공유

Bab 9

작가: Lukman
Jevan makin kesal melihat tawanya. Terlebih saat melihat air mata yang terus mengalir di wajah Sheila, rasa jengkel di dalam hatinya justru semakin kian memuncak.

Dia menarik napas panjang, berusaha menekan emosinya. Setelah terdiam sejenak, dia meraih gelas di atas meja samping ranjang, menuangkan segelas air, lalu menyodorkannya ke bibir Sheila.

Nada suaranya sedikit melunak.

"Minumlah dulu. Aku tahu kamu masih marah karena kali ini aku hukum kamu. Tapi disiplin militer tetaplah disiplin militer. Kamu melakukan kesalahan, tentu harus dihukum."

Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Ke depannya ... asalkan kamu mau menjaga sikap dan jalani hidup dengan baik, aku nggak akan biarin kamu diperlakukan nggak adil lagi."

Sheila tidak menerima gelas itu. Dia hanya menatap Jevan dengan tenang.

Tepat saat itu, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari luar. Sesaat kemudian, suara Jodi yang nyaris menangis menyusul dari balik pintu.

"Papa! Papa! Cepat lihat Tante Susan! Perutnya sakit sekali sampai pingsan!"

Wajah Jevan langsung berubah.

Dia segera berdiri.

Namun karena bangun terlalu tergesa-gesa, sikunya tanpa sengaja menghantam tangan Sheila yang sedang memegang gelas air.

Byur!

Segelas penuh air mendidih langsung tumpah ke tangan kiri Sheila yang masih dibalut perban.

"Hss ...."

Sheila mengerang pelan. Tangan kirinya bergetar hebat secara refleks akibat rasa sakit yang datang tiba-tiba.

Jevan dan Jodi yang baru saja masuk sama-sama terkejut.

"Mama!" seru Jodi.

Jevan juga segera menghampiri.

"Sheila! Kamu nggak apa-apa?"

Rasa sakit yang luar biasa membuat wajah Sheila seketika pucat pasi. Keringat dingin bermunculan di dahinya, sementara tangan yang tersiram air panas itu memerah dan membengkak dengan cepat.

Bahkan melalui lapisan perban, sensasi terbakar yang menyengat masih terasa begitu jelas.

Pandangannya lalu beralih kepada ayah dan anak yang tampak begitu cemas di hadapannya.

Namun dari kepanikan yang mereka tunjukkan, berapa banyak yang benar-benar ditujukan untuk dirinya? Dan berapa banyak yang muncul karena takut urusan menjenguk Susan menjadi tertunda?

Pikiran itu membuat Sheila tiba-tiba merasa semuanya begitu menggelikan.

"Jevan."

Suaranya sedikit bergetar, tetapi terdengar sangat jelas.

"Pergi aja temui dia."

Jevan tertegun.

"Kamu .... "

"Jodi."

Sheila kembali menatap putranya.

"Kamu juga ikut saja. Bukankah kamu juga khawatir?"

Jodi menatapnya, lalu melirik ke arah pintu. Wajah kecilnya dipenuhi kebimbangan.

"Tapi tangan Mama .... "

"Tanganku nggak apa-apa."

Dengan susah payah, Sheila menyandarkan tubuhnya ke dinding yang dingin.

"Pergilah. Aku bisa sendiri."

Nada bicaranya begitu tenang. Terlalu tenang hingga membuat hati orang yang mendengarnya merasa gelisah.

Melihat wajah Sheila yang pucat dan rapuh, namun tetap keras kepala, dada Jevan terasa makin sesak.

Jevan ingin tetap tinggal. Ingin memeriksa luka di tangan Sheila. Ingin bertanya apa sebenarnya yang terjadi padanya.

Namun sebelum dia sempat mengatakan apa pun, suara ajudan kembali terdengar dari luar pintu.

"Komandan! Kondisi Nona Susan kurang baik. Dokter minta Anda segera datang!"

Jodi juga menarik ujung bajunya pelan.

"Papa .... "

Jevan menggertakkan gigi.

Pada akhirnya, dia tetap menatap Sheila dan berkata, "Tahan sebentar. Aku akan suruh petugas medis datang menanganimu sekarang juga. Aku ... akan segera kembali."

Setelah mengatakan itu, dia langsung menggendong Jodi dan bergegas pergi.

Suara langkah kaki mereka perlahan menghilang di kejauhan.

Kamar itu kembali tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan.

Hanya napas Sheila yang berat dan rasa sakit yang membakar di tangan kirinya yang mengingatkannya bahwa dia masih hidup.

Bersandar pada dinding yang dingin, dia perlahan mengangkat tangan kanannya untuk membuka perban di tangan kiri yang sudah basah oleh air dan terasa panas menyengat.

Telapak tangan hingga pergelangan tangannya memerah seluruhnya. Lepuhan-lepuhan memenuhi kulitnya, sementara rasa kebas akibat sengatan listrik bercampur dengan nyeri sisa operasi, menusuk hingga ke tulang.

Namun wajahnya tetap tanpa ekspresi.

Entah berapa lama waktu berlalu, pintu kamar kembali terbuka.

Yang masuk bukan petugas medis.

Juga bukan Jevan.

Melainkan seorang wanita paruh baya berseragam kerja yang membawa sebuah map kertas cokelat.

"Nona Sheila?"

Sheila perlahan mengangkat kepala.

Wanita itu menyerahkan map di tangannya.

"Permohonan perceraian Anda sudah disetujui. Ini surat cerai dan dokumen terkaitnya. Mohon disimpan baik-baik."

Sheila mengulurkan tangan kanannya dan menerima map tersebut.

Map itu tampak ringan, tetapi di tangannya terasa begitu berat.

Saat membukanya, pandangannya langsung jatuh pada Surat Cerai yang telah dibubuhi stempel merah resmi.

Seketika, seluruh keraguan dan keterikatan yang tersisa seolah terputus pada saat yang sama.

Semua ini akhirnya benar-benar berakhir.

Tak lama setelah petugas kantor catatan sipil itu pergi, dari luar terdengar samar suara klakson mobil.

Tiga kali pendek, satu kali panjang dengan pola yang teratur.

Sheila menoleh ke arah jendela.

Mobil dari lembaga penelitian yang akan menjemputnya akhirnya tiba.

Dengan susah payah, Sheila berdiri.

Dia meletakkan surat cerai itu dengan rapi di atas meja ruang tamu, di tempat yang paling mudah terlihat.

Setelah itu, langkahnya berhenti di depan foto pernikahannya dengan Jevan yang tergantung di dinding.

Dalam foto itu, dia bersandar di sisi pria tersebut dengan senyum yang begitu bahagia.

Sheila menatapnya beberapa saat.

Lalu perlahan mengangkat tangan dan mengayunkannya sekuat tenaga.

"Prang!"

Bingkai kaca itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.

Retakan menyebar ke segala arah, membelah foto pernikahan yang dulu begitu berharga. Senyum kedua orang di dalamnya pun hancur bersama pecahan kaca yang berserakan.

Untuk terakhir kalinya, Sheila memandang rumah yang pernah menjadi tempatnya menaruh harapan, sekaligus menyimpan begitu banyak luka dan keputusasaan.

Kemudian dia mengangkat kopernya.

Tanpa menoleh lagi, dia berbalik dan melangkah pergi.

Di bawah gedung, sebuah jip berpelat nomor khusus telah menunggu dengan tenang.

Seorang staf lembaga penelitian yang mengenakan setelan formal turun dan membukakan pintu untuknya.

"Bu Sheila, silakan."

Sheila menarik napas panjang, lalu melangkah masuk ke dalam mobil.

Pintu mobil tertutup perlahan, disusul suara mesin yang mulai menyala.

Malam semakin larut. Satu demi satu bintang bermunculan di langit yang gelap.

Sheila menatap ke luar jendela.

Dia tahu, mulai malam ini, hidupnya akan memasuki babak yang baru.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 21

    Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada pula yang saling berpelukan.Sheila tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak.Dia memandang awan jamur itu perlahan naik, makin tinggi, makin tinggi, hingga akhirnya menyatu dengan langit.Lalu dia berbalik dan berjalan keluar dari ruang kendali."Peneliti Sheila, Anda mau ke mana? Jamuan perayaan .…""Ke rumah sakit."Tiga bulan kemudianKota Bareksa, Rumah Sakit Umum Wilayah Militer.Sheila mendorong pintu ruang perawatan intensif.Jevan terbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya penuh selang, wajahnya pucat dan tampak sangat lemah.Sudah tiga bulan dia koma.Tiga kali dokter mengeluarkan surat kondisi kritis. Dan setiap kali itu pula, Sheila yang menandatanganinya.Pada kali ketiga, dokter berkata pelan, "Peneliti Sheila, Anda perlu bersiap secara mental."Sheila menjawab tenang, "Saya akan menunggunya."Menunggu seseorang yang dulu dia kira sudah selesai dalam hidupnya.Jodi berdiri di sampingnya. Kini dia berusia sembilan tahun, tubuhnya l

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 20

    Sheila tertegun.Jevan.Dia mengenakan seragam latihan militer. Wajahnya dipenuhi bekas kasar dari angin dan pasir gurun, namun sorot matanya justru menyala terang dan tajam."Kamu .…"Sheila kehilangan kata-kata."Aku sudah baca semua catatanmu."Suara Jevan cepat, tegas, tapi bergetar tipis."Aku tahu cara memperbaiki sistem antarmuka ini. Sheila, biar aku lakukan ini untukmu. Anggap saja … penebusan dosa."Sebelum Sheila sempat menjawab, dia sudah mengambil pakaian pelindung dan mengenakannya."Jevan!" Sheila tersadar. "Kembali! Itu bukan bidangmu!"Namun Jevan sudah mengenakan pelindung wajahnya lalu menoleh ke arah Sheila.Dari balik helm, matanya samar tetapi mantap."Sheila … kalau aku nggak kembali," suaranya pelan, "sampaikan ke Jodi … Papa mencintainya. Dan juga … mencintai Mama."Tubuh Sheila bergetar.Tanpa menunggu jawaban, Jevan berlari menuju lorong area radiasi."Hentikan dia!" teriak komandan utama.Tapi sudah terlambat.Sosoknya menghilang di balik pintu baja."Jevan!

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 19

    Lima tahun.Dari seorang istri tentara yang dulu hanya berkutat di dapur, dia telah berubah menjadi wakil kepala peneliti termuda dalam Proyek Rahasia Bunga Api.Model Optimasi Parameter Kritis yang dia pimpin berhasil mempercepat proyek hingga dua tahun penuh.Makalah-makalahnya tiga kali menembus jurnal ilmiah internasional papan atas dan mengguncang dunia akademik.Bukan berarti tidak ada yang mengejarnya.Ada doktor lulusan luar negeri yang baru bergabung, dokter muda dari rumah sakit pangkalan, hingga pejabat instansi atasan yang datang inspeksi.Semua dia tolak dengan halus.Jawabannya selalu sama."Di hatiku hanya ada fisika."Dan itu bukan kebohongan.Di kehidupan sebelumnya, hatinya penuh oleh Jevan dan keluarga itu.Di kehidupan ini, yang tersisa hanya gurun, data penelitian, dan langit berbintang di atas kepalanya."Peneliti Sheila, istirahatlah sebentar. Anda sudah bekerja tujuh puluh dua jam."Zian, asistennya, meletakkan susu hangat di meja.Sheila menggeleng tanpa berhen

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 18

    Jevan jelas tidak punya undangan.Dia hanya bisa berdiri di kejauhan, menyaksikan satu per satu mobil sedan datang, berhenti, lalu para ilmuwan yang berjasa bagi negara turun dari kendaraan mereka.Lalu, Jevan melihatnya.Sheila turun dari sebuah sedan hitam.Dia telah berubah.Rambutnya dipotong pendek dan rapi, membuat leher jenjangnya tampak makin tegas dan anggun. Dia mengenakan setelan jas wanita khas peneliti, dengan kartu identitas merah terpasang di dada.Dia sedikit memiringkan kepala saat berbicara dengan seorang pria tua di sampingnya. Tatapannya jernih dan mantap, sementara senyum percaya diri tersungging di sudut bibirnya.Sinar matahari jatuh ke tubuhnya, membuatnya seolah memancarkan cahaya.Jevan hanya bisa menatap terpaku.Itu istrinya.Tidak. Itu Peneliti Sheila.Sheila yang kini bersinar terang, yang tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengannya.Dia dikelilingi banyak orang, seperti mutiara yang akhirnya terbebas dari lumpur dan kembali memancarkan kilaunya.Jevan

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 17

    Susan mendongak tiba-tiba dan berteriak, "Jevan! Kamu nggak bisa begini sama aku! Semua yang aku lakukan itu demi kamu! Aku cinta kamu!""Cintamu bikin aku muak."Jevan berbalik tanpa menoleh lagi.Tiga hari kemudian, Susan ditangkap.Sebelum vonis dijatuhkan, Jevan datang menemuinya untuk terakhir kali.Di balik kaca pembatas, Susan mengenakan seragam tahanan. Wajahnya pucat dan kuyu, tanpa sisa kelembutan yang dulu pernah ada.Sambil menangis, dia memohon, "Jevan, demi masa lalu kita, tolong bantu aku … Aku nggak mau masuk penjara … Lima belas tahun … aku bisa mati di dalam sana …. "Jevan menatapnya datar."Sejak kamu menyakiti Sheila, yang tersisa di antara kita cuma kebencian.""Jevan!"Susan berteriak histeris."Kamu akan menyesal! Seumur hidupmu kamu nggak akan pernah dapat maaf dari Sheila! Dia benci kamu! Dia benci kamu!"Jevan tersenyum tipis."Aku tahu.""Dan memang aku nggak pantas mendapat maaf darinya."Dia berbalik dan pergi, meninggalkan teriakan Susan di belakangnya.H

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 16

    "Jevan, maafin aku … aku benar-benar nggak sengaja .… "Susan menggenggam tangannya erat-erat."Aku cuma mau membantu, mau jagain Jodi … Sheila sudah pergi, tapi kalian tetap butuh seseorang yang bisa mengurus kalian …. ""Kami nggak butuh kamu!"Jevan menepis tangannya dan menunjuk ke arah pintu."Keluar. Pergi sekarang juga. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"Susan berlari keluar sambil menangis.Jevan duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan kecil putranya yang masih panas karena demam.Jodi perlahan membuka mata. Begitu melihat ayahnya, air matanya langsung jatuh."Papa …. "Suaranya lemah."Benarkah Mama nggak akan pernah kembali lagi?"Tenggorokan Jevan tercekat. Dia tidak mampu menjawab."Papa … aku sudah bikin salah …. "Jodi menangis tersedu hingga napasnya tersengal."Di ruang tahanan itu … aku sama Tante Susan … kami menyetrum Mama. Mama pasti sangat benci sama aku …. "Seluruh tubuh Jevan terasa membeku.Jadi apa yang dikatakan Sheila memang benar.Di

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 15

    Tiga bulan setelah Sheila pergi, keluarga itu benar-benar runtuh.Kepribadian Jodi berubah drastis.Di taman kanak-kanak, dia memukul seorang teman hingga terluka hanya karena anak itu berkata, "Mamamu kabur dengan pria lain."Guru memanggil orang tua murid.Jevan datang dengan tergesa-gesa dan mend

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 14

    Sebulan setelah Sheila pergi, Jevan akhirnya berhasil melacak perkiraan lokasi pangkalan lembaga penelitian itu.Letaknya jauh di dalam gurun wilayah barat laut.Dia mengambil cuti tiga hari, menempuh perjalanan semalam dengan kereta, berganti beberapa kendaraan, lalu berjalan kaki sejauh hampir sep

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 13

    Dulu, saat Sheila masih ada, rumah mereka selalu bersih dan terang.Di meja makan selalu tersedia makanan hangat.Seragam militernya selalu tersetrika rapi.Putra mereka pun selalu tampak bersih dan terurus.Selama ini, Jevan mengira semua itu memang seharusnya begitu.Baru sekarang dia menyadari ba

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 12

    Malam itu, saat pulang ke rumah, Jevan mendapati bak cuci di dapur penuh dengan piring dan mangkuk kotor. Di lantai juga masih ada bekas susu yang tumpah.Siang tadi dia sempat mencoba membuatkan minuman untuk putranya. Namun karena tidak terbiasa, susu itu malah tumpah ke mana-mana.Dia membungkuk

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status