首頁 / Romansa / Penjara Hasrat Cinta / Chapter 2. The Golden Cage at the Altar

分享

Chapter 2. The Golden Cage at the Altar

last update publish date: 2026-03-15 03:47:44

Langkah kaki Hailey terasa seberat timah saat menelusuri lorong panjang menuju altar gereja. Gaun pengantin cantik telah melekat di tubuh wanita itu, tapi sayangnya gaun itu terasa seperti kain yang mencekik.  

Tak ada raut wajah kebahagiaan, bahkan senyum pun tak sama sekali tampak. Padahal orang bilang menikah harus dengan wajah yang bahagia. Namun, dia berada dikondisi seperti ini karena paksaan yang tak bisa dia lawan.

Kilat kamera menyorot ke arah Hailey, dan di samping wanita itu ada Preston yang terus menggenggam lengannya dengan kekuatan yang tak menyiratkan kasih sayang. Ya, jelas saja, genggaman Preston cukup kuat semua demi agar apa yang direncanakan tidak berantakan.

Hailey kini menjadi pusat perhatian dari tamu undangan yang hadir di gereja. Para tamu undangan tampak menunjukkan raut wajah terkejut. Wajar saja, karena tamu yang hadir tahu bahwa pengantin wanita yang harusnya Ava, putri sulung keluarga Brantley, bukan Hailey yang jelas saja tidak semua orang banyak tahu siapa Hailey.

Namun, meski terkejut akan perubahan pengantin wanita, tentu para tamu undangan tidak bisa bersuara apa pun. Mereka yang hadir adalah orang yang bisa dikatakan sudah menjadi orang pilihan. Sebab, tamu yang diundang benar-benar sedikit. Tidak seperti billionaire di luar sana yang mengadakan pernikahan dengan ribuan tamu undangan.

Oh, jelas ini berbeda jauh. Pernikahan saja diadakan hanya di gereja, tanpa melibatkan media. Tamu yang datang tidak sampai lima puluh orang. Jika ditanya, pasti akan menjawab demi ingin mendapatkan suasana tenang, sekaligus privasi.

“Hapus raut wajah pemakaman di wajahmu, Hailey,” desis Preston penuh peringatan. Suara pria paruh baya itu rendah, dan tajam di tengah denting piano yang mulai mengalun.

Hailey tak menjawab apa yang dikatakan sang ayah. Wanita cantik itu terus melangkah menatap altar kosong. Dia tak merespons apa pun, karena menurutnya semua percuma. Dia akan tetap diminta untuk menggantikan posisi kakaknya yang melarikan diri.

Saat Hailey sudah hampir tiba di altar, sosok Mathias Cameron masih belum muncul. Entah, apa sebenarnya terjadi. Sebab, seharusnya Mathias sudah wajib menunggu mempelai wanita di altar. 

Pastor telah berdiri di tempatnya, seakan menunggu. Pikiran Hailey penuh dengan terkaan-terkaan. Ada secercah harapan di mana pernikahan ini batal. Ketidakhadiran mempelai pria akan menyelamatkan mimpi buruknya.

“Kau tunggu di sini,” ucap Preston dingin, dan tegas begitu dia mengantarkan Hailey ke altar. Pria paruh baya itu segera meninggalkan Hailey di altar seorang diri.

Hailey membeku diam di tempatnya seakan dirinya adalah orang bodoh. Hal tergila adalah harusnya mempelai pria yang berdiri di altar menunggu mempelai wanita, tapi fakta yang ada adalah Hailey diminta untuk menunggu. Benar-benar sudah tak waras.

Beberapa menit berlalu, Hailey terus memanjatkan doa dalam hati, berharap pernikahan ini batal. Selama ini, hidupnya, nyaris tak pernah mendapatkan keberuntungan. Dia berharap kali ini dia bisa mendapatkan keberuntungan yaitu selamat dari mimpi buruk yang menyiksa.

Hailey menatap ke arah pintu, berharap apa yang dia harapkan terjadi. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Sesaat dia memejamkan mata sebentar, dan begitu dia membuka mata—tampak sosok pria tampan dengan postur tinggi tegap melangkah masuk ke dalam.

Tubuh Hailey seketika membeku kaku seperti patung. Mata cokelat terang wanita itu jelas memancarkan jelas keterkejutannya. Pasokan oksigen membuatnya benar-benar terasa menyempit, menimbulkan dirinya seolah kesulitan bernapas.

Pria itu memiliki tinggi dan gagah. Aura wajahnya dingin, tegas disempurnakan dengan rahang seperti pahatan patung yang menyerupain Dewa Yunani. Oh, dan mata biru pria itu tajam terhunus seperti burung elang yang siap untuk melahap mangsa.

Otak Hailey mencoba mencerna dengan baik. Hal yang dia dengar adalah Mathias Cameron memiliki wajah seperti monster buruk rupa, dan tua. Namun, yang dia lihat tak sesuai dengan deskripsi desas desus yang tadi dia dengar.

Hailey membeku masih belum bergerak. Dia merasa mungkin penglihatannya mulai Kabur. Namun, di kala dia meyakinkan apa yang dia lihat ini salah, pria tampan yang baru muncul itu malah makin mendekat, dan sekarang bahkan berdiri di depannya.

Ya, bukan hanya Hailey yang terkejut akan sosok pria tampan yang baru saja muncul. Pun semua tamu undangan khususnya wanita sampai melebarkan mata dengan bibir yang menganga. Kilat kamera menyorot seakan bersamaan dengan tatapan banyak mata tamu undangan yang hadir.

Hailey masih belum berkata apa pun menatap pria di depannya itu. Mata cokelat terangnya sampai terpaku akan mata biru pria di depannya ini. Tatapan mata yang tajam dari pria itu harusnya membuatnya takut, tapi fakta yang ada adalah dia malah seakan terhipnotis.

“K-kau ….” Hailey hendak mengeluarkan suara, tetapi lidahnya terasa kelu, akibat begitu banyak pertanyaan di kepalanya.

Pria itu tersenyum tipis, menatap Hailey yang terkejut. Detik selanjutnya, dia menoleh—memberikan anggukkan ke sang pastor untuk memulai pernikahan.

“Apakah kau, Evangeline—”

“Hailey … namaku Hailey Brantley,” potong Hailey pelan, mengoreksi pada sang pastor.

Sang pastor mengangguk sopan. “Apakah kau Hailey Brantley bersedia menerima Mathias Cameron sebagai suamimu?” 

Hailey terdiam sebentar, menatap mata biru sosok pria yang bernama Mathias Cameron yang menatapnya begitu dingin dan tajam. Sungguh, dia merasa benar-benar bingung pada semua yang terjadi.

Lidah Hailey mendadak kaku. Tak bisa langsung menjawab pertanyaan sang pastor. Detik selanjutnya, tatapannya mulai teralih menatap Preston dan Martha yang melayangkan tatapan tajam, dan menusuk padanya. Tatapan yang jelas terlihat mematikan, menunjukkan penuh paksaan.

Hailey merasa terjebak. Dia tak memiliki pilihan apa pun. Dia mencoba mengatur napasnya, dan dengan pasrah menjawab, “Ya, saya bersedia.”

Sang pastor tersenyum, dan kini menatap Mathias. “Mathias Cameron, apakah kau bersedia menerima Hailey Brantley sebagai istrimu?”

Mata biru Mathias menghunus ke arah Hailey dengan begitu tajam, seolah ingin mencabik seluruh tubuh wanita itu. Tentu hanya dengan tatapan saja, terbukti dia berhasil membuat pengantin wanitanya merinding ketakutan.

“Ya, saya besedia,” jawab Mathias dingin, dan tajam.

Sang pastor kembali tersenyum, lalu meminta pada Hailey dan Mathias mengucapkan janji suci pernikahan secara bergantian. Tepat di kala janji pernikahan sudah terucap sempurna, sang pastor mensahkan dua orang tak saling mengenal itu menjadi pasangan suami istri—bersamaan dengan meminta mereka berciuman.

Hailey terdiam seribu bahasa di kala sang pastor sudah mengizinkan berciuman. Tubuhnya terasa kaku. Dia sampai agak mundur bermaksud menjauh, tapi begitu dia hendak menjauh, tangan kokoh Mathias malah memeluk pinggangnya dengan erat—dan mencium bibir Hailey.  

Aliran listrik terasa mengalir di tubuh Hailey begitu satu kecupan dari Mathais mendarat di bibir wanita itu. Ini sudah gila. Jelas sangat gila. Hailey adalah wanita kuno yang sama sekali belum pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun. Sialnya, ciuman pertamanya dirampas oleh pria asing yang belum pernah dia temui.

Ciuman berlangsung singkat. Mathias masih belum menjauhkan wajahnya dari wajah Hailey. Mata birunya mengunci mata cokelat terang Hailey—seakan menelanjangi wanita itu dengan brutal dan keji.

Hailey tentu tak bisa berkutik apa pun. Lidahnya terasa kelu, tak bisa mengeluarkan suara lagi. Pria di depannya itu tak bersuara, tapu hanya menatapnya saja seakan pria itu ingin mencabik seluruh tubuhnya.

Wanita itu tegang luar biasa, dengan aura wajah panik bercampur ketakutan. Bahkan dia merasakan tubuhnya benar-benar merinding seolah dia sedang berada di ruangan berbahaya yang mengancam nyawanya.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 11. Cold Protection

    Langkah kaki Hailey memelan masuk ke dalam mansion. Dia mengikuti Mathias dengan hati-hati. Namu, tentu Mathias melangkahkan kaki tegas dengan aura wajah yang dingin, dan menunjukkan penuh amarah yang berusaha keras ditahan.Tak ada percakapan apa pun. Sepanjang jalan kembali ke mansion, mobil yang mengantar Hailey dan Mathias seperti ambulans yang membawa mayat. Bayangkan saja, Hailey diam membeku melihat Mathias yang tampak menyeramkan dengan aura wajah amarah yang ingin meledak.Hailey berpikir Mathias akan menginterogasinya, tapi ternyata apa yang dipikirkan wanita itu salah besar. Tak ada pertanyaan apa pun yang terlontar. Malah sepanjang perjalanan pulang, tatapan Hailey sesekali melirik Mathias seolah berharap diajak bicara tentang apa yang terjadi di restoran.Namun, fakta yang ada Mathias seolah menunjukkan masalah sudah selesai, tidak perlu ada bahasan apa pun. Padahal sebenarnya ada rasa take nak dalam hati Hailey. Apalagi wanita itu tak tahu sama sekali dia menabrak seoran

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 10. Touch Her and Pay the Price

    Aroma wine mahal cukup memberikan ketenangan sebentar. Mathias yang duduk di kursi meja makan, tepat di depan koleganya, dia mendengar ucapan David dengan saksama serta serius, dan dia sambil memyesap wine tua yang tersedia di kafe itu.Wine makin tua akan bernilai makin mahal. Aroma yang khas cukup menyeruak ke indra penciuman Mathias yang kala itu memang memesan wine paling mahal di kafe di mana dia bertemu dengan koleganya.Pembahasan bisnis cukup detail sejak tadi dibahas oleh David. Meski belum merespons apa pun, tapi telinga Mathias cukup tajam mendengar penjelasan tersebut. Setiap inti pembicaraan mampu disimak baik Mathias walau David menjelaskan panjang project pembangunan perumahan mewah di berbagai negara maju. “Jadi, Tuan Cameron, kau tertarik dengan project pembangunan perumahan yang rencananya akan membidik pasar Asia dan Eropa?” tanya David memastikan.Mathias menurunkan gelas wine yang di tangannya, dan meletakan ke atas meja. “Kau cukup ambisius dalam merancang bisn

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 9. Trouble in Silk

    Pantulan di cermin besar setinggi plafon itu seolah menampilkan sosok asing bagi Hailey. Gaun malam berbahan sutra charmeuse berwarna hitam pekat itu melekat sempurna di tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang putih dan agak pucat. Potongan backless yang rendah mengekspos lekuk punggung serta leher dihiasi kalung berlian memberikan kesan elegan tapi memiliki makna misterius.Hailey memakai gaun pemberian dari Mathias. Wanita cantik itu berpikir, dia diberikan gaun sederhana tidak berlebihan, tapi ternyata dia salah besar. Dia diminta memakai gaun pesta—yang entah dia tak mengerti kenapa harus memakai gaun ini. Pun Mathias tidak bilang apa pun padanya.Embusan napas mulai terdengar pelan. Dia ingin sekali memakai piyama dan memilih membaringkan tubuhnya di ranjang. Namun, Hailey sadar betul bahwa tak mungkin melakukan itu. Dia masih belum bisa memprediksi bagaimana sifat Mathias jika pria itu marah besar.“Kau sudah selesai.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan dingin dari Mathia

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 8. Curiosity Comes at a Price

    Kondisi Hailey sudah membaik. Makanan yang dihidangkan pelayan kali ini dia habiskan. Pun dia minum beberapa suplemen vitamin yang telah disediakan. Dia tak melakukan perlawanan apalagi membantah. Bukan tanpa sebab, perkataan pelayan yang mengatakan Mathias tadi malam menjaganya membuatnya memiliki jutaan pertanyaan.Hailey tak percaya seratus persen pada ucapan pelayan, tapi dia melihat wajah pelayan itu menunjukkan kejujuran. Pun apa manfaatnya pelayan harus berbohong? Mathias sepertinya tak membutuhkan validasi sebagai pria baik ataupun pria bertanggung jawab. Sosok Mathias yang dia kenal adalah pria dingin, seakan berkuasa, arogan, dan keji. Meski baru mengenal pria itu, tapi nyatanya gambaran sosok Mathias Cameron yang ada dibenak Hailey seperti itu.Embusan napas pelan terdengar. Hailey yang duduk di ranjang termenung dengan segala pikirannya. Sejak tadi dia tak melakukan kegiatan apa pun. Hanya makan dan beristirahat. Tak menampik rasa jenuh agak menyerang. Otaknya kini mulai m

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 7. The Fragile Shield

    Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Langit terang telah berganti. Matahari telah tenggelam, menampilkan awan gelap yang memenuhi kemegahan langit. Tidak ada bulan dan bintang yang biasanya menjadi penghias langit megah. Langit mendung, seakan menunjukkan rasa yang sama dengan Hailey.Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Hailey berdiri di jendela besar kamar yang ada di penthouse Mathias. Ya, dia masih belum kembali ke mansion. Mathias memutuskan mengajaknya bermalam di penthouse pria itu, dan akan kembali ke mansion pada esok pagi.Hailey tak hanyak bertanya. Wanita cantik itu memilih diam di kala Mathias memutuskan bermalam di penthouse. Dia diantar pelayan ke salah satu kamar tamu, sedangkan pria itu berada di kamarnya. Hal ya

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 6. The Platinum Shackles

    Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seakan seperti dirinya berada di dalam mobil jenazah—begitu mencekam dan menyesakkan. Dia berada di dalam mobil Range Rover Sentinel warna hitam metalik bersama Mathias. Sopir melajukan mobil, dan Hailey bersama Mathias duduk di kursi penumpang. Sebenarnya. aroma interior kulit mewah dan pengharum maskulin khas Mathias melebur menjadi satu membuat indra penciuman sadar bahwa berada di kemewahan, tapi sayangnya aroma itu terasa seperti gas beracun yang mencekik paru-paru Hailey.Hailey tak bisa tenang di kala selesai sarapan harus menuruti Mathias. Entah ke mana pria itu pergi membawanya. Ingin rasanya dia bertanya lagi, tapi dia tak berani. Mengingat tadi saat sarapan, pria itu menjawabnya deng

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status