LOGINWilliam mendengus karena dia tak mengerti apa yang dimaksud oleh sahabatnya ini. Tapi dia masih memikirkan ucapan Paula yang mengatakan Laura ingin bercerai darinya. William enggan berdebat dengan Brian. Sahabatnya ini sudah mulai ikut campur urusannya dengan Laura. Kalaupun ada yang William ceritakan padanya, pasti ujung-ujungnya tetap Laura yang akan dibela. Makanya daripada buang-buang tenaga lebih baik William bungkam.Paula juga bilang kalau calon istri Brian juga mulai ikut campur, seolah menyalahkannya atas keadaan yang Laura buat sendiri. Membayangkan saja William sudah dongkol.Brian tak mau kalah begitu saja. Dia kembali bertanya, “kemana aja sepuluh hari ini?”“Pulang ke Los Angeles sambil ada urusan bisnis di sana,” jawab ya datar“Pulang? Kapan kamu pulang?” Tanya Brian. Dia nggak percaya dengan ucapan William. Menurutnya sang sahabat hanya sedang mencari alasan saja untuk membenarkan sikapnya.“Di hari yang sama dengan Mama dan Papa. Tapi aku pulang malamnya setelah-”“S
"Tadi aku lihat Pak William di lobi rumah sakit, Sayang. Tapi dia sendirian saja. Barusan aku mampir ke ruangan Aurora, ternyata Bu Laura masih di sana. Kupikir dia dijemput suaminya, tapi pas aku tanya, katanya dia mau menginap di rumah sakit lagi, jadinya aku nggak bilang deh kalau aku lihat suaminya di lobi,," ucap Jessica sambil meletakkan minuman dingin di meja kerja kekasihnya."Dia tadi habis dilabrak sama sekretarisnya William di sini. Coba saja aku tahu William ada di lobi, sudah ku tempeleng manusia terkutuk itu," balas Brian terlihat jelas kalau dia masih menyimpan kekesalan sisa kejadian tadi."Waktu itu kamu jadi ke kantornya tidak, Sayang?" Jessica kembali bertanya. Entah kenapa, mereka berdua jadi sangat terbawa perasaan dengan urusan rumah tangga orang lain. Namun, melihat penderitaan Laura, rasa iba itu sulit untuk dibendung."Kapan maksudmu?" tanya Brian balik, memastikan."Setelah jam praktik selesai, tiga hari yang lalu," Jessica mengingatkan."Oh. Jadi kok. Tapi n
Laura mulai bergerak gelisah. Ia bahkan tak sanggup untuk duduk walau hanya sebentar. Wanita itu berjalan mondar-mandir di ruang tengah yang kini terasa sangat sepi karena hanya ada dirinya seorang diri di rumah mewah itu. Laura terus menatap ke arah pintu, berharap sang suami segera kembali, namun suara mobilnya pun tak kunjung terdengar. “Siapa wanita itu? Sejak kapan William biasa pergi ke tempat hiburan malam? Apa yang tidak aku tahu tentangnya?” batin Laura semakin pilu. Setiap detik suara jam dinding membuat ketakutannya semakin menjadi-jadi. Bayangan William yang sedang bersama wanita lain di tempat antah berantah terus berputar di benaknya, membuat ulu hatinya makin perih dan rasanya jauh lebih menyakitkan daripada lebam di wajahnya. “Aku harus meneleponnya lagi,” ucapnya pada diri sendiri. Laura kembali mendekati telepon rumah, lalu menekan nomor ponsel suaminya, berharap William segera menjawab panggilannya. Namun, panggilan itu benar-benar tidak mendapatkan jawaban.
“Ponselnya gak nyala, William,” ucap Laura. William memilih diam lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang menuju ke rumahnya. Saat tiba di rumah ponsel pria itu berdering dan dia memilih menerima panggilan tersebut di halaman depan rumah mereka. Sementara Laura menuju ke dalam kamarnya. Seperti biasa, dia langsung membersihkan kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuk suaminya. Namun saat ia melangkah masuk ke dalam kamar, pintu kamarnya dibuka paksa oleh William hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Braaaaaaak“Mana ponselnya?” Laura masih mematung. Harusnya tadi dia hapus layanan taksi online itu dari ponselnya.“Mana?” Bentak William lagi.Laura tidak menyangka akan sefatal ini akibatnya jika ia melanggar ucapan suaminya. Dia lupa menghapus layanan pemesanan driver online. Dengan tangan gemetar dia meraih pompanya dari saku jaketnya dan menyerahkan ponsel itu pada sang suami. Dalam hati dia terus komat-kamit baca mantra, agar ada keajaiban dari Tuhan biar William ta
“Ma, Laura senang Mama sudah siuman. Cepat pulih ya, Ma,” ucap Laura tulus, dia benar-benar bahagia melihat sang Mama mertua bisa melewati masa kritisnya.Meski selama ini, keberadaannya nyaris tak pernah dianggap ada oleh wanita yang selalu tampil glamor itu. Namun, Laura yang tak pernah merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu tetap teguh pada pendiriannya untuk menghormati Mama mertuanya. Dia akan terus berjuang sampai mama mertuanya bisa menerima kehadirannya di tengah keluarga Harrington.Di luar dugaan, Soraya justru mengangguk. Tatapannya pada Laura kini penuh penyesalan yang mendalam. Entah apa yang dialami wanita itu selama tak sadarkan diri, sampai tiba-tiba berubah begini. Soraya merentangkan tangannya yang terbebas dari jarum infus, seolah meminta sebuah pelukan dari menantunya.Laura terkejut bukan main. Dia sempat menoleh ke arah papa mertuanya, untuk mencari kepastian, dan pria itu memberikan anggukan sebagai tanda agar Laura membalas pelukan Soraya. Untuk pertama
Laura kembali ke kamar. Dia tidak memikirkan lagi soal apa yang akan dibicarakan oleh William padanya. Dia memilih untuk membersihkan kamar, namun saat dia mengambil jaket William tanpa sengaja ada sesuatu yang jatuh dan menimbulkan suara dentingan di lantai. Laura memungut cincin itu. Jantungnya berdebar kencang saat menyadari itu cincin kawin William yang terukir nama Laura di sana. “Kenapa William melepas cincinnya?” gumam Laura. Firasatnya langsung buruk karena selama mereka menikah William tidak pernah melepas cincin kawinnya meskipun dia sedang mandi. “Apa jangan-jangan William sengaja melepasnya?” Laura membatin. “Apa jangan-jangan dia mau mengakhiri pernikahan kami? Atau dia masih sangat marah mengira aku beneran selingkuh? Bagaimana cara aku membuktikan kalau aku gak selingkuh, sementara pihak hotel menolak memberi rekaman CCTV?” Semua pertanyaan itu tidak menemukan jawaban. Akhirnya Laura memutuskan untuk menyimpan cincin itu di kotak perhiasan milik William yang ada







