Share

Penyesalan Seorang Komandan
Penyesalan Seorang Komandan
Author: Lukman

Bab 1

Author: Lukman
Jevan tersedak oleh nada dingin Sheila, dan amarahnya langsung meledak. "Kalau sudah tahu, kenapa nggak datang? Kaki Jodi patah dan dia sangat ketakutan. Saat ini, dia sangat butuh ada mamanya di sisinya! Apa kamu tahu dia nangis sampai suaranya serak? Dia terus manggilin mamanya!"

Sheila terdiam sesaat. Jarinya perlahan membalik satu halaman dokumen. "Kalau sudah cukup nangisnya, dia akan berenti sendiri. Anak-anak harus belajar ngadepin semuanya sendiri. Aku sedang baca materi kerjaan. Aku tutup dulu, ya."

"Sheila!" teriak Jevan dari seberang telepon.

Sheila langsung menutup telepon dan mencabut kabelnya.

Malam itu, Jevan pulang dengan aura dingin yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

Sheila tenggelam di antara tumpukan dokumen tebal dan lembaran naskah, begitu fokus hingga tidak menyadari kedatangannya.

Amarah yang tak jelas sumbernya bercampur dengan kekesalan karena terus diabaikan selama beberapa hari terakhir, seketika menghancurkan sisa kesabaran Jevan.

Dia melangkah cepat, meraih buku referensi paling tebal di atas meja, lalu membantingnya ke lantai dengan keras!

"Sheila!" Suaranya sedingin es. "Jodi masih terbaring di rumah sakit! Bisa-bisanya kamu masih sempat baca semua ini?!"

Sheila tersentak oleh keributan mendadak itu dan mengangkat kepala menatapnya.

Wajah Jevan sangat tampan. Seragam militernya yang rapi menonjolkan bahu lebar dan pinggangnya yang tegap. Dia berdiri tegak dengan postur sempurna, memancarkan ketenangan yang dingin, wibawa alami, dan ketegasan khas seorang prajurit.

Jika Sheila yang dulu menghadapi tatapan itu, dia pasti sudah panik, kebingungan, dan buru-buru menjelaskan serta menenangkan suaminya.

Namun sekarang, hatinya sama sekali tidak terusik.

Dengan tenang, dia membungkuk untuk mengambil buku yang terjatuh.

"Jangan diambil!" bentak Jevan. Dia mengangkat kaki dan menendang buku itu hingga meluncur ke arah tungku batu bara yang menyala di sudut ruangan!

"Dokumen, dokumen, yang ada di kepalamu cuma dokumen! Aku tahu akhir-akhir ini kamu sedang mempersiapkan diri buat masuk Lembaga Penelitian Fisika. Itu memang impian kamu, dan aku nggak pernah bilang nggak mendukungmu! Tapi apa kamu tahu sekarang lembaga itu sudah direformasi? Begitu diterima, kamu harus ikut proyek rahasia tingkat tinggi. Paling singkat tiga tahun, paling lama ... sepuluh tahun! Bahkan bisa lebih lama!"

"Coba katakan, bagaimana nasib keluarga ini nanti? Bagaimana dengan Jodi? Dia baru empat tahun! Hari ini dia sampai lari keluar dan kecelakaan. Kalau kamu sebagai ibunya bisa menjaga dengan baik, apa itu akan terjadi? Kamu malah setiap hari hanya sibuk berkutat dengan semua ini!"

Perlahan Sheila berdiri tegak dan menatap mata suaminya yang dipenuhi amarah. Tatapannya jernih dan dingin seperti permukaan danau yang membeku.

"Terus?" tanya Sheila pelan.

"Terus?" Urat di pelipis Jevan sampai berdenyut karena kesal melihat sikapnya yang bersikeras. "Aku kasih kamu dua pilihan. Pertama, lupain Lembaga Penelitian itu dan tetap di rumah untuk merawat Jodi, jalankan peranmu sebagai istri dan ibu. Yang kedua …. "

Dia berhenti sejenak, menatap mata Sheila, lalu mengucapkan kata-kata ini dengan jelas dan dingin,

"Kita cerai."

Cerai.

Sheila memandangnya dalam diam, memandang pria yang telah dicintainya seumur hidup pada kehidupan sebelumnya, sekaligus pria yang menghancurkan hidupnya.

Seorang komandan resimen muda dan berprestasi, berwajah tampan serta berwibawa, dengan segudang jasa militer yang mengesankan. Dia adalah sosok yang diam-diam dikagumi oleh banyak anggota perempuan kelompok kesenian militer maupun gadis-gadis di kompleks keluarga tentara. Sheila juga salah satunya, pada kehidupan sebelumnya. Sejak itu, seluruh perhatian dan perasaannya hanya tertuju pada pria itu, sampai-sampai dia rela menempatkan dirinya serendah mungkin.

Namun kini, saat menatap Jevan, hatinya bagai telaga mati yang sunyi, tak lagi mampu terusik oleh riak apa pun.

"Aku mengerti." Dia mulai berbicara pelan. "Tenang aja, aku akan buat ... pilihan yang benar."

Jantung Jevan tiba-tiba menegang!

Nada bicara dan tatapan Sheila yang terlalu tenang membuat perasaan takut di hati Jevan muncul.

Untuk sesaat, dia hampir mengira Sheila akan mengucapkan kata "cerai".

Tapi bagaimana mungkin?

Tak ada yang lebih tahu daripada dirinya betapa besar cinta Sheila kepadanya, kepada Jodi, dan kepada keluarga ini.

Dulu, ketika pihak instansi memperkenalkan mereka dalam perjodohan, mata Sheila bersinar terang seperti bintang saat melihat Jevan.

Setelah menikah, dia merawat pria itu dengan sepenuh hati dan menyayangi Jodi bagai harta paling berharga.

Demi keluarga ini, dia bahkan meninggalkan pekerjaan yang paling disukainya dan memilih tinggal di rumah untuk mengurus suami dan anak.

Siapa pun mungkin bercerai, tetapi Sheila tidak akan pernah melakukannya.

Dia mencintai Jevan sampai kehilangan dirinya sendiri.

Tampaknya sikap tegasnya tadi berhasil. Sheila pasti berniat melepaskan kesempatan masuk lembaga itu dan kembali fokus pada keluarga.

Memikirkan hal itu, ketegangan dalam hati Jevan perlahan mengendur. Nada bicaranya juga menjadi lebih lembut. "Kalau sudah ngerti, jangan baca lagi semua hal yang nggak berguna itu. Gajiku cukup untuk menghidupi keluarga ini dan bikin hidupmu berkecukupan. Tempat seperti lembaga penelitian itu bukan tempat yang cocok buat kamu."

Dia memijat pelipisnya yang tampak lelah. "Aku mau mandi dulu. Besok pagi kita pergi jenguk Jodi bersama."

Setelah itu, dia melepas jaket seragam militernya dan meletakkannya begitu saja di sandaran kursi sebelum berbalik menuju kamar mandi.

Jaket itu merosot ke lantai, dan dari saku bagian dalamnya melayang keluar sebuah foto hitam putih kecil.

Sheila membungkuk dan mengambilnya.

Gadis dalam foto itu masih muda dan cantik, dengan dua kepang hitam panjang. Senyumnya lembut dan menawan. Dia adalah Susan Johandi.

Tepi foto itu sudah sedikit aus, jelas sering disentuh dan dibelai oleh pemiliknya.

Wajah Jevan langsung berubah. Dia melangkah cepat dan merebut foto itu. Gerakannya terlalu tergesa-gesa hingga terlihat panik.

"Ini ... beberapa waktu lalu Susan minta aku bantuin dia nyetak foto. Aku lupa kembaliin, jadi aku simpan gitu aja di saku."

Kebohongan itu begitu buruk hingga terasa menggelikan.

Foto biasanya dicetak dalam satu set sekaligus. Siapa yang akan mencetak foto hanya satu lembar, lalu menyimpannya begitu hati-hati di dekat tubuhnya?

Setelah berkata demikian, Jevan sendiri menyadari ada yang tidak beres. Sekilas penyesalan melintas di wajahnya.

Dia membuka mulut, ingin menjelaskan sesuatu lagi.

Namun, Sheila sudah berbalik dengan tenang.

"Aku tahu. Aku nggak bilang apa-apa. Sana mandi."

Jevan tertegun. Dia memandang sisi wajah Sheila yang tenang tanpa emosi, dan rasa gelisah yang sudah susah payah dia pendam, kembali muncul.

Bagaimana mungkin ... dia sama sekali tidak peduli?

Ini tidak seperti dirinya.

"Sheila." Dia tak tahan untuk menambahkan, suaranya sedikit kaku, "Aku dan Susan ... semuanya sudah lama berakhir. Jangan salah paham."

"Aku nggak salah paham." Sheila membelakanginya sambil mulai merapikan lembaran naskah yang berserakan di atas meja.

Jevan memandangi punggung Sheila yang sama sekali tidak menunjukkan emosi. Kegelisahan di hatinya menyebar seperti riak air, tetapi dia tak mampu menemukan apa yang sebenarnya salah. Pada akhirnya, dia hanya kembali ke kamar mandi dengan hati penuh keraguan.

Tiba-tiba, telepon di ruang tamu berdering.

Sheila berjalan menghampiri dan mengangkatnya.

"Halo, apa ini Sheila Santoso? Kami dari Lembaga Penelitian Fisika Nasional."

Dari seberang terdengar suara dengan nada serius dan agak bersemangat. "Setelah melalui berbagai tahap seleksi dan penilaian akhir, dengan senang hati kami beritahukan bahwa Anda telah resmi diterima sebagai anggota Proyek Rahasia Bunga Api. Selamat!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 21

    Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada pula yang saling berpelukan.Sheila tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak.Dia memandang awan jamur itu perlahan naik, makin tinggi, makin tinggi, hingga akhirnya menyatu dengan langit.Lalu dia berbalik dan berjalan keluar dari ruang kendali."Peneliti Sheila, Anda mau ke mana? Jamuan perayaan .…""Ke rumah sakit."Tiga bulan kemudianKota Bareksa, Rumah Sakit Umum Wilayah Militer.Sheila mendorong pintu ruang perawatan intensif.Jevan terbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya penuh selang, wajahnya pucat dan tampak sangat lemah.Sudah tiga bulan dia koma.Tiga kali dokter mengeluarkan surat kondisi kritis. Dan setiap kali itu pula, Sheila yang menandatanganinya.Pada kali ketiga, dokter berkata pelan, "Peneliti Sheila, Anda perlu bersiap secara mental."Sheila menjawab tenang, "Saya akan menunggunya."Menunggu seseorang yang dulu dia kira sudah selesai dalam hidupnya.Jodi berdiri di sampingnya. Kini dia berusia sembilan tahun, tubuhnya l

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 20

    Sheila tertegun.Jevan.Dia mengenakan seragam latihan militer. Wajahnya dipenuhi bekas kasar dari angin dan pasir gurun, namun sorot matanya justru menyala terang dan tajam."Kamu .…"Sheila kehilangan kata-kata."Aku sudah baca semua catatanmu."Suara Jevan cepat, tegas, tapi bergetar tipis."Aku tahu cara memperbaiki sistem antarmuka ini. Sheila, biar aku lakukan ini untukmu. Anggap saja … penebusan dosa."Sebelum Sheila sempat menjawab, dia sudah mengambil pakaian pelindung dan mengenakannya."Jevan!" Sheila tersadar. "Kembali! Itu bukan bidangmu!"Namun Jevan sudah mengenakan pelindung wajahnya lalu menoleh ke arah Sheila.Dari balik helm, matanya samar tetapi mantap."Sheila … kalau aku nggak kembali," suaranya pelan, "sampaikan ke Jodi … Papa mencintainya. Dan juga … mencintai Mama."Tubuh Sheila bergetar.Tanpa menunggu jawaban, Jevan berlari menuju lorong area radiasi."Hentikan dia!" teriak komandan utama.Tapi sudah terlambat.Sosoknya menghilang di balik pintu baja."Jevan!

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 19

    Lima tahun.Dari seorang istri tentara yang dulu hanya berkutat di dapur, dia telah berubah menjadi wakil kepala peneliti termuda dalam Proyek Rahasia Bunga Api.Model Optimasi Parameter Kritis yang dia pimpin berhasil mempercepat proyek hingga dua tahun penuh.Makalah-makalahnya tiga kali menembus jurnal ilmiah internasional papan atas dan mengguncang dunia akademik.Bukan berarti tidak ada yang mengejarnya.Ada doktor lulusan luar negeri yang baru bergabung, dokter muda dari rumah sakit pangkalan, hingga pejabat instansi atasan yang datang inspeksi.Semua dia tolak dengan halus.Jawabannya selalu sama."Di hatiku hanya ada fisika."Dan itu bukan kebohongan.Di kehidupan sebelumnya, hatinya penuh oleh Jevan dan keluarga itu.Di kehidupan ini, yang tersisa hanya gurun, data penelitian, dan langit berbintang di atas kepalanya."Peneliti Sheila, istirahatlah sebentar. Anda sudah bekerja tujuh puluh dua jam."Zian, asistennya, meletakkan susu hangat di meja.Sheila menggeleng tanpa berhen

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 18

    Jevan jelas tidak punya undangan.Dia hanya bisa berdiri di kejauhan, menyaksikan satu per satu mobil sedan datang, berhenti, lalu para ilmuwan yang berjasa bagi negara turun dari kendaraan mereka.Lalu, Jevan melihatnya.Sheila turun dari sebuah sedan hitam.Dia telah berubah.Rambutnya dipotong pendek dan rapi, membuat leher jenjangnya tampak makin tegas dan anggun. Dia mengenakan setelan jas wanita khas peneliti, dengan kartu identitas merah terpasang di dada.Dia sedikit memiringkan kepala saat berbicara dengan seorang pria tua di sampingnya. Tatapannya jernih dan mantap, sementara senyum percaya diri tersungging di sudut bibirnya.Sinar matahari jatuh ke tubuhnya, membuatnya seolah memancarkan cahaya.Jevan hanya bisa menatap terpaku.Itu istrinya.Tidak. Itu Peneliti Sheila.Sheila yang kini bersinar terang, yang tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengannya.Dia dikelilingi banyak orang, seperti mutiara yang akhirnya terbebas dari lumpur dan kembali memancarkan kilaunya.Jevan

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 17

    Susan mendongak tiba-tiba dan berteriak, "Jevan! Kamu nggak bisa begini sama aku! Semua yang aku lakukan itu demi kamu! Aku cinta kamu!""Cintamu bikin aku muak."Jevan berbalik tanpa menoleh lagi.Tiga hari kemudian, Susan ditangkap.Sebelum vonis dijatuhkan, Jevan datang menemuinya untuk terakhir kali.Di balik kaca pembatas, Susan mengenakan seragam tahanan. Wajahnya pucat dan kuyu, tanpa sisa kelembutan yang dulu pernah ada.Sambil menangis, dia memohon, "Jevan, demi masa lalu kita, tolong bantu aku … Aku nggak mau masuk penjara … Lima belas tahun … aku bisa mati di dalam sana …. "Jevan menatapnya datar."Sejak kamu menyakiti Sheila, yang tersisa di antara kita cuma kebencian.""Jevan!"Susan berteriak histeris."Kamu akan menyesal! Seumur hidupmu kamu nggak akan pernah dapat maaf dari Sheila! Dia benci kamu! Dia benci kamu!"Jevan tersenyum tipis."Aku tahu.""Dan memang aku nggak pantas mendapat maaf darinya."Dia berbalik dan pergi, meninggalkan teriakan Susan di belakangnya.H

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 16

    "Jevan, maafin aku … aku benar-benar nggak sengaja .… "Susan menggenggam tangannya erat-erat."Aku cuma mau membantu, mau jagain Jodi … Sheila sudah pergi, tapi kalian tetap butuh seseorang yang bisa mengurus kalian …. ""Kami nggak butuh kamu!"Jevan menepis tangannya dan menunjuk ke arah pintu."Keluar. Pergi sekarang juga. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"Susan berlari keluar sambil menangis.Jevan duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan kecil putranya yang masih panas karena demam.Jodi perlahan membuka mata. Begitu melihat ayahnya, air matanya langsung jatuh."Papa …. "Suaranya lemah."Benarkah Mama nggak akan pernah kembali lagi?"Tenggorokan Jevan tercekat. Dia tidak mampu menjawab."Papa … aku sudah bikin salah …. "Jodi menangis tersedu hingga napasnya tersengal."Di ruang tahanan itu … aku sama Tante Susan … kami menyetrum Mama. Mama pasti sangat benci sama aku …. "Seluruh tubuh Jevan terasa membeku.Jadi apa yang dikatakan Sheila memang benar.Di

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 13

    Dulu, saat Sheila masih ada, rumah mereka selalu bersih dan terang.Di meja makan selalu tersedia makanan hangat.Seragam militernya selalu tersetrika rapi.Putra mereka pun selalu tampak bersih dan terurus.Selama ini, Jevan mengira semua itu memang seharusnya begitu.Baru sekarang dia menyadari ba

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 12

    Malam itu, saat pulang ke rumah, Jevan mendapati bak cuci di dapur penuh dengan piring dan mangkuk kotor. Di lantai juga masih ada bekas susu yang tumpah.Siang tadi dia sempat mencoba membuatkan minuman untuk putranya. Namun karena tidak terbiasa, susu itu malah tumpah ke mana-mana.Dia membungkuk

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 11

    "Pak Jevan, Bu Sheila adalah seorang genius fisika yang kami pilih melalui proses seleksi ketat dan penyaringan berlapis. Bakatnya tidak seharusnya terkubur begitu saja."Nada suara dari seberang telepon tetap tenang."Mohon hormati pilihan beliau, dan mohon patuhi peraturan kerahasiaan."Sambungan

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 10

    Malam itu, Jevan dan Jodi baru pulang ke rumah lewat pukul satu dini hari.Susan tiba-tiba terserang radang lambung dan usus. Jevan menemaninya ke rumah sakit untuk menjalani infus, sementara Jodi bersikeras ikut dan menunggu di luar ruang perawatan hingga larut malam.Saat pintu rumah dibuka, yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status