Share

Bab 8

Author: Lukman
Sheila hanya menatapnya dengan tenang. Sorot matanya sedingin telaga beku yang dalam, bahkan tak lagi memantulkan bayangannya sedikit pun.

Tanpa sepatah kata pun, dia menepis tangan Jevan dan berbalik pergi.

Punggungnya yang ramping tetap tegak lurus. Dalam ketenangan itu tersimpan ketegasan yang tak tergoyahkan, seolah dia tengah berjalan menuju kehancurannya sendiri.

"Sheila!"

Jevan benar-benar dibuat murka oleh sikapnya. Kesabaran terakhir yang tersisa akhirnya habis.

"Kamu masih nggak mau ngakuin kesalahanmu, ya? Baik! Kalau gitu kita ikuti prosedur!"

Dia menoleh tajam ke arah Luki.

"Bawa dia pergi! Besok pagi, arak dia keliling untuk dipertontonkan kepada umum!"

"Komandan Resimen ...."

Luki tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu-ragu.

"Laksanakan perintah!"

Keesokan harinya, sebuah pemandangan yang mengejutkan banyak orang tampak di jalan yang menghubungkan kompleks keluarga militer dengan jalan utama.

Sebuah papan kayu berat tergantung di leher Sheila. Di bawah pengawalan dua tentara bersenjata, dia dipaksa berjalan perlahan di tengah jalan.

Di sepanjang sisi jalan, para penghuni kompleks dan pejalan kaki berkerumun untuk menonton. Mereka terus menunjuk-nunjuk sambil membicarakannya.

"Ya ampun! Bukannya itu istri Komandan Jevan? Kenapa bisa .... "

"Dengar-dengar dia nyuruh preman buat gangguin Susan! Benar-benar nggak kelihatan dari penampilannya yang selama ini lembut."

"Memang, wajah bisa menipu. Melanggar hak asasi perempuan itu kejahatan besar!"

"Pantas aja! Diarak seperti ini saja masih terlalu ringan!"

Daun sayur busuk, telur busuk, bahkan batu-batu kecil mulai beterbangan ke arahnya.

Sheila hanya menundukkan kepala dan menatap kosong jalan di bawah kakinya.

Cairan telur dan daun-daun busuk mengotori wajahnya. Rambutnya dipenuhi kotoran. Sudut dahinya terasa perih setelah terkena lemparan batu, sementara darah hangat perlahan mengalir turun.

Namun dia tidak merasakan penghinaan, juga tidak merasakan sakit.

Hatinya sudah lama membeku, tak menyisakan sedikit pun kehangatan maupun harapan.

Tepat pada saat itu, sebuah batu tajam yang dilempar dengan tenaga lebih besar melesat dari kerumunan dan menghantam keras sudut dahinya!

Terdengar bunyi benturan keras.

Pandangan Sheila langsung menjadi gelap. Tubuhnya bergoyang tak stabil sebelum ambruk lemas ke tanah.

Sebelum kesadarannya benar-benar lenyap, dia sempat melihat tangan Susan yang buru-buru ditarik kembali dari tengah kerumunan.

Senyum jahat penuh kemenangan sempat tersungging di sudut bibir wanita itu sebelum semuanya tenggelam dalam kegelapan.

Saat tersadar kembali, Sheila mendapati dirinya berada di sebuah ruang tahanan yang gelap dan lembap.

Kepalanya dibalut perban, sementara seluruh tubuhnya terasa nyeri.

Dari luar terdengar suara percakapan yang sengaja dipelankan.

Itu suara Susan dan Jodi.

"Jodi, jangan begitu ... Bagaimanapun juga dia ibumu. Diarak di depan umum lalu dikurung di ruang tahanan udah merupakan hukuman yang cukup. Apa kamu benar-benar ingin dia disetrum? Itu keterlaluan."

"Tante Susan, Tante terlalu baik. Dia selalu musuhin dan nyakitin Tante. Kalau dikasih hukuman yang cukup berat, dia nggak akan berani nyakitin Tante lagi."

"Tapi .... "

"Nggak ada tapi-tapian. Tante tenang saja, aku nggak akan benar-benar celakain Mama. Aku cuma mau kasih Mama pelajaran. Tante bantu awasi keadaan di luar."

Pintu ruang tahanan didorong hingga terbuka sedikit.

Sosok kecil Jodi menyelinap masuk sambil membawa seutas kabel yang entah dia dapatkan dari mana.

Tubuh Sheila masih lemas dan tak bertenaga. Dia memandang putranya yang makin mendekat dengan tatapan dingin dan asing.

"Jodi ... kamu mau ngapain?"

Suaranya terdengar serak.

"Ma, aku mau kasih Mama pelajaran supaya Mama nggak berani lagi gangguin Tante Susan."

Di bawah tatapan Susan dari celah pintu, Jodi dengan susah payah menyeret Sheila yang lemah ke sebuah kursi besi tua di dekat dinding. Lalu, dengan kabel yang dibawanya, dia mengikat pergelangan tangan Sheila yang gemetar pada sandaran kursi.

"Ma, dengan begini Mama akan ingat untuk selalu nurut sama Papa dan bersikap baik sama Tante Susan."

Setelah mengatakan itu, dia mundur beberapa langkah dan mencolokkan ujung kabel yang lain ke stop kontak tua di dekat dinding.

Zzztt ... !

Arus listrik yang kuat seketika menjalar ke seluruh tubuh Sheila.

"Aaaah ...!"

Kejang hebat dan rasa sakit yang tak terlukiskan menyapu setiap saraf di tubuhnya. Tubuhnya bergetar tak terkendali di atas kursi besi, sementara jeritan kesakitan tak lagi mampu ditahannya.

Sebelum pandangannya benar-benar tenggelam dalam kegelapan, dia melihat Susan yang berdiri di ambang pintu menutup mulutnya. Namun, mata wanita itu dipenuhi senyum puas yang tak bisa disembunyikan.

Sheila merasa seolah baru saja melewati ambang kematian.

Saat kesadarannya kembali, dia sudah terbaring di ranjang rumahnya. Jevan duduk di samping ranjang dengan kening berkerut.

Begitu melihatnya membuka mata, pria itu langsung bertanya dengan nada yang sulit diartikan, "Bukannya cuma diarak keliling? Kok kamu bisa sampai begini?"

Sheila kembali memejamkan mata. Dia bahkan tidak ingin melihat pria itu.

"Sheila, bicara!"

Nada suara Jevan mulai dipenuhi ketidaksabaran.

"Aku suamimu. Apa pun keluhanmu, kamu bisa bilang padaku!"

Perlahan, Sheila membuka mata. Dia menatap Jevan dengan pandangan kosong, lalu berkata dengan suara yang sangat serak, "Kalau aku bilang, memang ada gunanya?"

"Kenapa nggak ada gunanya?"

Jevan makin kesal dengan sikapnya.

"Katakan! Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Putra kesayanganmu, Jodi," ucap Sheila perlahan dan jelas, "bersama Susan nyetrum aku dengan alat kejut listrik."

Jevan tertegun.

Namun sesaat kemudian, keningnya justru makin berkerut.

"Nggak mungkin! Jodi baru empat tahun! Dia tahu apa? Susan juga nggak mungkin lakukan hal seperti itu! Sheila, apa kamu sudah kehilangan akal?"

Sheila menatap pria itu. Wajahnya sama sekali tidak berusaha menyembunyikan ketidakpercayaan dan rasa muaknya terhadap tuduhan yang dilontarkan Sheila.

Tiba-tiba, Sheila tertawa pelan.

Tawa itu terdengar kering dan getir, seolah menyimpan ejekan yang tidak berkesudahan.

"Memang nggak ada gunany," katanya sambil tertawa getir, sementara air mata terus mengalir di pipinya. "Kamu memang nggak percaya. "Kalau memang nggak sanggup menepatinya, jangan pernah memberi harapan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 21

    Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada pula yang saling berpelukan.Sheila tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak.Dia memandang awan jamur itu perlahan naik, makin tinggi, makin tinggi, hingga akhirnya menyatu dengan langit.Lalu dia berbalik dan berjalan keluar dari ruang kendali."Peneliti Sheila, Anda mau ke mana? Jamuan perayaan .…""Ke rumah sakit."Tiga bulan kemudianKota Bareksa, Rumah Sakit Umum Wilayah Militer.Sheila mendorong pintu ruang perawatan intensif.Jevan terbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya penuh selang, wajahnya pucat dan tampak sangat lemah.Sudah tiga bulan dia koma.Tiga kali dokter mengeluarkan surat kondisi kritis. Dan setiap kali itu pula, Sheila yang menandatanganinya.Pada kali ketiga, dokter berkata pelan, "Peneliti Sheila, Anda perlu bersiap secara mental."Sheila menjawab tenang, "Saya akan menunggunya."Menunggu seseorang yang dulu dia kira sudah selesai dalam hidupnya.Jodi berdiri di sampingnya. Kini dia berusia sembilan tahun, tubuhnya l

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 20

    Sheila tertegun.Jevan.Dia mengenakan seragam latihan militer. Wajahnya dipenuhi bekas kasar dari angin dan pasir gurun, namun sorot matanya justru menyala terang dan tajam."Kamu .…"Sheila kehilangan kata-kata."Aku sudah baca semua catatanmu."Suara Jevan cepat, tegas, tapi bergetar tipis."Aku tahu cara memperbaiki sistem antarmuka ini. Sheila, biar aku lakukan ini untukmu. Anggap saja … penebusan dosa."Sebelum Sheila sempat menjawab, dia sudah mengambil pakaian pelindung dan mengenakannya."Jevan!" Sheila tersadar. "Kembali! Itu bukan bidangmu!"Namun Jevan sudah mengenakan pelindung wajahnya lalu menoleh ke arah Sheila.Dari balik helm, matanya samar tetapi mantap."Sheila … kalau aku nggak kembali," suaranya pelan, "sampaikan ke Jodi … Papa mencintainya. Dan juga … mencintai Mama."Tubuh Sheila bergetar.Tanpa menunggu jawaban, Jevan berlari menuju lorong area radiasi."Hentikan dia!" teriak komandan utama.Tapi sudah terlambat.Sosoknya menghilang di balik pintu baja."Jevan!

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 19

    Lima tahun.Dari seorang istri tentara yang dulu hanya berkutat di dapur, dia telah berubah menjadi wakil kepala peneliti termuda dalam Proyek Rahasia Bunga Api.Model Optimasi Parameter Kritis yang dia pimpin berhasil mempercepat proyek hingga dua tahun penuh.Makalah-makalahnya tiga kali menembus jurnal ilmiah internasional papan atas dan mengguncang dunia akademik.Bukan berarti tidak ada yang mengejarnya.Ada doktor lulusan luar negeri yang baru bergabung, dokter muda dari rumah sakit pangkalan, hingga pejabat instansi atasan yang datang inspeksi.Semua dia tolak dengan halus.Jawabannya selalu sama."Di hatiku hanya ada fisika."Dan itu bukan kebohongan.Di kehidupan sebelumnya, hatinya penuh oleh Jevan dan keluarga itu.Di kehidupan ini, yang tersisa hanya gurun, data penelitian, dan langit berbintang di atas kepalanya."Peneliti Sheila, istirahatlah sebentar. Anda sudah bekerja tujuh puluh dua jam."Zian, asistennya, meletakkan susu hangat di meja.Sheila menggeleng tanpa berhen

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 18

    Jevan jelas tidak punya undangan.Dia hanya bisa berdiri di kejauhan, menyaksikan satu per satu mobil sedan datang, berhenti, lalu para ilmuwan yang berjasa bagi negara turun dari kendaraan mereka.Lalu, Jevan melihatnya.Sheila turun dari sebuah sedan hitam.Dia telah berubah.Rambutnya dipotong pendek dan rapi, membuat leher jenjangnya tampak makin tegas dan anggun. Dia mengenakan setelan jas wanita khas peneliti, dengan kartu identitas merah terpasang di dada.Dia sedikit memiringkan kepala saat berbicara dengan seorang pria tua di sampingnya. Tatapannya jernih dan mantap, sementara senyum percaya diri tersungging di sudut bibirnya.Sinar matahari jatuh ke tubuhnya, membuatnya seolah memancarkan cahaya.Jevan hanya bisa menatap terpaku.Itu istrinya.Tidak. Itu Peneliti Sheila.Sheila yang kini bersinar terang, yang tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengannya.Dia dikelilingi banyak orang, seperti mutiara yang akhirnya terbebas dari lumpur dan kembali memancarkan kilaunya.Jevan

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 17

    Susan mendongak tiba-tiba dan berteriak, "Jevan! Kamu nggak bisa begini sama aku! Semua yang aku lakukan itu demi kamu! Aku cinta kamu!""Cintamu bikin aku muak."Jevan berbalik tanpa menoleh lagi.Tiga hari kemudian, Susan ditangkap.Sebelum vonis dijatuhkan, Jevan datang menemuinya untuk terakhir kali.Di balik kaca pembatas, Susan mengenakan seragam tahanan. Wajahnya pucat dan kuyu, tanpa sisa kelembutan yang dulu pernah ada.Sambil menangis, dia memohon, "Jevan, demi masa lalu kita, tolong bantu aku … Aku nggak mau masuk penjara … Lima belas tahun … aku bisa mati di dalam sana …. "Jevan menatapnya datar."Sejak kamu menyakiti Sheila, yang tersisa di antara kita cuma kebencian.""Jevan!"Susan berteriak histeris."Kamu akan menyesal! Seumur hidupmu kamu nggak akan pernah dapat maaf dari Sheila! Dia benci kamu! Dia benci kamu!"Jevan tersenyum tipis."Aku tahu.""Dan memang aku nggak pantas mendapat maaf darinya."Dia berbalik dan pergi, meninggalkan teriakan Susan di belakangnya.H

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 16

    "Jevan, maafin aku … aku benar-benar nggak sengaja .… "Susan menggenggam tangannya erat-erat."Aku cuma mau membantu, mau jagain Jodi … Sheila sudah pergi, tapi kalian tetap butuh seseorang yang bisa mengurus kalian …. ""Kami nggak butuh kamu!"Jevan menepis tangannya dan menunjuk ke arah pintu."Keluar. Pergi sekarang juga. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"Susan berlari keluar sambil menangis.Jevan duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan kecil putranya yang masih panas karena demam.Jodi perlahan membuka mata. Begitu melihat ayahnya, air matanya langsung jatuh."Papa …. "Suaranya lemah."Benarkah Mama nggak akan pernah kembali lagi?"Tenggorokan Jevan tercekat. Dia tidak mampu menjawab."Papa … aku sudah bikin salah …. "Jodi menangis tersedu hingga napasnya tersengal."Di ruang tahanan itu … aku sama Tante Susan … kami menyetrum Mama. Mama pasti sangat benci sama aku …. "Seluruh tubuh Jevan terasa membeku.Jadi apa yang dikatakan Sheila memang benar.Di

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 14

    Sebulan setelah Sheila pergi, Jevan akhirnya berhasil melacak perkiraan lokasi pangkalan lembaga penelitian itu.Letaknya jauh di dalam gurun wilayah barat laut.Dia mengambil cuti tiga hari, menempuh perjalanan semalam dengan kereta, berganti beberapa kendaraan, lalu berjalan kaki sejauh hampir sep

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 13

    Dulu, saat Sheila masih ada, rumah mereka selalu bersih dan terang.Di meja makan selalu tersedia makanan hangat.Seragam militernya selalu tersetrika rapi.Putra mereka pun selalu tampak bersih dan terurus.Selama ini, Jevan mengira semua itu memang seharusnya begitu.Baru sekarang dia menyadari ba

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 12

    Malam itu, saat pulang ke rumah, Jevan mendapati bak cuci di dapur penuh dengan piring dan mangkuk kotor. Di lantai juga masih ada bekas susu yang tumpah.Siang tadi dia sempat mencoba membuatkan minuman untuk putranya. Namun karena tidak terbiasa, susu itu malah tumpah ke mana-mana.Dia membungkuk

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 11

    "Pak Jevan, Bu Sheila adalah seorang genius fisika yang kami pilih melalui proses seleksi ketat dan penyaringan berlapis. Bakatnya tidak seharusnya terkubur begitu saja."Nada suara dari seberang telepon tetap tenang."Mohon hormati pilihan beliau, dan mohon patuhi peraturan kerahasiaan."Sambungan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status