Share

Bab 7

Author: Lukman
Mendengar suara pintu terbuka, Jevan langsung berbalik. Wajahnya masih memerah, dengan ekspresi terkejut dan canggung yang belum sempat dia sembunyikan.

"Sheila? Kamu …. "

Sheila masuk ke dalam dan berkata dengan nada tenang tanpa emosi, "Aku mau sikat gigi. Apa kamu sudah selesai?"

Jevan tertegun. Raut malu melintas di wajahnya. Dia segera mematikan air dan menarik handuk untuk melilit bagian bawah tubuhnya. " … Sudah."

Dia bergeser ke samping, memberi ruang di depan wastafel, lalu menatap Sheila dengan pandangan mata yang sulit diartikan.

Sheila berpura-pura tidak melihat maupun mendengar apa pun. Dia menyikat gigi, mencuci muka, lalu mengeringkan wajahnya dengan gerakan tenang sebelum meninggalkan kamar mandi. Jevan hanya bisa mengikuti dari belakang.

Di kamar tidur, lampu meja yang redup menjadi satu-satunya sumber cahaya. Tanpa menoleh, Sheila mengangkat selimut dan berbaring membelakanginya.

Jevan berdiri beberapa saat di sisi ranjang sebelum akhirnya naik ke tempat tidur dan mengulurkan tangan untuk merangkul pinggang Sheila.

Namun begitu lengannya mendekat, Sheila langsung menegang dan menghindar.

Gerakan Jevan terhenti. Tangannya menggantung canggung di udara.

Setelah beberapa saat hening, suaranya yang serak memecah keheningan.

"Sheila... tadi di kamar mandi, aku ... salah nyebut nama. Aku ... sebenarnya mau manggil kamu."

"Nggak perlu dijelasin." Sheila memotong ucapannya. Suaranya terdengar lelah dan dingin.

"Kamu mau manggil siapa pun, itu urusanmu. Nggak ada hubungannya sama aku."

Tubuh Jevan langsung menegang. Dengan tatapan tak percaya, dia menopang tubuhnya dan menatap Sheila di bawah cahaya lampu yang redup.

"Apa maksudmu nggak ada hubungannya sama kamu?"

Sheila sudah terlalu malas untuk menjelaskan lebih jauh. Dia memejamkan mata dan berkata pelan, "Aku lelah. Mau tidur."

Jevan masih ingin mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba suara peluit yang nyaring terdengar dari kejauhan, membelah keheningan malam.

Wajah Jevan langsung berubah. Dia segera duduk tegak.

Hampir bersamaan, pintu kamar terbuka dan Jodi berlari masuk dengan piyama yang masih dikenakannya.

"Papa! Itu Tante Susan! Dia meniup peluit yang Papa kasih. Pasti terjadi sesuatu!"

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jevan langsung turun dari ranjang dan mengenakan pakaiannya dengan gerakan cepat.

"Aku pergi cek. Jodi, tetap di rumah dan temani Mama," katanya sambil mengancingkan baju.

"Aku juga ikut!" Jodi segera berlari ke arah pintu.

Jevan melirik Sheila yang masih membelakanginya di atas ranjang tanpa menunjukkan reaksi apa pun. Entah mengapa, rasa sesak dan kesal di dadanya justru semakin kuat.

Kali ini dia tidak menghentikan Jodi. Dia langsung membawa putranya keluar dengan tergesa-gesa.

Begitu mereka pergi, seorang istri tentara dari rumah sebelah yang mendengar keributan itu datang mengetuk pintu rumah Sheila.

"Sheila! Sheila, cepat lihat ke sana! Apa Susan kenapa-kenapa? Komandan Jevan udah ke sana? Aduh, kamu juga harus lebih waspada! Bagaimanapun mereka dulu pernah punya hubungan. Tengah malam begini ... kamu harus awasi mereka sedikit!"

Sheila sebenarnya tidak berniat pergi. Namun, tetangga yang terlalu antusias itu terus membujuknya, bahkan setengah menariknya keluar rumah.

Di bawah asrama Susan, beberapa orang sudah berkumpul. Pintu kamarnya terbuka lebar.

Saat masuk, Sheila melihat Susan dengan pakaian yang berantakan dan rambut acak-acakan. Wanita itu memeluk selimut erat-erat sambil meringkuk di sudut ranjang, menangis tersedu-sedu.

Jevan berdiri di samping ranjang dengan wajah muram. Di bawah kakinya tergeletak seorang preman yang wajahnya babak belur dan terus meraung kesakitan.

Jodi memeluk kaki Jevan erat-erat, menatap preman itu dengan campuran rasa takut dan marah.

Begitu melihat Sheila masuk, Jevan langsung mengangkat kepala. Tatapannya tajam bak pisau saat mengarah kepadanya.

"Kamu masih berani datang?" Suaranya dingin dan penuh amarah.

"Tadi di restoran, kamu sendiri yang bilang nggak peduli dan kamu biarkan kami ikut acara itu dengan Susan. Kamu bilang nggak peduli, tapi begitu pulang malah nyuruh preman datang gangguin Susan!"

Dia menunjuk preman yang tergeletak di lantai.

"Orang ini sudah ngaku kalau kamu yang nyuruh! Mau bilang apa lagi sekarang?!"

Sheila menatap pemandangan konyol di hadapannya. Susan bersembunyi di belakang Jevan, menatapnya dengan mata berkaca-kaca yang diam-diam menyiratkan kemenangan.

Rasa lelah dan muak yang mendalam seketika menyelimuti Sheila, sampai-sampai dia hampir tidak memiliki tenaga untuk membela diri.

"Jadi, hanya berdasarkan beberapa perkataan seorang preman, kamu langsung menyimpulkan kalau aku dalangnya."

Suara Sheila sangat pelan, tetapi terdengar jelas di tengah keheningan ruangan.

"Kalau gitu, nggak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita."

Sikapnya yang acuh dan seolah benar-benar sudah menyerah justru membuat Jevan makin marah.

"Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan?" ulangnya dengan nada tajam. "Sheila, sikap apa itu? Kalau kamu bisa buktiin kalau bukan kamu pelakunya, tentu aku akan berpihak sama kamu!"

Sebelum Sheila sempat menjawab, Susan buru-buru angkat bicara. Suaranya gemetar dan masih diselingi isak tangis.

"Jevan, sudahlah ... soal ini ... meskipun aku yang dirugikan, tapi ... dia cuma nyium aku beberapa kali dan meraba ... beberapa kali. Lupain aja. Jangan sampai hubungan kamu sama Sheila jadi makin buruk gara-gara aku. Dia ... mungkin cuma sedang khilaf."

Andai Susan tidak mengatakan itu, mungkin situasinya masih lebih baik.

Namun begitu pandangan Jevan jatuh pada bekas ciuman di leher Susan, amarah yang sudah membara di dalam dadanya langsung meledak.

"Nggak bisa dibiarin begitu aja!" bentaknya.

"Ini kejahatan! Terlebih lagi, dia istri seorang tentara! Melanggar hukum padahal tau hukum, hukumannya harus lebih berat! Karena dia nggak bisa buktiin dirinya nggak bersalah, maka masalah ini harus ditangani sesuai peraturan militer!"

Dia langsung menoleh ke arah ajudannya yang baru saja masuk.

"Luki, untuk kasus kayak gini, menyuruh orang lain melakukan pelecehan terhadap perempuan, menurut peraturan disiplin, apa hukumannya?"

Ajudan Luki tampak ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab pelan, "Komandan, kalau kasusnya serius dan nimbulin dampak yang buruk ... biasanya pelaku akan dipasangi papan nama lalu diarak keliling sebagai peringatan bagi yang lain."

Begitu mendengar kata-kata "diarak keliling", ekspresi Jevan sedikit berubah.

Hukuman seperti itu, bagi seorang wanita, jelas merupakan penghinaan yang sangat berat.

Sebenarnya, dia hanya ingin menakut-nakuti Sheila agar mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada Susan. Dia tidak pernah berniat mempermalukan Sheila sampai sejauh itu.

Memikirkan hal itu, nada bicaranya pun sedikit melunak. Dia mengulurkan tangan dan meraih tangan Sheila.

"Sheila, asal kamu minta maaf dengan tulus pada Susan, berjanji nggak akan mengulanginya lagi, dan menulis surat penyesalan sebagai ganti rugi atas tekanan mental yang dia alami, aku bisa kasih hukuman yang lebih ringan untuk masalah ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 21

    Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada pula yang saling berpelukan.Sheila tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak.Dia memandang awan jamur itu perlahan naik, makin tinggi, makin tinggi, hingga akhirnya menyatu dengan langit.Lalu dia berbalik dan berjalan keluar dari ruang kendali."Peneliti Sheila, Anda mau ke mana? Jamuan perayaan .…""Ke rumah sakit."Tiga bulan kemudianKota Bareksa, Rumah Sakit Umum Wilayah Militer.Sheila mendorong pintu ruang perawatan intensif.Jevan terbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya penuh selang, wajahnya pucat dan tampak sangat lemah.Sudah tiga bulan dia koma.Tiga kali dokter mengeluarkan surat kondisi kritis. Dan setiap kali itu pula, Sheila yang menandatanganinya.Pada kali ketiga, dokter berkata pelan, "Peneliti Sheila, Anda perlu bersiap secara mental."Sheila menjawab tenang, "Saya akan menunggunya."Menunggu seseorang yang dulu dia kira sudah selesai dalam hidupnya.Jodi berdiri di sampingnya. Kini dia berusia sembilan tahun, tubuhnya l

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 20

    Sheila tertegun.Jevan.Dia mengenakan seragam latihan militer. Wajahnya dipenuhi bekas kasar dari angin dan pasir gurun, namun sorot matanya justru menyala terang dan tajam."Kamu .…"Sheila kehilangan kata-kata."Aku sudah baca semua catatanmu."Suara Jevan cepat, tegas, tapi bergetar tipis."Aku tahu cara memperbaiki sistem antarmuka ini. Sheila, biar aku lakukan ini untukmu. Anggap saja … penebusan dosa."Sebelum Sheila sempat menjawab, dia sudah mengambil pakaian pelindung dan mengenakannya."Jevan!" Sheila tersadar. "Kembali! Itu bukan bidangmu!"Namun Jevan sudah mengenakan pelindung wajahnya lalu menoleh ke arah Sheila.Dari balik helm, matanya samar tetapi mantap."Sheila … kalau aku nggak kembali," suaranya pelan, "sampaikan ke Jodi … Papa mencintainya. Dan juga … mencintai Mama."Tubuh Sheila bergetar.Tanpa menunggu jawaban, Jevan berlari menuju lorong area radiasi."Hentikan dia!" teriak komandan utama.Tapi sudah terlambat.Sosoknya menghilang di balik pintu baja."Jevan!

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 19

    Lima tahun.Dari seorang istri tentara yang dulu hanya berkutat di dapur, dia telah berubah menjadi wakil kepala peneliti termuda dalam Proyek Rahasia Bunga Api.Model Optimasi Parameter Kritis yang dia pimpin berhasil mempercepat proyek hingga dua tahun penuh.Makalah-makalahnya tiga kali menembus jurnal ilmiah internasional papan atas dan mengguncang dunia akademik.Bukan berarti tidak ada yang mengejarnya.Ada doktor lulusan luar negeri yang baru bergabung, dokter muda dari rumah sakit pangkalan, hingga pejabat instansi atasan yang datang inspeksi.Semua dia tolak dengan halus.Jawabannya selalu sama."Di hatiku hanya ada fisika."Dan itu bukan kebohongan.Di kehidupan sebelumnya, hatinya penuh oleh Jevan dan keluarga itu.Di kehidupan ini, yang tersisa hanya gurun, data penelitian, dan langit berbintang di atas kepalanya."Peneliti Sheila, istirahatlah sebentar. Anda sudah bekerja tujuh puluh dua jam."Zian, asistennya, meletakkan susu hangat di meja.Sheila menggeleng tanpa berhen

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 18

    Jevan jelas tidak punya undangan.Dia hanya bisa berdiri di kejauhan, menyaksikan satu per satu mobil sedan datang, berhenti, lalu para ilmuwan yang berjasa bagi negara turun dari kendaraan mereka.Lalu, Jevan melihatnya.Sheila turun dari sebuah sedan hitam.Dia telah berubah.Rambutnya dipotong pendek dan rapi, membuat leher jenjangnya tampak makin tegas dan anggun. Dia mengenakan setelan jas wanita khas peneliti, dengan kartu identitas merah terpasang di dada.Dia sedikit memiringkan kepala saat berbicara dengan seorang pria tua di sampingnya. Tatapannya jernih dan mantap, sementara senyum percaya diri tersungging di sudut bibirnya.Sinar matahari jatuh ke tubuhnya, membuatnya seolah memancarkan cahaya.Jevan hanya bisa menatap terpaku.Itu istrinya.Tidak. Itu Peneliti Sheila.Sheila yang kini bersinar terang, yang tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengannya.Dia dikelilingi banyak orang, seperti mutiara yang akhirnya terbebas dari lumpur dan kembali memancarkan kilaunya.Jevan

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 17

    Susan mendongak tiba-tiba dan berteriak, "Jevan! Kamu nggak bisa begini sama aku! Semua yang aku lakukan itu demi kamu! Aku cinta kamu!""Cintamu bikin aku muak."Jevan berbalik tanpa menoleh lagi.Tiga hari kemudian, Susan ditangkap.Sebelum vonis dijatuhkan, Jevan datang menemuinya untuk terakhir kali.Di balik kaca pembatas, Susan mengenakan seragam tahanan. Wajahnya pucat dan kuyu, tanpa sisa kelembutan yang dulu pernah ada.Sambil menangis, dia memohon, "Jevan, demi masa lalu kita, tolong bantu aku … Aku nggak mau masuk penjara … Lima belas tahun … aku bisa mati di dalam sana …. "Jevan menatapnya datar."Sejak kamu menyakiti Sheila, yang tersisa di antara kita cuma kebencian.""Jevan!"Susan berteriak histeris."Kamu akan menyesal! Seumur hidupmu kamu nggak akan pernah dapat maaf dari Sheila! Dia benci kamu! Dia benci kamu!"Jevan tersenyum tipis."Aku tahu.""Dan memang aku nggak pantas mendapat maaf darinya."Dia berbalik dan pergi, meninggalkan teriakan Susan di belakangnya.H

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 16

    "Jevan, maafin aku … aku benar-benar nggak sengaja .… "Susan menggenggam tangannya erat-erat."Aku cuma mau membantu, mau jagain Jodi … Sheila sudah pergi, tapi kalian tetap butuh seseorang yang bisa mengurus kalian …. ""Kami nggak butuh kamu!"Jevan menepis tangannya dan menunjuk ke arah pintu."Keluar. Pergi sekarang juga. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"Susan berlari keluar sambil menangis.Jevan duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan kecil putranya yang masih panas karena demam.Jodi perlahan membuka mata. Begitu melihat ayahnya, air matanya langsung jatuh."Papa …. "Suaranya lemah."Benarkah Mama nggak akan pernah kembali lagi?"Tenggorokan Jevan tercekat. Dia tidak mampu menjawab."Papa … aku sudah bikin salah …. "Jodi menangis tersedu hingga napasnya tersengal."Di ruang tahanan itu … aku sama Tante Susan … kami menyetrum Mama. Mama pasti sangat benci sama aku …. "Seluruh tubuh Jevan terasa membeku.Jadi apa yang dikatakan Sheila memang benar.Di

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 11

    "Pak Jevan, Bu Sheila adalah seorang genius fisika yang kami pilih melalui proses seleksi ketat dan penyaringan berlapis. Bakatnya tidak seharusnya terkubur begitu saja."Nada suara dari seberang telepon tetap tenang."Mohon hormati pilihan beliau, dan mohon patuhi peraturan kerahasiaan."Sambungan

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 10

    Malam itu, Jevan dan Jodi baru pulang ke rumah lewat pukul satu dini hari.Susan tiba-tiba terserang radang lambung dan usus. Jevan menemaninya ke rumah sakit untuk menjalani infus, sementara Jodi bersikeras ikut dan menunggu di luar ruang perawatan hingga larut malam.Saat pintu rumah dibuka, yang

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 9

    Jevan makin kesal melihat tawanya. Terlebih saat melihat air mata yang terus mengalir di wajah Sheila, rasa jengkel di dalam hatinya justru semakin kian memuncak.Dia menarik napas panjang, berusaha menekan emosinya. Setelah terdiam sejenak, dia meraih gelas di atas meja samping ranjang, menuangkan

  • Penyesalan Seorang Komandan   Bab 8

    Sheila hanya menatapnya dengan tenang. Sorot matanya sedingin telaga beku yang dalam, bahkan tak lagi memantulkan bayangannya sedikit pun.Tanpa sepatah kata pun, dia menepis tangan Jevan dan berbalik pergi.Punggungnya yang ramping tetap tegak lurus. Dalam ketenangan itu tersimpan ketegasan yang ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status