LOGINSore melangkah pelan, merayap masuk lewat jendela kaca melengkung di sisi barat mansion. Hailey yang merasa bosan berdiam diri di kamar memutuskan untuk keluar. Langkah kakinya membawanya menuruni anak tangga menuju ruang tengah yang luas. Begitu tiba di lantai bawah, matanya langsung menangkap keberadaan seorang pelayan yang berdiri di dekat meja besar, tampak sibuk merapikan sebuah kotak kayu pipih berukuran sedang.Hailey mengerjap bingung, lalu melangkah mendekat. “Kotak apa itu? Siapa yang membelinya?” tanyanya penasaran.Pelayan itu sontak mendongak dan membungkuk sopan. “Ah, Nyonya. Ini kiriman galeri seni yang baru saja datang,” jawabnya ramah sambil membuka kotak tersebut, memperlihatkan sebuah kanvas lukisan abstrak dengan sapuan warna kelabu dan keemasan yang elegan.Hailey menatap lukisan itu dengan takjub. Jemarinya terulur menyentuh tepi bingkai kayu yang halus. “Lukisan baru?” ulangnya tampak tak percaya.“Iya, Nyonya. Tuan Mathias yang memesannya khusus untuk dipasang
Hidup Hailey tak pernah merasakan arti kebebasan. Wanita cantik itu selalu seakan seperti burung, yang jelas tak bisa terbang bebas. Jika dulu, dia harus patuh dengan aturan keluarga Brantley, kali ini setelah dia resmi menikah dengan Mathias Cameron, dia harus patuh pada pria itu.Well, apa yang dikatakan Mathias selalu bagaikan perintah yang tak bisa dibantahkan. Pria itu mengajak Hailey ke Meksiko tanpa harus diskusi. Bahkan pria itu langsung memberikan perintah pada Nash mengurus segalanya. Padahal sebenarnya jika boleh memilih, Hailey ingin tinggal di rumah, tak harus ikut pria itu. Namun, sekali lagi, apa yang dikatakan Mathias tak bisa dibantahkan.Luka di lengan Hailey berangsur-angsur membaik. Jahitan di lengannya sudah dilepas, dan satu minggu ini memang dia dibantu dengan pelayan menjaga perban yang membalut lengannya tetap harus bersih. Obat yang diresepkan dokter semua dihabiskan. Nyeri mulai membaik, tidak seperti awal. Bisa dikatakan, meski Mathias selalu bersikap menye
“Aku mengerti, thanks,” jawab Mathias singkat, mengabaikan tatapan Hailey yang menatapnya penuh tuntutan penjelasan. Pria itu tahu Hailey terus menatapnya dengan tatapan terkejut, tapi dia sengaja mengabaikan, membiarkan wanita itu bergelut dengan pikiran.“Baiklah, Tuan Mathias, ada beberapa obat tambahan yang saya berikan. Ada juga catatan untuk Nyonya Hailey agar perban tetap dalam keadaan bersih. Saya rasa pemeriksaan sudah cukup, apa ada lagi hal yang ingin Anda tanyakan, Tuan?” tanya sang dokter sopan.“Aku rasa sudah cukup. Thanks,” jawab Mathias lagi.“Dengan senang hati, Tuan. Anda bisa menghubungi saya kapan pun,” ucap sang dokter dengan senyuman sopan di wajahnya.Mathias mengangguk singkat, dan sang dokter segera pamit undur diri dari sana.“Mathias—”“Nash,” panggil Mathias pada sang asisten. Pria itu langsung memotong ucapan Hailey. Dia segera menatap
“Tuan ….” Nash menghampiri Mathias yang hendak menuju ke ruang kerja. Dia tiba di mansion tuannya sambil membawakan dokumen, tujuan utamanya jelas membutuhkan tanda tangan tuannya itu. Hari ini, tuannya tak datang ke kantor, membuatnya mau tak mau harus menemui tuannya itu.Mathias menghentikan langkah. Tatapan mata pria itu yang tajam melirik Nash, melihat keberadaan dokumen di jemari sang asisten. Tanpa perlu banyak ucapan, dia mengulurkan tangan. Nash dengan cekatan menyerahkan berkas tersebut. Sementara Mathias membalik lembar demi lembar, membaca setiap klausul dengan kecermatan tingkat tinggi. Tepat setelah dia memastikan seluruh poin di dalamnya aman, jemarinya yang kokoh menggoreskan tanda tangan tegas di bagian bawah kertas.“Hari ini dokter akan memeriksa kondisi Hailey, kau jangan pergi dulu. Tunggu dokter selesai memeriksa kondisi Hailey,” titah Mathias dengan nada dingin, mengembalikan berkas itu ke dada Nash.
Suara berat yang tiba-tiba bergema membuat Hailey tersentak. Mathias sudah berdiri di ambang pintu, dan kini langkah kakinya yang tegap membawanya mendekati meja makan.Hailey membuyarkan lamunannya, menoleh menatap Mathias yang sudah duduk di kursi meja makan. “Kau makan di sini?” tanyanya, agak terkejut.“Ini rumahku. Aku bebas makan di mana pun yang aku mau,” jawab Mathias dingin, tanpa ekspresi berlebih di wajah tajamnya.Hailey menghela napas panjang, mencoba menoleransi nada bicara pria itu. “Aku tahu ini adalah rumahmu, maksudku, tadi aku pikir kau akan meminta pelayan mengantarkan makanan ke ruang kerjamu.”“Aku ingin makan di sini,” jawab Mathias singkat.Hailey memilih mengangguk perlahan, tak berniat memperpanjang perdebatan kecil itu. Dia kembali menikmati sarapannya. “Apa yang kau pikirkan tadi?” tanya Mathias lagi, tatapan matanya yang tajam seolah bisa menembus pikiran Hailey.“Tidak ada,” jawab Hailey pelan sambil mengunyah sarapannya.Mathias makin menatap wajah Hai
Pelupuk mata Hailey mulai bergerak perlahan, merespons rasa hangat yang menyapu wajahnya. Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden beludru tebal menjadi alasan utama kesadarannya perlahan terkumpul. Tepat saat kelopak matanya terbuka sepenuhnya, dia menggeliat pelan, menyerap sisa-sisa kantuk yang masih menggelayuti pikirannya. Denyut halus di lengan kirinya menyentakkan kesadarannya kembali ke realitas.Hailey terduduk perlahan di atas ranjang king-size yang terlalu empuk itu. Jemari wanita itu meraba perban tebal yang melilit lengan kirinya dengan amat hati-hati. Tatapan matanya yang sayu mulai mengedar ke sekeliling ruangan—kamar yang luas, mewah, tapi terasa begitu sunyi dan dingin. Seketika, detik itu dia menghela napas panjang.Kepingan memori semalam perlahan terkumpul. Dia ingat tadi malam, Mathias datang ke kamarnya, dan pria itu mendesaknya untuk segera tidur, padahal rasa kantuk sama sekali belum menyapa. Namun faktanya, dia tetap bisa tertidur lelap. Entah karena pe
Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seaka
Sinar matahari pagi menembus sela-sela jendela, kilauanya menyentuh wajah Hailey yang masih terlelap. Perlahan, sinar matahari makin tampak terang membuat mata wanita cantik yang tertidur pulas itu langsung mengerjap beberapa kali.Hailey mulai membuka mata sambil menguap pelan. Suara erangan lolos
Udara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi ku
Pintu limusin tertutup dengan dentuman yang terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, seolah oksigen telah diisap keluar, meninggalkan Hailey dalam ruang hampa yang menyesakkan.Hailey tak bisa tenang setelah resmi







