分享

Bab 4

作者: Lukman
Jevan berkata, "Jodi, kamu .... "

"Papa! Tante Susan sebentar lagi akan masuk lembaga penelitian! Dia akan lakukan pekerjaan penting! Dia itu aset berharga bagi negara, nggak boleh sampai ada masalah! Sedangkan Mama ... Mama 'kan nanti cuma akan tinggal di rumah, masak dan ngurus anak. Kalaupun ada sedikit efek samping, nggak apa-apa."

Dia berhenti sejenak. Suaranya terdengar makin sedih, bahkan bercampur rasa kesal. "Lagi pula ... siapa suruh kemarin Mama nggak mau datang jenguk aku! Aku kesakitan sudah sampai nangis-nangis, tapi Mama tetap nggak datang! Mama memang pantas nerima ini! Biarin Mama ... kesakitan lebih lama sedikit!"

Sheila terbaring di ranjang rumah sakit. Kesadarannya masih kabur, tetapi dia bisa mendengar setiap kata itu dengan sangat jelas.

Meskipun sejak lama dia tahu bahwa dalam keluarga ini, di hati Jevan dan putranya, posisi Susan jauh lebih penting daripada dirinya.

Namun mendengar langsung putranya yang baru berusia empat tahun mengucapkan hal seperti itu … bagian hatinya yang ssudah lama mati rasa kembali merasakan sakit yang menusuk, seperti disayat perlahan-lahan tanpa ampun.

Pada detik berikutnya, terdengar suara rendah Jevan.

"Benar. Susan sebentar lagi akan masuk ke lembaga penelitian. Dia aset berharga bagi negara. Berikan obat itu pada Susan lebih dulu. Sheila … bisa menunggu."

Dokter tampaknya masih ingin membujuknya. "Tapi, Pak Jevan .... "

"Laksanakan segera!" Keputusan Jevan tidak bisa dibantah. "Saya percaya pada institusi dan juga rumah sakit, mereka pasti akan berusaha sebaik mungkin menyelamatkan istri saya. Namun sekarang, kepentingan yang lebih besar harus diutamakan."

Kepentingan yang lebih besar? Talenta berharga? Aset negara?

Lalu bagaimana dengan Sheila sendiri? Hanya seorang ibu rumah tangga yang bisa dikorbankan begitu ssaja demi kepentingan yang lebih besar, yang tidak masalah jika harus menanggung rasa sakit lebih lama?

Keputusasaan yang dingin kembali menelannya seperti gelombang pasang.

Rasa sakit di kakinya, rasa sakit akibat luka bakar, semuanya masih kalah dibanding dinginnya hati yang telah hancur berkeping-keping saat ini.

Sebelum kesadarannya kembali mengabur, hanya ada satu pikiran di benaknya.

Dalam kehidupan ini, dia harus pergi. Pergi sejauh mungkin.

….

Saat kembali terbangun, hari sudah sore keesokan harinya.

Jevan dan Jodi berjaga di sisi ranjangnya.

Begitu melihatnya membuka mata, Jevan segera membungkuk. "Kamu sudah sadar? Gimana perasaanmu? Apa masih sakit sekali?"

Jodi juga bersandar di tepi ranjang. Mata besarnya menatap Sheila sambil berkata pelan, "Mama, Mama bikin aku sangat khawatir."

Sheila memandangi kekhawatiran yang tampak tulus di wsajah mereka berdua dan merasa semuanya begitu ironis.

"Bukannya kalian nggak peduli aku hidup atau mati?" Suaranya serak. Setiap kata yang diucapkannya membuat dadanya terasa nyeri. "Lalu untuk apa pura-pura peduli di sini?"

Wsajah Jevan dan Jodi berubah pada saat yang bersamaan.

Tatapan Jevan berkilat sesaat sebelum dia berbicara lebih dulu. "Sheila, situasi kemarin ... Susan itu akan melakukan penelitian ilmiah. Dia sangat penting bagi negara. Kamu sendiri sudah melepaskan kesempatan masuk ke lembaga penelitian dan nantinya hanya akan berada di rumah, jadi tentu ... situasimu nggak terlalu mendesak. Pilihan itu memang bisa dimaklumi, tapi aku tahu kamu telah menderita karenanya. Mulai sekarang, aku dan Jodi akan merawatmu dengan baik sebagai gantinya."

Jodi juga buru-buru mengangguk sambil berusaha menyenangkan hatinya. "Benar, Ma! Aku sama Papa akan merawat Mama! Aku ambilin air minum!"

Sambil berkata begitu, dia berjinjit mengambil termos air panas di atas meja samping ranjang, lalu dengan canggung menuangkan air ke dalam cangkir enamel.

Airnya terlalu penuh dan terlalu panas. Saat membawanya, sebagian air tumpah dan membuat punggung tangan Sheila refleks menarik diri karena tersiram.

Jodi tidak menyadarinya. Dia menyodorkan cangkir itu ke bibir Sheila. "Ma, minum."

Jevan juga mengambil sebuah apel. "Aku akan kupaskan apel untukmu."

Jelas terlihat bahwa dia tidak terbiasa mengupas apel. Kulit apel itu dikupas dengan tidak rata dan penuh cekungan. Selain itu, apel yang dipilihnya adalah jenis apel yang paling tidak disukai Sheila karena rasanya asam dan keras.

Sheila memandangi secangkir air mendidih itu dan apel yang tidak disukainya. Hatinya terasa makin dingin.

Tepat saat itu, seorang perawat membuka pintu dan masuk. "Pak Jevan, Nona Susan sudah sadar. Dia terus memanggil nama Anda dan emosinya tampaknya kurang stabil. Apakah Anda ingin pergi menemuinya?"

Tangan Jevan yang sedang mengupas apel berhenti. Keraguan muncul di wsajahnya.

Sheila berbicara lebih dulu. Suaranya tenang tanpa emosi. "Pergilah rawat dia. Nggak usah pedulikan aku."

"Sheila, kenapa kamu bilang begitu?" Jevan mengernyit. "Apa maksudmu nggak usah peduliin kamu?"

Jodi juga menjadi cemas. "Mama, mana mungkin kami pergi dan ninggalin Mama sendirian? Meskipun kemarin Mama nggak datang jenguk aku, aku nggak bisa setega itu. Aku anak Mama. Kalau aku pergi, Mama pasti sedih!"

Sheila tiba-tiba tersenyum. Senyumnya tipis, tetapi menyimpan kesedihan yang tidak terlukiskan.

"Kenapa kalian berpikir ... aku akan sedih?" Dia menatap mereka dengan pandangan dingin. "Kamu kasih aku air minum, tapi yang kamu kasih air mendidih. Kamu kupasin apel buat aku, tapi yang kamu pilih itu apel yang paling aku nggak suka. Sebenarnya, aku nggak terlalu butuh perhatian seperti ini dari kalian."

Dia berhenti sejenak lalu menggeser tubuhnya yang penuh balutan perban dengan susah payah. "Pergilah. Aku sendirian saja. Kalau kalian sewa seorang perawat, mungkin aku malah bisa pulih lebih cepat."

Jevan dan Jodi langsung terdiam. Wsajah mereka berganti dari pucat menjadi merah karena malu.

Setelah lama terdiam, Jevan akhirnya berkata dengan suara berat sambil menahan amarah. "Sheila, aku tau kamu masih marah karena kemarin aku dan Jodi milih buat nyelamatin Susan duluan. Baiklah. Tenang dulu. Aku akan cariin perawat terbaik buat kamu."

Kemudian, dia meletakkan apel dan pisau buah, lalu menggenggam tangan Jodi. "Jodi, kita pergi."

Sebelum ditarik pergi, Jodi menoleh menatap Sheila. Di matanya ada kebingungan, rasa kecewa, dan juga keras kepala yang tidak seharusnya dimiliki anak seusianya.

"Mama," katanya, "Mama sudah berubah. Sekarang jadi dingin dan sering marah sama kami. Memangnya apa gunanya begitu?"

Pintu kamar rawat pun tertutup.

Sheila memejamkan mata. Dengan lelah dia berpikir, apakah dirinya sedang ngambek?

Tidak. Hanya saja ... dia sudah sadar.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 21

    Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada pula yang saling berpelukan.Sheila tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak.Dia memandang awan jamur itu perlahan naik, makin tinggi, makin tinggi, hingga akhirnya menyatu dengan langit.Lalu dia berbalik dan berjalan keluar dari ruang kendali."Peneliti Sheila, Anda mau ke mana? Jamuan perayaan .…""Ke rumah sakit."Tiga bulan kemudianKota Bareksa, Rumah Sakit Umum Wilayah Militer.Sheila mendorong pintu ruang perawatan intensif.Jevan terbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya penuh selang, wajahnya pucat dan tampak sangat lemah.Sudah tiga bulan dia koma.Tiga kali dokter mengeluarkan surat kondisi kritis. Dan setiap kali itu pula, Sheila yang menandatanganinya.Pada kali ketiga, dokter berkata pelan, "Peneliti Sheila, Anda perlu bersiap secara mental."Sheila menjawab tenang, "Saya akan menunggunya."Menunggu seseorang yang dulu dia kira sudah selesai dalam hidupnya.Jodi berdiri di sampingnya. Kini dia berusia sembilan tahun, tubuhnya l

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 20

    Sheila tertegun.Jevan.Dia mengenakan seragam latihan militer. Wajahnya dipenuhi bekas kasar dari angin dan pasir gurun, namun sorot matanya justru menyala terang dan tajam."Kamu .…"Sheila kehilangan kata-kata."Aku sudah baca semua catatanmu."Suara Jevan cepat, tegas, tapi bergetar tipis."Aku tahu cara memperbaiki sistem antarmuka ini. Sheila, biar aku lakukan ini untukmu. Anggap saja … penebusan dosa."Sebelum Sheila sempat menjawab, dia sudah mengambil pakaian pelindung dan mengenakannya."Jevan!" Sheila tersadar. "Kembali! Itu bukan bidangmu!"Namun Jevan sudah mengenakan pelindung wajahnya lalu menoleh ke arah Sheila.Dari balik helm, matanya samar tetapi mantap."Sheila … kalau aku nggak kembali," suaranya pelan, "sampaikan ke Jodi … Papa mencintainya. Dan juga … mencintai Mama."Tubuh Sheila bergetar.Tanpa menunggu jawaban, Jevan berlari menuju lorong area radiasi."Hentikan dia!" teriak komandan utama.Tapi sudah terlambat.Sosoknya menghilang di balik pintu baja."Jevan!

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 19

    Lima tahun.Dari seorang istri tentara yang dulu hanya berkutat di dapur, dia telah berubah menjadi wakil kepala peneliti termuda dalam Proyek Rahasia Bunga Api.Model Optimasi Parameter Kritis yang dia pimpin berhasil mempercepat proyek hingga dua tahun penuh.Makalah-makalahnya tiga kali menembus jurnal ilmiah internasional papan atas dan mengguncang dunia akademik.Bukan berarti tidak ada yang mengejarnya.Ada doktor lulusan luar negeri yang baru bergabung, dokter muda dari rumah sakit pangkalan, hingga pejabat instansi atasan yang datang inspeksi.Semua dia tolak dengan halus.Jawabannya selalu sama."Di hatiku hanya ada fisika."Dan itu bukan kebohongan.Di kehidupan sebelumnya, hatinya penuh oleh Jevan dan keluarga itu.Di kehidupan ini, yang tersisa hanya gurun, data penelitian, dan langit berbintang di atas kepalanya."Peneliti Sheila, istirahatlah sebentar. Anda sudah bekerja tujuh puluh dua jam."Zian, asistennya, meletakkan susu hangat di meja.Sheila menggeleng tanpa berhen

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 18

    Jevan jelas tidak punya undangan.Dia hanya bisa berdiri di kejauhan, menyaksikan satu per satu mobil sedan datang, berhenti, lalu para ilmuwan yang berjasa bagi negara turun dari kendaraan mereka.Lalu, Jevan melihatnya.Sheila turun dari sebuah sedan hitam.Dia telah berubah.Rambutnya dipotong pendek dan rapi, membuat leher jenjangnya tampak makin tegas dan anggun. Dia mengenakan setelan jas wanita khas peneliti, dengan kartu identitas merah terpasang di dada.Dia sedikit memiringkan kepala saat berbicara dengan seorang pria tua di sampingnya. Tatapannya jernih dan mantap, sementara senyum percaya diri tersungging di sudut bibirnya.Sinar matahari jatuh ke tubuhnya, membuatnya seolah memancarkan cahaya.Jevan hanya bisa menatap terpaku.Itu istrinya.Tidak. Itu Peneliti Sheila.Sheila yang kini bersinar terang, yang tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengannya.Dia dikelilingi banyak orang, seperti mutiara yang akhirnya terbebas dari lumpur dan kembali memancarkan kilaunya.Jevan

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 17

    Susan mendongak tiba-tiba dan berteriak, "Jevan! Kamu nggak bisa begini sama aku! Semua yang aku lakukan itu demi kamu! Aku cinta kamu!""Cintamu bikin aku muak."Jevan berbalik tanpa menoleh lagi.Tiga hari kemudian, Susan ditangkap.Sebelum vonis dijatuhkan, Jevan datang menemuinya untuk terakhir kali.Di balik kaca pembatas, Susan mengenakan seragam tahanan. Wajahnya pucat dan kuyu, tanpa sisa kelembutan yang dulu pernah ada.Sambil menangis, dia memohon, "Jevan, demi masa lalu kita, tolong bantu aku … Aku nggak mau masuk penjara … Lima belas tahun … aku bisa mati di dalam sana …. "Jevan menatapnya datar."Sejak kamu menyakiti Sheila, yang tersisa di antara kita cuma kebencian.""Jevan!"Susan berteriak histeris."Kamu akan menyesal! Seumur hidupmu kamu nggak akan pernah dapat maaf dari Sheila! Dia benci kamu! Dia benci kamu!"Jevan tersenyum tipis."Aku tahu.""Dan memang aku nggak pantas mendapat maaf darinya."Dia berbalik dan pergi, meninggalkan teriakan Susan di belakangnya.H

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 16

    "Jevan, maafin aku … aku benar-benar nggak sengaja .… "Susan menggenggam tangannya erat-erat."Aku cuma mau membantu, mau jagain Jodi … Sheila sudah pergi, tapi kalian tetap butuh seseorang yang bisa mengurus kalian …. ""Kami nggak butuh kamu!"Jevan menepis tangannya dan menunjuk ke arah pintu."Keluar. Pergi sekarang juga. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"Susan berlari keluar sambil menangis.Jevan duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan kecil putranya yang masih panas karena demam.Jodi perlahan membuka mata. Begitu melihat ayahnya, air matanya langsung jatuh."Papa …. "Suaranya lemah."Benarkah Mama nggak akan pernah kembali lagi?"Tenggorokan Jevan tercekat. Dia tidak mampu menjawab."Papa … aku sudah bikin salah …. "Jodi menangis tersedu hingga napasnya tersengal."Di ruang tahanan itu … aku sama Tante Susan … kami menyetrum Mama. Mama pasti sangat benci sama aku …. "Seluruh tubuh Jevan terasa membeku.Jadi apa yang dikatakan Sheila memang benar.Di

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 7

    Mendengar suara pintu terbuka, Jevan langsung berbalik. Wajahnya masih memerah, dengan ekspresi terkejut dan canggung yang belum sempat dia sembunyikan."Sheila? Kamu …. "Sheila masuk ke dalam dan berkata dengan nada tenang tanpa emosi, "Aku mau sikat gigi. Apa kamu sudah selesai?"Jevan tertegun.

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 6

    Tepuk tangan dan sorakan dari para penonton terdengar makin meriah.Tubuh Jevan menegang sedikit. Saat dia masih ragu apakah harus mencari alasan untuk menolak, Susan tiba-tiba berjinjit dan dengan cepat mencium pipinya.Sentuhan lembut itu hanya berlangsung sesaat.Sorak sorai dan siulan langsung m

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 5

    Tak lama kemudian, dokter datang melakukan pemeriksaan. Setelah memeriksa kondisi lukanya, keningnya langsung berkerut dalam."Bu Sheila, luka bakar Anda seharusnya nggak akan jadi masalah besar selama perbannya rutin diganti dan mencegah infeksi sampai sembuh. Yang lebih merepotkan itu cedera di le

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 3

    Keesokan paginya, saat Sheila terbangun, hari sudah terang.Dia keluar dari kamar dan melihat Jevan sudah duduk di meja makan, sementara meja di hadapannya kosong tidak ada apa pun.Wajahnya tampak muram. Begitu mendengar langkah kaki, dia mengangkat kepala dan menatap Sheila. "Kenapa nggak bikin sa

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status