LOGIN"Mbak Yumna ada apa?" tanya Arini yang keluar dari toilet dengan tergesa-gesa.
"Arini, Mazaya di bawa pergi," ucap Yumna dengan panik."Siapa yang bawa Mazaya pergi, Mbak?" tanya Arini ikut panik."Orang itu aku gak kenal, dia pakai cadar langsung narik Mazaya dari tanganku dengan cepat, lalu mendorong tubuhku, saat aku jatuh dia berlari," ucap Yumna dengan isak tangisnya.Arini menutup mulutnya, tak menyangka hal ini akanYumna mengangguk mendengar nasehat dari sang suami, banyak hal yang terjadi dalam hidupnya selama ini. Namun, sang nenek selalu mengajarkan dia untuk menjadi seorang pemaaf apapun kesalahan yang orang perbuat padanya.Yumna yang lahir tanpa seorang ayah karena ibunya adalah korban rudal paksa, menjalani hidup yang begitu sulit bersama sang nenek saat ibunya masih depresi. Neneknya yang hanya seorang wanita tua dari kampung hanya bisa mengajarkan nilai-nilai ketegaran dan kesabaran kepada Yumna, teringat dengan nasehat neneknya."Orang kecil seperti kita hanya bisa menerima nasib. Tidak perlu membalas Apa yang dilakukan orang jahat kepada kita, nanti mereka akan mendapat balasan dari Allah nantinya. Kita cukup menjadi orang baik sabar dan berserah kepada Allah niscaya kebahagiaan akan menghampiri kita."Itulah kata-kata yang selalu diucapkan oleh sang nenek yang terus terngiang dikepalai Yumna sehingga Yumna tumbuh menjadi orang yang pemaaf dan selalu menerima nasib dirinya."Sekarang
"Ronald Apakah kamu serius dan kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?" tanya Arini yang masih belum yakin jika Ronald serius dengan ucapannya."Aku serius, Arini. Aku mencintaimu, Aku ingin kamu menjadi kekasihku!" ucap Ronald tanpa ragu-ragu.Arini menghela nafas panjang, ia tahu Ronald adalah orang baik. Namun, karena masa lalunya yang kelam bersama Yuda sang kekasih membuat Arini tidak mudah percaya kepada orang yang mengajaknya menjalin hubungan dan menginginkannya menjadi kekasih."Ronald, kamu orang baik masih banyak wanita yang lebih pantas untuk mendampingi kamu menjadi kekasihmu. Kamu tahu aku hanyalah seorang wanita yang sudah tidak suci lagi bahkan aku pernah menjadi wanita jahat yang hampir menghancurkan rumah tangga orang," ucap Arini mengingatkan Ronald siapa dia sebenarnya."Aku juga pernah menjadi orang jahat, kamu tahu dan aku pernah menceritakannya padamu. Kita sama-sama mempunyai masa lalu y
"Mbak, karena masalah sudah selesai. Bolehkah saya keluar dari rumah ini, Saya ingin membuka lembaran hidup baru dan mencari pekerjaan baru," ucap Arini."Memangnya kamu mau mencari pekerjaan baru ke mana, Arini?" tanya Yumna sedikit terkejut dengan ucapan Arini."Ke mana saja, Mbak. Asalkan dapat pekerjaan halal dan bisa mencukupi kehidupan ku sendiri. Aku malu terus menumpang di rumah ini," ucap Arini.Yumna terdiam sejenak menimbang keputusan apa yang akan ia ambil, memang tidak mungkin Arini tinggal di rumahnya selamanya. Perempuan itu bukan sanak saudara dia maupun Haikal, demi mencegah terjadinya konflik lain akhirnya Yumna mengizinkan Arini pergi dari rumah mereka."Lebih baik kamu cari pekerjaan dulu, kalau sudah dapat kerja dan dapat tempat tinggal baru setelah itu baru kamu boleh keluar dari rumah ini," ucap Yumna."Iya, Arini. Apa yang dikatakan bu Yumna benar. Memangnya kamu mau tin
"Benarkah, kalian benar akan menjamin keamanan data kami?" tanya Bagaskara."Bukan hanya keamanan data kalian, bahkan aku bisa membuat pabrik dan tembakau milikmu segera mendapat legalisasi. Asal kalian memberikan kembali bayi itu kepada kami," ucap Haikal.Mendengar tawaran dari Haikal tentu saja Bagaskara sangat bersemangat, bukan hanya bisa mendapatkan bayi mereka juga akan lebih mudah untuk menjalankan usaha. Lelaki itu pun membujuk istrinya untuk memberikan Mazaya kepada keluarga kandungnya, setelah cukup lama akhirnya Renata mau memberikan Mazaya kepada Yumna."Kalian nggak bohongin kami, kan? Kapan kami bisa ke panti asuhan dan melihat anak di sana?" tanya Renata."Sekarang juga kami bisa mengantarkan kalian ke sana kalau mau!" ucap Haikal.Renata menatap Yumna dengan mata berkaca-kaca, dia menciumi balita yang ada dalam gendongannya setelah itu baru Ia berikan kepada Yumna.
"Mas, bagaimana kalau anak kita diambil organ tubuhnya seperti yang ada di berita-berita?" tanya Yumna dengan linangan air mata.Wanita itu tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anaknya di luar sana, Mazaya belum genap 1 tahun sulit untuk mengambil organ tubuh anak usia itu, tetapi saat pikiran seseorang sedang galau dan panik jadi memikirkan hal yang tidak-tidak."Nggak akan, Sayang. Anak kita belum genap 1 tahun, belum ada organ tubuh yang bisa digunakan untuk didonorkan kepada orang yang membutuhkan."Yumna memeluk tubuh sang suami dengan erat, mendengar jika anaknya dijual oleh Yuda ia semakin khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada anaknya tersebut.Sementara anak buah Haidar kini sudah menemukan titik informasi tentang orang yang membeli Mazaya kepada sindikat tersebut."Tuan, kami menemukan informasi tentang keluarga ini. Dia pengusaha tapi tidak sekaya, Tuan. Mereka menikah suda
Yuda berlari dan polisi mengejarnya, Yuda yang tak pernah berolahraga pun akhirnya kelelahan dan kehabisan nafas hingga polisi dengan mudah menangkapnya.Peci yang dikenakan Yuda terbuka, kumis dan jenggot palsu yang ia pakai pun dicopot oleh Polisi sehingga wajah asli Yudha terlihat."Benar dia buronan yang sedang kita cari!" ucap polisi seraya memborgol tangan Yuda."Lepas! Kalian tidak bisa menangkap ku sembarangan tanpa surat perintah dan tanpa tahu apa salahku!" ucap Yuda masih berusaha melepaskan diri dari polisi tersebut."Anda adalah dalang dari penculikan bayi bernama Aiza yang kini sudah meninggal dunia, lalu Anda juga melakukan penculikan lagi kepada balita bernama Mazaya!" ucap polisi.Karena sudah tidak bisa berkutik Yuda pun akhirnya pasrah ikut polisi masuk ke dalam mobil patroli, setelah sampai di kantor polisi Haikal dan Ronald langsung menemui Yudha yang sudah tertangkap.







