Melvin tadi.

"Aku sungguh ingin mencakar wajahnya. Tidak, aku ingin mengigit lehernya" batinya kesal. Sambil menatap tajam leher putih bersih milik suaminya.

“Tiin”

Suara pintu lift terbuka. Erin Langsung mengubur rencana balas dendamnya, dan tanpa saling bicara, Melvin bergeser sedikit menjauh seolah memberi isyarat agar Erin masuk lebih dulu ke dalam lift. Malam ini, sesuai dengan agenda pernikahan mereka, Erin dan Melvin akan menghabiskan malam pertama mereka di lantai tertinggi Paradise Hotel.

Entah seperti apa kata menghabiskan menurut mereka berdua. Apa akan berakhir dengan malam manis atau justru berakhir dengan adu mulut yang tertahan saat di altar pernikahan tadi.

“Dia luar biasa sekali, tidak menampilkan ekspresi apapun setelah membuatku kesal tadi, dia seperti tidak membuat masalah denganku, sebenarnya apa yang ada di kepalannya?” pekik Erin kembali kesal dalam hati sambil melirik Melvin yang berdiri tidak bergeming.

Erin penasaran, ini adalah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun dan tidak masuk akalnya, pertemuan mereka tepat saat berada di altar pernikahan. Melvin yang dia kenal adalah orang yang banyak bicara dan menyebalkan dulu, tapi sekarang jauh dari itu semua. Apa yang membuat laki-laki ini berubah, ya walaupun satu kalimat tadi berhasil membuatnya ingin mencakar suaminya sendiri.

“Tiin”

Pintu lift itu kembali terbuka. Erin lebih dulu keluar. Ia menyimpan dulu rasa penasaranya karena di depannya terdapat masalah. Hanya ada satu kamar di depannya.

“Apa tidak ada kamar lain di lantai ini?” Erin memberanikan diri bertanya sambil tatapannya mencari kamar lain berharap ada kamar satu lagi. Jadi dia tidak perlu berada dalam satu kamar dengan Melvin.

Melvin sepertinya tidak berniat memberinya jawaban. Pemiliki hotel itu berjalan melewati Erin yang menunggu jawabannya. Melvin membuka kamar itu dan langsung masuk.

“Kamu ingin berdiri disitu sampai pagi?” Melvin bertanya dengan menampilkan wajah datarnya. Akhirnya dia bersuara setelah diam seribu bahasa sejak tadi.

Erin menggeleng cepat dan langsung menyeret gaun penganting miliknya masuk ke dalam kamar. Pintu kamar itu langsung ditutup oleh Melvin. Tanpa mengatakan apapun lagi Melvin, langsung masuk ke dalam sebuah ruangan yang terdapat di dalam kamar itu.

Berbeda dengan Erin. Gadis itu hanya berdiri mematung di dekat pintu, bingung dia harus melakukan apa. Erin melarik pandangannya pada suatu tempat yang langsung membuat dirinya merinding. Ranjang penganting yang sudah dihias dengan taburan kelopak mawar di atasnya. Ya, mungkin dia akan dengan riang gembira menikmati semua yang sudah diperispakan oleh orang tuannya jika dia menginginkan pernikahan ini, tapi kan ceritanya lain.

“Kamu ingin tidur dengan penampilan seperti itu?”

Kali ini Erin tidak memberikan respon apapun, dengan pertanyaan Melvin hingga membuat Melvin yang kini sudah berbaring di atas tempat tidur kembali bersuara. “Kamu takut aku melakukan sesuatu padamu? Kamu tenang saja aku tidak akan melakukannya.”

Entah mengapa kalimat Melvin seolah menjadi oase bagi Erin. Memang itu yang ia takutkan. Dia takut jika Melvin sampai menyentuhnya. Meskipun dia tahu Melvin sama dengan dirinya, yaitu sama-sama tidak saling mencintai.

Meskipun begitu, dia tetap harus waspada karena dia tetaplah perempuan dan mereka adalah pasangan suami istri. Dia tidak ingin sampai Melvin menyentuhnya. Membayangkannya saja dia tidak bisa, apalagi sampai terjadi. Tanpa sadar Erin menggeleng-gelengkan kepalanya begitu cepat mengusir pikiran yang tidak ia inginkan.

“Kamu kenapa?” tanya Melvin dengan raut wajah bingun melihat Erin menggelengkan kepaalnnya. “Kepala mu sakit?” lanjut Melvin lagi.

“Tidak,” Jawab Erin cepat setengah berteriak dan langsung menyerat gaunnya masuk ke dalam ruang ganti.

Erin seketika mematung saat melihat apa yang tergantung di dalam lemari. Dia belum membuka lemari itu, tapi dia sudah bisa melihat bagaimana bentukan pakain yang ada di dalmnya dari kaca lemari yang transparan di depannya. Rasanya ia ingin menangis sekarang. Jika dia memakai salah satu dari pakaian itu, dia sangat yakin tubuhnya tidak akan tertutup dengan sempurnah.

Lama Erin mematung, Erin dengan terpaksa mengambil salah satu yang paling memungkinkan yang ia pakai, tapi masalahnya tidak sampai di situ. Sekarang ia kesulitan melepas gaun yang melekat di tubuhnya. Erin kesulitan menarik turun resletik gaunnya, tangannya tidak sampai, tapi dia tetap berusaha. “Haaa, ke-napa susah sekali,” keluh Erin.

Ditengah usahanya yang masih tidak berhasil, sebuah tangan besar menyentuh punggung terbuka miliknya. Hal itu membuat Erin tersentak. Ingin menghentikan apa yang akan dilakukan oleh orang yang saat ini berada di belakannya. Terlambat.

“Srettt…”

Erin ingin berbalik, tapi resleting gaunnya sudah terbuka. Membuat dirinya harus menahan agar gaun itu tidak jatuh.

“Apa yang kamu lakukan!” teriak Erin kaget sekaligus kesal. Lalu berbalik. Sambil kedua tanganya menahan sisi gaun pengantingnya agar tidak jatuh yang akan membuatnya malu di depan laki-laki yang ada di depannya, karena di balik gaun yang kenakan, dia hanya mengenakan kain tipis yang menutupi tubuhnya.

Seolah tidak peduli dengan tatapan Erin yang sudah merah padam. Melvin justru mendekat ke arah Erin, membuat gadis itu mundur dengan berganti raut wajah panik. “ A-apa yang ingin kamu lakukan?” Suara terbata Erin menujukkan jika dia dalam keadaan takut sekarang. Ditambah lagi Melvin semakin merapat ke tubuhnya.

“Apa dia akan memperkosaku… Ah Erin pikiran macam itu, mana ada yang seperti itu,”bantinnya panik. Baru ingin berpikir kemungkinan terburuk. Tiba-tiba Erin berteriak kencang saat salah satu tangan Malvin menyentuh dirinnya.

“Mommy!”

“Ctaak”

“Auww”

Erin kesakitan dan Melvin tersenyum setelah melakukan sesuatu pada istrinya, sepertinya babak baru akan pasang itu mulai di malam pertama mereka.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Penjara Cinta Tuan Melvin    Bab 7. Adu Mulut

    "Erin Ferdinand, menendang wajah suaminya... Kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Daddy mu jika aku mengatakannya em? " Erin tidak menjawab, dia hanya duduk diam mendengarkan Melvin menyampaikan kejahatan yang baru beberapa saat dia lakukan. "Tidak menjawab? " Sepertinya Melvin menunggu Erin memberikan tanggapan atas apa yang baru dia katakan. Duduk saling berhadapan di meja makan dan hanya di batasi oleh meja makan. Melvin seolah sedang melakukan persidangan dan Erin adalah terdakwa. Entah hukuman jenis apa yang akan dia dapatkan di malam selarut ini. "Kenapa juga kamu tiba-tiba tidur di sampingku, itu kan membuat orang kaget, " Ujar Erin dengan suara pelan mungkin hanya dia yang bisa mendengar ucapanya sendiri. Itu harapannya. "Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Melvin menatap dengan picingan mata. "Tidak!" Sangkal Erin cepat. Secepat dia menarik nafas. "Ahhh dia dengar, padahal suaraku pelan sekali. Dia tidak mungkin mengar apa yang aku ucapkan dalam hati kan? " bantin Erin m

  • Penjara Cinta Tuan Melvin    Bab. 6 Kekesalan Erin

    "Tapi kak aku... " kalimat Erin tertahan saat melihat Melvin dan sekertaris yang baru saja menyuruhnya datang secepat mungkin di sini lewat dan sepertinya mereka akan kaluar. "Rasanya aku ingin langsung menangkap kecoa itu dan langsung aku lempar ke wajahnya. Dua orang yang menyebalkan hari ini, " pekik Erin kesal dalam hati melihat dua orang sama mengesalkannya dalam hidupnya. "Hai kenapa berhenti ayo jalan!" Perintah penghuni kamar yang memilih masalah kecoa pada Erin dia sudah berjalan mendahului Erin yang terhenti tadi saat melihat Melvin dan Lev. Tiba di depan kamar, penghuni itu langsung membuka pintu kamarnaya dan memerintahkan Erin untuk mencari kecoa yang tadi mengangungnya. "Katanya hotel terbaik tapi kok ada serangga, " Gerututnya. "Benar aku juga ingin mengatakan itu, ini hotel apaan, Moonlight Hotel lebih baik dari ini ," ujar Erin membenarkan dalam hati. "Sekarang kamu masuk dan cari kecoa itu, aku tidak ingi

  • Penjara Cinta Tuan Melvin    Bab. 5 Hari Pertama Kuliah dan Bekerja

    “Maksud kamu, aku harus turun di sini?”ulang Erin tidak percaya dengan kata yang barusan dia dengar. “Apa dia bercanda, dia ingin meninggalkan kan aku di tengah jalan,” batinya, masih tidak percaya. “Jarak Faradise Hotel dari sini tidak lebih dari seratus meter dan tempat kamu kuliah tidak jauh dari gedung Paradise Hotel.” “Lalu? Apa hubungannya dengan kamu menyuruhku turun di sini?” tanya Erin kebingungan dengan nada sedikit kesal. Wajarkan dia bereaksi seperti itu. Dia diusir dari dalam mobil dengan alasan yang membuatnya bingung. Sebelum memberi jawaban pada Erin, pemilik Paradise Hotel itu terlihat menarik sudut bibirnya lalu menatap ke arah Erin. “Aku bersedia menikah dengan Melvin dengan syarat, aku tidak ingin siapapun tahu pernikahan ini … kamu ingat perminat itu, aku yakin kamu tidak melupakan permintaan itu Erin Aurora Caroline Ferdinad!” “Haaa,” Erin menghembuskan nafasnya jengah. Rasanya Melvin terlalu berbelit-belit memberinya penjelasan yang membuatnya tambah kesal

  • Penjara Cinta Tuan Melvin    Bab. 4 Kembali ke Rumah Mertua

    Erin terlihat ketakutan melihat orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam aparteman, kenapa bisa. Pertanyaan yang ada di benak Erin saat ini. “Saya Lev, sekertaris Tuan Melvin, Maaf sudah membuat anda kaget,” ucap Lev. Dia datang ke sini atas permintaan Melvin dan keberadaan Erin di aparteman ini tentu saja sudah diketahui oleh sekertaris tersebut. Raut wajah ketakutan Erin langsung menghilang di wajah cantiknya saat mendengar penjelasan Lev, berganti dengan tatapan mengamati. “Ah iya kenapa aku tidak sadar, dia kan juga ada di pernikahan aku dengan Melvin,”batin Erin menyadari jika laki-laki yang ada di hadapanya sudah pernah ia lihat saat di hotel. ‘Maaf Nona saya datang kesini ingin mengambil berkas di meja kerja Tuan Melvin dan juga menyampaikan jika Tuan Melvin akan berada di kantor untuk waktu yang lama, jadi saya akan mengantar anda ke rumah orang tua Tuan Melvin. Erin sedikit kaget mendengar informasi yang disampaikan oleh sekertaris suaminya ini, apa sesibuk itu suamin

  • Penjara Cinta Tuan Melvin    Bab. 3 Tinggal Bersama

    “Sakit!” keluh Erin sambil mengusap dahinya yang baru saja disentil oleh Melvin. “Iiihh kenapa kamu menyentil ku, sakit tahu!” pekiknya kesal dengan raut wajah merah padam. “Itu cara supaya isi kepalamu kembali normal,” Balas Melvin seolah bisa menebak apa yang sementara dipikirkan oleh Erin. “Memang apa isi kepalaku, memang kamu tahu?” tentang Erin, meminta Melvin mengatakan apa yang dia pikirkan sampai Melvin seenaknya mengatakan seperti itu padannya, tangannya masih terus mengusap dahinya untuk menghilangkan rasa sakit akibat ulah Melvin. Melvin tersenyum miring, lalu dengan pelan kembali mendekati Erin sambil menundukkan kepalanya menatap wajah kesal wanita yang sudah menjadi istrinya. “Ingin aku realisasikan saja apa yang tadi kamu pikirkan. em?”. Erin seketika panik dan menggeleng cepat, paham maksud dari ucapan Melvin “Tidak!”. “Kalau begitu cepat ganti bajumu dan tidur, besok pagi kita akan kembali ke partemanku”. “Apartemen? Maksudnya kita berdua. Eh tunggu, aku tidak

  • Penjara Cinta Tuan Melvin    Bab. 2 Malam Pertama

    Sesuai permintaannya pernikahannya dengan laki-laki yang saat ini berjalan di sampingnya, terlaksana dengan tertutup. Tak ada media dan tak ada rekan bisnis dari kedua yang hadir. Hanya keluarga inti, itu adalah syarat yang di inginkan Erin saat mengiyakan pernikahannya. "Ini serius aku sudah menjadi istri orang menyebalkan ini?" batin Erin sambil menatap punggung lebar di depannya. Ah dia tidak akan lupa kalimat pertama yang dikeluarkan Melvin tadi, mengatakan jika dia bisu. Erin meremas gaunnya. Iya kembali kesal saat mengingat ucapan Melvin tadi. "Aku sungguh ingin mencakar wajahnya. Tidak, aku ingin mengigit lehernya" batinya kesal. Sambil menatap tajam leher putih bersih milik suaminya. “Tiin” Suara pintu lift terbuka. Erin Langsung mengubur rencana balas dendamnya, dan tanpa saling bicara, Melvin bergeser sedikit menjauh seolah memberi isyarat agar Erin masuk lebih dulu ke dalam lift. Malam ini, sesuai dengan agenda pernikahan mereka, Erin dan Melvin akan menghabiskan m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status