Mag-log inPagi ini seharusnya menjadi pagi yang paling tenang karena tidak ada lagi Kafka yang menjemputnya di depan rumah, tidak ada lagi tubuh jangkung milik Kafka yang duduk di depan kap mobil sambil menelitinya dari ujung kepala hingga kaki.Tapi, entah kenapa kebiasaan ini membuat Olivia merasakan ada gelenyar aneh yang merambat di dadanya.Perasaan seperti sesak dan tidak nyaman.Perjalanan ke sekolah dengan diantar Oliver benar-benar tidak semenyenangkan yang dia harapkan. Sunyi menyapanya sejak masuk ke dalam mobil, tidak ada pertanyaan seperti biasa.Aneh.Oliver memarkirkan mobil tidak jauh dari gerbang masuk, membuat Olivia mengernyit.Oliver masih tidak bersuara, hingga tatapan lesu laki-laki itu bertemu dengan netra miliknya. Ada guratan sedih yang terpancar jelas di sana, tidak Olivia mengerti arti tatapan itu."Liv?"Olivia melepas seatbelt nya, setelahnya menyambar ransel miliknya yang berada di jok belakang. "Mm?""Kafka …."Olivia hentikan gerakan tangannya, belum sempat mengg
Kafka menyandarkan tubuhnya pada sisi ranjang, lampu di kamarnya belum dinyalakan. Hanya ada lampu tidur yang menyala redup di atas nakas.Dadanya sesak sejak kepulangannya setelah menemui Olivia. Amarah yang dipendamnya, tidak juga bisa keluar hanya dengan dia menghela napas berulang kali. Kafka marah pada keadaan yang tidak berpihak padanya.Kafka sudah memperjuangkan dan mempertaruhkan segalanya untuk berada di titik ini, tapi gadisnya justru bahagia ketika melihatnya menjauh. Ditengah kerisauan hatinya, terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar Kafka, kepalanya menyembul ke dalam. Diikuti suara rusuh dari belakangnya. Kafka tahu, itu teman-temannya."Kafka?"Belum ada sahutan, tapi Rio menangkap siluet tubuh Kafka di samping ranjang. Membelakangi pintu.Helaan napas terdengar nyaring di telinga teman-temannya, mereka bahkan memperlambat gerakan saat menyadari Kafka duduk termenung. Tidak menyambut mereka seperti biasa.Hendra yang menutup pintu dengan gerakan kasar, akhirnya
"Gue sama sekali nggak mengerti maksud lo ngomong kayak gitu, apa?" Kafka menoleh, mendapati wajah ketus Olivia. Peluhnya menetes dari kening. "Maksud omongan gue yang mana?" "Lo pikir gue akan bunuh diri?" Kafka mengangguk. "Gue pikir lo akan beneran bunuh diri, Oliver tadi hubungin gue. Dia nyariin lo, pas dia bilang lo belum pulang ke rumah. Pikiran gue kalut, gue bingung harus cari ke mana lagi," akunya. Keheningan kembali menyelimuti kedua insan yang duduk saling bertolak belakang. Sejak tadi, Olivia tidak mau untuk menatap Kafka. Entah kenapa, tiba-tiba rasa kesalnya menguap ke udara, tergantikan oleh rasa rindu yang mendadak datang. "Kalau nggak berniat buat balik sama gue, nggak usah ngasih harapan." Kafka menghela napas. Panjang dan berat. "Ngasih harapan, gimana? Gue selama juga nggak pernah macam-macam." Olivia terkekeh. Di sela kekehannya sebenarnya dia ingin menangis, lagi. Pandangannya menatap lurus ke depan, pada dinding yang sudah retak. Dinding putih itu ter
"Mas ganteng itu baru aja dari sini, Kak."Olivia menoleh saat mendapati suara petugas kebersihan di minimarket yang biasa dia kunjungi. "Kafka?" "Iya, mas ganteng itu juga sempat ngelihatin lantai dua. Tapi nggak naik ke atas, cuma ke sini beli kertas kado aja kayaknya." Olivia tersenyum. Kakinya tetap melangkah menuju lantai dua, menyusul petugas kebersihan yang sedang berbicara dengannya. Wanita itu melangkah cepat sekali, seperti sudah terbiasa dengan naik turun tangga sempit di minimarket ini."Kasihan sekali, murung wajahnya. Saya sih, nggak berani tanya." Angin malam di lantai dua minimarket ini selalu menjadi candunya, dari ketinggian ini dia bisa melihat gemerlap lampu-lampu dari rumah-rumah warga. Sepertinya Olivia tidak akan kembali lagi ke sini. Mungkin, tempat ini menjadi salah satu tempat yang akan Olivia hindari. "Putus, ya?"Olivia sontak menoleh, menatap bertugas kebersihan yang sedang mengelap meja di sebelahnya. "Kok tahu?""Mukanya sama suramnya kayak mas ga
"Aku mau pindah sekolah." Suara Olivia yang melengking ketika memasuki rumah membuat Oliver yang sedang menonton televisi di ruang tamu menoleh. Mendapati Olivia yang melangkah mendekatinya dengan tubuh basah kuyup, tatapannya tidak lagi ceria. Oliver menyadari perubahan ini. Dia langsung bangkit dari duduknya, merengkuh tubuh adiknya tanpa mempertanyakan alasannya. Tidak ada suara tangisan, tidak ada omelan. Olivia sungguh hening. "Mau pindah ke mana?" tanya Oliver. Pakaiannya juga ikut basah saat merengkuh tubuh Olivia. Dia sempatkan untuk meminta handuk kepada Mbok untuk Olivia. "Pindah ke SMA Rajasa, sekolah Abang dulu." "Nggak mau ke sekolah lain?" Oliver menuntun Olivia untuk duduk di karpet. Dia mengecilkan volume televisi, mendengarkan adiknya yang mungkin saja akan berbicara lebih panjang. "Nggak mau balik ke sekolah kamu yang dulu?" Olivia menggeleng. "Kenapa SMA Rajasa?" "Biar Kafka semakin benci aku." Oliver memundurkan tubuhnya, memberi jarak pada
"Olivia, lo bisa kan dengerin penjelasan gue dulu? Lo butuh tau yang sebenarnya terjadi tuh apa." Olivia menggeram tertahan. "Mau lo tuh apa sih? Setelah sebelumnya lo bikin gue ngerasa jadi orang paling bahagia, terus sekarang lo jatuhin gue? Lo jahat, Kaf." Kafka menghela napa pendek. Sejak tadi Olivia tidak sudah-sudahnya memarahinya. Kafka tahu ini kesalahannya, tidak membicarakan tentang rencana masa depannya kepada Olivia. Tapi, tidakkah Olivia juga harus berusaha mendengarkan dulu? "Kalau lo mau bahagia, ya ayo sama gue. Dengerin penjelasan gue, dengerin semua alasan dibalik semua keputusan gue." Kafka menarik lengan Olivia saat gadis itu hendak menyebrang. Di mana letak penglihatan gadis itu? Jelas-jelas ada mobil yang melaju kencang ke arahnya, tapi dia nekat menyebrang. "Lo lihat jalanan dong, jangan bego kayak gitu. Nggak usah bunuh diri segala!" teriak Kafka di depan wajah Olivia. Olivia tidak marah. Dia hanya diam mematung, menatap lurus Kafka. "Nggak ada yang ma
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak
Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan
“Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol







