เข้าสู่ระบบRonald membawa Arini pulang dalam keadaan pingsan dan basah kuyup, hal itu membuat Ratna terlihat sangat khawatir.
"Ronald apa yang terjadi pada Arini?" tanya Ratna saat Ronald membawa Arini masuk ke dalam rumah."Arini pingsan lagi, Bu!" jawab Ronald.Ronald menidurkan Arini di sofa ruang tamu, melihat tubuh Ronald basah kuyup Haikal meminta Ronald untuk mengurus dirinya sementara Arini di urus oleh Bi Sarti."Ronald, sebRonald membawa Arini pulang dalam keadaan pingsan dan basah kuyup, hal itu membuat Ratna terlihat sangat khawatir."Ronald apa yang terjadi pada Arini?" tanya Ratna saat Ronald membawa Arini masuk ke dalam rumah."Arini pingsan lagi, Bu!" jawab Ronald.Ronald menidurkan Arini di sofa ruang tamu, melihat tubuh Ronald basah kuyup Haikal meminta Ronald untuk mengurus dirinya sementara Arini di urus oleh Bi Sarti."Ronald, sebaiknya kau bersihkan tubuhmu dan lekas ganti baju! Arini biar di urus oleh Bi Sarti." ucap Haikal."Baik, Pak."Ronald langsung berjalan menuju paviliun tepatnya tinggal bersama tukang kebun yang kerja di rumah Haikal, Ronald langsung mandi dan ganti baju setelah itu kembali melihat keadaan Arini.Ternyata Arini sudah sadar dan juga sudah ganti pakaian kini di tangannya memegang segelas teh hangat, Ronald bernafas lega melihat keadaan Arin
Setelah pemakaman selesai, para tetangga satu persatu mulai meninggalkan tempat pemakaman."Sayang, ayo kita pulang hari sudah mendung," ucap Haikal mengajak Yumna pulang."Iya, Mas. Ayo Bu, kita pulang," Yumna menuruti ajakan sang suami tak lupa mengajak serta ibunya.Ratna mengangguk dan mengajak Arini untuk pulang, tetapi Arini menolak. Wanita itu masih sangat syok dan tak percaya jika bayi yang belum genap satu bulan ia lahirkan sudah berada di dalam gundukan tanah yang kini di taburi dengan bunga."Arini, sebentar lagi hujan turun. Ayo pulang!" Ratna masih membujuk Arini."Ibu pulang duluan aja sama yang lain, aku masih ingin di sini," tolak Arini."Kalau sampai hujan turun dan kamu kehujanan, kamu bisa sakit, Arini!" Ratna masih berusaha membujuk Arini."Jangan khawatirkan aku, Bu. Aku tidak takut sakit sebab semua rasa sakit sudah aku lewati, bahkan
"Yudha, kamu yakin bayi ini tidur bukan mati?!" tanya Martin yang merupakan teman Yuda."Sembarangan kalau ngomong, dia pasti tidur itu!" ucap Yudha mencoba tenang meski hatinya mulai resah.Martin melihat dan memegang bayi itu nampak sangat lemas, suhu tubuhnya terasa dingin, dan wajahnya terlihat pucat. Ia lalu mengecek nafas di hidung bayi tersebut dan denyut nadinya, tetapi Martin tidak merasakan hembusan nafas juga denyut nadi bayi tersebut."Gak bener kamu, Yud! Bayi ini sudah mati. Kira-kira dong masa mau jual mayat!" ucap Martin seraya memberikan bayi itu kepada Yuda kembali.Yuda terkejut mendengar ucapan Martin, ia pun akhirnya mengecek nafas dan denyut nadi Aiza. Namun, hal sama di rasakan oleh Yuda, ia tak merasakan hembusan nafas dan denyut nadi Aiza. Yuda tak tahu bayi itu baru saja di imunisasi dan mengalami demam semalaman, tapi Yuda tak merawatnya dengan baik bahkan saat memberi susu formula pad
Malas berurusan dengan Arini, Yudha berniat menjual anaknya pada sindikat yang pernah ia kenal. Malam itu Yuda mencari penginapan dan terpaksa mengurus bayinya sendiri."Merepotkan!"Bayi itu berhenti menangis setelah di beri susu oleh Yudha, melihat wajah bayi yang mirip dengan wajahnya tak membuat hati Yudha mencair. Kabur hitam dan obsesi memiliki uang banyak menutupi hati Yuda sehingga tak lagi merasa iba pada darah dagingnya sendiri.Keesokan harinya, tidur Yuda kembali di bangunkan dengan suara tangis bayinya."Berisik banget sih! Ganggu orang tidur aja!" Yuda membuka matanya ia lupa jika kemarin baru saja menculik anaknya sendiri dari Arini."Sial, mau apa lagi ni anak?" Sudah di beri susu, tetapi bayi itu terus menangis membuat Yuda bingung.Ternyata bayi itu buang air besar dan harus di bersihkan, akhirnya Yuda membersihkannya meski dengan terpaksa.
"Bagaimana ini, Yuda pergi dan membawa Aiza kemana lagi?" tanya Arini sambil menangis."Tenanglah, Arini. Anak buahku sedang mengikuti mobil Yuda, mereka pasti mengabari di mana Yuda berada," ucap Haikal mencoba menenangkan Arini.Mereka pun kembali masuk ke mobil, pergi dari tempat tersebut dan mencari tempat yang lebih ramai karena mereka berada di tempat sepi.Arini masih belum tenang karena memikirkan nasib anaknya yang belum jelas. Haikal terus memantau dan menunggu anak buahnya memberi kabar.Sementara di sisi lain, anak buah Haikal terus membuntuti mobil Yuda dan kawanannya."Sial, kita di buntuti," ucap Yudha saat melihat kebelakang dan menyadari adanya mobil yang mengikuti mereka."Kita harus gimana? Aku gak mau kalau sampai di tangkap polisi," ucap Joko ketakutan."Aku juga gak mau, kalau aku masuk penjara siapa yang mau kasih makan anak dan istri
Sepanjang hari Arini mengurung diri di kamar, Ratna tidak bisa membujuknya bahkan Arini menolak makan karena terus memikirkan bayinya yang diculik oleh Yudha.Haikal yang baru saja pulang bekerja langsung menemui sang istri dan memastikan bahwa keadaan istri dan anaknya baik-baik saja."Sayang, Yuda tidak melukai kamu dan Mazaya kan? Bi Sarti bilang dia sempat datang ke rumah ini," ucap Haikal."Aku gak apa-apa, Mas. Iya Yuda memang sempat ke sini dan hendak menculik anak kita, tapi dia seperti lupa dengan tujuan awalnya karena terkejut melihat ibu yang sudah sehat," ucap Yumna menjelaskan hal yang tadi siang terjadi pada mereka.Haikal menghela nafas dan membuka dasi di lehernya, ia bersyukur anak dan istrinya baik-baik saja meskipun saat ini dia juga belum tenang karena anak Arini masih ada di tangan Yudha."Harusnya aku menambah penjagaan di sini dan juga saat kalian keluar rumah," ucap Haik







