Share

Bab 3

Author: Lukman
Keesokan paginya, saat Sheila terbangun, hari sudah terang.

Dia keluar dari kamar dan melihat Jevan sudah duduk di meja makan, sementara meja di hadapannya kosong tidak ada apa pun.

Wajahnya tampak muram. Begitu mendengar langkah kaki, dia mengangkat kepala dan menatap Sheila. "Kenapa nggak bikin sarapan?"

Sheila berjalan ke dapur, menuangkan segelas air hangat untuk dirinya sendiri, lalu meneguknya perlahan. "Akhir-akhir ini aku kelelahan, jadi nggak bisa bangun pagi. Di luar banyak yang jual sarapan, kamu beli aja sendiri."

Jevan tersedak melihat sikapnya yang seolah itu hal yang wajar. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut dan berkata dengan nada tidak sabar, "Kamu 'kan tahu, aku sama Jodi pemilih kalau soal makanan. Mana mungkin kami makan makanan dari luar?"

Dia berhenti sejenak, seolah malas memperpanjang perdebatan, lalu berdiri. "Udahlah, ayo pergi. Temani aku ke rumah sakit dulu. Kemarin Jodi kesakitan setelah disuntik dan manggilin kamu terus."

Sheila meletakkan gelasnya dan menggeleng. "Aku nggak bisa pergi, masih ada urusan."

"Ada urusan?" Jevan menatapnya dengan tidak percaya. "Bukannya kemarin sudah dijelasin? Lagi pula, kalaupun memang ada urusan, apa nggak bisa ditunda dulu? Apa ada hal yang lebih penting daripada menjenguk anakmu yang terluka?"

Sheila mengangkat pandangan dan menatapnya dengan mata yang tenang tanpa emosi.

"Ada yang lebih penting daripada dia."

Jevan tertegun, seolah tidak mendengar dengan jelas, atau mungkin terkejut oleh ketegasan dalam ucapannya.

Tepat saat itu, terdengar ketukan lembut dari luar pintu, disertai suara perempuan yang lembut dan anggun. "Jevan? Sheila? Kalian di rumah?"

Itu suara Susan.

Sepertinya tidak ingin kehilangan kendali di hadapan wanita itu, rasa tidak senang di wajah Jevan langsung berkurang. Dia berjalan dan membuka pintu.

Susan mengenakan setelan formal yang rapi. Di tangannya ada buah-buahan dan susu bergizi. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran dan kelembutan yang pas. "Jevan, aku dengar Jodi kecelakaan. Aku beli sedikit barang dan mau jenguk dia di rumah sakit."

Dia beralih menatap Sheila dengan senyum yang lembut dan sopan. "Sheila, jangan salah paham. Aku dan Jevan ... itu udah masa lalu. Kami berjodoh untuk bertemu, tapi nggak berjodoh untuk bersama. Sekarang kalian sudah menikah dan punya anak. Aku hanya berharap dia bahagia, dan anaknya juga selamat."

Sheila hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.

Di kehidupan sebelumnya, mereka juga mengatakan hal yang sama.

Berkali-kali Jevan menegaskan bahwa Susan sudah menjadi bagian dari masa lalunya. Namun, foto wanita itu selalu disimpannya di saku. Saat mabuk, dia akan pergi ke balkon untuk merokok sambil menatap ke arah rumah Susan dengan pandangan kosong.

Susan juga mengaku hanya ingin melihat kebahagiaan mereka dari kejauhan. Namun setiap kali ada masalah, sekecil apa pun, dia selalu mencari Jevan. Lampu putus, pipa bocor, masalah pekerjaan, bahkan saat suasana hatinya buruk, Jevan harus datang menemaninya.

Yang satu berpura-pura penuh cinta, yang satu lagi berpura-pura mengalah untuk kemudian merebut kembali. Mereka mempermainkannya habis-habisan.

"Aku nggak keberatan," kata Sheila datar. "Kebetulan aku memang belum sempat jenguk dia. Kalau kamu yang pergi, malah bagus. Mau jenguk berapa lama pun silakan. Mau rawat dia selama apa pun juga silakan."

Senyum di wajah Susan langsung membeku.

Awalnya dia datang untuk memancing masalah, tak disangka, Sheila akan bersikap begitu lapang. Semua kalimat yang sudah disiapkannya seketika tertahan di tenggorokan, rasanya seperti memukul angin.

Sheila tidak lagi memandangnya. Dia mengambil tas kanvasnya dan berjalan keluar.

"Tunggu!" Susan tiba-tiba memanggilnya dan kembali memasang senyum di wajahnya. "Sheila, ada sesuatu yang ingin aku bicarain berdua sama kamu."

Langkah Sheila terhenti. Dia mengernyit dan menatap Susan.

Tepat saat itu, tetangga sebelah sedang mengadakan pesta pernikahan. Koki yang mereka undang sedang membawa satu kuali besar berisi minyak panas mendidih dan berjalan hati-hati melewati depan rumah mereka menuju halaman sebelah.

Mata Susan berkilat. Kakinya seolah tidak sengaja menendang sebuah kerikil kecil, dan kerikil itu menggelinding tepat ke bawah kaki sang koki.

Koki itu tidak sempat menghindar. Kakinya terpeleset, tubuhnya terjatuh ke belakang, dan satu kuali besar minyak panas mendidih di tangannya langsung tumpah ke arah Sheila dan Susan!

"Hati-hati!"

Teriakan Jevan dan suara minyak panas yang menyembur terdengar hampir bersamaan!

Reaksi Sheila sudah cukup cepat. Dia segera mundur ke samping, tetapi percikan minyak panas tetap mengenai lengan dan kakinya. Rasa sakit yang membakar langsung menjalar. Susan juga menjerit karena bahu dan punggungnya terkena siraman minyak.

Keduanya berteriak kesakitan dan jatuh ke tanah.

Wajah Jevan langsung berubah drastis, dia hendak berlari menghampiri mereka.

Namun pada saat yang sama, sebuah gerobak yang entah milik siapa kehilangan kendali di ujung gang. Gerobak itu meluncur lurus menuruni lereng dengan muatan barang-barang berat, dan tampak akan segera menabrak kedua wanita yang tergeletak di tanah!

Dalam situasi sepersekian detik itu, Jevan hanya sempat menyelamatkan satu orang!

Hampir tanpa ragu, dia melesat maju, memeluk Susan, lalu berguling cepat ke tempat yang aman di samping jalan!

Sedangkan Sheila hanya sempat memiringkan tubuhnya sebelum roda gerobak itu melindas tubuhnya dengan keras!

"Krak …. "

Suara patahan tulang terdengar jelas!

Rasa sakit yang dahsyat seperti gelombang tsunami menyapu seluruh tubuhnya. Pandangannya perlahan menggelap, sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran sepenuhnya.

Saat kesadarannya perlahan pulih, dia sudah berada di rumah sakit.

Seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama kaki kiri dan bagian yang mengalami luka bakar. Rasanya seperti terbakar hebat, sementara suara orang-orang terdengar samar di telinganya.

"Komandan Jevan, kedua wanita ini mengalami luka yang sangat serius. Area luka bakarnya cukup luas dan harus segera diberi obat khusus untuk mencegah infeksi makin buruk!" Terdengar suara dokter yang cemas.

"Berikan! Segera berikan obat itu! Aku akan langsung ajukan permohonan!" Suara Jevan terdengar penuh kegelisahan.

Kemudian, terdengar suara lembaran kertas dibalik dan suara pena yang menulis, disusul instruksi cepat Jevan kepada ajudannya.

Entah sudah berapa lama berlalu, atau mungkin hanya sesaat.

Langkah kaki sang ajudan terdengar berlari kembali sambil terengah-engah. "Komandan! Obatnya ... obatnya udah disetujui! Tapi ... tapi bagian logistik bilang obat khusus itu sangat langka sekarang. Hanya tersisa satu dosis terakhir! Sisanya masih dalam proses pengadaan dan tidak tahu kapan akan tiba!"

Dokter panik. "Lalu gimana?! Kondisi mereka berdua kritis dan harus segera diberikan! Jika infeksi sampai menyebar, nyawa mereka bisa terancam!"

Suara Jevan menjadi berat. "Nggak sempat lagi nunggu pengadaan. Gunakan satu dosis dulu, yang satunya lagi ... kita cari cara lain. Dokter, menurut Anda dalam kondisi sekarang, siapa yang sebaiknya lebih dulu dikasih obat?"

Dokter menjawab tanpa ragu, "Tentu aja kasih pada Bu Sheila dulu! Dia bukan hanya ngalamin luka bakar yang luas, tapi juga patah tulang dan cedera dalam. Risiko infeksinya jauh lebih tinggi, jadi dia yang lebih butuh obat itu!"

"Nggak boleh! Kasih buat Tante Susan dulu!"

Sebuah suara anak kecil yang masih polos namun keras kepala memotong ucapan dokter itu.

Itu suara Jodi!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 21

    Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada pula yang saling berpelukan.Sheila tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak.Dia memandang awan jamur itu perlahan naik, makin tinggi, makin tinggi, hingga akhirnya menyatu dengan langit.Lalu dia berbalik dan berjalan keluar dari ruang kendali."Peneliti Sheila, Anda mau ke mana? Jamuan perayaan .…""Ke rumah sakit."Tiga bulan kemudianKota Bareksa, Rumah Sakit Umum Wilayah Militer.Sheila mendorong pintu ruang perawatan intensif.Jevan terbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya penuh selang, wajahnya pucat dan tampak sangat lemah.Sudah tiga bulan dia koma.Tiga kali dokter mengeluarkan surat kondisi kritis. Dan setiap kali itu pula, Sheila yang menandatanganinya.Pada kali ketiga, dokter berkata pelan, "Peneliti Sheila, Anda perlu bersiap secara mental."Sheila menjawab tenang, "Saya akan menunggunya."Menunggu seseorang yang dulu dia kira sudah selesai dalam hidupnya.Jodi berdiri di sampingnya. Kini dia berusia sembilan tahun, tubuhnya l

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 20

    Sheila tertegun.Jevan.Dia mengenakan seragam latihan militer. Wajahnya dipenuhi bekas kasar dari angin dan pasir gurun, namun sorot matanya justru menyala terang dan tajam."Kamu .…"Sheila kehilangan kata-kata."Aku sudah baca semua catatanmu."Suara Jevan cepat, tegas, tapi bergetar tipis."Aku tahu cara memperbaiki sistem antarmuka ini. Sheila, biar aku lakukan ini untukmu. Anggap saja … penebusan dosa."Sebelum Sheila sempat menjawab, dia sudah mengambil pakaian pelindung dan mengenakannya."Jevan!" Sheila tersadar. "Kembali! Itu bukan bidangmu!"Namun Jevan sudah mengenakan pelindung wajahnya lalu menoleh ke arah Sheila.Dari balik helm, matanya samar tetapi mantap."Sheila … kalau aku nggak kembali," suaranya pelan, "sampaikan ke Jodi … Papa mencintainya. Dan juga … mencintai Mama."Tubuh Sheila bergetar.Tanpa menunggu jawaban, Jevan berlari menuju lorong area radiasi."Hentikan dia!" teriak komandan utama.Tapi sudah terlambat.Sosoknya menghilang di balik pintu baja."Jevan!

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 19

    Lima tahun.Dari seorang istri tentara yang dulu hanya berkutat di dapur, dia telah berubah menjadi wakil kepala peneliti termuda dalam Proyek Rahasia Bunga Api.Model Optimasi Parameter Kritis yang dia pimpin berhasil mempercepat proyek hingga dua tahun penuh.Makalah-makalahnya tiga kali menembus jurnal ilmiah internasional papan atas dan mengguncang dunia akademik.Bukan berarti tidak ada yang mengejarnya.Ada doktor lulusan luar negeri yang baru bergabung, dokter muda dari rumah sakit pangkalan, hingga pejabat instansi atasan yang datang inspeksi.Semua dia tolak dengan halus.Jawabannya selalu sama."Di hatiku hanya ada fisika."Dan itu bukan kebohongan.Di kehidupan sebelumnya, hatinya penuh oleh Jevan dan keluarga itu.Di kehidupan ini, yang tersisa hanya gurun, data penelitian, dan langit berbintang di atas kepalanya."Peneliti Sheila, istirahatlah sebentar. Anda sudah bekerja tujuh puluh dua jam."Zian, asistennya, meletakkan susu hangat di meja.Sheila menggeleng tanpa berhen

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 18

    Jevan jelas tidak punya undangan.Dia hanya bisa berdiri di kejauhan, menyaksikan satu per satu mobil sedan datang, berhenti, lalu para ilmuwan yang berjasa bagi negara turun dari kendaraan mereka.Lalu, Jevan melihatnya.Sheila turun dari sebuah sedan hitam.Dia telah berubah.Rambutnya dipotong pendek dan rapi, membuat leher jenjangnya tampak makin tegas dan anggun. Dia mengenakan setelan jas wanita khas peneliti, dengan kartu identitas merah terpasang di dada.Dia sedikit memiringkan kepala saat berbicara dengan seorang pria tua di sampingnya. Tatapannya jernih dan mantap, sementara senyum percaya diri tersungging di sudut bibirnya.Sinar matahari jatuh ke tubuhnya, membuatnya seolah memancarkan cahaya.Jevan hanya bisa menatap terpaku.Itu istrinya.Tidak. Itu Peneliti Sheila.Sheila yang kini bersinar terang, yang tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengannya.Dia dikelilingi banyak orang, seperti mutiara yang akhirnya terbebas dari lumpur dan kembali memancarkan kilaunya.Jevan

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 17

    Susan mendongak tiba-tiba dan berteriak, "Jevan! Kamu nggak bisa begini sama aku! Semua yang aku lakukan itu demi kamu! Aku cinta kamu!""Cintamu bikin aku muak."Jevan berbalik tanpa menoleh lagi.Tiga hari kemudian, Susan ditangkap.Sebelum vonis dijatuhkan, Jevan datang menemuinya untuk terakhir kali.Di balik kaca pembatas, Susan mengenakan seragam tahanan. Wajahnya pucat dan kuyu, tanpa sisa kelembutan yang dulu pernah ada.Sambil menangis, dia memohon, "Jevan, demi masa lalu kita, tolong bantu aku … Aku nggak mau masuk penjara … Lima belas tahun … aku bisa mati di dalam sana …. "Jevan menatapnya datar."Sejak kamu menyakiti Sheila, yang tersisa di antara kita cuma kebencian.""Jevan!"Susan berteriak histeris."Kamu akan menyesal! Seumur hidupmu kamu nggak akan pernah dapat maaf dari Sheila! Dia benci kamu! Dia benci kamu!"Jevan tersenyum tipis."Aku tahu.""Dan memang aku nggak pantas mendapat maaf darinya."Dia berbalik dan pergi, meninggalkan teriakan Susan di belakangnya.H

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 16

    "Jevan, maafin aku … aku benar-benar nggak sengaja .… "Susan menggenggam tangannya erat-erat."Aku cuma mau membantu, mau jagain Jodi … Sheila sudah pergi, tapi kalian tetap butuh seseorang yang bisa mengurus kalian …. ""Kami nggak butuh kamu!"Jevan menepis tangannya dan menunjuk ke arah pintu."Keluar. Pergi sekarang juga. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"Susan berlari keluar sambil menangis.Jevan duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan kecil putranya yang masih panas karena demam.Jodi perlahan membuka mata. Begitu melihat ayahnya, air matanya langsung jatuh."Papa …. "Suaranya lemah."Benarkah Mama nggak akan pernah kembali lagi?"Tenggorokan Jevan tercekat. Dia tidak mampu menjawab."Papa … aku sudah bikin salah …. "Jodi menangis tersedu hingga napasnya tersengal."Di ruang tahanan itu … aku sama Tante Susan … kami menyetrum Mama. Mama pasti sangat benci sama aku …. "Seluruh tubuh Jevan terasa membeku.Jadi apa yang dikatakan Sheila memang benar.Di

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 5

    Tak lama kemudian, dokter datang melakukan pemeriksaan. Setelah memeriksa kondisi lukanya, keningnya langsung berkerut dalam."Bu Sheila, luka bakar Anda seharusnya nggak akan jadi masalah besar selama perbannya rutin diganti dan mencegah infeksi sampai sembuh. Yang lebih merepotkan itu cedera di le

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 4

    Jevan berkata, "Jodi, kamu .... ""Papa! Tante Susan sebentar lagi akan masuk lembaga penelitian! Dia akan lakukan pekerjaan penting! Dia itu aset berharga bagi negara, nggak boleh sampai ada masalah! Sedangkan Mama ... Mama 'kan nanti cuma akan tinggal di rumah, masak dan ngurus anak. Kalaupun ada

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 2

    "Terima kasih. Saya akan datang melapor tepat waktu." Sheila berbicara pelan tapi tegas."Tapi, Bu Sheila .... " Nada suara di seberang berubah menjadi lebih serius, "Anda juga tahu kalau proyek ini bersifat khusus. Begitu bergabung, Anda akan langsung memasuki status rahasia dan harus menetap di pa

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 1

    Jevan tersedak oleh nada dingin Sheila, dan amarahnya langsung meledak. "Kalau sudah tahu, kenapa nggak datang? Kaki Jodi patah dan dia sangat ketakutan. Saat ini, dia sangat butuh ada mamanya di sisinya! Apa kamu tahu dia nangis sampai suaranya serak? Dia terus manggilin mamanya!"Sheila terdiam se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status